Ikuti Kami

Kajian

Pakaian Perempuan di Masa Rasulullah, Edisi Penutup Badan

Makna aurat buya syakur
(Photo by Hannah Peters/Getty Images)

BincangMuslimah.Com – Setelah melewati pembahasan pakaian perempuan di masa Rasulullah edisi penutup wajah dan kepala, mari kita menelaah, pakaian perempuan era Rasulullah edisi penutup badan yang dirangkum dari karya Muhammad Faris al-Jamil.

Pakaian dalam bahasa Arab disebut al-Libas yang maknanya menutup. Sehingga sejak awal, berbagai referensi menyebutnya dengan al-Libas. Adapun bagian-bagian khususnya maka dinisbatkan pada anggota tertentu seperti Libās al-Wajhi (penutup wajah), Libās ar-Ra`si  (penutup kepala), dan terakhir yang akan dibahas adalah Libas al-Badni (penutup badan).

Ada dua jenis pakaian penutup tubuh yang diketahui dikenakan oleh perempuan pada masa Rasulullah. Keterangan-keterangan tersebut bersumber dari Alqur`an dan hadis. Adapun yang pertama adalah al-Jilbab dan kedua, ad-Dir’u.

Makna al-Jilbab dalam kajian bahasa memiliki beragam makna. Beberapa ahli bahasa pun mendefinisikan dengan arti yang berbeda. Seperti Ibnu as-Sakīt yang mengartikan al-Jilbab sama dengan al-Khimar yang masuk kategori penutup kepala. Sedangkan al-Laits mengartikan al-Jilbab dengan pakaian yang lebih lebar dari Khimar tapi bukan jubah. Artinya, Jilbab tidak hanya menutupi kepala tapi juga sebagian badan karena ukurannya yang lebar dari khimar tapi tidak sebesar jubah yang menjadi penutup tubuh.

Adapun kata Jilbab ditemukan dalam Alqur`an surat al-Ahzab ayat 59,

يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِّاَزْوَاجِكَ وَبَنٰتِكَ وَنِسَاۤءِ الْمُؤْمِنِيْنَ يُدْنِيْنَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيْبِهِنَّۗ

Artinya: Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.

Pada ayat ini, Allah memerintahkan istri dan perempuan untuk mengulurkan jilbab ke seluruh tubuh mereka. Ini menunjukkan bahwa jilbab merupakan pakaian yang berfungsi untuk menutup seluruh tubuh perempuan dan masuk kategori pakaian penutup badan.

Baca Juga:  Benarkah dengan Membaca Surah Yusuf Anak yang Dikandung akan Tampan?

Sedangkan dalam hadis ditemukan saat Rasulullah memerintahkan para perempuan haid untuk tetap keluar menuju tempat pelaksanaan shalat Id untuk menyaksikkan khutbah. Salah satu dari mereka bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallama,

 أَعَلَى إِحْدَانَا بَأْسٌ إِذَا لَمْ يَكُنْ لَهَا جِلْبَابٌ أَنْ لَا تَخْرُجَ قَالَ لِتُلْبِسْهَا صَاحِبَتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا وَلْتَشْهَد الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِينَ

Artinya: “Apakah berdosa bila seorang dari kami tidak keluar (mengikuti shalat ‘Ied) karena tidak memiliki jilbab?” Beliau menjawab: “Hendaklah kawannya memakaikan jilbab miliknya untuknya (meminjamkan) agar mereka dapat menyaksikan kebaikan dan mendo’akan Kaum Muslimin.”

Menurut Faris al-Jamil, jika berdasarkan riwayat ini, bisa kita lihat bahwa jilbab tidak dimiliki oleh semua perempuan. Itu terbukti saat Rasulullah menyarankan perempuan lain untuk meminjamkan jilbab kepada temannya. Dan juga bisa disimpulkan bahwa jilbab bukanlah pakaian yang kecil.

Dan apabila jilbab serupa dengan jubah yang digunakan oleh perempuan untuk menutupi kepala dan dada, maka pada sebagian kesempatan jilbab juga digunakan untuk menutupi wajah, minimal hal itulah yang dilakukan oleh istri-istri Rasulullah. Hal tersebut berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah,

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ الرُّكْبَانُ يَمُرُّونَ بِنَا وَنَحْنُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُحْرِمَاتٌ فَإِذَا حَاذَوْا بِنَا سَدَلَتْ إِحْدَانَا جِلْبَابَهَا مِنْ رَأْسِهَا عَلَى وَجْهِهَا فَإِذَا جَاوَزُونَا كَشَفْنَاهُ

Artinya: dari Aisyah ia berkata; orang-orang yang berkendaraan melewati Kami sementara Kami sedang berihram bersama Rasulullah shallAllahu wa’alaihi wa sallam kemudian apabila mereka dekat dengan Kami maka salah seorang diantara Kami menutupkan jilbabnya dari kepala ke wajahnya, kemudian apabila mereka telah melewati Kami maka Kami membukanya.

Jika melihat beberapa riwayat Aisyah dan Alquran, bisa tergambar bahwa jilbab adalah pakaian yang menutup seluruh tubuh. Ia juga menutup bagian lain seperti kepala, wajah, dan tubuh. Ia menyerupai jubah. Meskipun Alquran dan Hadis menganjurkan perempuan mukmin untuk mengenakannya, tapi hanya sebagian perempuan yang memiliki jilbab di masa itu. Sedangkan sumber-sumber dari referensi yang bersifat kontemporer jaranglah ditemukan.

Baca Juga:  Perlunya Memahami Ayat Muhkamat dan Mutasyabihat

Pakaian perempuan era Rasulullah edisi penutup badan berikutnya adalah ad-Dir’u. Para ahli bahasa memaknai ad-Dir’u,

ثوب تجوب المرأة وسطه وتجعل له يدين وتخيط فرجيه

Pakaian yang dipotong bagian tengahnya oleh perempuan yang kemudian dijadikan untuk kedua tangannya dengan menjahitkan kedua lubangnya.

Jika berdasarkan pengertian itu, ad-Dir’u adalah pakaian yang menyerupai jubah namun bagian depan di tengahnya terbelah.

Meskipun pada masa Rasulullah, ad-Dir’u merupakan pakaian yang penting bagi perempuan, tidak banyak ditemukan referensi kontemporer yang menunjukkan penggunaan ad-Dir’u. Adapun penyebutannya dalam hadis, tercatat saat Rasulullah bersabda mengenai siksaan bagi seseorang yang meratapi kematian pada hari kiamat,

وَالنَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ أَوْ دِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ

Artinya: Jika seorang yang meratapi mayit tidak bertaubat sebelum meninggalnya maka pada hari kiamat akan dibangkitkan dengan memakai baju dari ter atau baju dari kudis. (HR. Ahmad)

Kata ad-Dir’u memang sulit untuk ditemukan padanan katanya. Tapi di beberapa konteks, bahkan saat ini, ad-Dir’u menunjukkan baju tameng.

Tapi dalam beberapa riwayat lain, ad-Dir’u menunjukkan pakaian perempuan yang dikenakan saat shalat. Sebagaimana yang dilakukan oleh Aisyah saat shalat,  berdasarkan hadis yang tercatat oleh Abu Daud, beliau mengenakan ad-Dir’u dan Khimar. Begitu juga sahabat perempuan lainnya.

Ad-Dir’u, pada masa itu merupakan pakaian yang jarang dimiliki oleh wanita. Bahkan, menurut beberapa riwayat, harganya cukup mahal. Bahkan dalam suatu riwayat, Aisyah pernah memakai ad-Dir’u seharga lima dirham. Juga diketahui bahwa ad-Dir’u memiliki berbagai macam warna dan model.

Maka berdasarkan beberapa penjelasan yang bersumber dari riwayat sahabat, ad-Dir’u adalah pakaian khusus perempuan. Pakaian yang pada masa itu tidak banyak dimiliki oleh banyak perempuan, bahkan sebagian perempuan meminjam kepada sahabat lainnya untuk berhias di depan suaminya.

Baca Juga:  Memahami Makna Jilbab, Hijab, dan Burqa Lewat Karya Kiai Husein Muhammad

Demikian penjelasan dua jenis pakaian perempuan di masa Rasulullah edisi penutup badan. Kedua pakaian yang saat ini, terutama jilbab memiliki penyempitan makna. Karena saat ini jilbab menunujukkan penutup kepala dan leher saja, bukan menutupi bagian tubuh lainnya.

Rekomendasi

perempuan rentan terpapar ekstrimisme perempuan rentan terpapar ekstrimisme

Taliban: Tak ada Tempat Bagi Perempuan di Afghanistan

juna hate speech perempuan juna hate speech perempuan

Chef Juna: Perempuan Memiliki Hak atas Tubuhnya dan Hate Speech yang Menimpa Perempuan

hukum islam perjalanan perempuan hukum islam perjalanan perempuan

Hukum Islam Terkait Mahram pada Perjalanan Perempuan: Kehadiran Negara Pun Diperlukan

Rimpu, Tradisi dan Ekspresi Perempuan Islam di Bima

Ditulis oleh

Sarjana Studi Islam dan Redaktur Bincang Muslimah

Komentari

Komentari

Terbaru

Konferensi Pemikiran Gus Dur Perdana, Hadirkan Pramono Anung, Mahfud MD, dan Sinta Nuriyah Konferensi Pemikiran Gus Dur Perdana, Hadirkan Pramono Anung, Mahfud MD, dan Sinta Nuriyah

Konferensi Pemikiran Gus Dur Perdana, Hadirkan Pramono Anung, Mahfud MD, dan Sinta Nuriyah

Berita

Benarkah Perayaan Maulid Nabi Bid’ah? Benarkah Perayaan Maulid Nabi Bid’ah?

Benarkah Perayaan Maulid Nabi Bid’ah?

Kajian

Jangan Sampai Terlewat! El-Bukhari Kembali Membuka Pendaftaran Sekolah Hadis 2025 Jangan Sampai Terlewat! El-Bukhari Kembali Membuka Pendaftaran Sekolah Hadis 2025

Jangan Sampai Terlewat! El-Bukhari Kembali Membuka Pendaftaran Sekolah Hadis 2025

Berita

Pasangan Bukan Tempat Rehabilitasi: Mengapa Hubungan Tidak Bisa Menggantikan Proses Pemulihan Diri Pasangan Bukan Tempat Rehabilitasi: Mengapa Hubungan Tidak Bisa Menggantikan Proses Pemulihan Diri

Pasangan Bukan Tempat Rehabilitasi: Mengapa Hubungan Tidak Bisa Menggantikan Proses Pemulihan Diri

Keluarga

Hak-Hak Anak Yang Harus Dipenuhi Orang Tua Menurut Imam Ghazali Hak-Hak Anak Yang Harus Dipenuhi Orang Tua Menurut Imam Ghazali

Hak-Hak Anak yang Harus Dipenuhi Orang Tua Menurut Imam Ghazali

Keluarga

Bagaimana Hukum Salat Pakai Sarung Tangan bagi Perempuan Bagaimana Hukum Salat Pakai Sarung Tangan bagi Perempuan

Bagaimana Hukum Salat Pakai Sarung Tangan bagi Perempuan

Ibadah

Raya, Balita Sukabumi yang Tak Selamat Karena Cacingan Akut: Saat Kemiskinan Mengalahkan Hak Hidup Anak Raya, Balita Sukabumi yang Tak Selamat Karena Cacingan Akut: Saat Kemiskinan Mengalahkan Hak Hidup Anak

Raya, Balita Sukabumi yang Tak Selamat Karena Cacingan Akut: Saat Kemiskinan Mengalahkan Hak Hidup Anak

Muslimah Talk

Benarkah Islam Agama yang Menganjurkan Monogami?

Kajian

Trending

Doa yang Diajarkan Nabi kepada Abu Bakar untuk Diamalkan Sehari-hari

Ibadah

Benarkah Islam Agama yang Menganjurkan Monogami?

Kajian

Rahmah El-Yunusiyah: Pahlawan yang Memperjuangkan Kesetaraan Pendidikan Bagi Perempuan

Muslimah Talk

Benarkah Perayaan Maulid Nabi Bid’ah? Benarkah Perayaan Maulid Nabi Bid’ah?

Benarkah Perayaan Maulid Nabi Bid’ah?

Kajian

Kenapa Harus Hanya Perempuan yang Tidak Boleh Menampilkan Foto Profil?

Diari

maria ulfah kemerdekaan indonesia maria ulfah kemerdekaan indonesia

Maria Ulfah dan Kiprahnya untuk Kemerdekaan Indonesia

Khazanah

Dunia Membutuhkan Sains dan Sains Membutuhkan Perempuan

Muslimah Daily

Nor “Phoenix” Diana: Gadis Pemalu Menjadi Pegulat Berhijab Pertama di Dunia Nor “Phoenix” Diana: Gadis Pemalu Menjadi Pegulat Berhijab Pertama di Dunia

Nor “Phoenix” Diana: Gadis Pemalu Menjadi Pegulat Berhijab Pertama di Dunia

Muslimah Talk

Connect