Ikuti Kami

Subscribe

Diari

Refleksi Lagu Bang Toyib dan Bang Jono dalam Kisah Pewayangan

padukata.com

BincangMuslimah.Com – Beberapa pekan terakhir, dalam beberapa akun sosial media tentang haramnya musik jika di dengarkan oleh seorang muslim. Namun, hal tersebut mendapatkan respon yang berbeda dari netizen. Bagaimana pun juga, musik tidak pernah terlepas dari kehidupan manusia. Bahkan, beberapa lagu yang didengarkan terkadang menjadi healing bagi beberapa orang. Seperti lagu yang berjudul Bang Toyib, Lagu tersebut dipopulerkan oleh Ade Irma di tahun 2000an

“Bang Toyib… Bang Toyib… Kenapa tak pulang pulang? Anakmu… anakmu panggil panggil namamu…”

Dalam lagu tersebut. Bang Toyib adalah seorang lelaki yang merantau ke tempat orang lain. Akan tetapi, Bang Toyib lupa untuk pulang ke rumah. Bahkan dalam lagu tersebut disebutkan, tiga kali puasa tiga kali lebaran Bang Toyib tidak pulang-pulang. Mengacuhkan anaknya yang tiap hari memanggil nama Bang Toyib.

Ternyata lagu tersebut mendapatkan tempat di hati masyarakat Indonesia. Hingga di tahun 2015, ada banyak versi dari lagu yang mengangkat nama Bang Toyib. Di tahun 2011, lagu Bang Toyib mendapatkan bantahan dari Band Wali. Wali Band, mengeluarkan lagu dengan judul Aku Bukan Bang Toyib. Lagu ini disebut sebagai bantahan dari lagu Bang Toyib

“Kau bilang padaku, kau ingin bertemu. Ku bilang padamu oh ya nanti dulu. Aku lagi sibuk sayang, aku lagi kerja sayang. Untuk membeli beras dan sebongkah berlian”

Lagu tersebut dikisahkan seorang laki-laki yang sedang merantau, tetapi istrinya sangat takut bahwa si suami selingkuh. Padahal ketika merantau, si suami memang benar sedang bekerja untuk mencukupi kehidupan keluarganya. Si suami, selalu pulang membawakan kebutuhan keluarganya. Lagu Aku Bukan Bang Toyib ternyata lagu keras di pasaran. Bahkan karena lagu ini, Grup Band Wali mendapatkan berbagai penghargaan di ranah Indonesia. Dari lagu tersebut, beberapa orang berhasil menyakini bahwa seorang suami tidak semuanya terjadi seperti Bang Toyib.

Di tahun 2014 setelah semuanya percaya bahwa tidak semua lelaki dikisahkan seperti Bang Toyib, melalui lagu dengan judul Bang Jono, masyarakat kembali mempercayai bahwa kisah Bang Toyib. Lagu Bang Jono ini dipopulerkan oleh Zaskia Ghotik. Penyanyi dangdut berasal Bandung dengan usia yang masih muda dan cantik.

“Eee.. Bang Jono kenapa kau tak pulang-pulang. Pamitnya pergi cari uang tapi kini malah menghilang Eee.. Bang Jono ternyata cuma keluyuran. Sana sini cari hiburan lupa rumah lupa kerjaan”

Bahkan dalam reff, lagu tersebut menyindir lagu Aku Bukan Bang Toyib. Beberapa kalimat diambil dari lagu tersebut.

“Kau bilang padaku, baik-baik sayang. Abang pasti cepat pulang. Kau janjikan aku sebongkahberlian, sesuap nasi pun jarang,”

Ternyata lagu-lagu tersebut berasal dari kisah nyata yang terjadi di masyarakat. Tidak hanya Bang Toyib dan Bang Jono contoh dari kurang bertanggungjawabnya seorang laki-laki terhadap keluarganya.

Keadaan ini juga sudah dikisahkan sejak lama pada cerita pewayangan.  Pada cerita pewayangan di Alam Mayapada yaitu pada perkawinan Sanghyang Manikmaya. Sanghyang Manikmaya mempunyai dua orang istri yaitu Dewi Umayi dan Dewi Umarakti.

Pernikahan Sanghyang Manikmaya dengan Dewi Umarakti ternyata pernikahan yang tidak disengaja. Hal ini karena Dewi Umayi berubah menjadi raksesi. Sehingga, Ayah dari Dewi Umayi harus mencari perempuan yang mirip dengan Umayi. Dewi Umarakti ternyata mirip dengan Dewi Umayi.

Dewi Umarakti, diperlakukan sama seperti Dewi Umayi. Akhirnya, Dewi Umarakti menikah dengan Sanghyang Manikmaya. Selanjutnya pada kisah Mahabharata yaitu anak dari Arjuna, Abimanyu. Abimanyu memilik dua orang istri. Sebelum menikah dengan Dewi Utari, Abimayu menikah dengan Dewi Siti Sendari. Akan tetapi, Dewi Utari tidak mengetahui kejadian ini. Hingga akhirnya, Dewi Utari mencurigai suaminya. Lalu, Abimanyu berjanji jika dirinya sudah menikah dirinya akan dengan rela meninggal di medan perang.

Di hari ke 13, ucapan Abimanyu terbukti. Abimanyu mati saat melawan Kurawa. Pernikahan pertama Abimanyu, ternyata mendapatkan diketahun dewata mendapat petaka. Abimanyu tidak akan mendapatkan keturunan. Sehingga, Abimanyu menikah dengan Dewi Utari. Berbeda dengan Abimanyu, pada kisah Arjuna. Arjuna memiliki 15 istri.

Dicatat bahwa diantara para Pandawa, hanya Arjuna yang memiliki paling banyak istri. Arjuna memiliki banyak istri, bukan berarti Arjuna mengejar wanita. Tetapi, wanitalah yang mengejar Arjuna. Bahkan dengan sekarela menjadi pendamping Arjuna.

Dalam cerita Mahabharata, Arjuna adalah seorang pemuda yang sangat tampan. Ditambah tingkat sosial Arjuna itu sangat tinggi. Dia berani melawan beberapa raksasa demi terciptanya kehidupan yang makmur.

Dalam bukunya Soedjiwo Tedjo yang berjudul Dalang Galau Nge-Twit, memberitahukan bahwa lelaki yang mempunyai tingkat sosial yang tinggi, akan selalu dikelilingi oleh perempuan. Bahkan perempuan akan mengejarnya. Pada akhirnya lelaki tersebut masuk ke dalam ruang perempuan, mengikuti keinginan perempuan.

Berbeda dengan Arjuna, perempuan yang terus berada di belakang Arjuna untuk mendukung gerakan sosialnya. Tidak dikisahkan bahwa Arjuna mengejar seorang perempuan dan memasuki dunia perempuan, memenuhi semua kebutuhan dari perempuan. Bahkan dalam kisah pertempuran melawan Kurawa, istri Arjuna yang bernama Srikandi membantunya mengalahkan Bisma. Kisah Bang Toyib dan Bang Jono tenyata terjadi juga di cerita pewayangan.

Apabila ditelisik dan dianalisis dengan cermat, di dalamnya terdapat banyak pesan moral. Ditambah tuntutan budi pekerti yang layak menjadi referensi pembentukan moral, akhlak serta prilaku di alam kehidupan modern. Nilai- nilai yang terkandung pada pewayangan ini adalah nilai-nilai yang universal, dapat berlaku, diterima, dan diterapkan oleh masyarakat. Adat dan budaya sebenarnya tak pernah lekang ditelan perubahan zaman dan peradaban.

Rekomendasi

Bincang Nikah: Benarkah Poligami Berpahala Surga?

tidak adil dalam berpoligami tidak adil dalam berpoligami

Sabda Rasulullah: Yang Tidak Adil dalam Berpoligami di Hari Kiamat Jalannya Miring Sebelah

poligami poligami

Narasi Poligami, di Mana Suara Perempuan?

Dua Cara Membaca Ayat Poligami menurut Fazlur Rahman

Nurdiani Latifah
Ditulis oleh

Mantan jurnalis di Jabar Ekspres (Jawa Pos Grup). Saat ini bekerja di Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia.

Komentari

Komentari

Terbaru

Begini Ciri-ciri Keluarga Sakinah yang Harus Kamu Tahu  

Keluarga

Mengenal Gus Dur Lebih Dekat Lewat Buku “Gus Dur di Mata Perempuan”

Kajian

YouCast: Perempuan dan Perdamaian

Video

Telling Islam to the World Telling Islam to the World

Resensi Buku Telling Islam to the World

Muslimah Daily

membahagiakan ibu membahagiakan ibu

Definisi Anak Menurut Hukum, Umur Berapa Seorang Anak Dianggap Dewasa?

Kajian

Murtadha Muthahhari: Perempuan Butuh Kesetaraan, Bukan Keseragaman

Kajian

Riset Google: Wirausaha Perempuan di Indonesia Paling Banyak dari 12 Negara

Kajian

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 247: Membincang Kredibilitas Seorang Pemimpin

Kajian

Trending

Hukum Menginjak Makam Orang Muslim

Ibadah

Pengertian Keluarga Sakinah dan Makna Perkawinan dalam Islam

Keluarga

bersetubuh sebelum bersuci bersetubuh sebelum bersuci

Hukum Bersetubuh Sebelum Bersuci dari Haid

Kajian

krisis quarter life krisis quarter life

Perempuan Rentan Krisis Quarter Life: Kenali dan Hadapi

Diari

menolak dijodohkan menolak dijodohkan

Kisah Pertemuan Kanjeng Nabi Muhammad dengan Siti Khadijah

Keluarga

Perempuan Harus Menjadi Pembelajar

Muslimah Daily

Konsep Pendidikan Perempuan Menurut Rahmah El-Yunusiah Konsep Pendidikan Perempuan Menurut Rahmah El-Yunusiah

Konsep Pendidikan Perempuan Menurut Rahmah El-Yunusiah

Kajian

Selesai Haid tetapi Belum Mandi, Apakah Tetap Wajib Berpuasa? Selesai Haid tetapi Belum Mandi, Apakah Tetap Wajib Berpuasa?

Delapan Perkara yang Dilarang bagi Perempuan Haid

Ibadah

Connect