Ikuti Kami

Khazanah

Membumikan Rukun Iman dan Rukun Islam ala Gus Dur

gus dur perayaan imlek

BincangMuslimah.Com – Ciri khas dari Gus Dur adalah gagasannya yang melampaui zaman. Beberapa gagasannya dianggap menyimpang dan kontroversial. Salah satu gagasan Gus Dur yang dilontarkan kepada para Kyai adalah soal term “rukun tetangga” selain adanya “rukun iman” dan “rukun Islam”.

Hal itu akhirnya menjadi pembahasan secara khusus oleh para Kyai, selain soal pribumisasi Islam. Gus Dur dianggap menyimpang karena dianggap meremehkan perkara teologi dan menambah rukun iman.

Lalu Gus Dur memberikan tanggapannya mengenai ini. Dalam buku “Fikih Gus Dur” karya Dr. Johari, Gus Dur risau pada realitas masyarakat muslim yang tidak banyak memiliki peran sosial. Padahal, bagi Gus Dur, hal ini seringkali dibicarakan dalam Alquran.

Salah satunya adalah pemaknaan jihad yang selama ini hanya diasumsikan dengan perang, padahal jihad dengan harta cukup banyak difirmankan oleh Allah dalam Alquran. Gus Dur mengamati, terutama saat menjabat sebagai ketua PBNU, banyak ketimpangan ekonomi yang dialami masyarakat Indonesia.

Selain itu menurut penelitian Muslim Abdurrahman, ketimpangan ekonomi dan sosial yang terjadi di Subang juga memprihatinkan. Di Mesir, kata Gus Dur, banyak masyarakatnya yang senjang secara ekonomi. Di satu sisi, ada yang benar-benar kaya memiliki banyak harta dan tanah. Di sisi lain ada yang benar-benar miskin, tidak punya apa-apa.

Hal yang berbanding terbalik dengan pesan Allah dalam Alquran surat al-Baqoroh ayat 177,

لَيْسَ الْبِرَّاَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةِ وَالْكِتٰبِ وَالنَّبِيّٖنَ ۚ وَاٰتَى الْمَالَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَوِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِۙ وَالسَّاۤىِٕلِيْنَ وَفىِ الرِّقَابِۚ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ ۚ وَالْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عَاهَدُوْا ۚ وَالصّٰبِرِيْنَ فِى الْبَأْسَاۤءِ وَالضَّرَّاۤءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ

Baca Juga:  Santri Berdaya: Tak Hanya Ngaji, ini Kiprah Santri di Dunia Profesi!

Artinya: Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

Lalu apa hubungannya dengan rukun tetangga, rukun iman, dan rukun Islam?

Dalam pengamatannya, Gus Dur melihat bahwa ada keterpisahan dalam rukun iman yang bersifat individu dan rukun Islam yang bersifat sosial. Gus Dur mengatakan bahwa mestinya ada formulasi dari keimanan seseorang yang harusnya juga bersifat sosial.

Misal, keimanan seseorang harusnya bisa diwujudkan dalam kehidupan bersosial. Gus Dur melihat bahwa banyak muslim yang soleh secara spiritual tapi tidak a-sosial. Sebaliknya, tidak sedikit yang pergaulan sosialnya bagus tapi tidak soleh spiritual. Gus Dur hendak menjembatani rukun iman dan rukun Islam dengan “rukun tetangga” atau “rukun sosial”.

Lantas  beliau menafsirkan satu persatu makna rukun Islam yang erat dengan dimensi sosial. Syahadat, persaksian ini bersifat individu. Tapi jika ia sudah diikrarkan di depan publik, maka ini memiliki dimensi sosial.

Begitu juga shalat, yang dimaksudkan dalam Alquran untuk menjauhkan muslim dari berbuat buruk dan munkar (al-Ankbaut ayat 45). Hikmah shalat dalam ayat tersebut mengandung dimensi sosial. Selain itu, adanya anjuran shalat jama’ah juga mengandung dimensi sosial untuk menjaga kerukunan.

Lalu puasa. Hikmah dari puasa yang mengandung dimensi sosial adalah untuk menumbuhkan empati, rasa prihatin, dan kepedulian. Dalam ibadah puasa, kita bisa merasakan bagaimana rasanya lapar dan haus yang juga dirasakan oleh saudara lainnya.

Baca Juga:  Gus Dur, Konsep Jihad dan Reinterpretasi Makna Kafir

Begitu juga zakat, menyisihkan harta untuk sesama dan membantu meningkatkan taraf ekonomi dan kebutuhan. Adapun haji adalah semangat egalitarian, yaitu kesamaan dalam pakaian ihram yang menghilangkan kesombongan karena pangkat dan status sosial.

Maka jelaslah, maksud Gus Dur menyebutkan “rukun tetangga” atau “rukun sosial” adalah untuk membumikan makna dari rukun iman dan rukun Islam. Sebagai muslim, Gus Dur mengatakan bahwa sejatinya hidup harus juga menyeimbangkan antara ibadah individu dan sosial. Ini juga menjadi upaya bagi Gus Dur untuk mencegah praktik dari kelompok komunis dan sosialis.

Rekomendasi

Tiga Tokoh Islam Indonesia Mendapat Anugrah Gelar Pahlawan Nasional 2025 Tiga Tokoh Islam Indonesia Mendapat Anugrah Gelar Pahlawan Nasional 2025

Tiga Tokoh Islam Indonesia Mendapat Anugrah Gelar Pahlawan Nasional 2025

Empat Nasihat Gus Dur untuk Putri Bungsunya

Gus Dur di Mata Perempuan Gus Dur di Mata Perempuan

Mengenal Gus Dur Lewat Buku “Gus Dur di Mata Perempuan”

beriman ghaib era modern beriman ghaib era modern

Beriman kepada kepada Hal Ghaib di Era Modern

Ditulis oleh

Sarjana Studi Islam dan Redaktur Bincang Muslimah

Komentari

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Mewarisi Dendam atau Memutus Luka Keluarga? Refleksi Novel Makamkan Ibu di Samping Ayah Mewarisi Dendam atau Memutus Luka Keluarga? Refleksi Novel Makamkan Ibu di Samping Ayah

Mewarisi Dendam atau Memutus Luka Keluarga? Refleksi Novel Makamkan Ibu di Samping Ayah

buku

Nama Nabi Sulaiman Didahulukan Nama Nabi Sulaiman Didahulukan

Tafsir Surah An-Naml Ayat 30; Hikmah Nama Nabi Sulaiman Didahulukan daripada Nama Allah

Kajian

Mengenal Tujuh Macam Kebiasaan Istihadhah

Ibadah

Bagaimana Pandangan Maqashid Syariah mengenai Kebakaran Hutan di Kalimantan? Bagaimana Pandangan Maqashid Syariah mengenai Kebakaran Hutan di Kalimantan?

Bagaimana Pandangan Maqashid Syariah mengenai Kebakaran Hutan di Kalimantan?

Muslimah Talk

lelaki perempuan mata allah lelaki perempuan mata allah

Feminisme Al-Qur’an, Tafsir An-Nahl 97; Lelaki dan Perempuan di Mata Allah

Kajian

Nasihat Pernikahan Gus Mus Nasihat Pernikahan Gus Mus

Doa untuk Pengantin Baru

Ibadah

diperhatikan Memilih pasangan hidup diperhatikan Memilih pasangan hidup

Tafsir Al-Baqarah Ayat 221: Hal yang Harus Diperhatikan saat Memilih Pasangan Hidup

Kajian

Mu'asyarah bil Ma'ruf dalam Pernikahan, Bagaimana Idealnya? Mu'asyarah bil Ma'ruf dalam Pernikahan, Bagaimana Idealnya?

Mu’asyarah bil Ma’ruf dalam Pernikahan, Bagaimana Idealnya?

Keluarga

Trending

Nasihat Pernikahan Gus Mus Nasihat Pernikahan Gus Mus

Doa untuk Pengantin Baru

Ibadah

Surat Al-Ahzab Ayat 33 Surat Al-Ahzab Ayat 33

Tafsir Surat Al-Ahzab Ayat 33; Domestikasi Perempuan, Syariat atau Belenggu Kultural?

Kajian

Mengenal Tujuh Macam Kebiasaan Istihadhah

Ibadah

diperhatikan Memilih pasangan hidup diperhatikan Memilih pasangan hidup

Tafsir Al-Baqarah Ayat 221: Hal yang Harus Diperhatikan saat Memilih Pasangan Hidup

Kajian

Tata Cara Shalat Perempuan Tata Cara Shalat Perempuan

Tata Cara Shalat Perempuan Istihadhah

Ibadah

air ketuban air ketuban

Benarkah dengan Membaca Surah Yusuf Anak yang Dikandung akan Tampan?

Kajian

kehidupan muhammad sebelum nabi kehidupan muhammad sebelum nabi

Kenapa Sahabat Nabi Tidak Merayakan Maulid?

Khazanah

lelaki perempuan mata allah lelaki perempuan mata allah

Feminisme Al-Qur’an, Tafsir An-Nahl 97; Lelaki dan Perempuan di Mata Allah

Kajian

Connect