Ikuti Kami

Diari

Tasawuf Cinta Murni Sufi Rabi’ah al-Adawiyah

sufi tasawuf rabi'ah al-adawiyah
gettyimages.com

BincangMuslimah.Com – Ilmu dalam mencari ketenangan, menyucikan jiwa dan menjernihkan akhlak serta hanya bergantung pada Allah adalah perilaku yang diterapkan oleh para sufi. Menurut pandangan Harun Nasution hal semacam ini dalam Islam disebut tasawuf yaitu suatu ilmu pengetahuan untuk mempelajari cara jalan bagaimana seorang muslim dapat berada sedekat mungkin dengan sang Khalik.

Tasawuf ini termasuk pada mistisisme dalam Islam, dimana para sufisme adalah hanya manusia tertentu yang mengalami kesadaran akan adanya komunikasi serta dialog antara roh manusia dengan Tuhan caranya adalah mengasingkan diri dan merenungi hal-hal diluar duniawi. Salah satu tokoh sufisme yang sangat berpengaruh dan mempunyai peranan penting dalam dunia tasawuf serta perempuan sufi yang dijuluki sebagai ibu dari sufi yaitu Rabi’ah al-Adawiyah.

Hadirnya Rabi’ah al-Adawiyah membawa suasana baru pada dunia tasawuf Islam, sebelumnya selain para sufi yang hanya laki-laki dan membawa perubahan dari yang asketisme dengan rasa takut dan pengharapan yang keras berubah menjadi asketisme yang penuh dengan rasa cinta.

Dalam tulisan Abu Wafa al-Ghanimi al-Taftazani pada bukunya tentang tasawuf Islam banyak menceritakan tentang kesalehan dari ibadah Rabi’ah al-Adawiyah dan menjadi sangat terkenal terutama kesufian pada sang Khalik melalui cinta yang murni. Berasal dari keluarga yang bisa dibilang kekurangan ayah dari Rabi’ah termasuk muslim yang taat. Dilahirkan pada malam ketika gelap gulita Rabi’ah lahir perkiraan pada tahun 99 H atau 717 M. Lahir di perkampungan yang dekat dengan kota Basrah di Irak Rabi’ah juga wafat di kota tersebut pada tahun 185 H atau 801 M.

Nama lahirnya yaitu Rabi’ah binti Ismail al-Adawiyah al-Bashriyah Al-Qaisiyah. Hidup dari keluarga yang kekurangan membuat masa kecil dari Rabi’ah penuh dengan tangis dan duka. Kendati demikian, keluarganya adalah keluarga yang taat pada agama yang menurun pada Rabi’ah. Seolah-olah Allah menjawab ketaatan dan ketekunan Rabi’ah dalam berdoa dan beribadah, ia terbebaskan dari hal-hal sengsara.

Baca Juga:  Pandangan Paus Fransiskus tentang Anak-Anak

Kemudian tinggal seorang diri, Rabi’ah mengikuti sebuah majelis dan mengembangkannya sampai akhirnya dikunjungi banyak murid, inilah awal dari perjalanan ke sufian dari Rabi’ah. Dari sini lahirlah ajaran-ajaran yang fundamental yaitu cinta murni kepada Allah dan mengesampingkan segala urusan tentang dunia. Syair-syair cinta Rabi’ah al-Adawiyah pun mulai lahir, tak lain syair ini berisi tentang rasa cinta yang begitu besar nan murni yang ia ucap dan tulis hanya kepada Allah sahaja.

Dalam praktik ibadah ketasawufannya Rabi’ah menjunjung rasa cinta murni kepada sang Khalik atau mahabbatullah yaitu tidak menyukai adanya kesenangan dunia dan mengkritik yang lain apabila sering dikunjungi banyak orang karena kealimannya, karena Rabi’ah memandang ini sebagai kesenangan atau kesanjungan pada duniawi saja.

Puncak dari ketasawufan Rabi’ah al-Adawiyah adalah cinta murni kepada sang Khalik. Melakukan banyak kegiatan ibadah, bertaubat, menjauhi kehidupan duniawi serta menolak segala bentuk bantuan materi dari orang lain. Bahkan isi doa dari Rabi’ah sebagai bentuk perwujudan cinta dan rindu kepada Tuhannya, tidak ada baginya nafas dan detak jantung kecuali hanya untuk merindu mendambakan pertemuan dengan sang Khalik.

Pada doa-doa yang sering dipanjatkan pun Rabi’ah tidak pernah sama sekali meminta hal-hal yang menjurus kepada materi dari Tuhannya. Menurut Dr. H. Abuddin Nata, MA., dalam bukunya filsafat dan tasawuf menceritakan bukti rasa cinta Rabi’ah al-Adawiyah yang murni kepada sang Khalik, Rabi’ah sampai pada menolak lamaran untuk menikah karena baginya hati dan seluruh yang ada pada dirinya hanya milik Tuhan yang dicintainya dan bagi siapapun yang ingin memilikinya harus meminta izin kepada Tuhannya. Rabi’ah tidak ingin menikah karena tidak mau cintanya yang murni kepada sang Khalik harus terbagi dan baginya cinta murninya tidak dapat disandingkan dengan apapun yang ada di dunia ini.

Baca Juga:  Ibu Sempurna dalam Pandangan Masyarakat

Dijelaskan di dalam buku dari Dra. Hj. Ummu Kalsum Yunus, M.Pd.I., tentang ilmu tasawuf bahwa meskipun banyak laki-laki yang meminangnya bahkan para tokoh terkenal Rabi’ah tetap bertekad untuk menyendiri dan beribadah kepada Allah sebagai bukti cinta murninya sampai pada akhir hayatnya.

Ketasawufan Rabi’ah tentang konsep cinta murni pada sang Khalik ini berpengaruh besar pada perkembangan sufisme dunia. Termasuk pada syair-syair cintanya juga mempengaruhi tokoh-tokoh besar seperti al-Ghazali dan Jalaluddin Rumi. Jika ingin mendapatkan tingkat tasawuf yang tinggi terhadap sang Khalik harus memberikan seluruh cinta dalam diri kepada-Nya tanpa mengharapkan balasan dari rasa cinta tersebut seperti yang dilakukan oleh Rabi’ah al-Adawiyah.

 

 

Rekomendasi

perempuan dan hijab tafsir ummu salamah perempuan dan hijab tafsir ummu salamah

Mengenal Sosok Sufi Perempuan pada Masa Awal Islam

Aishah al-Ba’uniyyah, Guru Sufi Asal Mesir yang Pandai Menulis

Perempuan: Perspektif Filsafat-Tasawuf Perempuan: Perspektif Filsafat-Tasawuf

Perempuan: Perspektif Filsafat dan Tasawuf

Membincang Self-Awareness Dalam Al-Qur’an Membincang Self-Awareness Dalam Al-Qur’an

Terapi SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technical) untuk Mengatasi Gangguan Emosi Sesuai Nilai Islam

Ditulis oleh

Penulis merupakan Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam, UIN Sunan Ampel, Surabaya.

Komentari

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Mewarisi Dendam atau Memutus Luka Keluarga? Refleksi Novel Makamkan Ibu di Samping Ayah Mewarisi Dendam atau Memutus Luka Keluarga? Refleksi Novel Makamkan Ibu di Samping Ayah

Mewarisi Dendam atau Memutus Luka Keluarga? Refleksi Novel Makamkan Ibu di Samping Ayah

buku

Nama Nabi Sulaiman Didahulukan Nama Nabi Sulaiman Didahulukan

Tafsir Surah An-Naml Ayat 30; Hikmah Nama Nabi Sulaiman Didahulukan daripada Nama Allah

Kajian

Mengenal Tujuh Macam Kebiasaan Istihadhah

Ibadah

Bagaimana Pandangan Maqashid Syariah mengenai Kebakaran Hutan di Kalimantan? Bagaimana Pandangan Maqashid Syariah mengenai Kebakaran Hutan di Kalimantan?

Bagaimana Pandangan Maqashid Syariah mengenai Kebakaran Hutan di Kalimantan?

Muslimah Talk

lelaki perempuan mata allah lelaki perempuan mata allah

Feminisme Al-Qur’an, Tafsir An-Nahl 97; Lelaki dan Perempuan di Mata Allah

Kajian

Nasihat Pernikahan Gus Mus Nasihat Pernikahan Gus Mus

Doa untuk Pengantin Baru

Ibadah

diperhatikan Memilih pasangan hidup diperhatikan Memilih pasangan hidup

Tafsir Al-Baqarah Ayat 221: Hal yang Harus Diperhatikan saat Memilih Pasangan Hidup

Kajian

Mu'asyarah bil Ma'ruf dalam Pernikahan, Bagaimana Idealnya? Mu'asyarah bil Ma'ruf dalam Pernikahan, Bagaimana Idealnya?

Mu’asyarah bil Ma’ruf dalam Pernikahan, Bagaimana Idealnya?

Keluarga

Trending

Nasihat Pernikahan Gus Mus Nasihat Pernikahan Gus Mus

Doa untuk Pengantin Baru

Ibadah

Surat Al-Ahzab Ayat 33 Surat Al-Ahzab Ayat 33

Tafsir Surat Al-Ahzab Ayat 33; Domestikasi Perempuan, Syariat atau Belenggu Kultural?

Kajian

Mengenal Tujuh Macam Kebiasaan Istihadhah

Ibadah

diperhatikan Memilih pasangan hidup diperhatikan Memilih pasangan hidup

Tafsir Al-Baqarah Ayat 221: Hal yang Harus Diperhatikan saat Memilih Pasangan Hidup

Kajian

Tata Cara Shalat Perempuan Tata Cara Shalat Perempuan

Tata Cara Shalat Perempuan Istihadhah

Ibadah

air ketuban air ketuban

Benarkah dengan Membaca Surah Yusuf Anak yang Dikandung akan Tampan?

Kajian

kehidupan muhammad sebelum nabi kehidupan muhammad sebelum nabi

Kenapa Sahabat Nabi Tidak Merayakan Maulid?

Khazanah

lelaki perempuan mata allah lelaki perempuan mata allah

Feminisme Al-Qur’an, Tafsir An-Nahl 97; Lelaki dan Perempuan di Mata Allah

Kajian

Connect