Ikuti Kami

Subscribe

Kajian

Imam Nahe’i : Pentingnya Menghadirkan Pengalaman Perempuan dalam Penafsiran Al-Qur’an

BincangMuslimah.Com – Hampir semua doktrin-doktrin keagamaan ditulis oleh laki-laki dengan menggunakan prespektif mereka. Sehingga, pengalaman perempuan belum terakomodasi dengan baik. Demikianlah yang disampaikan oleh Bapak Imam Nahe’i dalam pelatihan kepenulisan keislaman berbasis gender yang diadakan Bincang Muslimah Sabtu lalu (29/8).

Oleh karena itu, Bapak Imam Nahe’i berpesan kepada para penulis Bincang Muslimah agar  menghadirkan kembali pengalaman dan peran perempuan di dalam tulisan-tulisan yang berkaitan dengan keislaman. Menurutnya, ketidak hadiran pengalaman perempuan di dalam sebuah tulisan akan menyebabkan bahasa yang ditulis dapat berdampak diskriminasi terhadap perempuan.

Salah satu ayat yang dijadikan argumen Bapak Imam Nahe’i tentang pentingnya menghadirkan pengalaman perempuan dalam menulis adalah ayat haid. Allah swt. berfirman, Yas alunaka anil mahidh (mereka bertanya kepadamu tentang mahidh). Allah swt. menggunakan kata mahidh bukan haid. Mahidh berarti darah haid, sedangkan haidh adalah orang yang sedang haid. Allah memilih mahidh bukan haidh karena berangkat dari pengalaman perempuan.

Pada zaman jahiliyah, perempuan haid tidak diajak makan bersama. Tidak diajak minum bersama. Tidak diajak bicara dan duduk bersama. Perempuan-perempuan yang haid pada masa itu diletakkan di kandang belakang rumah untuk menjalankan fungsi reproduksinya itu. Bahkan, konon perempuan-perempuan yang baru selesai haid ketika itu baunya sangat menyengat.

Pengalaman perempuan tersebut ingin dirubah dengan kekuatan bahasa, maka Allah swt.  menggunakan lafadz mahidh/darah haid. Allah swt. menegaskan bahwa yang bermasalah itu darah haidnya bukan haidnya/orangnya.

Orang haid itu manusia seutuhnya yang sedang menjalankan fungsi reproduksi dan tidak ada yang salah dalam dirinya. Kemanusiaannya tidak turun karena dia menjalankan fungsi reproduksi. Maka, Al-Qur’an menggunakan redaksi mahidh untuk mengubah cara pandang masyarakat jahiliyah yang mempermasalahkan kemanusiaan orang haid.

Begitu pula penggunaan bahasa pada kelanjutan ayat tersebut. Allah swt. berfirman, fa’tazilun nisaa a fil mahidh. Allah swt. menggunakan kata fa’tazilu (hendaknya laki-laki yang berisolasi diri). Allah swt. bukan menggunakan kata fa’ziluu (hendaknya mengasingkan perempuan).

Hal tersebut juga ingin memotret pengalaman perempuan di masa Jahiliyah. Mereka menjalankan fungsi reproduksinya dengan diasingkan dari keluarga. Al-Qur’an mengatakan jangan lakukan i’zilu tapi fa’taziluu. Kamu yang berisolasi, jangan perempuan yang kamu keluarkan.

I’zilu tidak sama dengan fisik dan berbeda dengan hujran yang berarti meninggalkan.  I’tazilu bisa dalam satu kamar tetapi satunya menghadap ke samping satunya menghadap ke samping lainnya atau tidak melakukan hubungan badan.

Selanjutnya firman Allah swt. wa laa taqrabuuhunna hatta yathhurna. Redaksi yang digunakan Al-Qur’an tersebut juga menarik. Ia menggunakan kata thahura, tathhir, tathahhur dan seterusnya. Hal ini ingin menunjukkan kemanusiaan perempuan. Ketika mereka sedang menjalankan fungsi reproduksi, mereka hanya mengalami hambatan kesucian seperti laki-laki pada umumnya kalau kencing atau BAB yang juga mengalami hambatan kesucian.

Bapak Imam Nahe’i juga menyinggung hadis yang menjadi streotip bagi perempuan; al mar’atu naqisatu aqlin wa diinin. Perempuan itu kurang akal dan agamanya. Jika dibaca tanpa melihat pengalaman perempuan ketika hadis ini disabdakan, maka akan salah menangkap pesan.

Pada saat itu, perempuan tidak mendapatkan hak dan pendidikan yang setara dengan laki-laki. Maka, perempuan tidak mendapatkan akses yang setara untuk menimba ilmu sebagaimana laki-laki. Perempuan tidak diberi ruang yang cukup oleh suami dan keluarganya untuk mendapatkan akses yang sama dengan laki-laki. Merekapun terbentuk secara budaya tidak mendapatkan kemampuan yang sama dengan kemampuan laki-laki karena aksesnya berbeda.

Dengan demikian, maka ketika hendak menulis atau menafsirkan teks agama harus memperhatikan dua hal. Pertama; pengalaman perempuan di mana teks itu diturunkan. Kedua, pengalaman perempuan di mana teks itu akan diaplikasikan atau dibumikan. Ketika dua hal tersebut diperhatikan, maka insya Allah tidak ada lagi diskriminasi dan pengabaian peran perempuan dalam penafsiran teks agama.

Bapak Imam Nahe’i memungkasi materinya dengan mengatakan bahwa ketika menulis sebuah gagasan tentang isu perempuan, maka catatannya satu, harus mengkaji situasi dan pengalaman perempuan. Wa Allahu a’lam bis shawab.

Rekomendasi

inner child yang terluka inner child yang terluka

Inner Child yang Terluka Berdampak Besar bagi Perempuan Dewasa

Perundungan perempuan pengalaman biologis Perundungan perempuan pengalaman biologis

Perundungan Terhadap Perempuan karena Pengalaman Biologis

Perempuan Rentan kesehatan mental Perempuan Rentan kesehatan mental

Perempuan Rentan Alami Gangguan Kesehatan Mental Selama Pandemi

Review Novel Telembuk, Potret Buram Perempuan Miskin

Annisa Nurul Hasanah
Ditulis oleh

Redaktur Pelaksana BincangMuslimah.Com, Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Pondok Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus-Sunnah

Komentari

Komentari

Terbaru

Pernikahan Anak Bahan Candaan Pernikahan Anak Bahan Candaan

Mengkhawatirkan, Pernikahan Anak Masih Jadi Bahan Candaan

Muslimah Talk

Keilmuan Islam Bumi Andalusia Keilmuan Islam Bumi Andalusia

Benih Keilmuan Islam di Bumi Andalusia

Khazanah

perempuan baik lelaki baik perempuan baik lelaki baik

Maudy Ayunda Menikah; Telaah Tafsir “Perempuan yang Baik untuk Lelaki yang Baik”

Kajian

bermain hak setiap anak bermain hak setiap anak

Bermain Adalah Hak Setiap Anak

Keluarga

Memahami Hadis syuhudi ismail Memahami Hadis syuhudi ismail

Langkah-langkah Memahami Hadis Menurut Prof. Muhammad Syuhudi Ismail

Kajian

sebab munculnya hadis palsu sebab munculnya hadis palsu

Hadis Maudhu’: Sebab-Sebab Munculnya Hadis Palsu

Kajian

amalan shalat ashar jumat amalan shalat ashar jumat

Amalan Nabi Khidir Setelah Shalat Ashar di Hari Jumat

Ibadah

ajarkan kesetaraan laki-laki perempuan ajarkan kesetaraan laki-laki perempuan

Ajarkan Kesetaraan Pada Anak Laki-Laki dan Perempuan

Kajian

Trending

kepemilikan aset kripto dizakati kepemilikan aset kripto dizakati

Apakah Kepemilikan Aset Kripto Harus Dizakati?

Kajian

anggota keluarga menggantikan puasa anggota keluarga menggantikan puasa

Apakah Anggota Keluarga Bisa Menggantikan Puasa Kerabat yang Sudah Wafat?

Kajian

laki-laki jadi korban kdrt laki-laki jadi korban kdrt

Tidak Hanya Pada Perempuan, Laki-Laki Pun Bisa Jadi Korban KDRT

Kajian

tata cara membayar fidyah tata cara membayar fidyah

Tata Cara Membayar Fidyah Puasa Ramadhan

Kajian

amalan shalat ashar jumat amalan shalat ashar jumat

Amalan Nabi Khidir Setelah Shalat Ashar di Hari Jumat

Ibadah

as-syifa' guru baca-tulis as-syifa' guru baca-tulis

Mengenal As-Syifa’: Guru Baca-Tulis dalam Islam

Khazanah

Doa Saat Naik Kendaraan Doa Saat Naik Kendaraan

Doa Saat Naik Kendaraan

Ibadah

pekerja berat membatalkan puasa pekerja berat membatalkan puasa

6 Syarat Pekerja Berat Boleh Membatalkan Puasa di Bulan Ramadhan

Kajian

Connect