Ikuti Kami

Subscribe

Diari

Ternyata Begini Keadaan Perempuan pada Masa Jahiliyah…

perempuan pada masa jahiliyah

BincangMuslimah.Com – Hai, perempuan lagi? Tak bosan-bosankah makhluk Tuhan satu itu dibicarakan? Hehe.. tak apa. Pembahasan tentang perempuan selalu seru. Selain karena saya perempuan, juga karena perempuan memiliki sejarah yang sangat buruk di masa lampau dibanding laki-laki yang dalam sejarah selalu menjadi manusia nomor satu di dunia.

Saya sendiri benar-benar sangat bersyukur karena menjadi perempuan abad sekarang. Sebagai perempuan, saya masih berharga, dikehendaki, dan merasa ada. Bandingkan saja dengan keadaan perempuan pada masa jahiliyah atau juga pada masa bani Abbasiyah.

Pada masa jahiliyah, anak-anak perempuan tidak dikehendaki adanya di dunia. Maka wajar jika banyak terjadi pembunuhan hidup-hidup terhadap bayi perempuan yang baru lahir. Bagi mereka, anak perempuan adalah aib keluarga.

Alasan lainnya dari tindakan mereka itu, karena mereka khawatir nantinya anak perempuan mereka akan kawin dengan orang asing atau orang yang berkedudukan lebih rendah dari mereka. Di samping itu mereka juga khawatir anak perempuan tersebut menjadi harem-harem atau gundik para musuh ketika mereka kalah dalam sebuah peperangan. (Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Gender, 122)

Pada masa Abbasiyah, beda lagi kasusnya namun substansinya sama. Perempuan-perempuan selalu ditempatkan di posisi nomor dua setelah laki-laki. Tak ada perempuan yang ikut serta dalam politik praktis, bahkan parahnya keberadaan mereka hanyalah untuk memuaskan nafsu seks laki-laki saja. Di masa itu, setiap laki-laki pasti memiliki beberapa selir.

Perempuan yang kaya di zaman itu  harus siap-siap dimadu. Maka tak sedikit orang tua yang khawatir jika memiliki anak perempuan. Bagi mereka lebih baik anak itu mati di usia belia dari pada harus menanggung beban psikologi ketika dewasa nanti. Karena pilihan perempuan pada masa itu hanya tiga; menjadi istri pertama dan dimadu, menjadi madu atau menjadi budak. Duh!

Hal serupa juga terjadi pada puncak peradaban Yunani. Perempuan disamakan dengan harta benda. Ya dijual, ya dibeli bahkan banyak perempuan yang wafat karena dijadikan persembahan ritual keagamaan ataupun jadi korban pelecehan. Hal demikian juga terjadi dalam tatanan masyarakat India Kuno.

Bangsa Eropa juga tak kalah buruk dalam memperlakukan perempuan. Perempuan tak berhak atas hak kepemilikan baik pakaian maupun harta yang diperoleh dari hasil keringatnya sendiri. Perempuan hanya bertugas untuk melayani laki-laki. Hiks.

Sedang pada peradaban Romawi, kekuasan perempuan seluruhnya diserahkan pada suami. Mulai dari kewenangan suami untuk mengusir, menganiaya atau bahkan membunuhnya. Ini berlangsung hingga abad V Masehi.

Peradaban Hindu dan Cina pun tidak lebih baik dari yang lain. Pada masa itu, istri harus dibakar hidup-hidup pada saat mayat suaminya dibakar. Kehidupan seorang perempuan harus berakhir pada saat kematian suaminya. Tradisi ini berakhir pada abad XVII M. Pun dalam pandangan Yahudi, perempuan merupakan laknat karena merupakan penyebab terusirnya Adam dari surga. (Kata Pengantar M.Quraish Shihab dalam Nasaruddin Umar, Argumentasi Kesetaraan Jender: Perspektif Alquran)

Dan jangan heran pula jika sebuah sejarah mencatat bahwa dalam upacara tradisional yang bersifat sakral dan profan di kawasan Timur Tengah, beberapa di antaranya mempersembahkan gadis-gadis sebagai tumbal, seperti upacara rutin di sungai Nil dan tempat-tempat yang disakralkan lainnya. (Feda Malti-Douglas, Womans’s Body, Womans’s Word, Gender and discourse in Arabo-Islamic Writing, Princeton, 20)

Sedangkan perempuan dalam masa jahiliyah di Arab sana sebelum datangnya Islam; perempuan yang ditinggal mati oleh suaminya tidak berhak mendapatkan warisan sama sekali. Bahkan mereka sendiri menjadi warisan (sebagaimana barang) yang bisa diambil oleh saudara atau keluarga almarhum suami. Kalau saudaranya itu tidak ingin menikahinya, maka ia akan dinikahkan dengan laki-laki lain dan maharnya akan diambil oleh saudara si suaminya itu. Bukan untuk dirinya. Hiks! Menyedihkan! (Muhammad Ali Al-Shabuni, Rawai’ al-Bayan, juz 1, 420-421)

Dear sister fillah..

Islam kemudian datang dan memberikan hak-hak perempuan dalam naungan keadilan, menjadikannya pilar dalam rumah tangga yang humanis, memperhatikan dan menjaga kemuliaan mereka, menyiapkan posisi dalam rumah tangga yang pantas untuknya, menentukan hak waris perempuan dan menjelaskan berbagai hak-hak lainnya.

Islam juga melarang seseorang untuk menjadikan perempuan sebagai harta warisan, melarang budak perempuan dijadikan bahan prostitusi untuk mendapatkan harta, serta melarang anak laki-laki menikahi istri ayahnya (ibu tirinya) sebagaimana hal-hal tersebut lazim terjadi di masa Pra Islam.

Maka bersyukurlah menjadi perempuan zaman now, dengan kehadiran Islam yang ramah perempuan. Perempuan akhirnya berhak mendapatkan hak-hak mereka dan tidak lagi dilecehkan. []

Rekomendasi

Perempuan Shalat di Rumah Perempuan Shalat di Rumah

Perempuan Shalat di Rumah atau di Masjid, Mana Yang Lebih Baik?

Ros Athallah Syuhfah Aktivis Ros Athallah Syuhfah Aktivis

Ros Athallah Syuhfah, Aktivis Hak Asasi Perempuan dari Lebanon

perempuan harus mandiri perempuan harus mandiri

Sebuah Opini: Mengapa Perempuan Harus Mandiri dan Kuat Menjalani Hidup?

taubatnya seorang putri pembesar taubatnya seorang putri pembesar

Taubatnya Seorang Putri Pembesar Kabilah Arab

Fina Lailatul Masruroh

Alumni Mahad Aly Situbondo

Komentari

Komentari

Terbaru

keringanan tidak puasa, pendidikan prenatal ibu hamil keringanan tidak puasa, pendidikan prenatal ibu hamil

Empat Golongan yang Mendapatkan Keringanan Tidak Puasa

Ibadah

menolak berhubungan seksual menolak berhubungan seksual

Benarkah Hanya Perempuan yang Dilaknat Jika Menolak Hubungan Seksual?

Kajian

Perempuan Shalat di Rumah Perempuan Shalat di Rumah

Apakah Wajib Berpuasa Saat Melakukan I’tikaf?

Kajian

adab berpuasa adab berpuasa

Empat Adab yang Perlu Diperhatikan Orang yang Puasa Ramadhan

Ibadah

Adakah Batasan Waktu Melakukan Adakah Batasan Waktu Melakukan

Adakah Batasan Waktu Melakukan I’tikaf?

Kajian

I’tikaf Harus di Masjid I’tikaf Harus di Masjid

I’tikaf Harus di Masjid, Apa Bedanya dengan Mushalla?

Kajian

Bincang Ramadhan: Hukum Berpuasa Bagi Ibu Hamil

Video

Apakah Shalat Tarawih Harus Apakah Shalat Tarawih Harus

Anjuran I’tikaf Pada 10 Hari Terakhir Ramadhan

Kajian

Trending

Kenapa Harus Hanya Perempuan yang Tidak Boleh Menampilkan Foto Profil?

Diari

Masih Punya Hutang Puasa Masih Punya Hutang Puasa

Macam-macam Doa Berbuka yang Diajarkan Rasulullah

Ibadah

keluarga harmonis, keluarga sakinah keluarga harmonis, keluarga sakinah

Desain Keluarga Sakinah Menurut KH. Said Aqil Siroj

Keluarga

Adakah Batasan Waktu Melakukan Adakah Batasan Waktu Melakukan

Darah Haid Keluar Saat Masuk Waktu Shalat, Apakah Harus Mengqadha Shalat?

Ibadah

Perempuan hamil dan menyusui, perempuan hendak melahirkan di Perempuan hamil dan menyusui, perempuan hendak melahirkan di

Hukum Perempuan Hamil dan Menyusui yang Tak Mampu Puasa Ramadan Versi Empat Mazhab

Ibadah

Sahkah Shalat Memakai Mukena Sahkah Shalat Memakai Mukena

Sahkah Shalat Memakai Mukena Masker?

Ibadah

Sisa Makanan di Sela-sela Gigi Tertelan saat Puasa Ramadhan, Batalkah Puasa?

Ibadah

Perempuan Shalat di Rumah Perempuan Shalat di Rumah

Perempuan Shalat di Rumah atau di Masjid, Mana Yang Lebih Baik?

Ibadah

Connect