Ikuti Kami

Subscribe

Ibadah

Definisi Mampu Pergi Haji dan Umrah Bagi Perempuan

niat haji untuk orang lain

BincangMuslimah.Com – Istitha’ah menurut bahasa diambil dari kata thawa’a/tha’a, dan istitha’ah berarti at-thaqah (mampu), namun istilah istitha’ah khusus untuk manusia, sedangkan thaqah lebih bersifat umum, oleh karena itu jika mengatakan aljamalu muthiqun lihamihi (unta itu mampu membawanya), maka bukan memakai mustathi’un. Jadi istitha’ah adalah mampu atas sesuatu dan mungkin untuk melakukannya. Sebagaimana firman Allah Swt:

“ولله على الناس حج البيت من استطاع اليه سبيلا”

Dan di antara kewajiban manusia kepada Allah adalah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. (QS. Ali Imran 97).

Istitha’ah menurut istilah umum adalah kemampuan yang wajib atasnya untuk melakukan sesuatu, dan Imam Ibnu Taimiyyah membatasinya dengan tidak adanya bahaya bagi seorang  mukallaf. Artinya jika tidak ada bahaya yang menghalangi dan ia mampu untuk melakukannya, maka itulah istitha’ah.

Adapun istitha’ah dalam ibadah haji menurut ulama Hanafiyyah dan Hanabilah adalah selamat atau amannya sebab dan sarana untuk ibadah haji, yakni adanya bekal, kendaraan dan selamatnya badan, serta memiliki harta tinggalan untuk menafkahi anggota yang wajib dinafkahi di rumah, sedangkan bagi perempuan harus disertai mahram atau suaminya.

Menurut ulama Malikiyyah, istitha’ah haji adalah mampu untuk sampai ke Mekkah dengan beban yang biasa. Mereka tidak mensyaratkan mampu dalam hal bekal (materi) dan transportasi, sehingga bagi siapa yang mampu berjalan kaki, maka wajib untuk haji dengan jalan kaki, dan bagi yang memungkinkan untuk mencari bekal di jalan, maka ia pun wajib baginya untuk beribadah haji dengan ongkos yang ia cari selama di perjalanan. Namun mereka (ulama Malikiyyah) mensyaratkan adanya kemudahan dalam urusan transortasi bagi perempuan jika jaraknya jauh. Dan masyhur di dalam mazhab ini dikatakan bahwa adanya mahram atau suami bukan termasuk syarat istitha’ah bagi perempuan yang hendak melaksanakan haji.

Adapun menurut ulama Syafiiyyah, istitha’ah dalam haji adalah mampu fisiknya, adanya harta yang cukup untuk bekal dan kendaraan/transportasi. Imam al Ghazali menambahkan aman di perjalanan, dan ulama Syafiiyyah tidak mensyaratkan adanya mahram bagi wanita.

Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa ulama dari empat mazhab sepakat bahwa mampu haji itu harus mampu sampai ke Mekkah, namun mereka berbeda pendapat dalam kemampuan ini untuk hajinya seorang perempuan. Ulama Hanafiyyah dan Hanabilah memaksudkan mampu adanya suami atau mahram bagi perempuan, namun menurut Malikiyyah dan Syafiiyyah tidak mengatakan seperti itu, yakni adanya mahram atau suami bukan masuk dalam kategori istitha’ah bagi perempuan ketika haji.

Sementara itu, menurut Hudail Usman Mahmud Abu Khadir di dalam tesisnya yang berjudul Ahkamu Hajjin Nisa’ Fil Fiqh Alislami berpendapat bahwa kemampuan haji bagi perempuan adalah mampunya sampai ke Mekkah dan menjalankan semua aktifitas selama haji hingga kembali ke rumahnya. Dan ia juga mampu fisiknya, materi maupun keamanannya yakni ia bisa berhasil masuk sampai kerajaan Arab Saudi dengan aman.

Istitha’ah untuk hajinya seorang perempuan pun terdapat di Alquran maupun sunnah Nabi sebagaimana berikut:

Dalil dari Alquran adalah surat Ali Imran ayat 97 yang berbunyi :

“ولله على الناس حج البيت من استطاع اليه سبيلا

Di dalam ayat tersebut Allah mengatakan:

على الناس

Atas manusia, yang berarti umum yakni untuk semua jenis gender baik laki-laki maupun perempuan. Imam Atthabari di dalam kitab tafsirnya menafsirkan bahwa haji itu wajib bagi orang yang mampu melaksanakannya dari golongan kaum mukallaf (berakal dan sudah baligh). Maka wajibnya haji itu disyaratkan adanya istitha’ah bagi setiap mukallaf. Dan wanita yang sudah baligh serta  berakal termasuk dari  orang yang mukallaf, dan ulama’ tidak bertentangan dalam masalah ini. Maka ayat tersebut merupakan dalil yang jelas atas disyariatkannya istitha’ah bagi perempuan.

Adapun dalil dari hadis Nabi saw. adalah “Dari Abu Hurairah ra. Ia berkata: “ Rasulullah saw. Menyampaikan khutbah kepada kita, beliau bersabda: “Wahai manusia, Allah telah mewajibkan kepada kalian haji, maka berhajilah, seseorang bertanya: “Apakah setiap tahun wahai Rasulullah?” Beliau diam, sampai orang tersebut berkata lagi tiga kali. Rasulullah Saw. bersabda: “Seandainya saya berkata iya maka (berhaji setiap tahun pun akan berhukum) wajib, namun (haji itu dilakukan) jika kalian mampu (saja), kemudian beliau bersabda: Biarlah apa yang sudah aku tinggalkan untuk kalian, karena sesungguhnya telah binasa orang-orang sebelum kalian akibat banyaknya pertanyaan dan perselisihan mereka terhadap Nabi mereka, maka jika aku perintahkan kalian sesuatu, kerjakanlah dari sesuatu itu dengan kemampuan  kalian, dan jika aku telah melarang kalian akan sesuatu maka tinggalkanlah. (HR. Muslim).

Pada awal hadis ini Nabi Saw. memanggil umatnya dengan kata “wahai manusia”  atau “ayyuhanasu” dan “annasu” itu berarti jamak (banyak) dan berhukum makrifat dengan tanda al Istighraq yang mengindikasikan umum (yakni wahai manusia semua).

Dan kata “ketika kalian mampu” mengindikasikan terhadap perkara yang berpondasi pada hal yang mudah dan gampang serta atas kemampuan manusia, bukan atas dasar hal yang sulit, maka dalam hadis tersebut Nabi Saw. mengindikasikan bahwa istitha’ah pada manusia itu berlaku baik untuk laki-laki maupun perempuan di dalam haji dan dalam kewajiban semuanya. Wa Allahu A’lam bis Shawab.

Disarikan dari kitab Ahkamu Hajjin Nisa’ Fil Fiqh Alislami, karya Hudail Usman Mahmud Abu Khadir, (Palestina: Jami’ah An Najah, 2016), h. 6-9.

Rekomendasi

syarat wajib haji syarat wajib haji

Macam-macam Denda yang Wajib Dibayar saat Haji

Tata Cara Tahallul, Salah Satu Rukun Haji: Lengkap dengan Zikir dan Artinya

Doa Melapas dan Menyambut Doa Melapas dan Menyambut

Doa Melepas dan Menyambut Jamaah Pulang dari Ibadah Haji

Doa Melapas dan Menyambut Doa Melapas dan Menyambut

Tata Cara Melakukan Sa’i, Salah Satu Rukun dalam Haji

Annisa Nurul Hasanah
Ditulis oleh

Redaktur Pelaksana BincangMuslimah.Com, Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Pondok Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus-Sunnah

Komentari

Komentari

Terbaru

apakah dakwah wajib bagi apakah dakwah wajib bagi

Apakah Dakwah Wajib bagi Setiap Muslim?

Kajian

Perempuan Hidup di Palestina Perempuan Hidup di Palestina

Membayangkan Menjadi Perempuan yang Hidup di Palestina

Muslimah Talk

Keutamaan Dimiliki Bulan Dzulqa’dah Keutamaan Dimiliki Bulan Dzulqa’dah

Empat Keutamaan Bulan Dzulqa’dah

Kajian

Trend Lamaran Masa Kini Trend Lamaran Masa Kini

Trend Lamaran Masa Kini, Bagaimana Pandangan dalam Islam?

Kajian

Tako’ Sangkal: Mitos Menolak Tako’ Sangkal: Mitos Menolak

Tako’ Sangkal: Mitos Menolak Lamaran pada Masyarakat Madura

Khazanah

Ketentuan Fasakh yang Wajib Ketentuan Fasakh yang Wajib

Ketentuan Fasakh yang Wajib Dipenuhi Menurut Ulama

Kajian

Belum Akikah Tapi Hendak Belum Akikah Tapi Hendak

Belum Akikah Tapi Hendak Berkurban, Bolehkah?

Kajian

Ayat Waris Menjadi Salah Ayat Waris Menjadi Salah

Ayat Waris Menjadi Salah Satu Bukti Islam Memuliakan Perempuan

Kajian

Trending

hutang puasa ramadhan hutang puasa ramadhan

Melunasi Qadha Puasa Ramadhan Dulu atau Puasa Syawal Dulu?

Ibadah

niat haji untuk orang lain niat haji untuk orang lain

Bolehkah Perempuan Pergi Haji dan Umrah Tanpa Disertai Mahram?

Ibadah

Hukum Menggabungkan Puasa Syawal dengan Puasa Qadha

Ibadah

Bolehkah Puasa Syawal pada Hari Jum’at?

Ibadah

Muslim Pancasilais: Karakter Pembebas Diskriminasi

Muslimah Daily

niat haji untuk orang lain niat haji untuk orang lain

Bolehkah Perempuan yang Haid Tetap Melaksanakan Thawaf Ifadhah?

Ibadah

syarat wajib haji syarat wajib haji

Macam-macam Denda yang Wajib Dibayar saat Haji

Ibadah

Sikap Mandiri yang Diajarkan Sikap Mandiri yang Diajarkan

Sikap Mandiri yang Diajarkan Oleh Rasulullah

Kajian

Connect