BincangMuslimah.Com – Konon katanya, hari ini kita hidup pada masa saat manusia menghabiskan sebagian besar waktunya di depan layar—dan saya sangat sependapat dengan hal itu. Menatap layar berlama-lama tak sekadar memberikan hiburan semata; sering kali ia menjadi ruang rehat sejenak dari rutinitas membaca buku, sekaligus menyajikan beragam sudut pandang menarik dari warganet dengan begitu mudahnya.
Kali ini saya ingin berbagi cerita tentang aktivitas scrolling saya belakangan ini. Jemari saya bergerak cepat mengetik nama Hypatia di kolom komentar ketika seorang warganet membuat utas interaktif dan mempertanyakan: ‘Mengapa jarang sekali—bahkan hampir tidak ada—nama filsuf terkenal dari kalangan perempuan?’
Namun, tepat setelah mengirimkan jawaban itu, saya justru tertawa kecil pada diri sendiri dan menyadari satu hal: benar juga! Mengapa hanya satu nama itu yang tebersit?
Ingatan saya melayang pada masa-masa awal kuliah saat menerima materi dasar psikologi dan filsafat. Dulu, saya bahkan sempat mengira Simone de Beauvoir adalah seorang laki-laki. Pemikiran keliru itu muncul begitu saja saking biasanya kita disuguhi nama-nama tokoh laki-laki yang mendominasi, seperti Sigmund Freud, Carl Gustav Jung, dan sederet tokoh lainnya.
Saya mulai berpikir dan bertanya-tanya: mengapa hal ini bisa terjadi? Mengapa nama para pemikir perempuan tenggelam di balik megahnya nama-nama laki-laki yang terus-menerus diangkat ke permukaan? Bahkan saat membicarakan filsafat, nama-nama yang secara refleks melintas di kepala saya tetaplah Socrates, Plato, dan pemikir laki-laki lainnya.
Ingatkah kita pada novel populer pengenalan filsafat, Dunia Sophie karya Jostein Gaarder? Tokoh-tokoh filsuf yang dikisahkan di dalamnya hampir seluruhnya laki-laki, kecuali sosok Sophie sendiri, seorang anak perempuan yang rasa ingin tahunya membawa kita menjelajahi Sejarah Filsafat.
Ternyata, fenomena ini bukanlah kebetulan belaka. Absennya nama-nama perempuan dari panggung utama sejarah keilmuan adalah cerminan dari besarnya beban patriarki, pembatasan akses, serta cara sistem dan masyarakat menilai peran perempuan selama berabad-abad.
Dari Ruang Domestik hingga Penghapusan Epistemik
Ketika ingatan kolektif kita secara refleks melompat ke figur-figur laki-laki saat membicarakan keilmuan, maka akan muncul pertanyaan, ke mana perginya para pemikir perempuan? Mengapa nama mereka begitu asing dalam catatan sejarah akademis?
Minimnya keterwakilan perempuan dalam kanon filsafat bukanlah bukti bahwa perempuan tidak berpikir atau berkarya pada masa lalu, melainkan akibat dari penghapusan sistematis (systemic erasure) dan bias sejarah yang berpusat pada laki-laki (androsentrisme).
Hermeneutical Injustice dan Pembungkaman Pengetahuan
Dalam filsafat pengetahuan, apa yang kita alami ketika membaca sejarah ini sejatinya merujuk pada konsep epistemic injustice (ketidakadilan epistemik) yang dirumuskan oleh filsuf Miranda Fricker. Ketidakadilan ini bekerja melalui dua cara utama:
Pertama, Ketidakadilan Testimoni (Testimonial Injustice). Gagasan atau karya pemikir perempuan dinilai kurang berbobot atau kurang kredibel hanya karena gender pemikirnya.
Kedua, Ketidakadilan Hermeneutik (Hermeneutical Injustice). Pengalaman dan kontribusi intelektual perempuan tidak diberikan ruang atau perangkat konseptual oleh masyarakat untuk dipahami dan dicatat secara adil.
Figur seperti Hypatia dari Alexandria, seorang filsuf Neoplatonis, matematikawan, dan astronom terkemuka, adalah bukti nyata bahwa perempuan telah memimpin pusat intelektual sejak zaman kuno. Namun, pembunuhannya yang tragis dan penghancuran tradisi intelektual saat itu turut mengubur banyak catatan eksplisit mengenai kedalaman pemikirannya, menyisakan dirinya hanya sebagai simbol tragis alih-alih diulas substansi pemikirannya secara mendalam.
Beban Patriarki dan Domestikasi Peran
Sejarah menunjukkan bahwa akses terhadap literasi, institusi pendidikan tinggi, dan ruang publik eksklusif dimiliki oleh laki-laki selama berabad-abad. Filsuf feminis Mary Ellen Waithe dalam karyanya A History of Women Philosophers, mengungkapkan bahwa ratusan filsuf perempuan sebenarnya ada dan aktif di setiap era, mulai dari Diotima dari Mantinea pada era Yunani Kuno, Elisabeth dari Bohemia pada era rasionalisme, hingga Harriet Taylor Mill pada era utilitarianisme. Namun, karya-karya mereka sering mengalami nasib buruk seperti dinisbatkan kepada pasangan atau rekan laki-laki. Banyak gagasan perempuan pada masa itu hanya diserap ke dalam tulisan suami, kekasih, atau guru mereka tanpa atribusi yang adil. Kerap pula, karya perempuan kritis pada masa tersebut semata dianggap tulisan domestik. Karya filsuf perempuan yang dituangkan dalam bentuk surat, novel, atau diari sering kali dikategorikan bukan sebagai filsafat murni, padahal memuat analisis ontologis dan etis yang mendalam.
Konstruksi Sosial: Kasus Simone de Beauvoir
Miskonsepsi mengenai sosok Simone de Beauvoir yang sering kali hanya ditempatkan sebagai pengikut Jean-Paul Sartre atau disalahartikan perannya, menunjukkan betapa kuatnya bias gender dalam mendefinisikan kepakaran.
Dalam bukunya Le Deuxième Sexe (The Second Sex), Beauvoir secara tegas menganalisis bagaimana konstruksi sosial menempatkan laki-laki sebagai Subject (yang dominan dan mendefinisikan ilmu) dan perempuan sebagai The Other (yang didefinisikan dan dipinggirkan). Konstruksi inilah yang membuat kontribusi intelektual perempuan kerap tidak dianggap sebagai bagian dari mainstream knowledge.
Merekam Kembali yang Sempat Tersisih
Pertanyaan sederhana dari sebuah utas di media sosial pada akhirnya membawa saya, juga kita, pada kesadaran yang lebih luas, bahwa minimnya nama filsuf perempuan dalam buku teks sejarah bukan disebabkan oleh ketiadaan pemikir perempuan, melainkan akibat dari lensa patriarki yang menentukan siapa yang layak dicatat dan diingat.
Menyadari ketimpangan ini adalah langkah awal. Rekonstruksi sejarah keilmuan yang adil dan inklusif memerlukan keberanian kita untuk membaca ulang arsip-arsip lama, menghargai kembali karya-karya yang sempat terpinggirkan, serta mengembalikan posisi para pemikir perempuan ke tempat yang semestinya dalam tradisi intelektual dunia.
