BincangMuslimah.Com – Hujan tidak kunjung turun, angin bertiup kencan, dan api semakin berkobar bak tidak ingin padam. Hawa panas dan kabut asap datang dari segala arah, bahkan si jago merah dan kawanannya bersembunyi di balik tanah. Beginilah kurang lebih gambaran dan kekacauan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Kalimantan dan beberapa wilayah lain seperti Sumatera dan Jambi.
Dari tragedi ini, siapa yang paling berdampak?
Jika membicarakan siapa yang terdampak, tentu masyarakat sekitar semua menjadi korban. Tidak melihat laki-laki atau perempuan, dewasa atau anak-anak, bahkan bayi yang belum lahir pun menjadi korban sebelum hadir ke dunia.
Kita tentu tidak bisa menganggap sepele karhutla ini, belum lagi krisis air semakin memperburuk situasi. Mengutip laman Instagram Kalis Mardiasih yang langsung turun di Ketapang, Kalimantan Barat, dalam sesi Rembuk Warga yang mengangkat tema “Lindungi Perempuan & Anak, Bersama Jaga Kalimantan menyebutkan bahwa perempuan dan anak-anak berada di garis rentan.
Bersama tim ekpedisi Kitabisa, Kawan Puan, & Koalisi Ekonomi Membumi, Kalis mengajak diskusi lebih dari 40 organisasi dan komunitas tentang dampak karhutla terhadap perempuan dan anak di Kalimantan.
Dalam kasus ini, perempuan tidak hanya menghadapi risiko kesehatan akibat paparan asap, tetapi juga menanggung beban tambahan dalam merawat keluarga. Perempuan juga berperan menjaga keberlangsungan ekonomi rumah tangga dan menghadapi keterbatasan akses terhadap pengambilan keputusan.
Salah satu peserta menyebutkan dampak karhutla dari sektor kesehatan adalah warga kesulitan untuk mengakses fasilitas kesehatan. Peserta lain menyampaikan dampak karhutla dari sektor rumah tangga adalah:
“Kalau ada api terpaksa kita kadang sampai magrib baru balik”
Semua Pihak Harus Mengambil Peran
Peran pemerintah sangat dibutuhkan sebagai pihak pengambil kebijakan. Penting untuk mengubah pendekatan penanganan karhutla dari sekadar respons saat bencana menjadi upaya pencegahan yang berkelanjutan. Di situasi yang semakin tidak terkendali ini, pemerintah diharap dapat mengambil sikap tegas untuk penanggulangan. Pasalnya, jumlah korban semakin bertambah, tidak hanya warga negara Indonesia, melaikan juga dari negeri Jiran seperti Malaysia dan Singapura.
Di tingkat daerah, pemerintah perlu memastikan tersedianya layanan kesehatan khusus bagi ibu hamil, balita, dan anak-anak ketika kualitas udara memburuk, termasuk distribusi masker, pemeriksaan kesehatan gratis, dan ruang aman bebas asap.
Selain itu, kebijakan penanggulangan karhutla harus lebih responsif terhadap kebutuhan perempuan dan anak. Perempuan perlu terlibat dalam perencanaan mitigasi bencana hingga pengambilan keputusan di tingkat desa dan daerah.
Penting pula untuk memastikan anak-anak tetap mendapatkan akses pendidikan dan dukungan psikososial selama masa darurat. Dengan kebijakan yang berperspektif gender dan perlindungan anak, pemerintah tidak hanya mengurangi dampak karhutla, tetapi juga mencegah perempuan dan anak terus menjadi korban berulang dari bencana yang sama.
Tidak hanya pemerintah, warga juga berperan dalam mengurangi dampak karhutla. Semua individu perlu meningkatkan kesiapsiagaan keluarga dengan memantau kualitas udara. Menyediakan masker yang layak, membatasi aktivitas di luar rumah saat kabut asap pekat, serta memastikan anak-anak dan ibu hamil memperoleh perlindungan kesehatan yang memadai juga langkah penting dalam penanggulangan.
Warga dapat membentuk kelompok siaga bencana di tingkat RT atau desa untuk membantu penyebaran informasi, evakuasi, dan distribusi bantuan. Di tingkat komunitas, masyarakat dapat berpartisipasi dalam upaya pencegahan kebakaran dengan tidak membuka lahan menggunakan api, melaporkan titik api sejak dini. Keterlibatan perempuan dalam forum desa dan kelompok masyarakat bertujuan agar kebutuhan perempuan dan anak menjadi bagian dari perencanaan penanganan karhutla.
Sementara itu, masyarakat yang berada jauh dari jangkauan karhutla dapat turut terlibat meringankan saudara yang terdampak. Yakni dengan menyalurkan bantuan melalui pihak-pihak atau platform yang terpercaya. Dengan gotong royong dan kesadaran bersama, dampak kebakaran hutan terhadap kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan perempuan serta anak dapat ditekan secara signifikan.
