BincangMuslimah.Com- Episode Karhutla (Kebakaran Hutan dan Lahan) di Kalimantan dan beberapa daerah lain masih belum selesai. Bahkan di Kalimantan, karena tak kunjung padam, masyarakat terkepung asap hingga banyak yang terkena ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut). Jarak pandang juga semakin tipis yang menyebabkan kekhawatiran terjadinya kecelakaan.
Hingga saat ini, terhitung lebih dari tiga bulan, kabut asap masih tersebar di mana-mana. Banyak warganet yang menunggah kondisi terkini langit Kalimantan yang berwarna kuning, orange hingga kemerahan.
Fenomena ini memicu respon netizen yang menghubungkan dengan dukhan. Ada yang berupa satir; bahwa dukhan saja hanya 40 hari, tapi asap Karhutla sudah lebih dari tiga bulan. Sebagian warga terdampak Karhutla bahkan menghubungkan kondisi ini seperti kiamat. Sebenarnya, apakah asap Karhutla tersebut merupakan dukhan yang menjadi tanda kiamat?
Qs. Ad-Dukhan ayat 10-11 : Apa itu Dukhan?
Secara bahasa, dukhan artinya asap atau kabut. Ya, secara harfiah asap Karhutla bisa tergolong dukhan. Namun, dukhan yang menjadi tanda kiamat kubra memiliki kriteria lain yang lebih spesifik.
Allah Swt. berfirman pada Qs. Ad-Dukhan ayat 10-11 :
فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ يَغْشَى النَّاسَ هَذَا عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Maka tunggulah hari ketika langit membawa dukhan (kabut) yang nampak jelas. yang meliputi manusia (durhaka). Inilah azab yang pedih”
Pada tafsir Ibn Katsir, terdapat beberapa pendapat mengenai makna dukhan. Pertama, Dukhan adalah kabut asap nyata tapi belum terjadi. Kabut ini kelak akan menyelimuti atmosfer bumi menjelang hari kiamat. Kabut ini terjaid menyeluruh menutup bumi, bukan hanya di suatu daerah saja.
Dukhan memiliki sifat yang unik. Ia memiliki efek ringan berupa flu dan pilek kepada umat mukmin sebagai penghapus dosa. Namun bagi orang yang tidak beriman, kabut ini menjadi siksaan yang menyesakkan. Definisi ini adalah pendapat mayoritas ulama; termasuk Ali, Ibnu Abbas, Ibnu ‘Amr, Abu Hurairah, yang bersandar pada hadis sahih riwayat imam Muslim.
Kedua, Dukhan adalah peristiwa di masa lalu dan bukan berupa asap secara nyata. Dukhan merupakan melainkan wujud dari doa Nabi Muhammad Saw. kepada kaum kafir Quraisy untuk mengalami kelaparan ekstrem. Sehingga mata mereka kabur dan seolah-olah melihat kabut asap yang memenuhi langit. Pendapat ini disampaikan oleh Ibn Mas’ud, Mujahid dan Qatadah.
Selain dua pendapat di atas, terdapat pendpaai lain yang menyebutkan bahwa dukhan adalah debu yang mengepul di langit saat peristiwa Fathu Makkah. Namun, oleh Ibn Katsir pendapat ini dianggap gharib bahkan tertolak.
Asap Karhutla Bukan Termasuk Dukhan
Dari kriteria di atas, asap Karhutla meskipun hampir menyebar di seluruh Kalimantan, tetap tidak tergolong sebagai dukhan. Asap dukhan memiliki efek yang menunjukkan keimanan manusia, sedangkan asap karhutla tidak menentukan keimanan manusia. Semua mayarakat terdampak asap yang sama-sama menimbulkan ISPA, mata perih, nafas sesak, dan jarak pandang yang pendek.
Terdapat 10 tanda kiamat kubra, yaitu Dukhan selama 40 hari, Dajjal, turunnya Nabi Isa, muncul Ya’juj Ma’juj, munculnya gempa di Timur, Barat dan Jazirah Arab, Munculnya binatang melata dari perut bumi, muncul api besar dari Yaman seta terbitnya matahari dari Barat.
Tanda-tanda ini terjadi berkesinambungan dengan cepat sampai masa hancurnya bumi dan seisinya. Sementara itu, karhutla merupakan kegagalan manusia mengelola sistem kehutanan. Sehingga masalah yang mengikuti, adalah masalah kesehatan, ekonomi, lingkungan, serta sosial, bukan tanda-tanda kiamat kubra yang lain.
Terdapat pendapat bahwa dukhan terjadi pada pertengahan bulan Ramadhan dan sebelumnya disertai ledakan. Meski begitu, kiamat merupakan hal ghaib yang harus kita percaya adanya namun waktu terjadinya merupakan ketetapan mutlak dari Allah Swt.
Karhutla sebagai Al-Fasad
Allah Swt. telah melarang berbuat kerusakan di muka bumi, sebagaimana tercantum pada Qs. Ar-Rum ayat 41 :
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Maka, asap karhutla memang bukan menjadi tanda akhir zaman, tetapi tetap saja ii sebuah bencana ekologis dan sebuah kerusakan (al-fasad). Kabut asap yang mengepung Kalimantan dan beberapa wilayah lainnya dapat menjadi tanda kiamat kecil yaitu hilangnya kehidupan bagi tumbuhan dan satwa; bahkan manusia di area terdampak.
Banyaknya satir masyarakat yang menghubungkan kabut asap karhutla dengan dukhan, menunjukkan bencana ini bukan hanya dirasakan warga Kalimantan. Penanganan yang tak kunjung membuat Karhutla terselesaikan, menyebabkan kemarahan masyarakat kian memuncak. Sebab dari kebakaran hutan, banyak sekali makhluk hidup yang menjadi korban.
