Ikuti Kami

Muslimah Talk

Duka Perempuan dalam Dua Tragedi di Bulan Kartini: Saat Korban Masih Harus Menanggung Penghakiman

Mengenal Oldest Child Syndrome, Dear Anak Pertama: Bahumu Tak Harus Selalu Sekuat Baja
Freepik.com

BincangMuslimah.Com – April tidak hanya menjadi momentum untuk merayakan perjuangan pahlawan emansipasi perempuan, Ibu Kartini, yang fenomenal sepanjang masa. Bulan ini juga menjadi ruang sukacita bagi perempuan di seluruh Indonesia merayakan kegigihan dalam mendapatkan hak, keberanian, serta kebebasan untuk memilih menjadi diri sendiri.

Sayangnya, April tahun ini justru berakhir dengan menorehkan luka dalam yang mungkin akan membekas sepanjang masa. Dua peristiwa hadir di tengah kita, menghadirkan rasa sesak dan duka bagi banyak perempuan.

Kasus pertama adalah penganiayaan anak yang terjadi di Daycare Little Aresha, Yogyakarta. Korban yang terdampak, baik secara fisik maupun mental, tidak sedikit. Sebanyak 53 anak dipastikan terdampak dari total 105 anak yang dititipkan di sana. Hingga saat ini, penyelidikan masih terus berlanjut untuk memastikan apakah ada anak lain yang turut menjadi korban.

Peristiwa memilukan kedua adalah kecelakaan kereta listrik yang terjadi di Bekasi. Data terbaru menyebutkan, sebanyak 16 perempuan meninggal dunia, sementara puluhan lainnya mengalami luka-luka. Secara keseluruhan, lebih dari 100 perempuan terdampak dalam tragedi ini.

Dua peristiwa ini memantik kesedihan yang luas. Banyak masyarakat merasa hampa dan sesak. Media sosial pun dipenuhi konten dukungan dan upaya saling menguatkan. Di sisi lain, muncul pula kritik dan pandangan yang menekankan pentingnya evaluasi serta langkah intervensi, dengan harapan kejadian serupa tidak terulang kembali.

Namun di tengah duka yang menyesakkan dada, muncul pula respons yang tidak mengenakkan. Sejumlah konten dan komentar justru mengandung mom-shaming serta penghakiman terhadap korban.

Dalam kasus penganiayaan anak di daycare, misalnya, masih muncul kalimat-kalimat seperti, “ini alasan kenapa aku memilih resign. Kok tega meninggalkan anak untuk bekerja. Ini teguran keras dari Tuhan. Makanya, kalau punya anak itu diurus sendiri, jangan dititip-titip.”

Baca Juga:  Kontroversi Konten Azkiave dan Perdebatan tentang Peran Perempuan: Tidak Semua Punya Privilage Serupa

“Rezeki suami pasti cukup kok kalau kita sabar. Sekarang kalau sudah begini, menyesal kan?”

“Saya juga kerja, tapi memilih berhenti demi anak. Nyawa dan mental anak itu nomor satu, nggak bisa diganti sama gaji bulanan.”

Dan sebagainya.

Sementara itu, dalam kasus kecelakaan KRL Bekasi, muncul narasi yang disadari atau tidak merendahkan perjuangan korban sekaligus minim empati.

“Ini bukti kalau tempat terbaik perempuan itu di rumah. Kalau di jalanan terus, risikonya ya nyawa. Bukankah lebih baik hidup sederhana tapi aman?”

“Sudah tahu KRL jam sibuk itu bahaya dan penuh, kenapa perempuan masih mau memaksakan diri? Harusnya tahu diri kalau fisik perempuan itu lemah.”

Dan masih banyak lagi.

Ubah Fokus, Berhenti Menghakimi Keputusan Setiap Orang

Fenomena ini bukan hal baru. Entah mengapa, sejak dahulu, masyarakat kita kerap lebih mudah menyalahkan korban. Sudah saatnya ‘tabiat’ lama ini digeser, dan fokus diarahkan pada narasi yang lebih tepat. Dalam dua peristiwa ini, perhatian seharusnya ditujukan pada pelaku dan sistem.

Keduanya memang kasus yang berbeda. Namun, baik penganiayaan anak di daycare maupun kecelakaan KRL sama-sama menunjukkan bahwa sistem yang ada masih membutuhkan banyak perbaikan dan evaluasi. Di sinilah peran pemerintah, selain keluarga dan masyarakat, menjadi sangat penting.

Peristiwa-peristiwa ini seharusnya menjadi alarm atau tanda bahaya (red sign) bagi instansi terkait untuk memperkuat regulasi, melakukan audit rutin, serta memaksimalkan perlindungan dan tata kelola yang ada.

Di sisi lain, kebiasaan menghakimi keputusan perempuan sudah semestinya ditinggalkan. Cara pandang seperti ini tidak lagi relevan.

Sering kali, keputusan perempuan untuk bekerja bukan sekadar pilihan gaya hidup, melainkan bentuk perjuangan, baik untuk diri sendiri maupun untuk memenuhi tanggung jawab ekonomi keluarga.

Baca Juga:  Pentingnya Pendampingan Orang Tua Pada Anak dalam Bermedia Sosial

Penting untuk disadari bahwa setiap orang memiliki jalan hidup yang berbeda. Tidak semua perempuan berada dalam kondisi yang sama, baik dari sisi finansial maupun kebebasan dalam memilih.

Perbedaan pandangan tentu wajar. Namun, dalam situasi penuh duka, menjaga empati menjadi jauh lebih penting. Jika tidak mampu memberikan dukungan, setidaknya jangan menambah luka.

Seperti peribahasa, diam adalah emas. Sebab, menghakimi keputusan korban hanya akan menambah beban mental mereka, tanpa pernah benar-benar menyentuh akar persoalan sistemik yang ada.

 

Rekomendasi

Mewarisi Dendam atau Memutus Luka Keluarga? Refleksi Novel Makamkan Ibu di Samping Ayah Mewarisi Dendam atau Memutus Luka Keluarga? Refleksi Novel Makamkan Ibu di Samping Ayah

Mewarisi Dendam atau Memutus Luka Keluarga? Refleksi Novel Makamkan Ibu di Samping Ayah

Nama Nabi Sulaiman Didahulukan Nama Nabi Sulaiman Didahulukan

Tafsir Surah An-Naml Ayat 30; Hikmah Nama Nabi Sulaiman Didahulukan daripada Nama Allah

Mengenal Tujuh Macam Kebiasaan Istihadhah

Bagaimana Pandangan Maqashid Syariah mengenai Kebakaran Hutan di Kalimantan? Bagaimana Pandangan Maqashid Syariah mengenai Kebakaran Hutan di Kalimantan?

Bagaimana Pandangan Maqashid Syariah mengenai Kebakaran Hutan di Kalimantan?

Ditulis oleh

Melayu udik yang berniat jadi abadi. Pernah berkuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, jurusan Jurnalistik (2014), aktif di LPM Institut (2017), dan Reporter Watchdoc (2019). Baca juga karya Aisyah lainnya di Wattpad @Desstre dan Blog pribadi https://tulisanaisyahnursyamsi.blogspot.com

Komentari

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Mewarisi Dendam atau Memutus Luka Keluarga? Refleksi Novel Makamkan Ibu di Samping Ayah Mewarisi Dendam atau Memutus Luka Keluarga? Refleksi Novel Makamkan Ibu di Samping Ayah

Mewarisi Dendam atau Memutus Luka Keluarga? Refleksi Novel Makamkan Ibu di Samping Ayah

buku

Nama Nabi Sulaiman Didahulukan Nama Nabi Sulaiman Didahulukan

Tafsir Surah An-Naml Ayat 30; Hikmah Nama Nabi Sulaiman Didahulukan daripada Nama Allah

Kajian

Mengenal Tujuh Macam Kebiasaan Istihadhah

Ibadah

Bagaimana Pandangan Maqashid Syariah mengenai Kebakaran Hutan di Kalimantan? Bagaimana Pandangan Maqashid Syariah mengenai Kebakaran Hutan di Kalimantan?

Bagaimana Pandangan Maqashid Syariah mengenai Kebakaran Hutan di Kalimantan?

Muslimah Talk

lelaki perempuan mata allah lelaki perempuan mata allah

Feminisme Al-Qur’an, Tafsir An-Nahl 97; Lelaki dan Perempuan di Mata Allah

Kajian

Nasihat Pernikahan Gus Mus Nasihat Pernikahan Gus Mus

Doa untuk Pengantin Baru

Ibadah

diperhatikan Memilih pasangan hidup diperhatikan Memilih pasangan hidup

Tafsir Al-Baqarah Ayat 221: Hal yang Harus Diperhatikan saat Memilih Pasangan Hidup

Kajian

Mu'asyarah bil Ma'ruf dalam Pernikahan, Bagaimana Idealnya? Mu'asyarah bil Ma'ruf dalam Pernikahan, Bagaimana Idealnya?

Mu’asyarah bil Ma’ruf dalam Pernikahan, Bagaimana Idealnya?

Keluarga

Trending

Nasihat Pernikahan Gus Mus Nasihat Pernikahan Gus Mus

Doa untuk Pengantin Baru

Ibadah

Surat Al-Ahzab Ayat 33 Surat Al-Ahzab Ayat 33

Tafsir Surat Al-Ahzab Ayat 33; Domestikasi Perempuan, Syariat atau Belenggu Kultural?

Kajian

Mengenal Tujuh Macam Kebiasaan Istihadhah

Ibadah

diperhatikan Memilih pasangan hidup diperhatikan Memilih pasangan hidup

Tafsir Al-Baqarah Ayat 221: Hal yang Harus Diperhatikan saat Memilih Pasangan Hidup

Kajian

Tata Cara Shalat Perempuan Tata Cara Shalat Perempuan

Tata Cara Shalat Perempuan Istihadhah

Ibadah

air ketuban air ketuban

Benarkah dengan Membaca Surah Yusuf Anak yang Dikandung akan Tampan?

Kajian

kehidupan muhammad sebelum nabi kehidupan muhammad sebelum nabi

Kenapa Sahabat Nabi Tidak Merayakan Maulid?

Khazanah

lelaki perempuan mata allah lelaki perempuan mata allah

Feminisme Al-Qur’an, Tafsir An-Nahl 97; Lelaki dan Perempuan di Mata Allah

Kajian

Connect