BincangMuslimah.Com – Beberapa hari terakhir, saya mengamati influencer-influencer media sosial yang membranding dirinya sebagai influencer muslimah. Saya sangat memahami bahwa sebagai influencer atau pemengaruh pastilah ucapan atau perilaku dapat memengaruhi masyarakat. Salah satunya ialah gaya hidup. Saya menjumpai beberapa influencer muslimah yang memiliki gaya hidup mewah. Tak ada yang salah dengan gaya hidupnya, karena setiap orang memiliki gaya hidup yang sesuai dengan lingkungannya.
Hanya saja, beberapa influencer muslimah seringkali mengkampanyekan gaya hidup konsumtif kepada netizen. Terlebih, gaya hidup konsumtif seringkali meninggalkan jejak karbon yang besaranya tidak pernah “sedikit.” Tentulah jejak karbon tersebut dapat berdampak buruk bagi kondisi lingkungan, terutama perubahan iklim. Pada kondisi sekarang ini, sudah seharusnya kita menjaga lingkungan ekologis untuk mencegah terjadinya bencana ekologis. Salah satunya dengan hidup minimalis.
Gaya Hidup Minimalis dan Decluttering
Secara konsep, gaya hidup minimalis berarti kita mempraktekkan konsep hidup yang “less is more”. Pada praktiknya, gaya hidup ini mengajak kita untuk hidup secara sederhana dengan mengedepankan hal-hal atau barang yang kita butuhkan saja. Konsep gaya hidup minimalis dapat membawa masyarakat menuju konsep gaya hidup yang berkelanjutan atau sustainable living.
Gaya hidup minimalis sangat mendukung upaya pelestarian lingkungan. Namun, gaya hidup minimalis juga dapat berdampak buruk bagi lingkungan apabila dalam pelaksanaan atau praktiknya tidak tepat. Beberapa orang yang mulai mengawali hidup minimalis biasanya akan melakukan sebuah usaha decluttering terhadap barang-barang yang ia miliki.
Dalam buku ‘The Lifechanging Magic of Tidying Up’ karya Marie Kondo, Decluttering berarti kegiatan menyingkirkan barang-barang yang tidak memercikkan kebahagiaan bagi pemiliknya. Kegiatan ini termasuk mengumpulkan dan membuang barang-barang yang sekiranya tidak kita butuhkan dan kita perlukan lagi.
Mengapa kita membutuhkan decluttering? Decluttering dapat membantu kita untuk mengurangi dan menyingkirkan barang-barang yang tidak kita perlukan sehingga dapat mengefisiensi kebutuhan perawatan barang tersebut.
Setiap barang yang kita punya pasti akan membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya untuk perawatan barang tersebut. Bayangkan apabila banyak barang-barang di rumah yang tidak terurus, berantakan, dan tidak pernah kita gunakan maka hanya akan menambah beban pikiran yang berujung stress atau sumpek.
Usaha decluttering jika kita lakukan secara tidak tepat akan berujung greenwashing. Membuang banyak barang namun tidak ada pengelolaan sampah terlebih dahulu akan menambah volume sampah yang mana usaha decluttering ini tidak akan mengurangi sampah dan berbeda dengan tujuan awalnya yaitu hidup dengan minim sampah.
Meneladani Gaya Hidup Nabi yang Sederhana
Jauh sebelum konsep gaya hidup minimalis lahir rupanya umat Islam telah mengenal konsep ini. Siapa lagi kalau bukan dari suri tauladan kita Rasulullah Muhammad SAW. Beliaulah yang sebenarnya mengenalkan dan mengajarkan kepada kita akan konsep gaya hidup minimalis.
Bahkan, dalam kehidupan sehari-harinya beliau selalu menerapkan konsep ini baik saat beliau sendiri, bersama keluarga, sahabat, atau ummat beliau. Masyaa Allah!
Kalau kita dengar segala kisah atau sirah nabawiyah Rasulullah Muhammad SAW, pastilah kita akan menemukan konsep kesederhanaan beliau. Beliau terkenal akan gaya hidup yang sangat sederhana dan tidak pernah berlebihan. Soal makanan, pakaian, dan perabotan rumah rupanya beliau tak memiliki banyak macam-macamnya.
Rumah beliau hanya beralaskan tanah dan beratapkan pelepah kurma, alas tidur beliau terbuat dari tumpukan pelepah kurma, dan baju-baju beliau seringkali ia jahit berkali-kali ketika rusak atau robek. Beliau sering berkata bahwa apa yang ia miliki sudah lebih dari cukup.
Kesederhanaan Sang Nabi
Kesederhanaan beliau kadang menjadi kecemasan sahabat. Pernah suatu ketika sahabat Umar RA menangis dan mengkhawatirkan alas tidur beliau yang terbuat dari pelepah serta meninggalkan bekas di bagian tubuh beliau, namun Rasul menjawab dengan bijaksana bahwa bagi beliau, cukuplah untuk hidup di dunia dengan cara yang sederhana.
Dalam urusan makanan, tak pernah beliau menyisakan sisa-sisa makanan. Saat berwudlu, beliau menggunakan air secukupnya dan tidak membuang-buang air. Beberapa kali kita temui dalam kisah beliau bahwa beliau juga memberikan pakaian terbaiknya pada seseorang ummat yang meminta pakaiannya.
Hal ini mengandung sarat-sarat nilai orientasi yang berdasakan nilai-nilai lingkungan. Tak ada makanan sisa yang akan menjadi sampah, tak ada air yang terbuang sia-sia, dan tak ada limbah pakaian.
Teladan Nabi agar Kita Merasa Cukup
Beliau mengajarkan ummatnya untuk selalu merasa cukup, tidak boros, dan berupaya untuk hidup secara sederhana. Konsep hidup yang Rosul ajarkan berupa kesederhanaan, merupakan konsep yang sama dengan gaya hidup minimalis yang akhir-akhir ini menjadi pembicaraan.
Berbalik pada diri sendiri, apakah kita sudah melakukan hal yang sama dengan yang beliau lakukan? Apakah kehidupan kita masih sering kita warnai oleh kegengsian untuk membeli barang-barang yang sebetulnya tidak kita butuhkan?
Apakah kita masih sering berperilaku boros dan membuang-buang makanan? Apa kita selalu bersyukur atas apa yang kita miliki dan selelau merasa cukup? Agaknya, pola pemikiran yang seperti ini dapat menjadi evaluasi dan introspeksi bagi diri kita sendiri.
Di tengah gempuran fenomena flexing (memamerkan harta kekayaan) dan gaya hidup konsumtif, alangkah baiknya kita sebagai ummat Rasul untuk selalu meneladani gaya hidup Nabi yang penuh kesederhanaan. Konsep kesederhanaan sejatinya tidak hanya menguntungkan diri sendiri, namun orang lain dan lingkungan hidup merasakan manfaatnya juga.
Rekomendasi