Ikuti Kami

Subscribe

Kajian

Hak-hak Reproduksi Perempuan Sesudah Menikah yang Sering Terabaikan

BincangMuslimah.Com – Perempuan adalah ibu dari kehidupan manusia, menyakitinya sama saja dengan menyakiti kehidupan itu sendiri. Kemuliaan perempuan dalam Islam tersebar dalam berbagai ajaran. Perintah untuk menghomti ibu, mengasihinya hingga surga pun diibaratkan berada di telapak kakinya. Sayangnya, ajaran-ajaran ini kerapkali berbanding terbalik dengan yang dialami perempuan.

Tindakan diskriminasi dan kekerasan terus dialami perempuan, tidak terkecuali dalam ikatan pernikahan. Hak-haknya seringkali dinomorduakan bahkan diabaikan. Padahal, hak-hak perempuan adalah bagian dari hak asasi manusia, termasuk hak reproduksinya. Hak yang tidak hanya mencakup aspek fisik, tetapi juga mental dan ekonomi bagi perempuan.

Setidaknya ada dua hak reproduksi perempuan yang patut diperhatikan dalam ikatan pernikahan, yakni terkait hubungan seksual dan kehamilan.

Hak reproduksi perempuan menyangkut hubungan seksual adalah hak untuk menikmati hubungan seksual. Bahwa Istri tidak diberi kewajiban untuk memenuhi hasrat seksual suami hingga ia harus siap sedia bagaimana pun kondisinya. Istri juga berhak untuk menolak. Hubungan yang dipaksakan tidak hanya membuat perempuan tidak bisa menikmati hubungan seksual, tetapi juga bisa menyakiti perempuan itu sendiri, baik fisiknya maupun psikologisnya.

Pandangan bahwa istri wajib memenuhi hasrat seksual suami bersumber dari hadis Nabi “Apabila seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur, lalu ia menolak dan (karena itu) suami menjadi marah, maka malaikat akat melaknat istri tersebut sampai pagi.” (HR Riwayat Bukhari Muslim).

Musdah Mulia, perempuan ulama yang aktif menyuarakan hak-hak perempuan, sebagaimana yang tertuang dalam bukunya Ensiklopedia Muslimah Reormis, bahwa hadis seperti ini tidak bisa dibaca secara tekstual. Perlu pembacaan yang lebih untuk melihat maknanya. Kata “abat” atau penolakan istri di situ tentu mempunyai alasan. Pembacaan hadis yang keliru bisa memicu tindakan-tindakan yang justru bertolak belakang dari ajaran Islam itu sendiri, seperti Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT), atau bahkan perkosaan dalam perkawinan (marital rape).

Penolakan istri bisa saja karena alasan-alasan manusiawi seperti sakit, tidak bergairah, kelelahan atau justru karena perlakuan suaminya yang kasar. Karenanya, perlu ditelusuri lebih lanjut alasan penolakan tersebut. Kesalahan tidak bisa melulu dialamatkan kepada perempuan.

Istri atau pun suami bisa dianggap nusyuz dan mendapatkan laknat karena perilaku keduanya. Oleh sebab itu, Islam mengajarkan untuk berpegang pada prinsip mu’asyarah bilma’ruf, berkomunikasi dengan intens, dengan cara-cara yang baik.

Pengabaian hak-hak perempuan dalam perkawinan tidak bisa dilepaskan dari pandangan yang bias gender. Anggapan bahwa suami adalah pihak yang berkuasa membuat istri terpinggirkan, tidak diberi andil dalam keputusan-keputusan yang bahkan menyangkut hidupnya sendiri. Jika pendangan seperti ini dilanggengkan terus menerus, bukan tidak mungkin perempuan menjadi pihak yang tidak lepas dari dominasi dan kekerasan.

Hak perempuan lainnya yang kerapkali terabaikan adalah perihal kehamilan. Tidak bisa dipungkiri, bahwa kehamilan adalah bagian dari kodrat wanita yang berat. Sesuai dengan yang digambarkan dalam Qur’an surat Luqman ayat 14 tentang kehamilan, yakni wahnan ‘ala wahnin (Kelemahan yang berganda).

Karena proses yang berat itu, perempuan mempunyai hak untuk menunda kehamilan. Bahkan memutuskan untuk tidak hamil sama sekali. Tentu saja, kembali lagi, diiringi pembicaraan dan kesepakatan dengan suami.

Bagaimana pun, yang akan menjalani proses kehamilan dan melahirkan adalah perempuan, bukan suami atau anggota keluarga yang lain. Oleh karena itu, keputusan untuk hamil, mempunyai anak atau tidak, penggunaan alat kontrasepsi hingga menentukan berapa jumlah anak tidak bisa mengesampingkan suara perempuan. Kesehatan reproduksinya tidak hanya menjadi tanggung jawab perempuan sendiri, tetapi juga pasangannya.

Keputusan-keputusan yang diambil perempuan hendaknya tidak dihakimi atau dicemooh. Karena selain menjadi seorang perempuan, istri atau ibu, ia juga menjadi manusia merdeka yang berhak menentukan pilihan-pilihan terbaik bagi hidupnya.

Rekomendasi

Pandangan Islam Tentang Perempuan yang Bekerja

Film "Noktah Merah Perkawinan" Film "Noktah Merah Perkawinan"

Film “Noktah Merah Perkawinan”: Tiada Komunikasi Bisa Jadi Akhir dari Sebuah Rumah Tangga

Keutamaan Menikahi Gadis ghazali Keutamaan Menikahi Gadis ghazali

Keutamaan Menikahi Gadis atau Orang yang Belum Pernah Menikah Menurut Imam Ghazali

bertahan kdrt ketaatan suami bertahan kdrt ketaatan suami

Apakah Bertahan dalam KDRT Merupakan Bentuk Ketaatan pada Suami?

Yaqut Al-amnah
Ditulis oleh

Content Writer. Alumni Aqidah dan Filsafat Islam UIN Jakarta

Komentari

Komentari

Terbaru

haid selesai sebelum subuh haid selesai sebelum subuh

Haid Selesai Sebelum Subuh Tapi Belum Mandi, Tetap Wajib Puasa?

Ibadah

hukum memakai inhaler berpuasa hukum memakai inhaler berpuasa

Hukum Memakai Inhaler bagi Orang yang Berpuasa

Ibadah

imam al-azhar tema perempuan imam al-azhar tema perempuan

Imam Al-Azhar Mengangkat Tema Perempuan di Kultum Ramadan

Kajian

hikmah perintah puasa islam hikmah perintah puasa islam

Hikmah Perintah Puasa dalam Islam

Kajian

hukum bermesraan saat berpuasa hukum bermesraan saat berpuasa

Hukum Bermesraan dengan Bukan Mahram Saat Berpuasa

Kajian

perintah islam bersikap adil perintah islam bersikap adil

Perintah Islam untuk Bersikap Adil kepada Semua Orang termasuk Nonmuslim

Kajian

sakit safar tidak puasa sakit safar tidak puasa

Syarat Sakit dan Safar Hingga Boleh Tidak Puasa

Kajian

Tips Kuat Puasa Rasulullah Tips Kuat Puasa Rasulullah

Tips Kuat Puasa ala Rasulullah

Kajian

Trending

Pandangan Islam Tentang Perempuan yang Bekerja

Muslimah Daily

Keutamaan Menikahi Seorang Janda

Ibadah

Hukum Berdandan Sebelum Shalat

Ibadah

islam ibadah aktivitas ritual islam ibadah aktivitas ritual

Benarkah Muslimah Tidak Boleh Shalat Zuhur hingga Selesai Shalat Jumat?

Ibadah

Azzahra al-batul putri rasulullah Azzahra al-batul putri rasulullah

Julukan Azzahra dan Al-Batul untuk Fathimah Putri Rasulullah

Khazanah

Doa Mendengar Azan Keutamaannya Doa Mendengar Azan Keutamaannya

Doa Agar Tidak Overthinking dari Ibnu Atha’illah as-Sakandari

Ibadah

puasa sunnah hari jumat puasa sunnah hari jumat

Bagaimana Hukum Puasa Sunnah pada Hari Jumat?

Ibadah

haid selesai sebelum subuh haid selesai sebelum subuh

Haid Selesai Sebelum Subuh Tapi Belum Mandi, Tetap Wajib Puasa?

Ibadah

Connect