Ikuti Kami

Subscribe

Kajian

Berapa Usia Ideal Perempuan untuk Menikah?

mengulang pernikahan; Doa untuk Pengantin Baru
Doa untuk Pengantin Baru

BincangMuslimah.Com – Allah menciptakan manusia dengan berpasang-pasangan. Maka dari itu, perempuan dan laki-laki mempunyai hasrat untuk menikah dan meneruskan keturunannya. Landas, berapa usia ideal perempuan untuk menikah?

Ada beberapa pandangan berbeda tentang usia yang ideal perempuan untuk menikah. Hal tersebut sesuai dengan kondisi tubuh serta psikologi masing-masing perempuan untuk menghadapi kehidupan pernikahan. Berikut beberapa pendapat tentang berapa usia ideal perempuan untuk menikah.

Menurut BKKN

Berdasarkan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), usia ideal perempuan untuk menikah, yakni 21 tahun atau lebih. Alasanya, bila seorang perempuan menikah kurang dari umur tersebut, dikhawatirkan berisiko pada kesehatannya. Sedangkan usia ideal laki-laki untuk menikah yakni di angka 25 tahun. Usia tersebut dinilai tepat karena sudah matang dan dapat berpikir secara dewasa.

Menurut Undang undang

UU No. 16 Tahun 2019 tentang Perubahan atas UU No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menjelaskan adanya kenaikan batas minimal umur perkawinan bagi wanita. Dalam hal ini batas minimal umur perkawinan bagi wanita dipersamakan dengan batas minimal umur perkawinan bagi pria, yaitu 19 (sembilan belas) tahun. Sebelum dirubah, Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 menjelaskan batas minimal usia pria adalah 19 tahun dan wanita 16 tahun. Hal tersebut dianggap sebagai bentuk diskriminasi. Maka dari itu dilakukanlah perubahan oleh Mahkamah Konstitusi (MK) atas gugatan sekelompok organisasi dan lembaga kemasyarakatan seperti YKP dan Yayasan Pemantauan Hak Anak atau YPHA, untuk menaikkan batas minimal usia menikah bagi perempuan di Indonesia.

Pada UU No. 16 Tahun 2019 menjelaskan bahwa batas usia 19 tahun dinilai telah matang jiwa raganya untuk dapat melangsungkan perkawinan agar dapat mewujudkan tujuan perkawinan secara baik. Tanpa berakhir pada perceraian dan mendapat keturunan yang sehat dan berkualitas. Kenaikan batas umur yang lebih tinggi dari 16 (enam belas) tahun bagi wanita untuk kawin atau menikah, diharapkan akan mengakibatkan laju kelahiran yang lebih rendah dan menurunkan risiko kematian ibu dan anak. Selain itu juga dapat terpenuhinya hak-hak anak sehingga mengoptimalkan tumbuh kembang anak, termasuk pendampingan orang tua serta memberikan akses anak terhadap pendidikan setinggi mungkin.

Menurut Islam

Islam tidak mematok pasti umur ideal perempuan untuk menikah. Islam mensyaratkan bahwa baik laki-laki dan perempuan harus sudah mencapai usia akil baligh atau dewasa. Para fuqaha’ meletakkan batas umur sebagai penentu usia baliqh.

Abd al-Rahman al-Jazîrî dalam “Kitâb al-Fiqh Alâ Madzâhib al- Arba’ah” (Bayrut: Dâr al-Kutub al-Ilmiyyah, 2003), h. 313-314, menjelaskan perbedaan pendapat tentang batasan usia seseorang untuk dapat disebut baligh. Menurut Imam Hanâfi, tanda bâligh perempuan ditandai dengan haidh. Sedangkan bagi laki-laki ditandai dengan mimpi dan keluarnya mani. Namun, jika tidak ada tanda-tanda bagi keduanya, maka ditandai dengan tahun yaitu 18 tahun bagi laki-laki dan 17 tahun bagi perempuan.

Menurut Imam Mâlik, bâligh ditandai dengan tanda keluarnya mani secara mutlak dalam kondisi menghayal atau sedang tertidur, atau ditandai dengan beberapa tumbuhnya rambut di anggota tubuh. Menurut Imam Syâfi’i bahwa batasan bâligh adalah 15 tahun bagi laki-laki dan 9 tahun bagi perempuan. Menurut Imam Hanbali, bagi laki-laki ditandai dengan mimpi atau umur 15 tahun, sedangkan bagi perempuan ditandai dengan haidh. Perbedaan pendapat mengenai konsep baligh ini mengakibatkan batas minimum usia untuk menikah disejumlah negara Islam berbeda satu sama lain.

Beberapa pandangan tersebut dapat digunakan sebagai referensi “kapan mau menikah”. Ada pendapat dari masyarakat bahwa semakin tua, semakin dewasa. Para ahli mempercayai bahwa menunda menikah sampai beberapa tahun dapat menghidupkan rumah tangga dan membuatnya langgeng. Hal tersebut bisa jadi dilihat karena kemapanan seseorang yang dianggap dapat meminimalisir risiko perceraian.

Usia pertengahan 20-an hingga 30-an awal dianggap menjadi patokan usia ideal menikah yang aman. Pasalnya, rentang usia tersebut dianggap telah dewasa dalam segi kecerdasan emosional dan kematangan pola pikir. Pada usia pertengahan 20-an, dianggap telah benar memahami mana cinta atas nafsu dan mana cinta atas ketulusan. Argumen ini berdasarkan, seseorang yang telah menghabiskan waktu untuk mencari jati diri. Maka dapat mengetahui benar-benar yang diinginkan dalam hidup. Telah mengerti hak dan kewajiban demi mencapai tujuan hidup. Fisik juga telah matang dan finansial telah stabil.

Tingkat kematangan fisik dan finansial memang memainkan peran utama dalam pernikahan. Selain itu, menurut studi Family Relation tahun 2013, menunda pernikahan sampai setelah menerima gelar sarjana juga terbukti menurunkan risiko perceraian dibandingkan dengan pasangan yang berpendidikan rendah. Perlu dipahami, bahwa mengenyam pendidikan bukan berarti hanya mengincar gelar. Mengenyam pendidikan setinggi-tingginya menjadi jalan terbaik untuk membuka wawasan terhadap dunia nyata. Bertemu dengan berbagai orang yang memiliki berbagai kepribadian yang selanjutnya akan membentuk kepribadian diri sendiri.

Walaupun begitu, keputusan untuk kapan menikah tidak hanya didasarkan atas hasil survey. Pada akhirnya, diri sendirilah yang bisa menentukan kapan waktu yang tepat untuk menikah. Entah dibawah 20-an, di usia 20-an, 30-an, atau bahkan 40- an. Tidak ada patokan yang pasti. Karena nyatanya, pernikahan dan perceraian merupakan fenomena sosial yang tak bisa disandarkan pada angka.

Tak ada salahnya cepat-cepat menikah pada usia muda. Begitupun sebaliknya. Asalkan antar pasangan sudah sama-sama siap lahir dan batin mengarungi bahtera rumah tangga. Telah mempertimbangkan matang-matang semua manfaat dan risikonya. Tanyakan, bahwa menikah bukan demi gengsi dan menghindari pertanyaan “Kapan Kamu akan Menikah?”

Rekomendasi

Soroti Aisha Wedding Terkait Pernikahan Anak, Berikut 3 Pernyataan KUPI

kedudukan ibu kedudukan ibu

Lima Hak Anak yang Terabaikan Karena Pernikahan Dini

Mengapa Agama Menjadi Legitimasi Pernikahan Anak?  

Apa Konsekuensinya Jika Nikah Tanpa Wali?

Novita Indah Pratiwi
Ditulis oleh

Alumni MA Salafiyah Kajen yang menamatkan kuliah di Program Jurusan Fisika Univesitas Diponegoro. Saat ini sedang merintis perpustakaan dan hobi menulis. Pernah menyabet juara 1 lomba puisi nasional dan menjuarai beberapa Lomba Karya Tulis Ilmiah.

Komentari

Komentari

Terbaru

Lupa Jumlah Rakaat Qada Lupa Jumlah Rakaat Qada

Lupa Jumlah Rakaat Shalat Qada

Ibadah

Antara Makan Atau Shalat Antara Makan Atau Shalat

Antara Makan atau Shalat, Mana Yang Didahulukan?

Ibadah

Fathimah dari Nisyapur: Ahli Makrifat Terbesar   Fathimah dari Nisyapur: Ahli Makrifat Terbesar  

Tujuh Pembelaan Al-Qur’an Terhadap Perempuan

Kajian

Islam Membolehkan Poligami Islam Membolehkan Poligami

Mengapa Islam Membolehkan Poligami?

Kajian

perkawinan anak perkawinan anak

Perkawinan Anak dan Dilematis Hukum Islam di Indonesia

Kajian

pendidikan prenatal ibu hamil pendidikan prenatal ibu hamil

Empat Pendidikan Prenatal yang Harus Ibu Hamil Tahu

Muslimah Daily

Tepi Feminis Al-Qur'an Aysha A. Hidayatullah Tepi Feminis Al-Qur'an Aysha A. Hidayatullah

Resensi Buku: Tepi Feminis Al-Qur’an Aysha A. Hidayatullah (bag II)

Kajian

Poligami dan Dampaknya bagi Perempuan

Diari

Trending

Shafiyah binti Huyay Shafiyah binti Huyay

Shafiyah binti Huyay, Putri Pembesar Yahudi yang Dinikahi Nabi Saw

Muslimah Talk

Beauty Previllege, Menjadi Masalah Ketika Terobsesi dengan Kecantikan

Diari

Hukum Menghisap Kemaluan Suami

Kajian

dalil puasa rajab dalil puasa rajab

Berapa Hari Kita Disunnahkan Puasa Rajab?

Ibadah

waktu berbulan madu waktu berbulan madu

Kapan Sebaiknya Waktu Berbulan Madu?

Ibadah

Skincare Aman bagi Muslimah Skincare Aman bagi Muslimah

Tips Memilih Kosmetik dan Skincare Aman Bagi Muslimah

Muslimah Daily

Metode Nabi Muhammad Metode Nabi Muhammad

Parenting Islami: Tiga Langkah Membina Generasi Berkualitas bagi Perempuan Karir

Keluarga

Wudhu Wanita Wudu ketika makeup Wudhu Wanita Wudu ketika makeup

Sahkah Wudhu Ketika Masih Pakai Makeup?

Ibadah

Connect