Ikuti Kami

Kajian

Apakah Jumlah Mahar Ada Batasnya?

jumlah Mahar dalam pernikahan

BincangMuslimah.Com – Dalam prosesi pernikahan, ada mahar yang wajib diberikan dari pihak laki-laki kepada perempuan. Mahar tidak masuk dalam rukun, tetapi menjadi kewajiban bagi laki-laki. Sehingga pernikahan tetap sah meski tanpa mahar. Akan tetapi mahar menjadi jaminan dalam pernikahan dan kebolehan suami menggauli istri. Nah, berapa sih  batasan minimal dan maksimal jumlah mahar yang suami harus berikan pada istri?

Kewajiban mahar suami kepada istri merujuk pada firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 4:

وَاٰتُوا النِّسَاۤءَ صَدُقٰتِهِنَّ نِحْلَةً

Artinya: Dan berikanlah maskawin (mahar) kepada perempuan (yang kamu nikahi) sebagai pemberian yang penuh kerelaan. (QS. Al-Baqarah: 4)

Adapun dalil yang menunjukkan kewajiban mahar dari hadis Nabi adalah ketika Nabi bersabda kepada seorang lelaki yang hendak menikahi seorang perempuan:

ﺍِﻟْﺘَﻤِﺲْ ﻭَﻟَﻮْ ﺧَﺎﺗَﻤًﺎ ﻣِﻦْ ﺣَﺪِﻳْﺪٍ

Artinya: carilah(mahar) walau hanya sebuah cincin dari besi (HR. Bukhari Muslim)

Berdasarkan ayat dan hadis tersebut mahar menjadi kewajiban laki-laki dan ketetapan tersebut lahir sebagai simbol memuliakan perempuan. Mahar menjadi tertanggung meskipun suami telah menggauli istri. Sebab mahar tetap wajib dibayar oleh suami. Adapun yang terjadi pada umumnya memang mahar diberikan saat akad nikah. Begitulah penjelasan Syekh Wahbah Zuhaili dalam Mausuu’atu al-Fiqh al-Islam wa al-Qodhoya al-Mu’ashiroh.

Dalam karyanya, Syekh Wahbah Zuhaili mendefinisikan kata mahar, ia menyebutkan mahar adalah harta yang berhak diterima oleh seorang istri dan dibebankan kepada suami saat akad atau setelahnya.

Jika melihat hadis Nabi atas larangannya kepada Ali untuk tidak menggauli Fatimah sebelum membayar mahar, itu menunjukkan adanya kesunnahan untuk segera membayar mahar.

أن عليا لما تزوج فاطمة بنت رسول اللهِ صلى الله عليه وسلم وأراد أن يدخل بها فمنعه رسول اللهِ صلى الله عليه وسلم حتى يعطيها شيئا فقال يا رسول اللهِ ليس لي شيء فقال له النبي صلى الله عليه وسلم أعطها درعك فأعطاها درعه ثم دخل بها

Baca Juga:  Fikih Kebencanaan : Bagaimana Salat saat Situasi Bencana Alam?

Artinya: Sesungguhnya ketika Ali menikahi Fatimah bin Rasulullah dan hendak menggaulinya Rasulullah pun mencegahnya sampai ia memberikan sesuatu (mahar) kepada Fatimah lalu Ali berkata, “wahai Rasulullah aku tidak memiliki apapun,” lalu Nabi menjawabnya, “berikanlah baju besimu kepadanya!”. Ali pun memberikan baju besinya kepada Fatimah lalu menggaulinya. (HR. Abu Daud)

Akan tetapi syariat tidak menetapkan batasan jumlah mahar yang harus diberikan kepada seorang suami kepada mempelai wanita. Meski dalam beberapa adat di Indonesia ada beragam ketentuan dan batasan mengenai mahar. Semua tergantung kesepakatan kedua pihak.

Upaya membatasi mahar pernah dikeluarkan oleh sang Khalifah, Umar bin Khattab. Saat itu, ada seorang perempuan yang mengingatkannya setelah berkhutbah dan mendeklarasikan ketetapannya tentang batasan mahar. Perempuan tersebut menegur Umar dengan surat an-nisa ayat 20.

Dalam khutbahnya Umar melarang mempelai laki-laki memberi mahar di atas 400 dirham, ia berkata, “janganlah kamu melebih-lebihkan mahar perempuan, meskipun ia merupakan perempuan yang dimuliakan di dunia dan terjamin taqwanya di akhirat. Seseorang yang paling utama di antara kamu adalah Rasulullah. Padahal tidaklah Rasulullah memberi mahar kepada istri-istrinya dan (menentukan) mahar putr-putrinya melebihi 12 Uqiyyah. (Satu Uqiyah setara dengan 40 dirham). Barang siapa yang melebihi dari itu maka sisanya diserahkan ke baitul mal.”

Lalu seorang perempuan dari suku Quraisy menegurnya setelah Umar turun dari mimbarnya dan berkata, “tidak begitu seharusnya, wahai Umar.” Umar pun bertanya, “mengapa begitu?”, perempuan itu menjawab, “Sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali sedikitpun darinya. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata?” (surat an-Nisa ayat 20).

Baca Juga:  Amalan Zikir Basmalah dan Rahasia di Setiap Bilangan Bacaannya

Lalu Umar kembali ke mimbarnya dan berkata, “wahai manusia, sebelumnya aku melarangmu untuk melebihkan mahar perempuan di atas 400 dirham, tapi siapapun yang ingin menambahkannya sesuai keinginannya maka dipersilakan.”

Cerita tersebut dikutip Syekh Wahbah Zuhaili dari Siroh Umar bin Khottob Lithanthowi.

Akan tetapi justru disunnahkan seorang perempuan untuk tidak memberatkan mahar kepada laki-laki berdasarkan hadis Nabi dari Aisyah Ra berkata, “wanita yang paling besar keberkahannya adalah yang paling ringan maharnya.” (HR. Ahmad)

Tentu, segala hal yang ditentukan oleh Islam melalui Alquran dan Hadis ada hikmahnya. Adapun hikmah dari anjuran tersebut adalah untuk memudahkan pemuda menikahi perempuan.

Ulama 4 mazhab pun berbeda pendapat mengenai batasan minimal mahar yang diberikan kepada perempuan. Ulama dari mazhab Hanafi memberi batasan minimal mahar, yaitu 10 dirham atau sekitar sekitar 950 ribuan karena satu dirham setara 2,975 gram perak yang saat ini dibandrol dengan harga 94.675. Karena dirham dulu digunakan sebagai satuan mata uang dengan bahan perak. Tapi saat ini tidak lagi digunakan dengan bahan perak, tetapi hanya digunakan sebagai satuan saja di beberapa negara arab.

Sedangkan ulama mazhab Maliki berpendapat nomimal mahar minimalnya 4 dinar atau setara dengan sekitar 15 juta. Karena 1 dinar setara dengan 4,25 gram yang dibandrol sekitar 3.846.250. Kedua mazhab tersebut tidak mensyaratkan harus berupa dinar atau dirham, melainkan benda yang setara dengan nilai tersebut. Pembatasan minimal diterapkan setara dengan nishab had mencuri untuk upaya menghormati perempuan dan mengangkat derajat perempuan.

Sedangkan ulama mazhab Syafii dan Hanbali tidak memberi batasan jumlah minimal untuk mahar. Mahar yang diberikan dari pihak laki-laki boleh sedikit atau banyak, tidak dibatasi minimalnya. Kalangan kedua mazhab ini hanya menetapkan mahar harus berupa benda yang bisa dijual atau bernilai.

Baca Juga:  Ajaran Alquran tentang Toleransi dalam Surat Yunus

Kesimpulannya, meski terdapat perbedaan pendapat mengenai nominal jumlah mahar, alangkah baiknya kesepakatan itu terwujud dari kedua belah pihak yang disertai keridhaan dan sesuai dengan kemampuan sang suami. Tidak meremehkan juga tidak membebani. Wallahu a’lam bisshowaab.

Rekomendasi

Mahar Transaksi Jual Beli Mahar Transaksi Jual Beli

Tafsir Surat An-Nisa Ayat 4; Mahar Bukan Transaksi Jual Beli

hukum menggagalkan pertunangan haram hukum menggagalkan pertunangan haram

Bolehkah Istri Menjual Mahar Nikah dari Suami?

Mahar Tidak Sesuai yang Diucapkan dalam Akad, Sahkah Pernikahannya? Mahar Tidak Sesuai yang Diucapkan dalam Akad, Sahkah Pernikahannya?

Mahar Tidak Sesuai yang Diucapkan dalam Akad, Sahkah Pernikahannya?

Mahar Tidak Sesuai yang Diucapkan dalam Akad, Sahkah Pernikahannya? Mahar Tidak Sesuai yang Diucapkan dalam Akad, Sahkah Pernikahannya?

Hukum Menggunakan Mahar Sebagai Modal Usaha

Ditulis oleh

Sarjana Studi Islam dan Redaktur Bincang Muslimah

Komentari

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Beberapa Kesunahan 10 Muharram Beberapa Kesunahan 10 Muharram

Tiga Hal yang Harus Diperhatikan Perempuan Haid

Ibadah

Green Islam Sebagai Gerakan Melawan Krisis Iklim Green Islam Sebagai Gerakan Melawan Krisis Iklim

Green Islam Sebagai Gerakan Melawan Krisis Iklim

Muslimah Talk

Shafiyah binti Huyay Shafiyah binti Huyay

Asiyah binti Muzahim: Istri Firaun yang Dijamin Masuk Surga Oleh Allah

Muslimah Talk

Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah

Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah

Ibadah

Seorang Anak yang Bersembunyi di Balik Topeng Superhero: Ketika Orang Dewasa Menyembunyikan Luka Masa Kecil Seorang Anak yang Bersembunyi di Balik Topeng Superhero: Ketika Orang Dewasa Menyembunyikan Luka Masa Kecil

Seorang Anak yang Bersembunyi di Balik Topeng Superhero: Ketika Orang Dewasa Menyembunyikan Luka Masa Kecil

buku

Doa yang Dipanjatkan Fatimah az-Zahra pada Hari Senin Doa yang Dipanjatkan Fatimah az-Zahra pada Hari Senin

Benarkah Orang Pingsan Tidak Wajib Mengqadha Shalat?

Ibadah

Doa Mendengar Azan KeutamaannyaHari Kamis Doa Mendengar Azan KeutamaannyaHari Kamis

Tiga Doa dalam Al-Qur’an yang Bisa Mendekatkan Jodoh

Ibadah

Empat Syarat Salat untuk Penyucian Jiwa dalam Tafsir QS. Al-Ankabut Ayat 45 Empat Syarat Salat untuk Penyucian Jiwa dalam Tafsir QS. Al-Ankabut Ayat 45

Empat Syarat Salat untuk Penyucian Jiwa dalam Tafsir QS. Al-Ankabut Ayat 45

Kajian

Trending

Nasihat Pernikahan Gus Mus Nasihat Pernikahan Gus Mus

Doa untuk Pengantin Baru

Ibadah

Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah

Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah

Ibadah

Doa Mendengar Azan KeutamaannyaHari Kamis Doa Mendengar Azan KeutamaannyaHari Kamis

Tiga Doa dalam Al-Qur’an yang Bisa Mendekatkan Jodoh

Ibadah

Mengenal Tujuh Macam Kebiasaan Istihadhah

Ibadah

Shafiyah binti Huyay Shafiyah binti Huyay

Asiyah binti Muzahim: Istri Firaun yang Dijamin Masuk Surga Oleh Allah

Muslimah Talk

diperhatikan Memilih pasangan hidup diperhatikan Memilih pasangan hidup

Tafsir Al-Baqarah Ayat 221: Hal yang Harus Diperhatikan saat Memilih Pasangan Hidup

Kajian

lelaki perempuan mata allah lelaki perempuan mata allah

Feminisme Al-Qur’an, Tafsir An-Nahl 97; Lelaki dan Perempuan di Mata Allah

Kajian

keringat perempuan haid najis keringat perempuan haid najis

Benarkah Perempuan Sumber Persoalan Bagi Laki-laki?

Kajian

Connect