Ikuti Kami

Muslimah Talk

Sakdiyah Ma’ruf : Menggelitik Budaya Patriarki dan Konservatisme Beragama Lewat Komedi

“Kita sebagai muslim tidak boleh berkiblat ke barat,” 

“Saya pikir kalau gak menghadap barat lalu saya akan shalat hadap mana?”

“Saya dengan senang hati melihatmu di neraka,”

“Saya pikir kalau anda bisa lihat saya dibakar di neraka bukankah anda juga di neraka?”

BincangMuslimah.Com – Itu adalah cuplikan punchline yang Sakdiyah Ma’ruf masukkan dalam standup komedi yang ia bawakan. Kritikan bernada penghakiman seperti ini sering Sakdiyah dengar sejak ia memutuskan berdakwah lewat komedi.

Menurut Sakdiyah yang terlahir di komunitas yang sangat konservatif di daerah Pekalongan, Jawa Tengah, sesungguhnya kekakuan dalam beragama ini adalah keseharian yang sering ditemukan di lingkungannya sejak kecil. Tapi itu sebatas untuk kalangannya saja, yang dimaksudkan sebagai nasehat dan peringatan untuk generasi penerus di kalangan tertentu.

“Di lingkungan saya dulu ungkapan-ungkapan tersebut sebatas kepada sesama golongan, tapi di era media sosial semua komentar-komentar yang seharusnya bersifat privat tersebut berhamburan di medsos dan dibaca banyak orang sehingga menjadi hate speech,” jelas Sakdiyah Ma’ruf dalam diskusi rutin bulanan yang digelar Komunitas Musisi Jakarta (KOMUJI), pada akhir bulan Oktober kemarin.

Tapi beberapa tahun terakhir praktek beragama yang sempit, rigid dan penuh penghakiman tersebut semakin masif terjadi. Seolah tidak ada ruang perbedaan dalam cara mengabdi pada Tuhan, seolah tidak ada dialog antar perbedaan.

“Tidak ada ruang untuk dialog antar kebenaran, saya tidak berbicara tentang A salah atau B benar. Tapi dialog antar kebenaran,” ujar perempuan peranakan Arab yang memilih berdakwah lewat komedi tersebut.

Alasan Sakdiyah Terjun ke Dunia Komika

Mungkin karena terlahir di komunitas keturunan Arab yang konserfatif dan patriarki, Ia merasakan bahwa restriksi terhadap perempuan, mulai dari pernikahan anak, pemisahan ruang publik antara laki-laki dan perempuan yang dibungkus tafsir yang bersifat monolotik sudah menjadi keseharian di masyarakat di mana ia dibesarkan.

Baca Juga:  Pekan ASI Sedunia: Ayah Perlu Jadi Support System untuk Ibu

Menurut Sakdiyah, dalam sistem yang membuat masyarakat menjadi kaku, berpikiran rigid dan penuh penghakiman tersebut, perempuan adalah lapis terbawah dalam lapisan itu.

Seperti bagaimana kebolehan melakukan kekerasan terhadap perempuan menemukan pembenarannya dalam tafsir yang rigid tentang kewajiban istri yang tidak patuh, “Lalu jika suami yang tidak patuh bagaimana?” ujar komika muslimah itu dalam premis yang ia lontarkan dalam komedinya.

Hidup di tengah lingkungan kontradiksi serta krisis indentitas dan banyaknya tekanan sosial terhadap perempuan, Sakdiyah Ma’ruf tumbuh merindukan Indonesia yang katanya meski berbeda-beda tapi tetap satu jua.

“Indonesia adalah imajinasi saya tentang hidup dan masa depan,” ujarnya.

Tapi sayang, ternyata konservatifme yang ia tolak  telah menyebar secara masif pula di masyarakat Indonesia. Sehingga ia merasa tidak mendapatkan Indonesia yang dia impikan.

“Baru pertama kali dalam hidup saya bertemu dengan teman-teman yang bercadar, yang tidak ingin bersalaman dengan lawan jenis, duduk berseberangan dengan teman laki-laki yang dibatasi tirai, ada teman laki-laki yang menolak melihat wajah saat berbicara dengan saya. Melihat ini saya merasa tidak hanya ingin berjuang untuk perempuan di komunitas saya, tapi untuk Indonesia,” jelasnya.

Ironi dalam kehidupan yang serba ketat tersebut akhirnya membawa Sakdiyah ke panggung standup komedi, di mana dia banyak membicarakan tentang Islam untuk melawan ekstrimisme Islam di Indonesia.

Sakdiyah berharap tidak ada lagi saling menghakimi di antara masyarakat, baik yang konservatif atau yang merasa moderat. Hindari prasangka terhadap saudara sesama muslim.

“Setiap hari ada saja yang mengkritik, dibilang kurang islami jilbabnya, jilbabnya jangan diikat, dan lalu kita membalasnya dasar mereka bodoh, fundamentalis dan sebagainya. Apa bedanya?” Kata Sakdiyah dalam diskusi KOMUJI yang bertemakan “Shaleh Tanpa Menghakimi” itu.

Baca Juga:  Viral Prank KDRT Baim dan Paula; Sangat Nir-Empati

Menurutnya diskusi ini bukan hanya tentang menjadi shaleh tanpa menghakimi. Tapi bagaimana agar golongan yang mengaku prograsif pun mau berpikiran terbuka.

“Jangan merasa Islam moderat, tapi kerjaannya tiap hari membodoh-bodohkan orang, bilang orang fundamentalis, radikal dan sebagainya. Jika anda berbicara tentang cadar, burkah seseorang maka anda harus berpikir lagi tentang pengakuan dirinya  moderat,” ujarnya lagi.

Menurutnya yang paling penting agar tidak ada lagi fenomena saling menghakimi terhadap sesama muslim. Masyarakat harus mencari tahu kemudian menolak bersama pangkal ekstrimisme yang terjadi di Indonesia.

“Selama ini media asing selalu bicara tentang  meningkatnya ekstrimisme di Indonesia. Tapi kita hampir tidak pernah benar-benar bisa mengidentifikasi secara jelas siapa mereka itu, kapan mulai masuk ke Indonesia, apa yang mereka bawa, ideologi rigid yang bahkan mengarah pada kekerasan ini siapa mereka, tanpa mengetahui itu maka kita hanya akan berantem sendiri,” tandasnya.

Rekomendasi

Ditulis oleh

Sarjana Studi Islam dan Peneliti el-Bukhari Institute

Komentari

Komentari

Terbaru

Anjuran Bagi-bagi THR, Apakah Sesuai Sunah Nabi?

Video

QS At-Taubah Ayat 103: Manfaat Zakat dalam Dimensi Sosial QS At-Taubah Ayat 103: Manfaat Zakat dalam Dimensi Sosial

QS At-Taubah Ayat 103: Manfaat Zakat dalam Dimensi Sosial

Kajian

Sedang Haid, Apa Tetap DiAnjurkan Mandi Sunnah Idulfitri Sedang Haid, Apa Tetap DiAnjurkan Mandi Sunnah Idulfitri

Sedang Haid, Apa Tetap DiAnjurkan Mandi Sunnah Idulfitri

Ibadah

Anjuran Saling Mendoakan dengan Doa Ini di Hari Raya Idul Fitri

Ibadah

Bolehkah Menggabungkan Salat Qada Subuh dan Salat Idulfitri? Bolehkah Menggabungkan Salat Qada Subuh dan Salat Idulfitri?

Bolehkah Menggabungkan Salat Qada Subuh dan Salat Idulfitri?

Ibadah

kisah fatimah idul fitri kisah fatimah idul fitri

Kisah Sayyidah Fatimah Merayakan Idul Fitri

Khazanah

Kesedihan Ramadan 58 Hijriah: Tahun Wafat Sayyidah Aisyah Kesedihan Ramadan 58 Hijriah: Tahun Wafat Sayyidah Aisyah

Kesedihan Ramadan 58 Hijriah: Tahun Wafat Sayyidah Aisyah

Muslimah Talk

Kapan Seorang Istri Dapat Keluar Rumah Tanpa Izin Suami? Kapan Seorang Istri Dapat Keluar Rumah Tanpa Izin Suami?

Ummu Mahjan: Reprentasi Peran Perempuan di Masjid pada Masa Nabi

Muslimah Talk

Trending

Ini Tata Cara I’tikaf bagi Perempuan Istihadhah

Video

Ketentuan dan Syarat Iktikaf bagi Perempuan

Video

tips menghindari overthingking tips menghindari overthingking

Problematika Perempuan Saat Puasa Ramadhan (Bagian 3)

Ibadah

Tuan Guru KH Zainuddin Abdul Madjid Tuan Guru KH Zainuddin Abdul Madjid

Tuan Guru KH Zainuddin Abdul Madjid: Pelopor Pendidikan Perempuan dari NTB

Kajian

malam jumat atau lailatul qadar malam jumat atau lailatul qadar

Doa Lailatul Qadar yang Diajarkan Rasulullah pada Siti Aisyah

Ibadah

Anjuran Saling Mendoakan dengan Doa Ini di Hari Raya Idul Fitri

Ibadah

mengajarkan kesabaran anak berpuasa mengajarkan kesabaran anak berpuasa

Parenting Islami : Hukum Mengajarkan Puasa pada Anak Kecil yang Belum Baligh

Keluarga

Puasa Tapi Maksiat Terus, Apakah Puasa Batal?

Video

Connect