Ikuti Kami

Kajian

Tafsir Penciptaan Perempuan menurut Muhammad Abduh

BincangMuslimah.Com – Bicara tentang penciptaan, tentu kita tahu teori penciptaan Adam Hawa  selalu dijadikan pijakan. Penciptaan Hawa (perempuan pertama) dalam al-Qur’an tidak dijelaskan secara eksplesit nama Adam dan Hawa, tetapi di ungkapkan dengan kata nafs wahidah yang merupakan Adam, dan zaujaha adalah Hawa, perempuan pertama yang menjadi istri Adam.

Dalam pandangan sebagian ulama klasik, Hawa diciptakan dari bagian tubuh (tulang rusuk) Adam, yang dalam QS. al-Nisa’ ayat 1 disebut dengan dari padanya (minha). Namun menurut al-Razi terdapat perbedaan pandangan di kalangan ulama. Mayoritas ulama memang menafsiran Hawa diciptakan dari bagian tubuh Adam. Sementara yang lain tidak memahami demikian, tetapi mengatakan bahwa nafs wahidah adalah jenis yang satu, sehingga Hawa pun diciptakan dari hal yang sama dengannya. Begitulah kontruksi yang dibangun sejak dahulu kala.

Pembahasan ini sebenarnya telah dibantah sejak kedatangan Islam. Kaum perempuan menemukan kembali jati diri kemanusiaan mereka yang sempat diragukan. Mereka sadar bahwa mereka adalah manusia sebagaimana halnya kaum lelaki. Dalam makna laki-laki dan perempuan sama dan setara.

Sebab terjadinya perubahan kedudukan perempuan itu adalah karena Islam dengan tegas menolak anggapan bahwa Hawa adalah sumber malapetaka di dunia karena telah menggoda Adam sehingga terjatuh dari surga. Sedangkan al-Qur’an menjelaskan bahwa yang menggoda Adam dan Hawa secara bersamaan adalah setan, bukan Hawa. Hal ini telah dijelaskan dalam QS. al-Isra’: 70.

Meskipun Islam telah datang sebagai patron yang meyatakan setaranya perempuan dan laki-laki dari segi penciptaan, namun sebenarnya terjadi perdebatan panjang dalam tafsir al-Manar di kalangan para ulama klasik.

Menurut Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha dalam tafsir al-Manar tentang ayat-ayat penciptaan Hawa, sumber primer dan tafsir al-Manar hanya terdiri dari jilid 1 sampai 12 atau al-Qur‟an juz 12 awal surat yusuf, sedangkan juz selanjutnya sampai 30 belum ditulis. Akan tetapi tiga ayat yaitu: QS. al-Nisa’: 1, QS. al-An’am: 98, QS. al-A’raf: 189, sudah mewakili dalam memahami penfasiran ayat-ayat tentang penciptaan perempuan dalam tafsir al-Manar.

Baca Juga:  Wabah PMK Menjelang Hari Raya Kurban, Tetap Waspada

Dalam konteks ini, ayat-ayat tentang penciptaan Hawa tidak disebutkan secara jelas dan terperinci.  Para ulama klasik hanya  merujuk pada QS. Al-Nisa’:1, karena pada ayat ini lebih jelas diungkapkan konsep asal usul dan perkembangan manusia, termasuk Hawa.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. Al-Nisa: 1)

Ayat di atas ditafsirkan Para ulama terdahulu memahami kata nafs wahidah pada ayat ini dalam arti Adam. Akan tetapi al-Qasimi, Muhammad Abduh memaknainya dalam arti jenis manusia lelaki dan wanita. Kemudian ayat diatas sama penafsirannya dengan QS. al-Hujurat: 13 berikut

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Kedua ayat di atas membicarakan hal sama yaitu tentang asal kejadian manusia dari seorang ayah dan ibu, yakni sperma ayah dan ovum ibu. hanya tekanannya saja yang berbeda. Jika ayat pertama dalam konteks menjelaskan tentang berkembang biaknya manusia dari seorang ayah dan ibu, maka ayat kedua konteksnya adalah persamaan hakikat kemanusian tiap individu manusia. Dimana setiap orang walau berbeda-beda ayah dan ibunya, tetapi unsur dan proses kejadian mereka sama. Sehingga tidak dibenarkan seseorang menghina atau merendahkan orang lain. (A. Musthofa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi)

Dengan menafsirkan kata nafs wahidah dalam arti dari jenis yang satu, Thabathaba’i dalam tafsirnya menyebutkan  bahwa ayat tersebut juga memberi penegasan bahwa istri Adam yang ditunjuk dengan kata zaujaha diciptakan dari jenis yang sama dengan Adam yakni dari tanah dan hembusan ruh Ilahi. Menurutnya sedikitpun ayat itu tidak mendukung faham yang beranggapan bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam sebagaimana yang dipahami para ulama terdahulu.

Baca Juga:  Menjauhi Zina Bukan dengan Nikah Muda

Perdebatan terjadi pada  penciptaan Hawa dalam ayat ini diungkapkan dengan kalimat wa khalqa minha zaujaha. Persoalannya apakah Hawa diciptakan dari tanah sama seperti penciptaan Adam, atau diciptakan dari (bagian tubuh) Adam itu sendiri. Kata kunci penafsiran yang perdebatan  ini terletak pada kalimat minha. Apakah kalimat ini menunjukkan bahwa untuk Adam diciptakan istri dari jenis yang sama dengan dirinya, atau diciptaan dari (diri) Adam itu sendiri.

Menurut Abduh, nafs wahidah bukanlah Adam. Karena kalimat selanjutnya yaitu wa bathth minhuma rijal katsir wa nisa, berbentuk nakirah (tidak menunjukkan arti tertentu). Kalau nafs wahidah dipahami Adam, maka seharusnya kalimat berikutnya adalah wa bathth minhuma rijal katsir wa al-Nisa’, berbentuk ma’rifah. Menurutnya, ayat itu tidak dapat dipahami sebagai jenis tertentu, karena panggilan (khitab) yang ada dalam ayat itu ditunjukkan kepada segenap bangsa yang tidak semuanya mengetahui Adam.

Pemahaman tentang Adam sebagai nenek moyang yang kemudian menjadi dasar penafsiran ayat tersebut adalah lebih didasarkan pada sejarah bangsa Ibrani dari pada al-Qur’an itu sendiri, karena al-Qur’an tidak memberikan penjelasan tentang hal itu.

Penyebutan kata rijal dan nisa’ dalam bentuk nakirah pada ayat tersebut dikuatkan dengan kata minhuma bukanlah Adam dan Hawa, tetapi zaujain (suami dan istri). Hal ini menurut Abduh, karena keterangan zauj (pasangan) setelah keterangan tentang penciptaan manusia tidak menunjukkan selang waktu, dan kata sambung waw (dan tidak menunjukkan arti tertentu, tetapi merupakan tafsil (perincian) dari yang ijmal (global).

Dengan mengutip penafsiran al-Razi, Abduh mengemukakan ada tiga macam takwil terhadap ayat ini:

Pertama, ayat tersebut adalah penyamaan (ala sabil darb al-mithl) bahwa Allah menciptakan setiap manusia dari nafs wahidah dan menciptakan dari jenisnya istri yang memilki jenis kesamaan di dalam sifat kemanusiaannya.

Baca Juga:  Apa Tujuan Adanya Mahar dalam Pernikahan?

Kedua, yang dimaksud dengan nafs wahidah adalah Quraish, karena ayat tersebut ditujukan kepada bangsa Quraish pada masa Nabi Muhammad.

Ketiga, yang dimaksud dengan nafs wahidah adalah Adam. (Muhammad Rasyid Ridha, Tafsir al-Qur‟an al-Hakim, hal. 323).

Rekomendasi

Menjaga Keharmonisan Rumah Tangga Menjaga Keharmonisan Rumah Tangga

Tafsir Al-Baqarah 187: Kiat Menjaga Keharmonisan Rumah Tangga menurut Islam

Surat Al-Ahzab Ayat 33 Surat Al-Ahzab Ayat 33

Tafsir Surat Al-Ahzab Ayat 33; Domestikasi Perempuan, Syariat atau Belenggu Kultural?

Hubungan Gender dan Tafsir Agama Menurut Quraish Shihab

tiga peneliti sufi perempuan tiga peneliti sufi perempuan

Tafsir An-Nisa Ayat 1; Benarkah Perempuan Berasal dari Tulang Rusuk Laki-laki?

Ditulis oleh

Mahasiswi UIN Jakarta dan volunter di Lapor Covid

Komentari

Komentari

Terbaru

keistimewaan umat nabi muhammad keistimewaan umat nabi muhammad

Delapan Keistimewaan Umat Nabi Muhammad

Kajian

Mencintai Saudara Sesama Muslim Mencintai Saudara Sesama Muslim

Pelajaran dari Kaum Anshar: Mencintai Saudara Sesama Muslim

Khazanah

Resensi Buku Feminisme Muslim di Indonesia

Diari

Sayyidah Aisyah Sayyidah Aisyah

Belajar dari Fitnah yang Menimpa Sayyidah Aisyah  

Muslimah Daily

Empat Karakteristik Kebudayaan Islam yang Dibawa Rasulullah

Kajian

Shafiyyah huyay istri nabi Shafiyyah huyay istri nabi

Shafiyyah binti Huyay, Perempuan Yahudi yang Masuk Islam dan Jadi Istri Nabi

Khazanah

Makna Tawakkal atau Berserah Diri kepada Allah

Ibadah

tiga peneliti sufi perempuan tiga peneliti sufi perempuan

Kisah Tiga Peneliti tentang Sufi Perempuan  

Diari

Trending

Menjaga Keharmonisan Rumah Tangga Menjaga Keharmonisan Rumah Tangga

Tafsir Al-Baqarah 187: Kiat Menjaga Keharmonisan Rumah Tangga menurut Islam

Kajian

Empat Karakteristik Kebudayaan Islam yang Dibawa Rasulullah

Kajian

perempuan titik nol arab perempuan titik nol arab

Resensi Novel Perempuan di Titik Nol Karya Nawal el-Saadawi

Diari

Yoga gerakan ibadah hindu Yoga gerakan ibadah hindu

Yoga Dianggap Menyerupai Gerakan Ibadah Hindu, Haramkah Menurut Islam?

Kajian

malaikat melaknat istri menolak malaikat melaknat istri menolak

Benarkah Malaikat Melaknat Istri yang Menolak Ajakan Suami untuk Berhubungan Badan?

Kajian

Laksminingrat tokoh emansipasi indonesia Laksminingrat tokoh emansipasi indonesia

R.A. Lasminingrat: Penggagas Sekolah Rakyat dan Tokoh Emansipasi Pertama di Indonesia

Muslimah Talk

alasan fatimah julukan az-zahra alasan fatimah julukan az-zahra

Sayyidah Sukainah binti Al-Husain: Cicit Rasulullah, Sang Kritikus Sastra

Kajian

Nyai Khoiriyah Hasyim mekkah Nyai Khoiriyah Hasyim mekkah

Nyai Khoiriyah Hasyim dan Jejak Perjuangan Emansipasi Perempuan di Mekkah

Kajian

Connect