Ikuti Kami

Kajian

Makna Simbolis Wukuf di Arafah

Makna Simbolis Wukuf Arafah
foto: gettyimages.com

BincangMuslimah.Com-Salah satu rukun sekaligus yang menjadi pilar utama dari melaksanakan ibadah haji adalah melakukan wukuf di Arafah. Sampai-sampai Nabi saw. bersabda الحَجُّ عَرَفَةُ (haji adalah Arafah).  Salah satu maknanya adalah Arafah menjadi tempat untuk ma’rifah atau pengetahuan sejati tentang diri sendiri hingga perjalanan hidup.

Wukuf sendiri berasal dari bahasa Arab yang memiliki arti berhenti atau berdiam. Dalam serangkaian proses ibadah haji, wukuf adalah ibadah yang dilakukan dengan berdiam diri di padang Arafah tepat di tanggal 9 Dzulhijjah, dimulai saat tergelincirnya matahari waktu zuhur sampai tenggelamnya matahari.

Proses wukuf ini pada hakikatnya bermakna menghentikan seluruh kesibukan dalam rangka untuk intropeksi dan mengenal diri hingga mengenal Allah Swt. Hal tersebut sesuai dengan makna dari kata “arafah” yang berarti mengenal. Selain itu, ada makna simbolis yang terkandung saat melakukan wukuf di Arafah, di antaranya adalah:

Pengingat saat di Padang Mahsyar

Wukuf di Arafah mengingatkan manusia perihal berkumpulnya semua makhluk di Padang Mahsyar. Hari itu menjadi hari persaksian dihisabnya setiap hamba untuk mempertanggungjawabkan segala yang telah dilakukan semasa hidup di dunia. Maka dari itu, saat wukuf di Arafah dianjurkan untuk memperbanyak istighfar, berzikir dan berdoa memohon rahmat kepada Allah Swt.

Sehingga momen ini, menurut KH. Afifuddin Muhajir, adalah waktu yang tepat untuk merenungi dan melakukan reorientasi kehidupan yang lebih baik di dunia dan akhirat.

Simbol dari Kesetaraan

Dalah surah al-Baqarah [2]: 199 disebutkan:

ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya: Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (‘Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dalam Tafsir al-Mishbah dijelaskan bahwa ayat ini merupakan kritik terhadap kaum Quraish yang enggan untuk berkumpul di Arafah bersama dengan kabilah-kabilah yang lain. Padahal, mereka tahu bahwa Arafah tempat wukufnya leluhurnya, yaitu Nabi Ibrahim as., namun mereka tidak mau sebab perasaan superioritasnya. Dalam Tafsir Jalalain juga disebutkan, kaum Quraish melakukan wukuf di Muzdalifah.

Baca Juga:  Manifestasi Cinta dalam Rumah Tangga

Menurut kaum Quraish, mereka berdomisili di tanah haram dan posisi mereka adalah sebagai penjaga dari rumah Allah Swt. Maka, dengan tidak melakukan wukuf di Arafah mereka mengklaim bahwa tindakan itu merupakan salah satu pengejawantahan dari sikap hormatnya terhadap tanah haram. Sebab, ketika pergi ke Arafah yang berada di luar tanah haram, mereka merasa telah meninggalkan tanah haram.

Dengan adanya firman di atas, Allah memerintahkan kepada kabilah Quraish untuk meninggalkan kebiasaan jahiliahnya tersebut. Sekaligus sebagai penegas bahwa tidak ada perbedaan di antara kabilah atau suku, semuanya harus melakukan wukuf di Arafah.

Waktu yang Tepat untuk Musyahadah

Ibadah haji merupakan mujahadah, yakni upaya jiwa yang bersungguh-sungguh untuk mencapai musyahadah atau penyaksian. Dalam sudut pandang kaum sufi, melakukan wukuf di Arafah adalah waktu yang tepat untuk musyahadah, maksudnya menyaksikan kehadiran Allah dalam hati sekalipun hanya sebentar. Kalau itu tidak tercapai, maka belum dinyatakan wukuf.

Oleh sebab itu, kaum sufi memberikan komentar bahwa bisa saja orang memandang Ka’bah, melakukan wukuf, namun ia tidak mendapatkan makna haji, sebab belum tercapainya musyahadah. Karenanya kaum sufi berkata, “Yang tidak berada bersama Tuhan di Mekah, bagaikan berkunjung ke rumah yang tak berpenghuni, dan yang tak berkunjung ke rumah Tuhan tetapi merasakan kehadiran-Nya, maka Tuhan telah mengunjungi rumahnya. Aku heran terhadap mereka yang mencari Ka’bah-Nya di sana, mengapa tidak menyaksikan-Nya di hati mereka. Yang tergelap di dunia ini adalah rumah kekasih tanpa kekasih.”

Ada dua cara untuk agar mencapai musyahadah, yakni dengan kepercayaan kepada Allah dengan sempurna atau dengan kehangatan cinta kepada Allah yang membara. Sebab, dengan kehangatan cinta, seseorang akan mengalami fana, yakni meleburnya diri dan hilang sama sekali, sehingga tidak ada yang disaksikannya kecuali yang dicintainya. Demikianlah kiranya makna simbolis dari ibadah wukuf di Arafah.

Baca Juga:  Ssst… Jangan Melamar Perempuan ini!

Wallahu A’lam.

Sumber Bacaan:

Nuhasanah Namin, Rahasia Kedahsyatan 12 Waktu Mustajab Untuk Berdoa,  31-32.

Brilly el-Rasheed, Manasik ‘Umrah Nabi Muhammad, 52-53.

Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, 436-438.

Quraish Shihab, lentera Hati: Pijar Hikmah dan Teladan Kehidupan, 262-264.

Rekomendasi

Kemuliaan dan Amalan Hari Arafah Kemuliaan dan Amalan Hari Arafah

Kemuliaan dan Amalan Hari Arafah

Belum Berhaji Menjadi Badal Haji Belum Berhaji Menjadi Badal Haji

Hukum Orang yang Belum Berhaji Menjadi Badal Haji

Tiga macam ibadah haji Tiga macam ibadah haji

Tiga Macam Ibadah Haji, Apa Saja?

Hukum Menjual Kulit Sapi Kurban Hukum Menjual Kulit Sapi Kurban

Hukum Menjual Kulit Sapi Kurban

Ditulis oleh

Alumni prodi Ilmu Alquran dan Tafsir UIN Sunan Ampel, Surabaya. Minat pada kajian Islam dan Alquran. Kini juga aktif sebagai penulis di tafsirquran.id.

Komentari

Komentari

Terbaru

Nasihat Pernikahan Gus Mus Nasihat Pernikahan Gus Mus

Ini Enam Nasihat Kiai Said Aqil untuk Pengantin Baru

Ibadah

Wudhu Perempuan Keputihan Terus-menerus Wudhu Perempuan Keputihan Terus-menerus

Tata Cara Wudhu bagi Perempuan yang Alami Keputihan Terus-menerus

Kajian

Bahasa Suryani bahasa malaikat Bahasa Suryani bahasa malaikat

Benarkah Bahasa Suryani Bahasa Para Malaikat?

Khazanah

Lia Karina Mansur Lia Karina Mansur

Lia Karina Mansur: Atlet Taekwondo Berhijab, Siapa Takut?

Muslimah Talk

Jangan marah Jangan marah

Pesan Nabi dalam Hadis: Jangan Marah!

Muslimah Daily

Hukum haul orang meninggal Hukum haul orang meninggal

Hukum Haul untuk Memperingati Orang yang Sudah Meninggal

Kajian

Hukum Ziarah Kubur Perempuan Haid Hukum Ziarah Kubur Perempuan Haid

Hukum Ziarah Kubur bagi Perempuan Haid

Kajian

mengasuh anak ciri-ciri anak penyejuk hati mengasuh anak ciri-ciri anak penyejuk hati

Ciri-ciri Anak Penyejuk Hati bagi Orang Tua

Keluarga

Trending

Doa keguguran Doa keguguran

Kehilangan Buah Hati Akibat Keguguran, Baca Doa yang Diajarkan Rasulullah Ini

Ibadah

masa iddah hadis keutamaan menikah masa iddah hadis keutamaan menikah

10 Hadis Tentang Keutamaan Menikah

Kajian

Tujuh Keutamaan Membaca Shalawat Tujuh Keutamaan Membaca Shalawat

Doa agar Terhindar dari Prasangka Buruk pada Allah

Ibadah

Mengenal Rufaidah al-Aslamiyah: Perawat Perempuan Pertama dalam Sejarah Islam

Muslimah Talk

Mandi junub dan haid Mandi junub dan haid

Empat Hal yang Perlu Diperhatikan Ketika Mandi Wajib

Ibadah

Resensi Buku Pernah Tenggelam Resensi Buku Pernah Tenggelam

Resensi Buku Pernah Tenggelam: Halu Berlebihan Menenggelamkan Keimanan?

Diari

Shafiyah binti Huyay Teungku Fakinah Shafiyah binti Huyay Teungku Fakinah

Kisah Bulan Madu Rasul dengan Shafiyah binti Huyay

Muslimah Talk

mengasuh anak ciri-ciri anak penyejuk hati mengasuh anak ciri-ciri anak penyejuk hati

Ciri-ciri Anak Penyejuk Hati bagi Orang Tua

Keluarga

Connect