BincangMuslimah.Com – We Are All Trying Here adalah sebuah drama yang menceritakan persahabat yang terhubung dalam sebuah grup dengan nama ‘Group of Eight’ atau Klub Delapan. Grup ini beranggotakan para alumni Sinematografi yang telah bertranformasi menjadi sutradara dan produser. Mayoritas mereka sudah menjadi sosok mentereng.
Di bawah sutradra Cha Young-Hoon dan Park Hae-Young, drama ini mengisahkan kehidupan yang lebih realistis dengan permasalahan yang sering kita hadapai dalam kehidupan sehari-hari. Karakter-karakter yang berperan dalam drama ini memiliki sisi gelap masing-masing, mulai dari ambisi, tekanan batin, serta upaya untuk berdamai dengan diri sendiri.
Salah satu sosok yang menjadi pusat perhatian dalam film ini ialah Hwang Dong-Man. Diperankan oleh aktor papan atas, Koo Kyo-Hwan, Dong-Man merupakan seorang calon sutradara yang belum pernah debut dalam sebuah karya di usianya yang sudah paruh baya.
Di sisi lain, Byeon Eun A adalah tokoh utama perempuan dalam drama ini. Digambarkan sebagan sosok produser yang mendapat julukan “The Ax” karena ia mengkritik teks skenario dengan tajam. Tetapi di balik sosoknya yang dingin, ternyata ia memendam segala kesulitan hidup yang mengharuskannya untuk bolak-balik konsultasi layanan psikologi.
Menjalani Hidup Tidak Harus Dengan Berlari
Drama We Are All Trying Here meengajarkan kepada penontonnya bagaimana tetap memperjuangkan hidup meskipun dengan beragam problematikanya. Untuk mewujudkan sebuah kata sukses, tidak apa-apa berjalan terlambat, sebab terkadang halang rintang yang tidak terduga datang tiba-tiba. Hal ini selaras dengan firman Allah di dalam Al-Qur’an:
وَاتَّبِعْ مَا يُوحَىٰ إِلَيْكَ وَاصْبِرْ حَتَّىٰ يَحْكُمَ اللَّهُ ۚ وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِينَ
“Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan bersabarlah hingga Allah memberi keputusan; dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya” (QS. Yunus: 109).
Ayat ini merupakan penegasan bahwa manusia tidak hanya mendapat perintah untuk beriman, tetapi juga konsisten dan tetap bersabar dalam proses kehidupan. Dalam Tafsir Al-Mishbah, M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa perintah “bersabarlah” di sini tidak bermakna diam atau pasrah tanpa usaha, melainkan keteguhan dalam menjalani kebenaran meskipun menghadapi berbagai rintangan, hingga datang keputusan Allah yang pasti adil dan bijaksana.
Lebih jauh, para mufasir seperti Ibnu Katsir menjelaskan bahwa bagian “حَتَّىٰ يَحْكُمَ اللَّهُ” (hingga Allah memberi keputusan) mengandung makna menunggu saat Allah menetapkan jalan keluar. Baik berupa kemenangan bagi kebenaran maupun kehancuran bagi kebatilan.
Ibnu Katsir menekankan bahwa sebagaimana Nabi mendapat perintah untuk tetap berpegang pada wahyu dan bersabar menghadapi penolakan manusia. Karena pada akhirnya Allah sendiri yang akan memutuskan perkara tersebut dengan keadilan dan hikmah-Nya. Tafsir ini memperlihatkan bahwa kesabaran adalah bagian dari strategi spiritual: tetap berusaha, tetap benar, tetapi tidak memaksakan hasil di luar kehendak Allah.
Allah Menguji Sesuai Kemampuan Hamba-Nya
Makna ini diperkuat oleh ayat lain seperti firman Allah dalam QS. Al-Baqarah: 286:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah menekankan bahwa Allah Maha Mengetahui kapasitas setiap manusia. Sehingga tidak mungkin Ia memberikan beban yang melampaui kemampuan hamba-Nya. Menambahkan, dalam ayat ini bukan hanya penghiburan, tetapi juga dorongan agar manusia mengenali potensi diri dan tidak mudah merasa lemah.
Ujian yang berbeda-beda justru mencerminkan perbedaan kemampuan dan kesiapan masing-masing dalam menghadapinya. Dengan demikian, kesulitan hidup bukan tanda ketidakmampuan, melainkan bentuk kepercayaan Allah kepada manusia untuk bertumbuh dan menjadi lebih kuat.
Rekomendasi