Ikuti Kami

Subscribe

Diari

Tapak Tilas Jejak Mahaguru Ulama Nusantara di Kakap Darat (Eps. 1)

Ulama Nusantara ; Kiai Sholeh Darat
Ulama Nusantara

BincangMuslimah.Com – Tugas akhir menjadi drama tersendiri tentunya bagi para mahasiswa khususnya mereka yang berada di tingkat akhir. Manis, pahit dan asamnya alur pengerjaan menjadi bumbu sedap tersendiri untuk pra syarat kelulusan. Begitupun cerita ini yang diilhami dari pengalaman penulis menikmati euforia dan nano-nanonya mengerjakan tugas tersebut.

Tak ada yang spesial dari cerita ini, hanya cerita biasa yang dikemas dengan bahasa sederhana pun apa adanya namun harapannya semoga bisa dinikmati oleh setiap kawula lagi bisa dipetik pelajaran dan pengalaman berharga dalam menjajaki jejak para ulama nusantara. Jadi, mari kita mulai obrolan ini.

Berawal dari bulan-bulan yang terasa begitu cepat berlalu sedangkan waktu rasanya semakin sempit menghimpit memaksa tugas-tugas yang masih belum rampung agar segera diselesaikan. Kini aku tengah menjalani kehidupan yang kadang menjadi beban pikiran mahasiswa menjelang tua yang acapkali dihantui berbagai jenis pertanyaan yang membosankan. You know what it is hehe.

Memasuki tahun keempat di salah satu pesantren yang terletak di daerah Ciputat menuntut setiap mahasantrinya untuk menggarap dan menyelesaikan risalah akhir sebelum masa empat tahun tersebut berakhir. Jika di kampus kita mengenal skripsi sebagai sebutan tugas akhir, maka pesantren ini menyebutnya sebagai risalah takhrij yang menjadi prasyarat wajib kelulusan.

Menurut cerita dari para pendahulu, takhrij lebih susah dan aduhai lebih rumitnya dibandingkan skripsi. Benarkah demikian? Entahlah aku belum merasakan keduanya dan ini akan menjadi tahun di mana keduanya beradu dan harus dikerjakan berbarengan di sela-sela tugas kuliah lain yang juga masih menumpuk. Jadi siapa yang akan diprioritaskan? Takhrij atau skripsi? Atau keduanya akan selesai dalam waktu yang bersamaan? Aku tak tahu.

Kisaran bulan September sosialisasi risalah takhrij digelar khusus untuk mahasantri tingkat akhir. Debar-debar mulai aku dan teman-temanku rasakan, tak terasa waktu berlalu begitu cepatnya hingga sampai sudah kami di titik ini yang menemukan kami dengan ajang pergulatan hebat melawan waktu pengerjaan yang terbatas dan tak ada dispensasi penguluran waktu di mana akhir tahun keempat ini harus purna.

Aku sendiri merasa belum siap ditambah lagi rasanya banyak sekali materi dan sangu untuk mengupas risalah takhrij ini yang belum kukantongi pun kukuasai. Tapi apa boleh dikata jika sudah tiba waktunya, siap ataupun tidak siap kau harus tetap mengerjakannya. Sebisamu pun semampumu.

Tugas akhir yang berupa risalah takhrij ini konsen pada pengkajian takhrij hadis disertai dengan dirasah asanid (kajian sanad). Model pengerjaannya pun beragam. Ada yang berbentuk takhrij satu hadis dan kajian matannya dengan berbagai pendekatan, kajian takhrij tematik, dan takhrij kitab.

Entah mengapa sejak melihat proses takhrij kakak kelas aku lebih tertarik untuk melakukan kajian takhrij kitab. Oleh karena itu fokus kajian yang kupilih adalah takhrij kitab yaitu kajian yang fokus pada satu kitab dan mentakhrij semua hadis yang ada di dalam kitab tersebut.

Sebulan pasca sosialisasi berlalu sudah, beberapa teman sudah menyetorkan judul hadis yang akan mereka kaji kepada pembimbing masing-masing. Aku? Aku masih saja buntu belum mendapatkan gairah untuk memulai tugas dan garapan ini. Hingga bulan berganti aku tak kunjung menemukan objek penelitian.

Rasanya tak karuan, ada bimbang yang tertahan belum lagi melihat teman-teman sudah mulai mengerjakan. Mereka sudah mulai berlayar dengan kapalnya masing-masing sedangkan aku masih tegap berdiri menanti sampan yang akan menemani pelayaranku.

Mau-mau tak mau aku harus melaporkan progress-ku kepada pembimbing minimal menyetorkan judul kitab yang akan aku kaji. Hampir semua teman seperbimbingan sudah menyetorkan tugas awal berupa setor hadis karena hampir semuanya mengambil kajian hadis. Aku lebih molor. Butuh ngulur kisaran satu minggu untuk memantapkan hati dengan objek kajian yang kupilih. Akhirnya aku memilih mengkaji kitab Hadratussyeikh  K.H. Hasyim Asy’ari yang berjudul al-Nur al-Mubin fi Mahabbati Sayyid al-Mursalin.

Sebulan usai menyetorkan objek kajian aku masih berdiam diri. Masih belum ada aroma garapan ini akan dimulai. Rasanya masih setengah hati dan belum mantap untuk mengerjakannya. Masih ada keraguan. Akhirnya I do nothing for several months.

Rasanya ingin mengutuk diri tapi bagaimana? Hanya menyesali mengapa selama ini malas sekali rasanya membaca. Aku tak bisa menulis apa-apa karena memang tak ada persediaan pengetahuan yang bisa dijadikan bahan tulisan. Bagaimana tidak, aku terlalu dininabobokan oleh kemalasan itu sendiri.

So, teruntuk teman-teman jangan pernah malas untuk membaca. Really, membaca itu tak ada ruginya. Seorang teman berkata, “kunci bisa nulis itu ya banyak baca. Minimal kau punya bahan untuk nulis”. Baiklah, memang benar! Analoginya mungkin seperti ini: gimana mau masak kalau tidak punya bahan-bahan yang dimasak?. Kurang lebihnya demikian, mohon maaf jika ada kekeliruan.

Hari berganti minggu, minggu pun berganti bulan. Apa yang aku kerjakan masih saja nihil. Tanganku rasanya engan sekali diajak berkompromi, mengetik dan merangkai larik-larik pembahasan untuk bab satu. Folder khusus takhrij pun hingga akhir tahun masih terancam kosong. I wasted my time too much. Banyak waktu yang terbuang sia-sia tanpa menghasilkan apa-apa. Sesekali aku hanya meluangkan waktu untuk membaca kitab yang akan aku kaji dan beberapa buku yang mungkin bisa menjadi referensi.

Tapi apa boleh dikata, meskipun sesekali aku meluangkan waktu untuk duduk di depan layar laptopku, pikiranku kosong. Rasanya semua ambyar, tidak tahu harus menulis apa dan mulai dari mana. Lagi-lagi ini terjadi sampai di penghujung tahun. Rasanya pasrah dan aku mulai lelah pun akhirnya aku memutuskan untuk pulang sejenak di liburan natal untuk menenangkan diri dari pergulatan yang tak jelas ini.

Mari kita tenangkan diri sejenak…

(bersambung)

Rekomendasi

Mengenal Nyai Hj Chamnah; Tokoh Sufi Perempuan Tarekat Tijaniyah

Rahmah El-Yunusiyah: Pahlawan yang Memperjuangkan Kesetaraan Pendidikan Bagi Perempuan

Nyai Hj. Makkiyah As’ad. Nyai Hj. Makkiyah As’ad.

Nyai Makkiyah As’ad; Ulama Perempuan Pengasuh Tiga Pesantren Besar

Ulama Nusantara ; Kiai Sholeh Darat Ulama Nusantara ; Kiai Sholeh Darat

Tapak Tilas Jejak Mahaguru Ulama Nusantara di Kakap Darat (Eps. 7)

Diah Ayu Agustina
Ditulis oleh

Tim Redaksi Bincang Muslimah. Penulis adalah alumnus Bahasa dan Sastra Arab UIN Syarif Hidayatullah dan Pondok Pesantren Ilmu Hadis Darus-Sunnah Ciputat

Komentari

Komentari

Terbaru

Bincang Nikah: Perempuan Berpendidikan Tinggi, Bakal Gak Laku?

Video

Ini Lima Hal Yang Boleh Dilakukan Suami Pada Saat Istri Haid

Ibadah

jenis mukena jenis mukena

Ini Enam Pembagian Waktu Shalat Subuh, Mana yang Paling Utama?

Ibadah

Tips Menjaga Kesehatan Ibu Hamil Agar Janin Tumbuh Sehat

Muslimah Daily

perempuan ideal dalam al-qur'an perempuan ideal dalam al-qur'an

Ingin Mendapatkan Pahala Seperti Haji dan Umrah? Lakukan Shalat Sunnah Ini!

Ibadah

Sholihah Wahid Hasyim: Tokoh Perempuan yang Aktif di Bidang Politik  

Kajian

Tafsir QS. Yūnus [10] Ayat 99: Ajaran Al-Qur’an tentang Toleransi

Kajian

Hukum Iktikaf di Masjid Bagi Perempuan Hukum Iktikaf di Masjid Bagi Perempuan

Tujuh Pembagian Waktu Shalat saat Isya, Mana yang Paling Utama?

Ibadah

Trending

Anak perhiasan dunia Anak perhiasan dunia

Parenting Islami: Mendidik Generasi Tauhid di Era Modern

Keluarga

Hukum Menginjak Makam Orang Muslim

Ibadah

Perbedaan Najis Ainiyah dan Najis Hukmiyah serta Cara Mensucikannya

Ibadah

Pengertian Keluarga Sakinah dan Makna Perkawinan dalam Islam

Keluarga

krisis quarter life krisis quarter life

Perempuan Rentan Krisis Quarter Life: Kenali dan Hadapi

Diari

Perempuan Harus Menjadi Pembelajar

Muslimah Daily

bersetubuh sebelum bersuci bersetubuh sebelum bersuci

Hukum Bersetubuh Sebelum Bersuci dari Haid

Kajian

Mengenal Tradisi Mulidan di Masyarakat Lombok

Kajian

Connect