BincangMuslimah.Com – Rasa-rasanya konsep ‘sejarah adalah pengulangan’ adalah benar adanya. Walau konteks, waktu dan pelaku berbeda, namun dinamika dan sebab-akibat jamak serupa. Seperti masalah kemiskinan yang terus mendera dan enggan pergi dari tanah air. Berikut dengan persoalan lainnya.
Jika diusiakan, 13 cerita pendek karya Ahmad Tohari ini sudah berumur 40-50 tahun. Tapi ajaibnya, sangat terasa dekat dan mungkin pernah dirasakan oleh sebagian dari kita. Bisa dibilang jika buku ini adalah ‘dokumentasi’ dari penulis tentang kondisi di masanya. Namun tanpa disadari, kumpulan cerpen tersebut bak cermin yang memantulkan wajah asli kondisi masyarakat kita saat ini.
Tengok saja kisah dari cerpen pertama. Adalah Karyamin, seorang kuli pengumpul batu kali yang miskinnya sampai ke tulang. Perutnya kosong melompong, bahkan bisa dibilang hanya terisi angin dan kentut. Karyamin berupaya dengan sisa-sisa tenaga. Dan setiap kali perut yang memilin, jemari yang jerih menahan beban, Karyamin selalu tersenyum.
Senyuman Karyamin disimbolkan sebagai benteng sekaligus untuk menyembunyikan kesukaran, masalah hingga penderitaan. Kondisi ini tidak terlalu jauh berbeda dengan kondisi saat ini. Tawa dan senyuman menjadi coping mechanism kelas pekerja.
Coping mechanism merupakan cara yang digunakan menghadapi situasi yang menyebabkan stres, cemas, dan tekanan emosional. Jika menyimak betul media sosial, banyak konten yang mengandung ironic humor. Nasib dan kondisi yang tidak menyenangkan diparodikan dengan konten lucu atau parodi. Selain melahirkan tawa, fenomena ini disebut-sebut dapat membantu menjaga kesehatan mental.
Pada cerpen ini, ada ironi lain yang juga ditunjukkan. Di saat kelaparan menyerang, Karyamin juga ditagih untuk ikut menyumbang. Hasil sumbangan ditujukan pada orang-orang kelaparan. Ironi, di atas ironi. Sayangnya, seperti konsep ‘sejarah adalah pengulangan’ fenomena ini tidak berhenti di cerita saja.
Sebagian masyarakat yang membutuhkan belum mendapat dukungan. Pekerja informal (seperti pengemudi ojek online, buruh harian, atau pekerja kontrak) yang secara statistik tidak masuk kategori “miskin absolut”, tidak mendapatkan bantuan sosial (bansos) atau subsidi. Padahal secara realitas mereka tidak cukup kuat menahan impitan ekonomi.
Pak Pamong menagih iuran kemanusiaan tanpa peduli Karyamin belum makan menjadi masalah serupa yang dirasakan masyarakat saat ini. Penyusutan kelas menengah, bertambahnya pengangguran, terhimpitnya rakyat miskin dihadapkan pada kenaikan berbagai pungutan negara.
Seperti rencana kenaikan moda transportasi umum, iuran jaminan kesehatan hingga bahan bakar. Sedangkan situasi saat ini upah riil yang stagnan, turun bahkan PHK di mana-mana. Negara menuntut kewajiban finansial dari warga yang daya belinya justru sedang tergerus oleh inflasi harga pangan.
Lalu jangan lupakan cerpen Si Minem Beranak Bayi. Cerpen ini menceritakan tentang seorang perempuan yang baru saja melahirkan di usia 14 tahun. Bapak Minem yang secara sadar menikahkan anak perempuannya juga sampai kaget dan melontarkan kata ini. Betulkah seorang bocah melahirkan bocah lagi?
Namun kekagetan itu beralih rasa bangga karena sang ayah tersadar jika adik Minem yang baru berusia 12 tahun juga akan segera menikah. ‘Anak-anakku memang lari’, begitu pikir ayah Minem.
Jika dibandingkan dengan realitas saat ini, walau sekarang sudah tahun 2026, kemajuan teknologi dan tsunami informasi tidak bisa menghentikan kasus pernikahan di usia dini. Keluguan sosial, tekanan ekonomi sampai budaya patriarki memicu adanya pernikahan anak-anak.
Ahmad Tohari dalam buku ini mengusung premis sederhana dan membumi. Namun membekas dan bersifat ‘abadi’. Setiap cerita menggambarkan kegetiran realitas yang masih ditemukan hingga sekarang ini. Walau dengan wajah dan waktu yang berbeda.
Identitas Buku
Judul : Senyum Karyamin
Penulis : Ahmad Tohari
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit Pertama: 1989
Jenis Buku : Kumpulan Cerita Pendek (Antologi Cerpen)
Jumlah Cerpen : 13 Judul
Latar Waktu Penulisan: 1976 – 1986
Rekomendasi