BincangMuslimah.Com – Ketika mendengar kata ulama, kebanyakan orang langsung membayangkan sosok laki-laki. Gambaran seperti ini muncul karena sejarah Islam selama ini sering ditulis dari sudut pandang laki-laki. Akibatnya, banyak orang mengira bahwa tokoh-tokoh besar dalam sejarah Islam hampir semuanya laki-laki. Padahal, kenyataannya tidak demikian.
Sejak masa awal Islam, banyak perempuan yang berperan sebagai ulama, guru, ahli hadis, penyair, dan penafsir. Mereka ikut membangun peradaban ilmu pengetahuan Islam bersama laki-laki. Salah satu sumber penting yang menunjukkan hal ini adalah Tarikh Baghdad, karya ulama besar abad ke-11, Al-Khatib al-Baghdadi.
Kitab ini merupakan ensiklopedia biografi ulama yang hidup di Baghdad dan sekitarnya. Yang menarik, Al-Khatib tidak hanya mencatat para ulama laki-laki, tetapi juga perempuan yang memiliki kontribusi besar dalam perkembangan ilmu pengetahuan Islam. Di masa ketika banyak perempuan tidak mendapat ruang publik, ia justru menuliskan nama dan kiprah mereka sebagai bagian penting dari sejarah keilmuan Islam.
Jejak Perempuan dalam Lembar Sejarah Baghdad
Salah satu tokoh perempuan yang tercatat dalam Tarikh Baghdad adalah Abidah al-Madaniyyah. Ia awalnya hanyalah seorang budak milik seorang saudagar bernama Muhammad bin Yazid. Namun, status sosialnya tidak menghalanginya untuk menuntut ilmu. Abidah dikenal tekun belajar dan memiliki hafalan hadis yang luar biasa. Disebutkan bahwa ia menghafal lebih dari sepuluh ribu hadis yang ia pelajari langsung dari para ulama Madinah.
Kecerdasan dan ketekunan Abidah membuat majikannya kagum. Ia kemudian memerdekakannya. Setelah merdeka, Abidah menikah dengan seorang ulama hadis bernama Habib Dahhun. Keduanya kemudian menetap di Andalusia dan mengajar hadis bersama. Dari situlah nama Abidah dikenal luas sebagai salah satu ulama perempuan terkemuka pada zamannya. Kisah hidupnya menjadi bukti bahwa Islam tidak membatasi siapa pun untuk mencari ilmu, bahkan bagi mereka yang datang dari posisi sosial paling rendah sekalipun.
Selain Abidah, Tarikh Baghdad juga memuat banyak nama perempuan berilmu di berbagai bidang. Misalnya, ‘Amrah binti Abdurrahman, murid Aisyah ra., yang dikenal sebagai ahli hukum dan tempat bertanya para ulama laki-laki di Madinah. Ada juga Hafsah binti Sirin, seorang ahli hadis dan penghafal Al-Qur’an yang sangat dihormati karena kecerdasan dan ketakwaannya. Hafsah dikenal menjaga kehormatan diri dan tetap mengajar banyak murid tanpa kehilangan wibawa di hadapan laki-laki.
Nama lain yang juga menarik adalah Amah al-Wahid, seorang perempuan faqih dari mazhab Syafi’i. Ia dikenal sebagai salah satu perempuan yang berani mengeluarkan fatwa di ruang publik. Sesuatu yang pada masa itu masih jarang dilakukan perempuan. Tokoh-tokoh seperti mereka menunjukkan bahwa perempuan bukan hanya pendengar atau penerima ilmu, tetapi juga menjadi pengajar, ahli fatwa, dan sumber pengetahuan bagi masyarakat Muslim.
Dalam bidang sastra dan seni, Al-Khatib juga mencatat nama-nama penyair perempuan seperti Khansa, Jamilah al-Sulamiyyah, dan Rabi’ah al-Adawiyah. Mereka menggunakan puisi dan lagu untuk menyampaikan pesan kemanusiaan dan spiritualitas. Khansa, misalnya, dikenal karena puisinya yang menggambarkan kesedihan atas gugurnya anggota keluarganya dalam perang, tetapi tetap sarat dengan nilai iman dan keteguhan hati. Sementara Rabi’ah al-Adawiyah mengekspresikan kecintaannya kepada Allah melalui syair-syair yang sampai kini masih sering dikutip dalam dunia tasawuf.
Kisah-kisah mereka membuktikan bahwa perempuan memainkan peran besar dalam hampir semua bidang keilmuan Islam, hadis, fiqih, tafsir, sastra, dan pendidikan. Namun sayangnya, nama-nama perempuan ini jarang disebut dalam buku sejarah Islam yang populer. Ketika sejarah ditulis ulang dengan kacamata laki-laki, banyak kisah perempuan yang perlahan hilang dari ingatan umat.
Mengoreksi Sejarah yang Maskulin
Sejarah Islam yang sering kita baca selama ini memang lebih banyak menyoroti tokoh laki-laki. Buku-buku biografi ulama jarang mencantumkan nama perempuan, bukan karena mereka tidak ada, tetapi karena banyak penulis sejarah menulis dari sudut pandang laki-laki. Akibatnya, kontribusi perempuan dalam ilmu pengetahuan Islam kerap diabaikan.
Apa yang dilakukan Al-Khatib al-Baghdadi sebenarnya adalah langkah berani di zamannya. Ia menulis sejarah dengan cara yang lebih adil. Ia mencatat keberadaan perempuan berilmu sebagai bagian dari jaringan besar ulama Baghdad, sejajar dengan ulama laki-laki. Hal ini menunjukkan bahwa pada abad pertengahan pun, sudah ada kesadaran bahwa perempuan juga memiliki kontribusi penting dalam perkembangan ilmu.
Kita bisa belajar banyak dari cara pandang Al-Khatib. Melalui karyanya, kita melihat bahwa Islam sejak awal tidak pernah menutup pintu ilmu bagi perempuan. Nabi Muhammad SAW juga memberikan teladan dengan mendorong perempuan untuk menuntut ilmu. Beliau bahkan menyediakan waktu khusus bagi para sahabat perempuan untuk belajar dan berdialog langsung. Dari majelis-majelis itu, lahirlah perempuan-perempuan berilmu seperti Aisyah ra., Hafsah binti Umar, dan Ummu Salamah, yang kemudian menjadi rujukan bagi banyak sahabat laki-laki.
Semangat itu diteruskan oleh generasi berikutnya. Para perempuan tidak hanya hadir sebagai pelaku sejarah, tetapi juga ikut menentukan arah perkembangan keilmuan Islam. Mereka menjadi perawi hadis, ahli hukum, pengajar, bahkan guru bagi para ulama laki-laki. Fakta ini seharusnya cukup untuk menegaskan bahwa Islam tidak mengenal batasan gender dalam urusan ilmu pengetahuan.
Kontribusi Perempuan Bukan Hal Baru dalam Islam
Sejarah yang ditulis oleh Al-Khatib al-Baghdadi adalah contoh nyata bahwa kontribusi perempuan bukanlah hal baru dalam Islam. Membaca kisah ulama perempuan bukan berarti ingin menyaingi atau menggantikan laki-laki, tetapi untuk mengembalikan keseimbangan yang selama ini hilang.
Sejarah Islam seharusnya dibaca sebagai hasil kerja sama antara laki-laki dan perempuan yang saling melengkapi. Dengan cara pandang ini, perempuan tidak lagi dianggap sebagai pelengkap dalam sejarah, tetapi sebagai bagian yang tak terpisahkan dari inti peradaban Islam.
Karya Tarikh Baghdad memberi pesan penting bagi kita hari ini bahwa ilmu, ketekunan, dan kontribusi tidak ditentukan oleh jenis kelamin. Di balik setiap halaman sejarah Islam, ada perempuan yang belajar, mengajar, menulis, dan berjuang demi ilmu.
Tugas kita sekarang adalah mengenali, menulis ulang, dan menyebarkan kisah mereka agar sejarah Islam tidak lagi hanya terlihat dari satu sisi. Karena Islam sejatinya adalah agama yang memberi ruang bagi semua orang, baik laki-laki maupun perempuan untuk menjadi pencari dan pembawa cahaya ilmu.
Rekomendasi