BincangMuslimah.Com – Kecerdasan emosional erat kaitannya dengan pengendalian diri seorang perempuan. Sebagaimana psikologis perempuan yang memang lekat dengan perasaan dan kelembutan. Kemampuan dalam mengelola diri semestinya dimiliki perempuan untuk bekal utamanya menghadapi era penuh tantangan. Terutama dalam membentuk keseimbangan dalam menghadapi pergolakan akal dan hati setiap harinya.
Yang butuh dibenahi bahwa perempuan sering dianggap sebagai makhluk lemah fisik dan intelektual. Padahal realitanya perempuan dan laki-laki memiliki potensi yang sama. Terbukti dengan banyaknya kiprah perempuan hebat dalam historikal Islam. Seperti Ratu Balqis penguasa wilayah Saba’, Cleopatra dan Syajarat ad-Dur dari Mesir. Termasuk salah satunya, Ummu Salamah istri nabi Muhammad SAW yang memiliki pola pikir kritis dan memiliki kecerdasan emosional yang baik.
Sekilas tentang Sayyidah Ummu Salamah
Mengutip dari Ringkasan Syiar A’lam An-Nubala, Ummu Salamah memiliki nama asli Hindun binti Utbah bin Rabiah bin Abdul Syams bin Abdul Manaf. Ayahnya bernama Abu Umayyah bin Mughirah, kepala suku Quraisy yang sangat dihormati. Ibunya bernama Atikah binti Amir bin Rabi‟ah bin Malik bin Khuzaimah bin Alqamah bin Farras.
Sebelum menjadi istri Nabi SAW, Hindun merupakan istri dari pria yang shalih yakni Abu Salamah bin Abdul Asad al-Makhzumi. Nabi menikahinya pada awal bulan Syawal tahun 4 Hijriah dan menjadi perempuan yang paling cantik serta paling mulia nasabnya. Hindun meninggal di umur 90 tahun pada tahun 61 Hijriyah dan ia adalah istri Nabi yang paling terakhir wafat.
Selama menjadi istri Rasulullah, Ummu Salamah juga berjasa besar dalam periwayatan hadits, sebagaimana Sayyidah Aisyah. Beliau terhitung meriwayatkan sebanyak 388 hadits dari beliau. 13 di antaranya disepakati oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. 3 hadits tersendiri riwayat Imam Bukhari, dan 13 hadits riwayat Imam Muslim. Dengan begitu, beliau memang turut andil dalam kemajuan peradaban Islam. (Syamsuddin adz-Dzahabi, Siyaru A’lâmin Nubalâ, 1982: juz II, h. 210)
Kebijaksanaan Ummu Salamah Menghadapi Konflik
Dalam beberapa situasi, Rasulullah Saw seringkali meminta pendapat kepada Ummu Salamah Ra atas penyelesaian masalah yang beliau alami. Hal ini menjadi poin menarik bahwa dalam keluarga, perempuan juga memiliki andil besar dalam pengambilan keputusan. Beberapa riwayatnya terekam dalam hadis riwayat Imam Bukhari (No. 2770), Imam Abu Dawud (No. 2767) dan Imam Ahmad dalam Musnadnya (No. 19231). Salah satu narasinya adalah sebagai berikut:
Dari Miswar bin Makhramah ra: Ia mengisahkan perjanjian Hudaibiyah. Ketika Rasulullah Saw selesai dari kontrak perjanjian itu (yang dianggap merugikan umat Islam), baginda berseru kepada sahabat-sahabatnya: “Bangunlah dan sembelihlah kurban-kurbanmu, lalu cukur rambut kamu”. Demi Allah, tidak ada satupun dari sahabat-sahabat Nabi Saw yang berdiri mengikuti perintah, sekalipun perintah itu diulang tiga kali. Setelah terlihat tidak ada satupun yang menunaikan perintah, Nabi Saw masuk ke kemah Umm Salamah sambil menceritakan pembangkangan ini. Umm Salamah ra berkata: “Wahai Nabi, apakah kamu ingin mereka melakukan hal itu? kamu keluar saja dari kemah, tidak perlu berbicara sepatah kata apapun kepada siapapun, kamu mulai saja menyembelih kurbanmu dan undang tukang cukur untuk memangkas rambutmu.” Ketika para sahabat melihat sendiri Nabi melakukan hal itu, merekapun berdiri, menyembelih kurban dan mencukur rambut mereka satu sama lain.” (HR. Bukhari).
Dalam Riwayat tersebut, Nabi Muhammad SAW berada dalam keheranan ketika telah memberi perintah namun para sahabat tidak melaksanakannya karena ada perasaan kecewa dan menyesal sebab tidak jadi mendatangi ka’bah pada waktu tersebut. Mengamati kondisi tersebut Ummu Salamah memberi saran kepada Nabi Muhammad untuk segera melakukan sendiri apa hal yang beliau perintahkan.
Perempuan Berbakat dan Kritis
Dalam psikologi, hal ini mirip dengan teori Passive-Aggressive Behavior Yaitu mengekspresikan emosi negatif secara tidak langsung (seperti penolakan atau kemarahan) alih-alih menyampaikannya secara terbuka. Namun Sayyidah Ummu Salamah merekomendasikan ini bukan untuk maksud yang buruk, melainkan untuk meredakan kekecewaan para sahabat dan mereka bergegas melakukan perintah Nabi Muhammad.
Dalam konteks lain, Sayyidah Ummu Salamah sangat tampak sebagai seorang perempuan yang berbakat dan kritis. Beliau juga sering mengajukan pertanyaan-pertanyaan politik-emansipatif dalam beberapa peristiwa. Sebagaimana ketika beliau turut menyaksikan perang Khaibar, dan berkata pada beberapa perempuan, “Semoga Allah juga mewajibkan pada kita (kaum perempuan) berjihad sebagaimana yang telah diwajibkan bagi pria. Sehingga kita juga mempunyai kesempatan untuk mendapat pahala seperti yang mereka dapatkan.” ,
Riwayat Sayyidah Ummu Salamah tersebut merupakan cara Islam untuk merefleksikan ajaran-ajaran yang tidak hanya menyoal keagamaan saja, namun juga pembentukan karakter setiap insan. Hal tersebut sejalan dengan adanya internalisasi ajaran ‘akhlak’ dalam Islam. Di mana kecerdasan emosional akan menyeimbangkan pemikiran dan tindak laku manusia, yang kemudian bermuara pada ‘kebijaksanaan’.
Rekomendasi