Ikuti Kami

buku

Catatan dari Penjara Perempuan: Ketika Pena dan Kertas Lebih Ditakuti Ketimbang Senapan

Catatan dari Penjara Perempuan: Ketika Pena dan Kertas Lebih Ditakuti Ketimbang Senapan

BincangMuslimah.Com – Lebih mudah memberi Anda pistol dari pada pena dan kertas (halaman 61).

Kalimat di atas menjadi satu dari sekian banyak mengandung magis dari dalam buku Catatan dari Penjara Perempuan karya Nawal El Saadawi. Sebagai jurnalis sekaligus penulis amatir, kalimat ini sangat menggetarkan. Oleh sebagian pihak, tulisan bahkan jauh lebih berbahaya dari pada senapan hingga senjata.

Senjata mungkin bisa menghilangkan satu, dua, berbelas nyawa. Tapi isi pemikiran lewat tulisan tidak ada yang bisa ‘membunuhnya’. Jika terus dibicarakan dan relevan, tulisan, isi pemikiran tersebut akan diturunkan terus, sepanjang masa.

Bukan novel, Catatan dari Penjara Perempuan merupakan buku memoar berdasarkan pengalaman nyata dari sang penulis. Betul, buku ini menceritakan bagaimana Nawal El Saadawi yang ditangkap paksa dan dijebloskan penjara pada 1981 silam.

Nawal, dipenjara karena pikiran dan tulisannya yang konsisten kritis mengiritik kebijakan yang berjalan tidak semestinya. Selain sastrawan yang ‘berisik’ soal patriarki dan feminisme, Nawal juga aktif dengan isu perpolitikan dan hak asasi manusia. Aktivitas Nawal ini dianggap mengancam pemerintahan rezim Presiden Anwar Sadat atau subversif.

Potret Ketidakadilan dan Solidaritas di Balik Jeruji

Tidak hanya menceritakan kronologi penangkapan hingga dijebloskan di dalam penjara, buku ini juga tidak lepas dari isu patriarki, diskriminasi gender hingga ketidakadilan hukum. Di dalam buku ini, ada kisa-kisah para tahanan yang lumayan tergiang oleh penulis.

Ada seorang perempuan yang ditahan seumur hidup karena membunuh sang suami yang sudah memperkosa anak mereka. Selain itu, terdapat tahanan yang ditangkap karena mengemis karena terlampau miskin. Nawal juga berkenalan dengan perempuan yan dijebloskan ke dalam penjara tanpa tahu apa alasannya.

Baca Juga:  Perempuan dalam Kitab Tarikh Baghdad: Bukti bahwa Sejarah Islam Bukan Hanya Laki-Laki

Walau sebagian besar terasa menyedihkan, buku ini menyusupkan harapan dan debaran selama membacanya. Salah satunya lewat penggambaran solidaritas yang kuat terhadap sesama tahanan perempuan. Buku ini juga selalu menyisipkan rasa optimis dan semangat perjuangan yang tidak pernah padam dari para tawanan, termasuk Nawal.

Luar biasanya, buku ini dirangkai dengan keterbatasan alat tulis selama menjadi tahanan. Pihak penjara tidak ingin Nawal menyentuh pena dan kertas. Sehingga sebagian kisah berasal dari ingatan, kertas bekas, tisu, bungkus makanan dan pensil alis yang selalu disembunyikan.

Menghidupkan Suasana Psikologis Penjara

Walau berdasarkan kisah nyata, Tulisan dari Catatan dari Penjara Perempuan sangat memikat. Ini dikarenkan Nawal menuliskan buku ini secara naratif dan deskriptif tajam. Sebagai seorang dokter dan aktivis, Nawal punya kemampuan menggambarkan raut wajah, aroma, hingga suasana psikologis di dalam penjara. Ia pun mahir meramu kemampuan observasi detail tersebut ke dalam narasi yang mengalir.

Sehingga tidak berlebihan jika selama dalam proses membaca buku ini, kitab isa merasakan bagaimana sesaknya ‘penjara’. Tidak hanya secara fisik, namun juga jiwa. Nawal mendeskripsikan bagaimana secara perlahan, jati diri kita dihancurkan. Bukan karena siksaan, melainkan tekanan psikis hingga penghilangan ‘identitas diri’ secara halus.

Lewat buku ini, Nawal seperti ingin menggaungkan pada khalayak. Bahwa kebebasan sejati berada di dalam pikiran. Tidak dapat dikurung oleh jeruji besi.  Dan tindakan menulisnya ini merupakan bentuk dari perlawanan dari ketidakadilan yang terjadi.

Profil Buku

  • Judul: Catatan dari Penjara Perempuan
  • Judul Asli: Memoirs from the Women’s Prison (Muzakkirat fī Sijn al-Nisā’)
  • Penulis: Nawal El Saadawi
  • Penerjemah: Mien Joebhaar
  • Kata Pengantar Edisi Indonesia: Wardah Hafidz
  • Penerbit (Indonesia): Yayasan Pustaka Obor Indonesia (dahulu Yayasan Obor Indonesia)
  • Tahun Terbit Pertama (Dunia): 1982
  • Tahun Terbit (Edisi Indonesia): 2002 (Cetakan I), 2003 (Cetakan II)
  • ISBN: 979-461-262-6
  • Tebal Halaman: xiv + 376 halaman 
  • Dimensi Buku: 17 cm (Format Buku Saku/Paperback)
  • Genre: Memoar / Otobiografi / Politik / Feminisme [1, 2, 3, 4]
Baca Juga:  Nalar Kritis Muslimah; Mewujudkan Keadilan Gender

Rekomendasi

Mewarisi Dendam atau Memutus Luka Keluarga? Refleksi Novel Makamkan Ibu di Samping Ayah Mewarisi Dendam atau Memutus Luka Keluarga? Refleksi Novel Makamkan Ibu di Samping Ayah

Mewarisi Dendam atau Memutus Luka Keluarga? Refleksi Novel Makamkan Ibu di Samping Ayah

Nama Nabi Sulaiman Didahulukan Nama Nabi Sulaiman Didahulukan

Tafsir Surah An-Naml Ayat 30; Hikmah Nama Nabi Sulaiman Didahulukan daripada Nama Allah

Mengenal Tujuh Macam Kebiasaan Istihadhah

Bagaimana Pandangan Maqashid Syariah mengenai Kebakaran Hutan di Kalimantan? Bagaimana Pandangan Maqashid Syariah mengenai Kebakaran Hutan di Kalimantan?

Bagaimana Pandangan Maqashid Syariah mengenai Kebakaran Hutan di Kalimantan?

Ditulis oleh

Melayu udik yang berniat jadi abadi. Pernah berkuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, jurusan Jurnalistik (2014), aktif di LPM Institut (2017), dan Reporter Watchdoc (2019). Baca juga karya Aisyah lainnya di Wattpad @Desstre dan Blog pribadi https://tulisanaisyahnursyamsi.blogspot.com

Komentari

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Mewarisi Dendam atau Memutus Luka Keluarga? Refleksi Novel Makamkan Ibu di Samping Ayah Mewarisi Dendam atau Memutus Luka Keluarga? Refleksi Novel Makamkan Ibu di Samping Ayah

Mewarisi Dendam atau Memutus Luka Keluarga? Refleksi Novel Makamkan Ibu di Samping Ayah

buku

Nama Nabi Sulaiman Didahulukan Nama Nabi Sulaiman Didahulukan

Tafsir Surah An-Naml Ayat 30; Hikmah Nama Nabi Sulaiman Didahulukan daripada Nama Allah

Kajian

Mengenal Tujuh Macam Kebiasaan Istihadhah

Ibadah

Bagaimana Pandangan Maqashid Syariah mengenai Kebakaran Hutan di Kalimantan? Bagaimana Pandangan Maqashid Syariah mengenai Kebakaran Hutan di Kalimantan?

Bagaimana Pandangan Maqashid Syariah mengenai Kebakaran Hutan di Kalimantan?

Muslimah Talk

lelaki perempuan mata allah lelaki perempuan mata allah

Feminisme Al-Qur’an, Tafsir An-Nahl 97; Lelaki dan Perempuan di Mata Allah

Kajian

Nasihat Pernikahan Gus Mus Nasihat Pernikahan Gus Mus

Doa untuk Pengantin Baru

Ibadah

diperhatikan Memilih pasangan hidup diperhatikan Memilih pasangan hidup

Tafsir Al-Baqarah Ayat 221: Hal yang Harus Diperhatikan saat Memilih Pasangan Hidup

Kajian

Mu'asyarah bil Ma'ruf dalam Pernikahan, Bagaimana Idealnya? Mu'asyarah bil Ma'ruf dalam Pernikahan, Bagaimana Idealnya?

Mu’asyarah bil Ma’ruf dalam Pernikahan, Bagaimana Idealnya?

Keluarga

Trending

Nasihat Pernikahan Gus Mus Nasihat Pernikahan Gus Mus

Doa untuk Pengantin Baru

Ibadah

Surat Al-Ahzab Ayat 33 Surat Al-Ahzab Ayat 33

Tafsir Surat Al-Ahzab Ayat 33; Domestikasi Perempuan, Syariat atau Belenggu Kultural?

Kajian

Mengenal Tujuh Macam Kebiasaan Istihadhah

Ibadah

diperhatikan Memilih pasangan hidup diperhatikan Memilih pasangan hidup

Tafsir Al-Baqarah Ayat 221: Hal yang Harus Diperhatikan saat Memilih Pasangan Hidup

Kajian

Tata Cara Shalat Perempuan Tata Cara Shalat Perempuan

Tata Cara Shalat Perempuan Istihadhah

Ibadah

air ketuban air ketuban

Benarkah dengan Membaca Surah Yusuf Anak yang Dikandung akan Tampan?

Kajian

kehidupan muhammad sebelum nabi kehidupan muhammad sebelum nabi

Kenapa Sahabat Nabi Tidak Merayakan Maulid?

Khazanah

lelaki perempuan mata allah lelaki perempuan mata allah

Feminisme Al-Qur’an, Tafsir An-Nahl 97; Lelaki dan Perempuan di Mata Allah

Kajian

Connect