BincangMuslimah.Com – Buku ‘Bertanya Kerbau pada Pedati’ merupakan kumpulan cerpen yang berisi 10 kisah berbeda. Secara keseluruhan, buku ini berisi tentang kritik tajam pada sosial dan kondisi dinamika politik dalam negeri.
AA Navis selalu memunculkan gaya tulis yang khas seperti karya-karya sebelumnya. Pada beberapa cerpen, penulis menggunakan teknik personifikasi berupa fabel modern. Meminjam karakter hewan sebagai perwakilan potret manusia.
Beberapa kali juga Navis menggunakan satire untuk mentertawakan kebodohan, kemunafikan dan keserakahan. Tidak jarang ada unsur abdsur, surealis atau tidak masuk akal. Misalnya, kondisi soal ‘forum diskusi di alam barzah’, lengkap dengan arwah tokoh-tokoh dunia dan nasional.
Sebagai orang Minang, penulis merasakan betul Navis memasukkan unsur budaya dan metafor kedaerahan yang memukau. Seperti biasa, selalu ada cerpen favorit pada buku kumcer. Tapi setidaknya ada tiga cerpen yang cukup menonjol.
Pertama, cerpen dokter dan maut. Selama membaca, kadang kala saya tertawa, tapi lebih sering tersenyum getir. Kisah berfokus pada dialog malaikat maut dengan dokter yang berada di ambang maut.
Dalam cerita ini, Navis mengiritik tentang satu kebiasaan manusia. Menggunakan kebaikan dan status sosial demi meraih keuntungan pribadi. Di sisi lain, cerita ini juga menunjukkan kemunafikan dan keserakahan. Saat berduka, manusia memerah air mata. Di belakang, malah berebut harta.
Cerpen kedua adalah ‘Bertanya Kerbau pada Pedati’. Secara kasat mata, cerpen ini menunjukkan kultur berdagang zaman dahulu kaum Minang. Tapi, lebih dari itu, buku ini juga meneriakkan tentang penindasan, rakyat kecil dan buruh pekerja kelas bawah. Kelompok ini, diwakilkan sebagai ‘kerbau’ yang dipaksa menarik pedati dengan beban muatan ‘kurang ajar’. Orang sekarang bilang bekerja melebihi kapasitas atau job desk.
Kisah kesukaan terakhir jatuh kepada Malin Kundang Ibunya Durhaka. Sungguh kisah yang membuat terperangah. Tentu tidak bisa dibayanagkan bagaimana hebohnya masyarakat saat itu ketika cerpen ini keluar.
Navis, mendobrak stigma perihal ‘pengkultusan’ orang tua yang selalu benar dan tiada salah. Di sisi lain, cerita ini juga mengritik (atau mengupas rahasia?) fenomea hubungan keluarga yang tidak murni karena kasih sayang. Melainkan ada nilai transaksi di dalamnya. Seperti unsur balas budi dan sebagainya.
Buku ini cukup provokatif dalam tanda kutip, positif. Walau latar belakang mengacu pada tahun 1950-1980-an, sebagian besar isi masih sangat relevan dengan kondisi saat ini. Dan setiap cerita, mendorong pembaca untuk merenung soal makna keadilan, kehidupan, karakter manusia hingga rasa kemanusiaan yang seiring waktu kian terkikis.
Identitas Buku
- Judul: Bertanya Kerbau pada Pedati
- Penulis: A.A. Navis
- Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
- Tahun Terbit: 2002
- Tebal: ±137–160 halaman
- Genre: Kumpulan Cerpen / Fiksi Sastra
Rekomendasi