Ikuti Kami

Muslimah Talk

Eco-Pesantren dan Masa Depan Bumi Kita

Eco-Pesantren dan Masa Depan Bumi Kita
Maginific.com

BincangMuslimah.Com – Pesantren selama ini dikenal sebagai pusat belajar agama dan pusat kegiatan sosial. Lingkungan di sekitarnya sering belum menjadi prioritas utama. Kini muncul gagasan baru yang disebut Eco-Pesantren, yaitu pesantren yang ramah lingkungan. Gagasan ini mengajak pesantren menjadi penggerak perubahan bagi santri dan masyarakat sekitar. Tulisan ini mengurai alasan, cara, dan dasar pemikiran di balik gagasan tersebut.

Akar Krisis Lingkungan

Kerusakan lingkungan hari ini sangat dipengaruhi cara pandang modern yang bersifat antroposentris (menempatkan manusia sebagai pusat segalanya). Cara pandang ini memisahkan manusia dari alam. Alam dianggap sebagai pemuas keinginan manusia dan boleh dieksploitasi (dimanfaatkan secara berlebihan) sesuka hati.

Rene Descartes, seorang filsuf terkenal, banyak berjasa mengembangkan dualisme (pandangan yang memisahkan pikiran dan tubuh, atau manusia dan alam). Para ilmuwan seperti Val Plumwood mengkritik konsep ini. Menurut mereka, dualisme mendorong perilaku merusak terhadap alam. Pemisahan manusia dari lingkungan menjadi penyebab utama kerusakan alam.

Sains modern ikut berperan dalam krisis ini. Sains modern cenderung condong ke materialisme (paham yang menilai segala hal dari sisi benda) dan sekularisme (paham yang memisahkan urusan agama dari kehidupan). Akibatnya, orang memandang alam sebagai nilai angka belaka. Pembangunan ekonomi menjadi contohnya. Ekonomi Barat mengeksploitasi lingkungan alam. Keindahan alam hanya diukur dari sisi materi. Orang bertanya seberapa besar untung yang bisa mereka ambil dari alam.

Berbagai agama di dunia punya pandangan yang sama. Mengeksploitasi alam demi keuntungan adalah perbuatan buruk. Karena itu, pemahaman tentang alam yang berlandaskan renungan spiritual perlu hadir kembali.

Teologi Lingkungan dalam Islam

Dalam Islam, teologi lingkungan (ajaran tentang hubungan Tuhan, manusia, dan alam) bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Banyak nasihat dalam Al-Qur’an dan hadis mengajak manusia menjaga alam. Saat perang, Nabi Muhammad melarang pasukannya merusak pohon. Konsep ini membuat manusia sadar bahwa ada hubungan penting antara alam, manusia, dan Sang Pencipta.

Kajian agama dan ekologi memuat dua kepentingan, yaitu kepentingan ilmiah dan kepedulian teologis-etis. Di Indonesia, para pemimpin agama sudah mengembangkan ilmu lingkungan seperti Fiqh lingkungan (hukum Islam tentang lingkungan). Tantangannya cukup berat. Kesadaran masyarakat terhadap lingkungan menurun, bahkan banyak orang bersikap acuh. Biasanya manusia baru sadar setelah merasakan dampak besar dari kerusakan alam. Menjaga alam demi kepentingan bersama merupakan tanggung jawab kita semua dan tak bisa ditawar.

Seyyed Hossein Nasr, seorang pemikir Islam, menyebut krisis lingkungan sebagai krisis spiritual dalam diri manusia. Menurutnya, ilmu pengetahuan modern yang sekuler menghapus banyak aspek etika dan sosial. Karena itu, krisis lingkungan tak cukup dipahami lewat sains. Masyarakat modern perlu mencari nilai teologis dalam lingkungan. Nasr menyebut krisis ini sebagai kekeringan spiritual yang melanda manusia modern.

Tiga Konsep Dasar dari Ajaran Islam

Teologi lingkungan Islam berpijak pada tiga konsep utama. Konsep pertama adalah tawheed (keyakinan pada keesaan Tuhan). Keesaan itu tergambar dalam kesatuan manusia dan alam. Islam menolak dualisme yang memisahkan keduanya. Dualisme yang berkembang di Barat sangat bertentangan dengan keyakinan umat Muslim.

Konsep kedua adalah khalifah (pemimpin atau wakil Tuhan di bumi). Manusia sebagai khalifah wajib mengelola dan mengatur lingkungan. Mereka memikul tanggung jawab etis untuk mencegah bahaya bagi makhluk lain. Konsep ini juga terkait dengan amanah (titipan). Alam adalah titipan Tuhan yang harus manusia jaga dengan baik. Tuhan memberi manusia kebebasan mengambil manfaat dari alam, tetapi manusia harus melindunginya, bukan menguasainya.

Baca Juga:  Menyoal Etika Jawa; Apakah Sebuah Keharusan?

Konsep ketiga adalah mizan (keseimbangan). Islam melarang manusia memakai sumber daya alam secara berlebihan jika kebutuhan tak menuntutnya. Ada pula konsep fitrah (kesucian bawaan manusia). Manusia yang mengikuti fitrahnya sebagai makhluk Tuhan akan menciptakan keseimbangan dan keselarasan dengan alam.

Islam juga mengajak umatnya memandang alam sebagai kitab suci yang setara dengan Al-Qur’an. Dengan memahami alam, umat Muslim menghargai nilai dan makna spiritualnya. Pemahaman itu mendekatkan mereka kepada Sang Pencipta. Kutipan dari Nasr menggambarkannya dengan baik. Umat Muslim tak cukup memberi makan orang miskin. Mereka juga perlu menjaga aliran air dari pencemaran. Menyayangi orang tua dan menanam pohon sama-sama menyenangkan Tuhan, begitu pula memperlakukan hewan dengan baik.

Syariah dan Hukum Lingkungan

Syariah (hukum Islam) menyediakan kerangka hukum dan norma etika bagi keputusan soal lingkungan. Tujuan syariah yakni menjaga kebaikan bersama dan kesejahteraan seluruh ciptaan. Setiap Muslim sadar bahwa ia akan mempertanggungjawabkan semua perbuatannya, sekecil apa pun, meski tak ada aparat yang mengawasi.

Menurut Nasr, sebagian besar negara Muslim hanya menerapkan sedikit bagian syariah. Ia menyarankan agar negara-negara itu menggali aturan syariah tentang pelestarian alam dan kasih sayang kepada hewan dan tumbuhan. Nasr yakin hukum lingkungan yang bermakna religius akan menangani masalah lingkungan lebih efektif.

Sebuah studi di Malaysia menemukan fakta menarik. Sebanyak 43,4% mahasiswa Muslim di perguruan tinggi memberi sumbangan kecil bagi lingkungan. Mereka juga kurang berkomitmen menjaga alam. Nasr menjelaskan bahwa ketidakpedulian ini muncul karena gempuran peradaban Barat sejak abad ke-18. Islam terus tumbuh, tetapi tingkat keimanan umat belum cukup dalam untuk menghadapi gagasan, sains, dan teknologi Barat.

Mengenal Pesantren dan Perannya

Pesantren adalah istilah Indonesia untuk sekolah berasrama Islam. Lembaga ini mempelajari, memahami, dan mengamalkan ajaran Islam sebagai pedoman hidup sehari-hari. Menurut Mastuhu, pesantren berusaha membentuk pribadi Muslim yang bermanfaat bagi masyarakat. Teladannya adalah kepribadian Nabi Muhammad. Sementara itu, Kull menyebut pesantren berorientasi tradisional dan menjadikan kyai (pemimpin pesantren) sebagai simbol tokoh masyarakat yang mengubah sikap dan menjaga lingkungan.

Sejarah panjang dan keberadaan pesantren yang luas memberi pengaruh cukup besar pada masyarakat sekitar. Pesantren berjasa sebagai lembaga pendidikan, penyiar agama, dan gerakan sosial keagamaan. Menurut penelitian Siregar, lembaga pendidikan agama mampu menciptakan nilai, norma, dan sikap yang santri ikuti. Penelitian Llewellyn menyatakan bahwa pelestarian lingkungan berbasis agama lebih efektif. Alasannya, dasar spiritual akan mendapat ganjaran di masa depan.

Pesantren di Indonesia terbagi menjadi pesantren modern dan tradisional. Sedangkan pesantren modern biasanya mengikuti kurikulum (rencana pelajaran) sekolah nasional. Pesantren tradisional lebih fokus pada pelajaran agama. Mayoritas pesantren di Indonesia bersifat tradisional dan mandiri dari kendali formal pemerintah. Pesantren mengajarkan Al-Qur’an, Hadith (kumpulan ucapan dan perbuatan Nabi Muhammad), Fiqh (hukum Islam), tata bahasa Arab, Tasawuf (ajaran kebatinan Islam), dan ilmu bahasa Arab.

Hubungan pesantren dengan masyarakat terbentuk lewat kedekatan psikologis dan ideologis. Pesantren lahir dari komunitas religius pedesaan. Pesantren juga menjadi tempat mempertahankan keyakinan agama. Tetapi pesantren di pedesaan umumnya lemah secara ekonomi. Kini pesantren mencoba menggali potensinya lewat pengembangan sumber daya manusia dan manajemen sekolah. Dorongan dan motivasi dari kyai menggerakkan program pesantren dalam melindungi lingkungan. Semua itu bagian dari dakwah (penyiaran ajaran agama) kepada masyarakat.

Baca Juga:  Fathimah dari Nisyapur: Ahli Makrifat Terbesar pada Zamannya

Dari Pelajaran Agama ke Kepedulian Sosial

Pesantren awalnya berpusat pada pembelajaran dan penyebaran nilai Islam. Seiring waktu, lembaga ini memperluas jangkauannya. Pesantren mempercepat mobilitas vertikal (urusan keagamaan) dan juga mobilitas horizontal (kesadaran sosial dan lingkungan). Kyai mengajarkan agama, sistem nilai, amal, dan wawasan lingkungan kepada santri. Menjaga alam menjadi kewajiban setiap orang. Alam merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi dan saling mendukung.

Menurut Sirry, dinamika dalam lingkaran dalam pesantren memberi kemampuan merespons tantangan luar secara konstruktif. Contohnya masuknya sistem sekolah ala Barat di awal abad lalu. Otonomi pesantren memberi keleluasaan untuk merintis konsep pendidikan baru. Kyai membangun pesantren dengan uangnya sendiri atau dana masyarakat.

Apa Itu Eco-Pesantren

Kata Eco berasal dari ekologi atau ekosistem, yaitu pemahaman tentang lingkungan alam sekitar. Eco-Pesantren adalah model pendidikan lingkungan di pesantren untuk melestarikan alam dan meningkatkan kesadaran akan kesehatan. Model ini lahir karena pesantren lama membatasi diri pada kajian dan ajaran agama. Kerusakan lingkungan melahirkan cara pandang baru. Eco-Pesantren membentuk kader pesantren yang punya kesadaran konservasi (kesadaran melestarikan alam). Program ini juga menumbuhkan karakter santri yang ramah lingkungan.

Para penulis menyebut Eco-Pesantren sebagai bentuk ecotheology (keyakinan yang menggabungkan ideologi dan tindakan agama dengan lingkungan). Para penulis juga menetapkan empat indikator program Eco-Pesantren. Indikator pertama adalah pengembangan kebijakan pesantren yang ramah lingkungan. Indikator kedua adalah pengembangan kurikulum Islam berbasis lingkungan. Ketiga, pengembangan kegiatan ekstrakurikuler berbasis tadabur alam (perenungan terhadap alam). Indikator keempat adalah pengembangan dan pengelolaan sarana serta prasarana pesantren.

Penilaian fisik mencakup kepedulian energi, pengelolaan sampah, pengelolaan lahan pesantren, budaya sehat, keanekaragaman hayati, dan keberlanjutan program meski pimpinan berganti. Penilaian juga mencakup pengintegrasian pelajaran fikih lingkungan.

Kegiatan di Lapangan

Dalam menjaga lingkungan, pesantren dapat mendaur ulang barang bekas, membuat kompos, dan mencegah pencemaran lewat pengolahan air. Untuk kesehatan, pesantren dapat menyiapkan apotek herbal dengan menanam tanaman obat. Orang Indonesia menyebutnya TOGA (Tanaman Obat Keluarga). Santri putra dan putri mengelola kebun itu, sedangkan pihak sekolah mengawasinya. Pola ini mirip dengan Sekolah Adiwiyata dan Eco-Campus.

Kegiatan lain meliputi pengelolaan bank sampah pesantren, kampanye hidup bersih dan sehat, penjelajahan lahan untuk tanaman produktif dan obat, serta program kurikulum hijau. Konsep pelestarian lingkungan mencakup tiga aspek. Aspek pertama melindungi proses dan sistem ekologi yang menopang kehidupan manusia. Kedua, melindungi keragaman genetik. Ketiga, memanfaatkan ekosistem dan spesies secara berkelanjutan. Pengelolaan lingkungan juga memakai konsep 3R, yaitu reduce (mengurangi sampah dari sumbernya), reuse (memakai ulang), dan recycle (mendaur ulang).

Masalah Kebersihan dan Kesehatan

Banyak pesantren tumbuh tanpa perencanaan matang. Kyai awalnya menyediakan tempat tinggal bagi santri dari luar daerah dengan memakai tanah miliknya. Tempat itu biasa orang sebut pondok. Seiring waktu, sebagian pesantren tampil megah dan tertata. Namun tak semua pesantren mampu berinovasi. Keterbatasan lahan dan dana menjadi penyebabnya. Sebagian pesantren memiliki bangunan yang tampak tak teratur. Contohnya kamar sempit yang penuh sesak melebihi kapasitas. Ketersediaan air bersih untuk mandi, minum, memasak, dan mencuci juga kurang memadai.

Baca Juga:  Peran Santri dalam Merealisasikan Moderasi Beragama

Adams dan kawan-kawan menyatakan bahwa sekolah di pedesaan sering kekurangan air layak minum dan fasilitas sanitasi. Kalaupun fasilitas itu ada, kualitas dan jumlahnya sering belum memadai. Kondisi ini memengaruhi kesehatan lingkungan komunitas pesantren. Kesehatan masyarakat pesantren berkaitan erat dengan lingkungan sekitarnya.

Upaya memberdayakan santri dimulai dengan melibatkan mereka menjaga air bersih, kamar yang bersih, dan toilet umum. Santri juga ikut mengelola sampah dan menjaga kebersihan lingkungan sekitar, tak hanya di sekolah. Dengan cara ini, kesan pesantren yang kumuh akan hilang. Santri menjadi agent of change (pelopor perubahan) bagi kesehatan lingkungan. Program pemerintah bernama PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) pun bisa tercapai.

Dua Pendekatan dan Peran Kyai

Upaya pembangunan lingkungan bisa berjalan lewat dua pendekatan. Pendekatan pertama adalah pendekatan proyek. Pendekatan kedua adalah pendekatan motivasi. Keduanya bisa berjalan bersamaan. Pendekatan motivasi membutuhkan waktu relatif lama, tetapi dampaknya lebih positif. Sasaran perlahan mau mengubah sikap dan perilaku dengan sukarela. Pesantren bisa menjalankan pendekatan ini lewat pola pendidikannya.

Penelitian Deuraseh menyatakan bahwa nilai dan sikap Islam terhadap lingkungan sudah jelas. Namun pendidikan yang rendah membuat isu ini belum menjadi prioritas umat. Karena itu, pendidikan lingkungan perlu berjalan terus sebagai etika Islam. Malone dan Tranter menyebut tiga dimensi belajar tentang lingkungan. Dimensi pertama mendukung pengetahuan tentang lingkungan. Lalu dimensi kedua mengarahkan kesadaran dan tindakan. Dimensi ketiga mendorong interaksi dan pengalaman di lingkungan.

Pendidikan lingkungan di sekolah formal sudah berjalan cukup lama. Pada 1986, pemerintah memasukkan Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup (PKLH) ke pendidikan formal. Kementerian Pendidikan juga mulai memasukkan PKLH ke semua mata pelajaran.

Kyai, ustaz, dan santri bisa menumbuhkan kesadaran lingkungan di masyarakat. Untuk mewujudkan pesantren ramah lingkungan, para kyai perlu membuat kebijakan yang mendukung kegiatan pendidikan lingkungan. Kebijakan berorientasi lingkungan menjadi aspek penting bagi program Eco-Pesantren.

Kerja Sama dengan Banyak Pihak

Program Eco-Pesantren berjalan lewat kerja sama banyak pihak. Metodenya mencakup sosialisasi serta keterlibatan komunitas pesantren bersama lembaga terkait. Langkah awalnya adalah penelitian lapangan tentang masalah ekonomi, sosial, budaya, dan pengelolaan lingkungan pesantren. Langkah berikutnya adalah berbagi pengetahuan, misalnya soal pengelolaan bank sampah dan kampanye hidup bersih.

Program ini bertujuan menjadikan pesantren mitra bagi gerakan pesantren hijau. Pesantren mengubah sikap acuh terhadap lingkungan pada masyarakat sekitar. Pesantren juga menjadi penggerak kepedulian bagi masyarakat luas. Program pemberdayaan masyarakat di pesantren sebelumnya sering gagal karena pengelolaan yang keliru. Program itu menjadikan masyarakat sebagai objek yang dikendalikan. Pendekatan yang menempatkan masyarakat sebagai subjek memberi hasil lebih baik.

Pesantren, Masyarakat, dan Tanggung Jawab Bersama

Pesantren semakin terbuka terhadap persoalan di masyarakat. Persoalan pencemaran lingkungan kini menjadi tanggung jawab pemerintah dan juga pesantren. Menurut Muhammad Muinul Islam, etika Islam perlu tertanam pada tingkat individu agar kondisi lingkungan membaik. Pesantren perlu mengingatkan setiap Muslim tentang hak semua makhluk Allah atas sumber daya lingkungan.

Ajaran Islam di pesantren menuntut umat berbuat baik kepada alam. Merawat dan melindungi lingkungan menjadi tugas semua orang, terutama mereka yang mengaku Muslim. Nilai-nilai Islam menegaskan bahwa merusak lingkungan adalah dosa dan terlarang dalam agama.

Rekomendasi

Pengamat: Berkaca pada Indonesia, Azerbaijan Seharusnya Melihat Jilbab sebagai Kekuatan Ekonomi Pengamat: Berkaca pada Indonesia, Azerbaijan Seharusnya Melihat Jilbab sebagai Kekuatan Ekonomi

Pengamat: Berkaca pada Indonesia, Azerbaijan Seharusnya Melihat Jilbab sebagai Kekuatan Ekonomi

Bukan Matre, Ada Alasan Logis dan Agamis Mengapa Perempuan Wajib Punya Uang Sendiri Bukan Matre, Ada Alasan Logis dan Agamis Mengapa Perempuan Wajib Punya Uang Sendiri

Bukan Matre, Ada Alasan Logis dan Agamis Mengapa Perempuan Wajib Punya Uang Sendiri

Green Investing Islami Menjawab Krisis Iklim Green Investing Islami Menjawab Krisis Iklim

Green Investing Islami Menjawab Krisis Iklim

Patriarki, Kapitalisme, dan Fundamentalisme: Isi Kepala Nawal El Saadawi dalam Satu Buku Patriarki, Kapitalisme, dan Fundamentalisme: Isi Kepala Nawal El Saadawi dalam Satu Buku

Patriarki, Kapitalisme, dan Fundamentalisme: Isi Kepala Nawal El Saadawi dalam Satu Buku

Ditulis oleh

Komentari

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Pengamat: Berkaca pada Indonesia, Azerbaijan Seharusnya Melihat Jilbab sebagai Kekuatan Ekonomi Pengamat: Berkaca pada Indonesia, Azerbaijan Seharusnya Melihat Jilbab sebagai Kekuatan Ekonomi

Pengamat: Berkaca pada Indonesia, Azerbaijan Seharusnya Melihat Jilbab sebagai Kekuatan Ekonomi

Tak Berkategori

Bukan Matre, Ada Alasan Logis dan Agamis Mengapa Perempuan Wajib Punya Uang Sendiri Bukan Matre, Ada Alasan Logis dan Agamis Mengapa Perempuan Wajib Punya Uang Sendiri

Bukan Matre, Ada Alasan Logis dan Agamis Mengapa Perempuan Wajib Punya Uang Sendiri

Muslimah Talk

Green Investing Islami Menjawab Krisis Iklim Green Investing Islami Menjawab Krisis Iklim

Green Investing Islami Menjawab Krisis Iklim

Kajian

Patriarki, Kapitalisme, dan Fundamentalisme: Isi Kepala Nawal El Saadawi dalam Satu Buku Patriarki, Kapitalisme, dan Fundamentalisme: Isi Kepala Nawal El Saadawi dalam Satu Buku

Patriarki, Kapitalisme, dan Fundamentalisme: Isi Kepala Nawal El Saadawi dalam Satu Buku

buku

Yang Terhapus dari Catatan Sejarah: Ketimpangan Gender dalam Filsafat dan Keilmuan Yang Terhapus dari Catatan Sejarah: Ketimpangan Gender dalam Filsafat dan Keilmuan

Yang Terhapus dari Catatan Sejarah: Ketimpangan Gender dalam Filsafat dan Keilmuan

Muslimah Talk

Memahami Makna Dukhan : Apakah Asap Karhutla Termasuk Dukhan? Memahami Makna Dukhan : Apakah Asap Karhutla Termasuk Dukhan?

Memahami Makna Dukhan : Apakah Asap Karhutla Termasuk Dukhan?

Kajian

Anak Menangis saat Salat, Batalkan atau Lanjutkan? Anak Menangis saat Salat, Batalkan atau Lanjutkan?

Anak Menangis saat Salat, Batalkan atau Lanjutkan?

Ibadah

orang sakit menjamak shalat orang sakit menjamak shalat

Bolehkah Orang yang Sakit Menjamak Shalat?

Ibadah

Trending

Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah

Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah

Ibadah

Doa Mendengar Azan KeutamaannyaHari Kamis Doa Mendengar Azan KeutamaannyaHari Kamis

Tiga Doa dalam Al-Qur’an yang Bisa Mendekatkan Jodoh

Ibadah

Mengenal Tujuh Macam Kebiasaan Istihadhah

Ibadah

Shafiyah binti Huyay Shafiyah binti Huyay

Asiyah binti Muzahim: Istri Firaun yang Dijamin Masuk Surga Oleh Allah

Muslimah Talk

Menunggu Jodoh dengan Elegan; Cerita dari Jomblo untuk Jomblo

Diari

orang sakit menjamak shalat orang sakit menjamak shalat

Bolehkah Orang yang Sakit Menjamak Shalat?

Ibadah

keringat perempuan haid najis keringat perempuan haid najis

Benarkah Perempuan Sumber Persoalan Bagi Laki-laki?

Kajian

feminiskah aisyah feminiskah aisyah

Merebut Tafsir: Feminiskah Aisyah?

Kajian

Connect