Ikuti Kami

Muslimah Talk

Mengapa Anak Bisa Berlaku Sadis? Mengintip Akar Penyebab Matinya Empati pada Generasi Muda

Mengapa Anak Bisa Berlaku Sadis? Mengintip Akar Penyebab Matinya Empati pada Generasi Muda
Freepik.Com

BincangMuslimah.Com – Kisah tragis menyayat hati kembali bermunculan di media sosial hingga pemberitaan tanah air. Bukan hanya bencana alam dan kebakaran hutan dan lahan saja. Kali ini, kekerasan yang terjadi pada anak jadi sorotan yang tidak dapat dilewatkan. Kasus kekerasan anak yang muncul bahkan dinilai punya taraf kekejaman ekstrim. Bahkan bagi sebagian orang bisa memicu rasa tidak nyaman dan menyulut air mata.

Lebih gongnya lagi, kekerasan yang sampai membuat korban terbunuh diduga dilakukan oleh anak-anak juga. Usia mereka bahkan ada yang belum sampai belasan. Setidaknya ada dua kasus terbaru dan masih dalam proses menuntut keadilan secara hukum.

Kasus pertama, anak down syndrome yang mengalami perundungan hingga meninggal di Surabaya. Korban diketahui baru berusia 10 tahun dan ditemukan tak sadarkan diri di teras rumah. Ibunya harus kehilangan sang buah hati dengan kondisi tidak manusiawi. Leher korban berinisial Z dijerat dan dililit dengan tali sepatu. Mulutnya dicekoki dan disumpal dengan sabun colek. Tubuhnya pun ditaburi dengan dedaunan.

Kalau itu, Z ditemukan dengan kondisi yang sudah membiru, tidak sadarkan diri. Korban pada akhirnya tidak tertolong walau sempat dilarikan ke rumah sakit. Hasil forensik mengungkapkan jika ditemukan sabun colek telah masuk ke dalam lambung dan perutnya.

Dalam kasus ini, polisi sebenarnya sudah menetapkan pelaku perundungan yang menewaskan Z. Ada dua orang yang terlibat yaitu elaku adalah anak berusia 10 tahun (K) dan saksi 8 tahun (f). Orang tua pun sudah membuat laporan sejak 12 September 2026, sesaat setelah korba dinyatakan meninggal.

Namun proses berjalan lambat dan melahirkan rasa kecewa dari pihak keluarga. Kasus ini pun viral dan mendapat desakan publik. Barulah setelah itu keluar putusan resmi pada 19 September 2026. Anak K ditetapkan sebagai anak yang berhadapan dengan hukum (ABH), dan wajib menjalani pembinaan 6 bulan di rumah perubahan. Sedangkan anak F dikirim ke pesantren.

Baca Juga:  Perjalanan Sri Mulyani dalam Menjaga Stabilitas Keuangan Negara

Lalu ada kasus mengerikan berikutnya yang waktu kejadian tidak begitu jauh dengan peristiwa pertama. Kisah malang menimpa seorang balita laki-laki berinisial MAM yang baru berusia 3 tahun di Kotabaru, Karawang, Jawa Barat. Karena terlalu sadis, maka kronologi tidak mampu dituliskan. Singkatnya, alat kelamin korban mengalami pendarahan setelah digunting dan ditusuk.

Belum lama ini juga ada kisah Aqib (7 tahun). Siswa kelas SD di Pemalang yang meninggal usai dipukul dan ditendang oleh kakak kelas yang juga masih SD. Tindak perundungan ini bahkan sempat ditutup-tutupi oleh pihak sekolah. Hingga pada akhirnya viral, dan masyarakat mendesak agar kasus ini diproses secara hukum.

Anak Mampu Menyakiti dan Berlaku Sadis, Kenapa Bisa?

Apa yang terjadi di atas bukanlah kenakalan spontan yang bersifat dangkal. Sebuah jurnal dari Yayasan Pendidikan Dzurriyatul Quran mengungkapkan jika anak mampu berlaku kejam, merupakan dampak dari matinya empati. Padamnya empati tidak serta merta terjadi. Paparan kekerasan yang berulang kali, hingga hilangnya kontrol emosi dinilai sebagai faktor.

Sebagian orang meyakini, pada dasarnya anak lahir dalam kondisi putih, bersih. Anak, secara alami punya rasa iba dan empati. Namun, ternyata rasa empat ini bisa terkikis habis saat melihat kekerasan berkepanjangan. Hingga  pada akhirnya, anak melihat rasa sakit yang dialami korban karena kekerasan merupakan hal yang wajar atau biasa. Kondisi ini disebut sebagai desentisisasi,

Di mana anak bisa melihat kekerasan? Bisa dimulai dari lini terdekat seperti di dalam rumah. Misalnya, pola asuh penuh kekerasan, komunikasi intimidatif antar orang tua, bahkan kekerasan antara ayah dan ibu. Anak merekam, lalu meniru perilaku kekerasan tersebut untuk menyelesaikan masalah, atau digunakan demi mendominasi anak yang lebih lemah dari dirinya.

Baca Juga:  Dr. Atiyatul Ulya: Kesadaran Emansipasi Perempuan Tumbuh Sejak Masa Nabi

Tidak satu faktor saja. Paparan konten berdarah, video kekerasan di media sosial, sampai film sadis juga dapat menjadi faktor pemantik matinya empati anak. Paparan ini melatih otak anak untuk memproses adegan kekerasan berat tanpa ada rasa takut atau bersalah. Dan memaklumi kekerasan sebagai suatu hal yang normal.

Keterputusan emosional antara anak dengan orang tua juga bisa menjadi faktor lain. Mungkin tidak ada kekerasan fisik di dalam keluarga. Pola asuh yang memicu trauma, luka dan merasa tidak diterima juga dapat memupuk perasaan negatif pada anak. Dan ujungnya berakhir pada kehancuran mental anak.

Di sisi lain, perkembangan otak anak belum matang seperti orang dewasa. Sehingga belum bisa mengukur apa konsekuensi jika ia melakukan kekerasan pada orang lain. Kemungkinan, saat melakukan tindak perundungn, pelaku hanya berpikir sampai batas kepuasan emosi semata. Atau menangggapinya sebagai candaan biasa.

Prefrontal cortex pada anak belum berkembang secara sempurna. Sehingga diduga, anak belum punya kapasitas ekonomi yang memadai, jika tindakan mereka, bisa membuat orang lain terbunuh.

Sekilas, kasus di atas juga mengingatkan kita pada sebuah film produksi Netflix berjudul Adolescence. Jamie, seorang anak laki-laki berusia 13 tahun yang diduga membunuh teman sekolahnya. Film ini menunjukkan bagaimana kekerasan, pembunuhan yang dilakukan oleh anak bisa terjadi. Krisis identitas masa remaja (boyhood in crisis), radikalisasi ruang digital, dan keterputusan emosional dengan keluarga berujung pada matinya empati.

Sekali lagi, perilaku sadis pada anak tidak terjadi secara instan. Anak mungkin saja sudah menunjukkan tanda-tanda agresif seperti suka memukul, menyiksa hewan atau merusak barang-barang. Ketika tanda tersebut diabaikan oleh orang dewasa di sekitarnya, berlindung pada pembenaran ‘namanya juga anak-anak’, maka bukan tidak mungkin, perilaku perundungan bisa berubah pada tindak kriminalitas yang berat.

Baca Juga:  Body Shaming yang Dialami Aurel Hermansyah, Sudah Seharusnya Dibumihanguskan

Rekomendasi

Cerita Seru Serba-Serbi Mondok: Selamat Hari Santri!!!

Pengamat: Berkaca pada Indonesia, Azerbaijan Seharusnya Melihat Jilbab sebagai Kekuatan Ekonomi Pengamat: Berkaca pada Indonesia, Azerbaijan Seharusnya Melihat Jilbab sebagai Kekuatan Ekonomi

Pengamat: Berkaca pada Indonesia, Azerbaijan Seharusnya Melihat Jilbab sebagai Kekuatan Ekonomi

Bukan Matre, Ada Alasan Logis dan Agamis Mengapa Perempuan Wajib Punya Uang Sendiri Bukan Matre, Ada Alasan Logis dan Agamis Mengapa Perempuan Wajib Punya Uang Sendiri

Bukan Matre, Ada Alasan Logis dan Agamis Mengapa Perempuan Wajib Punya Uang Sendiri

Eco-Pesantren dan Masa Depan Bumi Kita Eco-Pesantren dan Masa Depan Bumi Kita

Eco-Pesantren dan Masa Depan Bumi Kita

Ditulis oleh

Melayu udik yang berniat jadi abadi. Pernah berkuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, jurusan Jurnalistik (2014), aktif di LPM Institut (2017), dan Reporter Watchdoc (2019). Baca juga karya Aisyah lainnya di Wattpad @Desstre dan Blog pribadi https://tulisanaisyahnursyamsi.blogspot.com

Komentari

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Cerita Seru Serba-Serbi Mondok: Selamat Hari Santri!!!

Diari

Pengamat: Berkaca pada Indonesia, Azerbaijan Seharusnya Melihat Jilbab sebagai Kekuatan Ekonomi Pengamat: Berkaca pada Indonesia, Azerbaijan Seharusnya Melihat Jilbab sebagai Kekuatan Ekonomi

Pengamat: Berkaca pada Indonesia, Azerbaijan Seharusnya Melihat Jilbab sebagai Kekuatan Ekonomi

Berita

Bukan Matre, Ada Alasan Logis dan Agamis Mengapa Perempuan Wajib Punya Uang Sendiri Bukan Matre, Ada Alasan Logis dan Agamis Mengapa Perempuan Wajib Punya Uang Sendiri

Bukan Matre, Ada Alasan Logis dan Agamis Mengapa Perempuan Wajib Punya Uang Sendiri

Muslimah Talk

Eco-Pesantren dan Masa Depan Bumi Kita Eco-Pesantren dan Masa Depan Bumi Kita

Eco-Pesantren dan Masa Depan Bumi Kita

Muslimah Talk

Green Investing Islami Menjawab Krisis Iklim Green Investing Islami Menjawab Krisis Iklim

Green Investing Islami Menjawab Krisis Iklim

Kajian

Patriarki, Kapitalisme, dan Fundamentalisme: Isi Kepala Nawal El Saadawi dalam Satu Buku Patriarki, Kapitalisme, dan Fundamentalisme: Isi Kepala Nawal El Saadawi dalam Satu Buku

Patriarki, Kapitalisme, dan Fundamentalisme: Isi Kepala Nawal El Saadawi dalam Satu Buku

buku

Yang Terhapus dari Catatan Sejarah: Ketimpangan Gender dalam Filsafat dan Keilmuan Yang Terhapus dari Catatan Sejarah: Ketimpangan Gender dalam Filsafat dan Keilmuan

Yang Terhapus dari Catatan Sejarah: Ketimpangan Gender dalam Filsafat dan Keilmuan

Muslimah Talk

Memahami Makna Dukhan : Apakah Asap Karhutla Termasuk Dukhan? Memahami Makna Dukhan : Apakah Asap Karhutla Termasuk Dukhan?

Memahami Makna Dukhan : Apakah Asap Karhutla Termasuk Dukhan?

Kajian

Trending

Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah

Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah

Ibadah

Doa Mendengar Azan KeutamaannyaHari Kamis Doa Mendengar Azan KeutamaannyaHari Kamis

Tiga Doa dalam Al-Qur’an yang Bisa Mendekatkan Jodoh

Ibadah

Mengenal Tujuh Macam Kebiasaan Istihadhah

Ibadah

Shafiyah binti Huyay Shafiyah binti Huyay

Asiyah binti Muzahim: Istri Firaun yang Dijamin Masuk Surga Oleh Allah

Muslimah Talk

Menunggu Jodoh dengan Elegan; Cerita dari Jomblo untuk Jomblo

Diari

orang sakit menjamak shalat orang sakit menjamak shalat

Bolehkah Orang yang Sakit Menjamak Shalat?

Ibadah

Cerita Seru Serba-Serbi Mondok: Selamat Hari Santri!!!

Diari

keringat perempuan haid najis keringat perempuan haid najis

Benarkah Perempuan Sumber Persoalan Bagi Laki-laki?

Kajian

Connect