BincangMuslimah.Com – Kisah tragis menyayat hati kembali bermunculan di media sosial hingga pemberitaan tanah air. Bukan hanya bencana alam dan kebakaran hutan dan lahan saja. Kali ini, kekerasan yang terjadi pada anak jadi sorotan yang tidak dapat dilewatkan. Kasus kekerasan anak yang muncul bahkan dinilai punya taraf kekejaman ekstrim. Bahkan bagi sebagian orang bisa memicu rasa tidak nyaman dan menyulut air mata.
Lebih gongnya lagi, kekerasan yang sampai membuat korban terbunuh diduga dilakukan oleh anak-anak juga. Usia mereka bahkan ada yang belum sampai belasan. Setidaknya ada dua kasus terbaru dan masih dalam proses menuntut keadilan secara hukum.
Kasus pertama, anak down syndrome yang mengalami perundungan hingga meninggal di Surabaya. Korban diketahui baru berusia 10 tahun dan ditemukan tak sadarkan diri di teras rumah. Ibunya harus kehilangan sang buah hati dengan kondisi tidak manusiawi. Leher korban berinisial Z dijerat dan dililit dengan tali sepatu. Mulutnya dicekoki dan disumpal dengan sabun colek. Tubuhnya pun ditaburi dengan dedaunan.
Kalau itu, Z ditemukan dengan kondisi yang sudah membiru, tidak sadarkan diri. Korban pada akhirnya tidak tertolong walau sempat dilarikan ke rumah sakit. Hasil forensik mengungkapkan jika ditemukan sabun colek telah masuk ke dalam lambung dan perutnya.
Dalam kasus ini, polisi sebenarnya sudah menetapkan pelaku perundungan yang menewaskan Z. Ada dua orang yang terlibat yaitu elaku adalah anak berusia 10 tahun (K) dan saksi 8 tahun (f). Orang tua pun sudah membuat laporan sejak 12 September 2026, sesaat setelah korba dinyatakan meninggal.
Namun proses berjalan lambat dan melahirkan rasa kecewa dari pihak keluarga. Kasus ini pun viral dan mendapat desakan publik. Barulah setelah itu keluar putusan resmi pada 19 September 2026. Anak K ditetapkan sebagai anak yang berhadapan dengan hukum (ABH), dan wajib menjalani pembinaan 6 bulan di rumah perubahan. Sedangkan anak F dikirim ke pesantren.
Lalu ada kasus mengerikan berikutnya yang waktu kejadian tidak begitu jauh dengan peristiwa pertama. Kisah malang menimpa seorang balita laki-laki berinisial MAM yang baru berusia 3 tahun di Kotabaru, Karawang, Jawa Barat. Karena terlalu sadis, maka kronologi tidak mampu dituliskan. Singkatnya, alat kelamin korban mengalami pendarahan setelah digunting dan ditusuk.
Belum lama ini juga ada kisah Aqib (7 tahun). Siswa kelas SD di Pemalang yang meninggal usai dipukul dan ditendang oleh kakak kelas yang juga masih SD. Tindak perundungan ini bahkan sempat ditutup-tutupi oleh pihak sekolah. Hingga pada akhirnya viral, dan masyarakat mendesak agar kasus ini diproses secara hukum.
Anak Mampu Menyakiti dan Berlaku Sadis, Kenapa Bisa?
Apa yang terjadi di atas bukanlah kenakalan spontan yang bersifat dangkal. Sebuah jurnal dari Yayasan Pendidikan Dzurriyatul Quran mengungkapkan jika anak mampu berlaku kejam, merupakan dampak dari matinya empati. Padamnya empati tidak serta merta terjadi. Paparan kekerasan yang berulang kali, hingga hilangnya kontrol emosi dinilai sebagai faktor.
Sebagian orang meyakini, pada dasarnya anak lahir dalam kondisi putih, bersih. Anak, secara alami punya rasa iba dan empati. Namun, ternyata rasa empat ini bisa terkikis habis saat melihat kekerasan berkepanjangan. Hingga pada akhirnya, anak melihat rasa sakit yang dialami korban karena kekerasan merupakan hal yang wajar atau biasa. Kondisi ini disebut sebagai desentisisasi,
Di mana anak bisa melihat kekerasan? Bisa dimulai dari lini terdekat seperti di dalam rumah. Misalnya, pola asuh penuh kekerasan, komunikasi intimidatif antar orang tua, bahkan kekerasan antara ayah dan ibu. Anak merekam, lalu meniru perilaku kekerasan tersebut untuk menyelesaikan masalah, atau digunakan demi mendominasi anak yang lebih lemah dari dirinya.
Tidak satu faktor saja. Paparan konten berdarah, video kekerasan di media sosial, sampai film sadis juga dapat menjadi faktor pemantik matinya empati anak. Paparan ini melatih otak anak untuk memproses adegan kekerasan berat tanpa ada rasa takut atau bersalah. Dan memaklumi kekerasan sebagai suatu hal yang normal.
Keterputusan emosional antara anak dengan orang tua juga bisa menjadi faktor lain. Mungkin tidak ada kekerasan fisik di dalam keluarga. Pola asuh yang memicu trauma, luka dan merasa tidak diterima juga dapat memupuk perasaan negatif pada anak. Dan ujungnya berakhir pada kehancuran mental anak.
Di sisi lain, perkembangan otak anak belum matang seperti orang dewasa. Sehingga belum bisa mengukur apa konsekuensi jika ia melakukan kekerasan pada orang lain. Kemungkinan, saat melakukan tindak perundungn, pelaku hanya berpikir sampai batas kepuasan emosi semata. Atau menangggapinya sebagai candaan biasa.
Prefrontal cortex pada anak belum berkembang secara sempurna. Sehingga diduga, anak belum punya kapasitas ekonomi yang memadai, jika tindakan mereka, bisa membuat orang lain terbunuh.
Sekilas, kasus di atas juga mengingatkan kita pada sebuah film produksi Netflix berjudul Adolescence. Jamie, seorang anak laki-laki berusia 13 tahun yang diduga membunuh teman sekolahnya. Film ini menunjukkan bagaimana kekerasan, pembunuhan yang dilakukan oleh anak bisa terjadi. Krisis identitas masa remaja (boyhood in crisis), radikalisasi ruang digital, dan keterputusan emosional dengan keluarga berujung pada matinya empati.
Sekali lagi, perilaku sadis pada anak tidak terjadi secara instan. Anak mungkin saja sudah menunjukkan tanda-tanda agresif seperti suka memukul, menyiksa hewan atau merusak barang-barang. Ketika tanda tersebut diabaikan oleh orang dewasa di sekitarnya, berlindung pada pembenaran ‘namanya juga anak-anak’, maka bukan tidak mungkin, perilaku perundungan bisa berubah pada tindak kriminalitas yang berat.
