BincangMuslimah.Com – Al-Quran sebagai pedoman hidup umat Muslim memuat berbagai pembahasan, salah satunya terkait urgensi melestarikan lingkungan dan alam sekitar.
Apa saja urgensi melestarikan lingkungan yang termuat dalam al-Quran dan bagaimana penjelasannya?
Urgensi 1: Ketergantungan Manusia Pada Alam
Ketergantungan manusia pada alam termuat dalam QS Al-Alaq ayat 1–3. Ayat ini melihat dari bagaimana Allah menggambarkan proses penciptaan manusia dan manusia menggunakan sumber ilmu dalam kehidupannya.
ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ ١
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan,
خَلَقَ ٱلْإِنسَـٰنَ مِنْ عَلَقٍ ٢
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
ٱقْرَأْ وَرَبُّكَ ٱلْأَكْرَمُ ٣
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia.
Ayat pertama dan ketiga menekankan perintah membaca (iqra’). Dalam konteks ini, makna membaca sebagai proses mencari pengetahuan dari lingkungan, pengalaman, dan fenomena alam. Hal tersebut menunjukkan bahwa manusia sangat bergantung pada alam sebagai sumber belajar.
Ayat kedua menyatakan bahwa penciptaan manusia dari segumpal darah, menunjukkan bahwa manusia berasal dari sesuatu yang sangat kecil, lemah, dan bergantung sepenuhnya pada kondisi alam.
Ini menggambarkan betapa rapuhnya manusia pada awal penciptaannya dan betapa ia membutuhkan alam air, nutrisi, dan lingkungan yang mendukung agar bisa bertumbuh dan hidup. Penciptaan ini tidak bisa terjadi tanpa adanya dukungan sistem kehidupan yang Allah ciptakan di alam.
Udara untuk bernapas, air untuk minum, tanah untuk bercocok tanam, semuanya adalah bentuk kemurahan Tuhan. Manusia tidak akan dapat bertahan tanpa seluruh fasilitas alam yang sudah disediakan Allah.
Dari QS Al-Alaq ayat 1–3, kita bisa memahami bahwa manusia sangat bergantung pada alam, baik dalam proses penciptaannya maupun dalam menjalani kehidupan dan mencari ilmu.
Ketergantungan ini menunjukkan bahwa manusia tidak bisa hidup mandiri tanpa peran serta alam sebagai wujud kemurahan Tuhan. Oleh karena itu, menjaga lingkungan dan alam adalah juga bagian dari bentuk syukur terhadap ciptaan-Nya.
Urgensi 2: Penciptaan Segala Sesuatu Dengan Seimbang
QS Al-Hijr ayat 19 menegaskan bahwa penciptaan segala sesuatu di bumi dengan takarannya masing-masing, seimbang dan tidak berlebihan.
وَالْاَرْضَ مَدَدْنٰهَا وَاَلْقَيْنَا فِيْهَا رَوَاسِيَ وَاَنْۢبَتْنَا فِيْهَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَّوْزُوْنٍ
Kami telah menghamparkan bumi, memancangkan padanya gunung-gunung, dan menumbuhkan di sana segala sesuatu menurut ukuran(-nya).
Ayat di atas menunjukkan bahwa keseimbangan ini terlihat dalam berbagai aspek kehidupan. Mulai dari udara, iklim, air, hingga ekosistem makhluk hidup. Setiap unsur diciptakan dengan ukuran dan fungsi yang saling melengkapi.
Ayat ini mengajarkan bahwa manusia sebagai khalifah di bumi wajib menjaga keseimbangan tersebut. Eksploitasi alam yang berlebihan, pencemaran lingkungan, dan penggundulan hutan adalah contoh perusakan terhadap keseimbangan yang Allah ciptakan. Ketika keseimbangan terganggu, bencana alam, krisis iklim dan kerusakan ekosistem bisa terjadi akibat dari kelalaian manusia.
QS Al-Hijr ayat 19 menjadi pengingat bahwa keseimbangan ini bukan hanya menunjukkan keagungan ciptaan Allah, tetapi juga menjadi tanggung jawab manusia untuk memeliharanya. Menjaga keseimbangan alam berarti menjalankan amanah sebagai makhluk yang diberi akal dan kedudukan mulia di bumi.
Urgensi 3: Segala yang Ada di Alam untuk Kepentingan Manusia
QS Al-Baqarah ayat 29 menunjukkan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu yang ada di bumi, baik berupa tanah, air, udara, hewan, tumbuhan, maupun sumber daya alam lainnya untuk kepentingan manusia.
هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ لَكُمْ مَّا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا ثُمَّ اسْتَوٰٓى اِلَى السَّمَاۤءِ فَسَوّٰىهُنَّ سَبْعَ سَمٰوٰتٍۗ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌࣖ
Dialah (Allah) yang menciptakan segala yang ada di bumi untukmu, kemudian Dia menuju ke (penciptaan) langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.
Kata “lakum” (untuk kamu) menegaskan bahwa Allah menjadikan bumi sebagai tempat tinggal yang penuh fasilitas untuk menunjang kehidupan manusia. Ini adalah bentuk kasih sayang Allah yang besar.
Semua ini merupakan bagian dari sistem kehidupan yang Allah siapkan demi kesejahteraan manusia. Artinya manusia memperoleh akses dan kemampuan untuk memanfaatkan alam, tetapi dengan batas dan tanggung jawab.
Meski penciptaan segala sesuatu di bumi untuk manusia, itu bukan berarti manusia boleh berbuat seenaknya terhadap alam. Sebaliknya, manusia mendapat tanggung jawab sebagai untuk mengelola alam dengan bijaksana. Ketamakan, keserakahan, dan eksploitasi yang merusak justru bertentangan dengan tujuan penciptaan.
Alam adalah amanah yang harus dijaga, bukan sekadar objek pemuas kebutuhan. Manusia memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga, merawat, dan memanfaatkan alam secara berimbang dan bertanggung jawab.
Dengan memahami ayat-ayat di atas, hendaknya kita bisa lebih bijak dalam berinteraksi dengan lingkungan dan lebih bersyukur atas nikmat yang telah Allah sediakan bagi kita.
Referensi:
Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, Tafsir Al-Quran Tematik Pelestarian Lingkungan Hidup, 2009.