Ikuti Kami

Muslimah Talk

Pengetahuan Islam dan Keberlanjutan Kosmis dalam Membangun Budaya Pengetahuan Hijau

Pengetahuan Islam dan Keberlanjutan Kosmis dalam Membangun Budaya Pengetahuan Hijau
Freepik.com

 BincangMuslimah.Com – Agama dan pengetahuan membentuk dua lembaga utama yang menuntun hidup manusia. Di tengah krisis iklim, kebutuhan pada keduanya makin besar. Keduanya dapat menjadi modal untuk menghadapi krisis. Ganiel, Winkel, dan Monnot menilai respons agama terhadap krisis bersifat tahan lama dan beragam.

Krisis lingkungan mencakup penipisan lapisan ozon, air tercemar, dan deforestasi (penebangan hutan besar-besaran). Krisis ini mendorong tokoh dan komunitas agama, termasuk umat Islam, meninjau ulang keyakinan dan tanggapan mereka. Asfa Widiyanto dari UIN Salatiga menulis kajian tentang hal ini. Artikelnya terbit di jurnal darulfunun ilahiyat volume 36 nomor 3. Redaksi menerimanya pada 9 Oktober 2025.

Widiyanto mengajukan dua pertanyaan. Pertama, bagaimana para ulama kontemporer merumuskan etika lingkungan. Kedua, bagaimana komitmen umat Muslim menjaga alam bisa tumbuh menjadi budaya pengetahuan hijau. Ia menilai banyak ulama sudah menggarap etika lingkungan Islam. Penggarapan budaya pengetahuan hijau masih terbatas.

Dua Cara Memandang Alam

Sebagian ulama memegang kosmologi (pandangan tentang tatanan alam semesta) yang dualistik. Pandangan ini memisahkan manusia dari alam material. Manusia dianggap lebih unggul daripada makhluk lain. Akibatnya, eksploitasi alam kadang mendapat pembenaran. Dunia material juga bisa dianggap tak memiliki sifat sakral, sehingga kepedulian pada pelestarian melemah.

Kaum sufi menawarkan arah berbeda, yaitu kosmologi sakral. Seyyed Hossein Nasr menyebut kosmologi sakral sebagai tradisi Islam yang sejati. Ia ingin tradisi itu hidup kembali di dunia modern untuk meredam krisis iklim.

Widiyanto juga menjelaskan perbedaan manusia dan makhluk lain pada tiga lapisan, yaitu ontologis (hakikat keberadaan), etis, dan politis. Pada lapisan politis, manusia kadang berposisi sebagai penguasa alam, dan eksploitasi ekologis pun terjadi.

Akar Krisis dan Kebaikan Bersama Kosmos

Penulis membagi penyebab utama krisis iklim menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah pandangan antroposentris (pandangan yang menempatkan manusia sebagai pusat nilai). Kelompok kedua adalah ideologi kapitalisme negara atau pasar yang meluas di seluruh dunia. Para pegiat lingkungan meyakini bahwa antroposentrisme menjadi akar krisis. Pada pandangan itu, alam bernilai semata sebagai alat pemenuh kebutuhan manusia.

Pada 1960an, aliran baru bernama protektionisme muncul. Aliran ini menekankan perlindungan alam dari penyalahgunaan manusia. Kekhawatiran utamanya adalah eksploitasi oleh sektor industri.

Dari sini muncul gagasan cosmic common good (kebaikan bersama seluruh kosmos). Gagasan ini mengakui bahwa semua makhluk saling memakai untuk bertahan hidup. Ia juga menghargai kebaikan makhluk non-manusia dan lingkungan yang menopang kehidupan. Gagasan ini dapat menjadi dasar etika non-antroposentris, yaitu etika yang menempatkan manusia sebagai bagian dari keseluruhan yang lebih besar. Teolog Muslim Amerika, Sara Tlili, menyatakan manusia menyembah Tuhan sebagai satu makhluk di antara banyak makhluk. Menurutnya, manusia menjadikan dunia ciptaan sebagai teladan.

Baca Juga:  Tiga Alasan Munculnya Pemahaman Agama yang Tidak Ramah Perempuan

Maqasid dan Alam

Islam mengenal masalih al-nas (kebaikan bersama manusia) dan masalih al-‘alam (kebaikan bersama alam semesta). Islam turun sebagai rahma li al-‘alamin (rahmat bagi seluruh alam). Widiyanto menilai kebaikan kosmos perlu mendapat sorotan lebih besar pada kajian Islam kontemporer.

Kebaikan kosmos layak menjadi salah satu tujuan tertinggi hukum Islam, atau maqasid al-shari’a. Tujuan itu selama ini berfokus pada lima kebutuhan pokok (al-daruriyyat al-khams). Jasser Auda mengusulkan pergeseran dari hifz (menjaga) ke tanmiyya (mengembangkan dan merawat). Pemikir lain menambahkan aspek keenam, yaitu tanmiyyat al-bi’ah (perlindungan lingkungan). Penulis menyebut perlunya re-hermeneuticisation (penafsiran ulang) maqasid agar memuat kebaikan kosmos.

Agama, Penolong atau Penghalang

Pengaruh agama dapat positif atau negatif. Banyak organisasi berbasis iman kini ingin tampil lebih hijau. Agama menjawab pertanyaan mendasar manusia, memberi makna, membentuk aturan etis, dan merekatkan masyarakat. Penulis menyebut tiga alasan pentingnya agama bagi keberlanjutan kosmos. Pertama, tema agama dan dampak sosial politiknya kembali hangat di humaniora dan filsafat. Kedua, pandangan agama tentang kosmos menerangi tindakan sebagian besar penduduk dunia. Ketiga, pandangan agama dapat menjadi penggerak utama perilaku ramah lingkungan.

Meski begitu, agama juga bisa menghambat. Sebagian orang Kristen menafsirkan perubahan iklim sebagai takdir apokaliptik yang tak boleh dicegah. Sebagian Muslim juga menyikapi banjir dengan sikap fatalis. Karena itu, para pemimpin agama perlu membaca kitab suci sesuai sejarah dan konteks. Widiyanto mengajak umat Muslim beralih dari teologi fatalis jabbariyya ke peran aktif hifz wa tanmiyyat al-bi’ah (menjaga dan mengembangkan lingkungan).

Suara Ulama Muslim

Fazlun Khalid (lahir 1932), Zaid Shakir (lahir 1956), dan Muhammad al-Isa (lahir 1965) menyoroti sunyinya suara Muslim soal krisis iklim. Kini gerakan baru tumbuh. Gerakan ini menyuarakan keprihatinan, menggali pesan Islam tentang hubungan manusia dan lingkungan, dan melahirkan langkah praktis. Penulis menamainya praxis-oriented environmentalism (gerakan lingkungan yang berorientasi pada praktik). Gerakan ini bergantung pada pendidikan untuk menggerakkan kesadaran.

Bagi Khalid, akar krisis iklim adalah perilaku individu. Lingkungan Islami bermula dari diri sendiri, lalu meluas ke rumah, sekolah, masjid, masyarakat, dan seluruh umat manusia. Para teolog ini menyebut tiga gagasan yang saling terkait. Tawhid (keesaan Tuhan) menekankan keselarasan dan keseimbangan alam semesta. Khilafah (kepengurusan) menegaskan kewajiban manusia menjaga alam yang berperan sebagai sahabat. Akhirah (akhirat) mengingatkan bahwa Allah akan meminta pertanggungjawaban atas perlakuan manusia pada lingkungan.

Baca Juga:  Yang Terhapus dari Catatan Sejarah: Ketimpangan Gender dalam Filsafat dan Keilmuan

Fikih dan Praktik di Indonesia

Hukum Islam menyediakan dasar metafisik sekaligus pedoman praktis. Contohnya hima (kawasan konservasi satwa dan hutan) dan harim (kawasan terlindungi yang melarang pembangunan). Kedua lembaga ini menjadi inti hukum lingkungan Islam. Ulama klasik Izz al-Din ibn ‘Abd al-Salam (1181 sampai 1262) merumuskan hak hukum hewan pada abad ke-13. Wacana fiqh al-bi’ah (hukum Islam tentang lingkungan) kini juga berkembang.

Di Indonesia, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) mengeluarkan fatwa (pendapat hukum Islam) tentang plastik. Kedua organisasi juga ikut kampanye sedekah sampah. Sejak 1994, NU mengeluarkan fatwa yang melarang pencemaran udara, air, dan tanah, dan menyebutnya kejahatan. Dari sudut hukum Islam, sampah plastik tergolong darar (bahaya) karena menimbulkan masalah sosial dan ekologis. Pada 2019, NU membolehkan boikot terhadap perusahaan yang tak mengelola limbah dengan baik. NU juga mendaur ulang sampah menjadi energi terbarukan, kompos, pupuk organik, dan kerajinan.

NU menggelar pengajian tentang sampah plastik bernama Ngaji Plastik. Peserta belajar mengapa plastik berbahaya, apa dampaknya, dan bagaimana mengurangi dampak itu. Mereka juga mempelajari peran anak dan keterampilan sederhana mengelola sampah plastik. Para ulama NU memandang perusakan lingkungan sebagai perbuatan munkar (perbuatan tercela) yang diancam hukuman.

Tasawuf dan Kosmologi Sakral

Etika lingkungan Islam juga tumbuh dari tradisi mistik. Tasawuf berupaya menjaga harmoni dengan manusia dan seluruh makhluk. Kaum sufi memandang alam sarat nilai sakral. Mereka karena itu lebih menghargai kebaikan bersama kosmos.

Kaum sufi meyakini wa rahmati wasi’at kulla shay’ (rahmat Allah meliputi segala sesuatu). Rahmat itu mencakup orang berbeda agama dan semua makhluk. Hadis mengisahkan seorang lelaki masuk surga karena memberi minum anjing yang kehausan. Anjing milik Ashab al-Kahf (para pemuda yang tertidur di gua) juga masuk surga. Pandangan ini membuat sufi tak mengeksploitasi alam.

Bagi sufi, Tuhan hadir di sekitar dan di dalam diri. Alam menjadi manifestasi Tuhan dan ikut memuji-Nya lewat tasbih. Syekh Ibrahim membandingkan ilmuwan dan mistikus. Ilmuwan menyatakan fotosintesis membuat tumbuhan menyerap sinar matahari dan mengubahnya jadi energi, lalu analisisnya selesai. Mistikus memakai fakta itu sebagai titik awal merenungkan makna batin dan lahir dari keajaiban tersebut. Keseimbangan antara batin dan lahir, serta antara manusia dan lingkungan, menjadi ciri sufi.

Baca Juga:  Mengapa Kita Takut Mengakui Jika Sedang Tidak Baik-baik Saja?

Dari sini lahir etika non-antroposentris Islam. Pada etika ini, manusia tak menjadi satu-satunya pusat nilai. Makhluk lain memiliki nilai intrinsik (nilai bawaan) terlepas dari kegunaannya bagi manusia. Humphreys menilai sentientism (paham yang menghargai kepentingan makhluk berperasaan) dapat menjadi kerangka etika iklim non-antroposentris.

Mencari Kosmologi Baru

Hubungan manusia dan lingkungan kini mencapai tahap kritis. Istilah seperti teknologi hijau, pascaindustri, rendah karbon, dan masyarakat berkelanjutan makin populer, sementara definisinya sering kabur.

Nasr menilai krisis ekologi menunjukkan kerinduan spiritual manusia yang salah arah dan hilangnya harmoni dengan langit. Ia mengkritik kosmologi Barat yang sekuler (memisahkan urusan dunia dari agama). Hilangnya pesona alam (disenchantment) menjadi akar krisis menurutnya. Penulis menegaskan bahwa yang hilang adalah pengetahuan dan pemahaman spiritual tentang alam, melampaui pengalaman spiritual pribadi. Etika lingkungan saat ini berakar pada filsafat Barat dan kekurangan wawasan metafisik. Karena itu, etika lingkungan semata belum cukup menyembuhkan krisis.

Menuju Budaya Pengetahuan Hijau

Sebagian pemikir Muslim memandang sains Barat sebagai hasil humanisme dan positivisme abad ke-17. Sains itu mengubah cara manusia memandang alam dan menjadikannya objek. Tradisi abad pertengahan memandang alam sebagai sesuatu yang hidup dan sakral.

Budaya pengetahuan (knowledge culture) berkaitan dengan epistemologi (pandangan tentang hakikat, sumber, dan cara memperoleh pengetahuan). Pengetahuan hijau menyoroti bagaimana kondisi lingkungan masuk ke pembangunan sosial ekonomi yang lebih berkelanjutan.

Widiyanto menyebut budaya pengetahuan hijau harus bertumpu pada kosmologi Islam tradisional. Alam adalah tanda-tanda Tuhan (ayat Allah fi al-afaq). Pandangan ini menolak eksploitasi alam berlebihan. Budaya ini juga perlu seimbang, berlandaskan wasatiyya (jalan tengah). Produksi, penyebaran, dan penerapan ilmu perlu memperhatikan perlindungan kosmos.

Ciri lain adalah hubungan harmonis antara pengetahuan dan kearifan lokal. Di era globalisasi, pengetahuan global mengancam kearifan lokal. Pembuat pengetahuan baru perlu berdialog dengan kearifan lokal dan tak boleh merasa lebih tinggi. Penulis mengusulkan epistemologi hibrida (gabungan epistemologi lokal dan global). Ia juga mengusulkan local cosmopolitanism (pandangan yang menghargai keterbukaan global sekaligus kearifan lokal).

Terakhir, tasamuh (toleransi) tak boleh berarti membiarkan eksploitasi dan kerusakan alam. Tasamuh pada budaya agama perlu menjadi budaya pengetahuan, berupa infitah (keterbukaan), ibda’ (inovasi), dan ibtikar (kreativitas). Keterbukaan dan kreativitas harus bertujuan pada masalih al-‘alam, kebaikan bersama alam semesta. Jika berkembang sembarangan, keduanya malah merusak lingkungan.

Rekomendasi

Bertaubat Harus Bersuci Bertaubat Harus Bersuci

Selain karena Hadas dan Najis, Bertaubat Juga Harus Bersuci

Pendapat Empat Mazhab Tentang Hukum Jual Beli Saat Shalat Jumat Berlangsung

Mengapa Anak Bisa Berlaku Sadis? Mengintip Akar Penyebab Matinya Empati pada Generasi Muda Mengapa Anak Bisa Berlaku Sadis? Mengintip Akar Penyebab Matinya Empati pada Generasi Muda

Mengapa Anak Bisa Berlaku Sadis? Mengintip Akar Penyebab Matinya Empati pada Generasi Muda

Cerita Seru Serba-Serbi Mondok: Selamat Hari Santri!!!

Ditulis oleh

Komentari

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Bertaubat Harus Bersuci Bertaubat Harus Bersuci

Selain karena Hadas dan Najis, Bertaubat Juga Harus Bersuci

Ibadah

Pendapat Empat Mazhab Tentang Hukum Jual Beli Saat Shalat Jumat Berlangsung

Muslimah Daily

Mengapa Anak Bisa Berlaku Sadis? Mengintip Akar Penyebab Matinya Empati pada Generasi Muda Mengapa Anak Bisa Berlaku Sadis? Mengintip Akar Penyebab Matinya Empati pada Generasi Muda

Mengapa Anak Bisa Berlaku Sadis? Mengintip Akar Penyebab Matinya Empati pada Generasi Muda

Muslimah Talk

Cerita Seru Serba-Serbi Mondok: Selamat Hari Santri!!!

Diari

Pengamat: Berkaca pada Indonesia, Azerbaijan Seharusnya Melihat Jilbab sebagai Kekuatan Ekonomi Pengamat: Berkaca pada Indonesia, Azerbaijan Seharusnya Melihat Jilbab sebagai Kekuatan Ekonomi

Pengamat: Berkaca pada Indonesia, Azerbaijan Seharusnya Melihat Jilbab sebagai Kekuatan Ekonomi

Berita

Bukan Matre, Ada Alasan Logis dan Agamis Mengapa Perempuan Wajib Punya Uang Sendiri Bukan Matre, Ada Alasan Logis dan Agamis Mengapa Perempuan Wajib Punya Uang Sendiri

Bukan Matre, Ada Alasan Logis dan Agamis Mengapa Perempuan Wajib Punya Uang Sendiri

Muslimah Talk

Eco-Pesantren dan Masa Depan Bumi Kita Eco-Pesantren dan Masa Depan Bumi Kita

Eco-Pesantren dan Masa Depan Bumi Kita

Muslimah Talk

Pengetahuan Islam dan Keberlanjutan Kosmis dalam Membangun Budaya Pengetahuan Hijau Pengetahuan Islam dan Keberlanjutan Kosmis dalam Membangun Budaya Pengetahuan Hijau

Green Investing Islami Menjawab Krisis Iklim

Kajian

Trending

Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah

Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah

Ibadah

Doa Mendengar Azan KeutamaannyaHari Kamis Doa Mendengar Azan KeutamaannyaHari Kamis

Tiga Doa dalam Al-Qur’an yang Bisa Mendekatkan Jodoh

Ibadah

Shafiyah binti Huyay Shafiyah binti Huyay

Asiyah binti Muzahim: Istri Firaun yang Dijamin Masuk Surga Oleh Allah

Muslimah Talk

Menunggu Jodoh dengan Elegan; Cerita dari Jomblo untuk Jomblo

Diari

orang sakit menjamak shalat orang sakit menjamak shalat

Bolehkah Orang yang Sakit Menjamak Shalat?

Ibadah

Pendapat Empat Mazhab Tentang Hukum Jual Beli Saat Shalat Jumat Berlangsung

Muslimah Daily

Cerita Seru Serba-Serbi Mondok: Selamat Hari Santri!!!

Diari

feminiskah aisyah feminiskah aisyah

Merebut Tafsir: Feminiskah Aisyah?

Kajian

Connect