BincangMuslimah.Com – Belakangan, ramai diperbincangkan drama Korea Teach You a Lesson (Chamgyoyuk). Tidak hanya Asia, drama Korea ini menjadi sorotan secara global dan mendapatkan rating yang sangat tinggi sejak dirilis pada 5 Juni 2026. Melirik dari Internet Movie Database (IMDb), Teach You a Lesson meraup skor fantastis yaitu 8.8/10 (dengan episode pertamanya bahkan menyentuh angka 9/10). Angka ini tergolong sangat tinggi untuk genre aksi-sekolah.
Premis yang ditawarkan dalam film ini bukanlah isu baru yaitu soal perundungan. Namun, daya tariknya adalah film ini begitu gamblang memaparkan kondisi yang sering kali ditutupi ini. Walau kisah di dalam rangkaian episode adalah fiksi, isu-isu yang dimunculka teramat dekat dengan kita.
Diadaptasi dari webtoon berjudul Get Schooled atau The Real Lesson, alur kisah menampilkan kondisi ekstrem di mana otoritas guru di sekolah telah runtuh total. Siswa tidak lagi memiliki rasa hormat pada guru. Perundungan ekstrim pun terus bermunculan. Korban perundungan tidak hanya terjadi antar murid. Guru pun ikut dirudung oleh murid yang memiliki kuasa.
Tidak hanya menghancurkan mental. Para korban perundungan di dalam film ini pun sampai mengambil keputusan nekad seperti mengakhiri nyawa mereka. Faktor lain dari maraknya kasus perundungan (bullying) ekstrem dari film tersebut ditunjukkan ke dalam beberapa hal.
Seperti orang tua toksik, siswa nakal yang merasa kebal hukum, hingga sistem yang diperkeruh oleh oknum. Jengah dengan kondisi pendidikan yang carut marut, pemerintah akhirnya mengambil cara yang cukup ekstrim.
Pemerintah, dalam hal ini Menteri Pendidikan membentuk badan khusus untuk menangani kasus perundungan yang tidak terkendali. Badan tersebut adalah BPHP (Badan Perlindungan Hak Pendidikan) atau Educational Rights Protection Bureau (ERPB).
Seluruh tim pengawas dari badan ini punya wewenang hukum masuk ke sekolah-sekolah yang dinilai bermasalah. Setelahnya, tim BPHP akan menghukum para pelaku perundungan serta guru hingga orang tua yang terlibat. Berbagai cara pun dilakukan, bahkan menggunakan tindakan fisik keras demi menegakkan keadilan.
Permasalahan yang Teramat Dekat dengan Kita
Sesungguhnya banyak film dan serial yang menyosong isu sosial sebagai premis utama cerita. Namun, kenapa film ini langsung viral dan disambut gegap gempita secara global? Ada beragam prediksi yang memperkirakan kenapa Get Schooled atau The Real Lesson masuk dalam jajaran film yang digemari belakangan ini.
Pertama, penulis merasa cerita yang disuguhkan sangat dekat dengan masyarakat, Indonesia hingga global. Entah itu soal perundungan, juga tentang krisis nyata dunia pendidikan modern. Sistem hukum beberapa kali dinilai gagal melindungi korban perundungan atau tidak memihak pada nasib pengajar.
Bisa dibilang, drama ini merupakan refleksi dari kecemasan sosial kita saat ini. Kedua, pokok permasalahan drama ini mewakili apa yang dirasakan oleh masyarakat. Kita, publik kerap marah melihat perundungan yang brutal, namun lolos dari hukuman berat.
Beragam alasan kenapa pelaku bisa lolos dari jeratan hukum. Bisa karena status “di bawah umur”, relasi kuasa dan tetek bengek lainnya. Kehadiran lembaga BPHP di drama ini memberikan kepuasan instan (power fantasy) bagi penonton. Karena pelaku mendapatkan balasan yang diharapkan. Pelaku perundungan langsung dihajar dan diberi efek jera tanpa birokrasi hukum atau hirarki yang berputar-putar.
Selain itu, drama ini dianggap mewakili posisi guru yang sering kali ‘tergencet’ dan dilematis. Mencoba mendisiplinkan murid, guru justru dihantui Risiko dituduh melanggar hak asasi manusia (HAM. Atau dilaporkan oleh orang tua ke polisi atas tuduhan kekerasan.
Tiap scene di dalam drama ini ditunjukkan secara detail peran guru yang tergerus dan kehilangan wibawa. Tidak ada daya upaya untuk mendidik murid. Nah, poin ini tentu tidak asing bagi kita. Karena sesekali di pemberitan, muncul kasus serupa.
Misalnya, ada kasus guru SD di Pamulang, Tangerang Selatan. Beliau dilaporkan ke Polres Tangerang Selatan atas tuduhan a setelah menegur murid-muridnya yang dinilai kurang empati saat ada teman sekelasnya yang terjatuh. Kasus ini juga viral dan memicu petisi daring bertajuk “keadilan untuk guru”.
Selain itu, tentu tidak lekang dari ingatan kita soal kasus penamparan siswa yang merokok di lingkungan sekolah daerah Banten. Kasus ini sempat menggegerkan publik karena memicu aksi mogok belajar massal oleh ratusan siswa. Tidak sampai di sana, murid memasang spanduk yang menuntut agar kepala sekolah dicopot.
Ada lagi adalah Bapak Roni Ardiansyah, Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Prabumulih, Sumatera Selatan. Dilansir dari Kompas TV, kejadian bermula saat dirinya menegur seorang murid SMP agar tidak memarkirkan mobil di lapangan sekolah. Disebutkan area tersebut sedang digunakan untuk kegiatan siswa lainnya.
Masih dalam pemberitaan yang sama, diketahui murid yang ditegur merupakan anak pejabat setempat. Tidak lama setelah teguran tersebut, Bapak Roni secara mendadak dicopot dari jabatannya dan dimutasi menjadi guru biasa. Bahkan, satpam sekolah yang ikut membantu menertibkan juga sempat diberhentikan. Kasus ini meledak di media sosial dan menuai gelombang kritikan. Bapak Roni dikembalikan ke posisinya, begitu juga dengan status satpam sekolah.
Dan masih banyak lagi kesamaan yang ada di drama ini dengan kehidupan nyata masyarakat kita. Penulis merasa Teach You a Lesson bisa menjadi alarm sosial untuk kita semua. Sebagian kenakalan remaja saat ini telah bergeser ke kriminalitas. Sehingga penulis merasa diperlukan penyegaran birokrasi hukum. Bukannya dilepas, harus ada mekanisme yang mengikat sehingga pelaku jera dan belajar.
Drama ini juga peringatan keras akan menipisnya empati generasi muda pada sekitar. Tidak ada lagi kepekaan dan kepedulian. Menindas bahkan menjadi kesenangan. Tentu, hal ini sangat mengerikan. Otoritas dan wewenang guru runtuh, dan digital dimanfaatkan sebagai ruang bullying dan manipulatif.
Tanpa ketegasan sistem, moralitas keluarga dan perlindunga sekolah, kehancuran generasi muda adalah keniscayan. Seperti statement tim BPHP Na Hwa-jin, ‘ketika orang dewasa mulai takut pada anak-anak, maka dunia ini sedang menuju kehancuran.’
Rekomendasi