Ikuti Kami

Muslimah Talk

Sering Jadi Parodi, Dulu Lembut Sekarang Mudah Marah: Kenapa Perempuan Berubah Jadi Sensitif Setelah Menikah

Sering Jadi Parodi, Dulu Lembut Sekarang Mudah Marah: Kenapa Perempuan Berubah Jadi Sensitif Setelah Menikah
Freepik.Com

BincangMuslimah.Com – Entah itu ditunjukkan lewat curhatan atau diulas dalam bentuk parodi. Perempuan setelah menikah, khususnya sudah menjadi ibu, dituding berubah 180 derajat. Pernyataan ini sering kali diungkapkan oleh pasangan. Sebagai contoh, ada sebuah video yang menampilkan adegan pertama, point of view (pov) sebelum atau baru menikah. Istri diperlihatkan sangat lembut, sering tersenyum, dan selalu berkata manis.

Masih dalam video yang sama, muncul POV setelah menikah. Istri berubah drastis menjadi sangat sensitif dan mudah marah karena hal-hal sepele. Contohnya, suami menaruh handuk basah di kasur atau serius bermain handphone di saat istri struggle menyuapi anak.

Tidak hanya jadi konten parodi di media sosial. Di dalam dunia nyata, perubahan ini juga disadari oleh perempuan itu sendiri. Sebut saja kerabat dekat penulis. Tidak lama ini ia merasa uring-uringan. Pemantik kecil bisa membangkitkan amarah yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Nada-nada tinggi juga sesekali keluar. Setelah itu terjadi, biasanya kerabat penulis akan merasa bersalah dan menjadi ‘ibu yang tidak baik’.

Masih dalam lingkungan terdekat penulis. Seorang anak pernah mengeluh pada ibunya. Kenapa sering ‘ngomel’, marah dan mengulang arahan yang sama berkali-kali. Sang ibu menjawab setengah bercanda. Kurang lebih seperti ini. Dulu ibu terkenal sangat ramah dan baik hati loh. Setelah menikah saja jadi begini. Jawaban itu disambut dengan kening yang mengerut dari sang anak. Tanda tidak percaya.

Kondisi seperti ini mungkin ada, atau bisa saja langsung terdengar oleh kita. Beberapa orang mungkin akan meminta sang istri atau ibu sabar. Lalu memaklumi apa saja yang jadi pemantik amarah. Wajar, suami memang begitu atau yah namanya anak-anak. Bisa juga muncul arahan semacam, yang sabar, jadi istri harus begitu.

Bukan Sekadar Marah Belaka

Walau sering jadi guyon, perubahan istri atau ibu yang disebut sering ‘ngomel’ itu sepatutnya jadi perhatian. Dahulu saat penulis masih remaja dan belum berkeluarga, jujur sempat kesal. Kenapa ibu begitu tegas pada hal remeh (sebenarnya tidak patut dicontoh) seperti meletakkan handuk sembarangan. Atau tidak meletakkan piring kotor dan langsung menyucinya.

Baca Juga:  Hamil di Luar Nikah, Bolehkah Aborsi?

Belakangan setelah berkeluarga, penulis mulai memahami. Setelah menikah, banyak dinamika yang terjadi. Terutama setelah memiliki seorang anak. Keduanya memang menjadi salah satu faktor memicu kerentanan emosi.

Dilasir dari Psychology Today, secara ilmiah setelah menikah dan memiliki anak, rentan munculnya kemarahan intens pada perempuan. Dan ini adalah sebuah keniscayaan. Ada aspek biologis dan psikologis yang mendasari kenapa hal ini bisa terjadi. Umumnya, kondisi ini disebut sebagai postpartum rage.

Postpartum rage sendiri merupakan kondisi ledakan kemarahan, iritabilitas, dan frustrasi yang intens yang dapat muncul dalam minggu hingga bulan setelah persalinan. Masih dalam website yang sama, Psikolog Emily Guarnotta mengungkapkan jika kondisi bukanlah gangguan tersendiri. Namun serangkaian dari gejala dari depresi atau kecemasan pascapersalinan.

Faktor Pemicu Postpartum Rage

Beberapa faktor dapat memicu postpartum rage, antara lain perubahan hormon yang drastis setelah melahirkan. Penurunan tajam hormon estrogen dan progesteron setelah melahirkan, disertai fluktuasi hormon kortisol (stres) dan oksitosin, memengaruhi sensitivitas reseptor serotonin di otak.

Ketidakseimbangan ini menurunkan ambang batas toleransi frustrasi ibu, membuat hal-hal kecil terasa jauh lebih memicu kemarahan.

Sayangnya, postpartum rage jarang terdeteksi. Budaya masih menganggap masa setelah melahirkan sebagai periode penuh kebahagiaan dan ikatan emosional dengan bayi. Stigma kita juga masih menekankan bahwa perempuan tumbuh dengan harus menahan kemarahan dan selalu terlihat sabar.

Akibatnya, banyak ibu takut dicap sebagai ibu yang buruk, tidak stabil, atau berbahaya jika mengakui perasaan marah yang mereka alami. Tentunya semakin dipendam sekaligus tidak diatasi dengan cara yang tepat, kondisi emosi bakal semakin kusut.

Kurang tidur juga juga menjadi pemicu biologis ‘ledakan amarah’ dari ibu. Kesibukan istri sekaligus ibu dalam mengerjakan beragam urusan domestik kerap kali menganggu kebutuhan tidur mereka. Ini juga berlaku pada istri atau ibu pekerja. Kondisi ini diperparah dengan sosial kita yang sebagian masih menekankan urusan domestik dominan dipegang oleh perempuan. Alhasil, jamak di antara kita ibu yang kekurangan waktu untuk istirahat atau pun tidur.

Baca Juga:  Summer Strike: Proses Pencarian Jati Diri Seorang Perempuan

Dikutip dari Science Direct, penelitian menunjukkan bahwa kurang tidur mengganggu kemampuan otak mengendalikan emosi. Akibatnya, seseorang menjadi lebih sensitif terhadap stres, lebih mudah tersinggung, dan lebih sulit menahan amarah. Hal-hal kecil yang biasanya bisa ditoleransi dapat memicu ledakan emosi yang terasa tidak sebanding dengan pemicunya.

Sebuah tinjauan ilmiah terbaru di jurnal Neuropsychologia (2025) menemukan bahwa deprivasi tidur meningkatkan reaktivitas emosional, memperlemah kemampuan mengatur emosi, dan membuat perasaan negatif bertahan lebih lama. Dengan kata lain, saat kurang tidur, seseorang lebih mudah marah dan lebih sulit kembali tenang.

Selain itu, ada faktor penting lainnya yang bisa memunculkan terjadinya ‘ledakan’. Seperti kurangnya dukungan dari pasangan atau keluarga, serta ketidaksesuaian antara harapan dan realitas menjadi orang tua. Riwayat gangguan kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, atau bipolar juga dapat meningkatkan risiko munculnya kondisi ini.

Langkah Sederhana

Walau terkesan lucu dan menghibur, namun konten parodi perempuan yang ‘suka-suka’ marah setelah menikah kadang kala perlu ditanggapi serius. Karena secara biologis, itu menandakan ibu butuh waktu untuk beristirahat. Selain itu, indikator lelah tidak hanya fisik tapi juga mental. Jeda sejenak, sediakan waktu untuk me time juga penting. Berdiskusi dengan suami dan saling bekerjasama saat menghadapi tugas rumah tangga menjadi hal yang juga perlu dilakukan.

Terakhir, kemarahan sering terjadi saat kamu mencoba menjadi ibu yang sempurna di tengah sisa-sisa energi. Maka, coret tugas yang tidak mendesak dan utamakan prioritas. Tidak perlu ambil pusing jika ada komentar tidak menyenangkan dari orang lain.

 

Rekomendasi

Mewarisi Dendam atau Memutus Luka Keluarga? Refleksi Novel Makamkan Ibu di Samping Ayah Mewarisi Dendam atau Memutus Luka Keluarga? Refleksi Novel Makamkan Ibu di Samping Ayah

Mewarisi Dendam atau Memutus Luka Keluarga? Refleksi Novel Makamkan Ibu di Samping Ayah

Nama Nabi Sulaiman Didahulukan Nama Nabi Sulaiman Didahulukan

Tafsir Surah An-Naml Ayat 30; Hikmah Nama Nabi Sulaiman Didahulukan daripada Nama Allah

Mengenal Tujuh Macam Kebiasaan Istihadhah

Bagaimana Pandangan Maqashid Syariah mengenai Kebakaran Hutan di Kalimantan? Bagaimana Pandangan Maqashid Syariah mengenai Kebakaran Hutan di Kalimantan?

Bagaimana Pandangan Maqashid Syariah mengenai Kebakaran Hutan di Kalimantan?

Ditulis oleh

Melayu udik yang berniat jadi abadi. Pernah berkuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, jurusan Jurnalistik (2014), aktif di LPM Institut (2017), dan Reporter Watchdoc (2019). Baca juga karya Aisyah lainnya di Wattpad @Desstre dan Blog pribadi https://tulisanaisyahnursyamsi.blogspot.com

Komentari

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Mewarisi Dendam atau Memutus Luka Keluarga? Refleksi Novel Makamkan Ibu di Samping Ayah Mewarisi Dendam atau Memutus Luka Keluarga? Refleksi Novel Makamkan Ibu di Samping Ayah

Mewarisi Dendam atau Memutus Luka Keluarga? Refleksi Novel Makamkan Ibu di Samping Ayah

buku

Nama Nabi Sulaiman Didahulukan Nama Nabi Sulaiman Didahulukan

Tafsir Surah An-Naml Ayat 30; Hikmah Nama Nabi Sulaiman Didahulukan daripada Nama Allah

Kajian

Mengenal Tujuh Macam Kebiasaan Istihadhah

Ibadah

Bagaimana Pandangan Maqashid Syariah mengenai Kebakaran Hutan di Kalimantan? Bagaimana Pandangan Maqashid Syariah mengenai Kebakaran Hutan di Kalimantan?

Bagaimana Pandangan Maqashid Syariah mengenai Kebakaran Hutan di Kalimantan?

Muslimah Talk

lelaki perempuan mata allah lelaki perempuan mata allah

Feminisme Al-Qur’an, Tafsir An-Nahl 97; Lelaki dan Perempuan di Mata Allah

Kajian

Nasihat Pernikahan Gus Mus Nasihat Pernikahan Gus Mus

Doa untuk Pengantin Baru

Ibadah

diperhatikan Memilih pasangan hidup diperhatikan Memilih pasangan hidup

Tafsir Al-Baqarah Ayat 221: Hal yang Harus Diperhatikan saat Memilih Pasangan Hidup

Kajian

Mu'asyarah bil Ma'ruf dalam Pernikahan, Bagaimana Idealnya? Mu'asyarah bil Ma'ruf dalam Pernikahan, Bagaimana Idealnya?

Mu’asyarah bil Ma’ruf dalam Pernikahan, Bagaimana Idealnya?

Keluarga

Trending

Nasihat Pernikahan Gus Mus Nasihat Pernikahan Gus Mus

Doa untuk Pengantin Baru

Ibadah

Surat Al-Ahzab Ayat 33 Surat Al-Ahzab Ayat 33

Tafsir Surat Al-Ahzab Ayat 33; Domestikasi Perempuan, Syariat atau Belenggu Kultural?

Kajian

Mengenal Tujuh Macam Kebiasaan Istihadhah

Ibadah

diperhatikan Memilih pasangan hidup diperhatikan Memilih pasangan hidup

Tafsir Al-Baqarah Ayat 221: Hal yang Harus Diperhatikan saat Memilih Pasangan Hidup

Kajian

Tata Cara Shalat Perempuan Tata Cara Shalat Perempuan

Tata Cara Shalat Perempuan Istihadhah

Ibadah

air ketuban air ketuban

Benarkah dengan Membaca Surah Yusuf Anak yang Dikandung akan Tampan?

Kajian

kehidupan muhammad sebelum nabi kehidupan muhammad sebelum nabi

Kenapa Sahabat Nabi Tidak Merayakan Maulid?

Khazanah

lelaki perempuan mata allah lelaki perempuan mata allah

Feminisme Al-Qur’an, Tafsir An-Nahl 97; Lelaki dan Perempuan di Mata Allah

Kajian

Connect