BincangMuslimah.Com – Entah itu ditunjukkan lewat curhatan atau diulas dalam bentuk parodi. Perempuan setelah menikah, khususnya sudah menjadi ibu, dituding berubah 180 derajat. Pernyataan ini sering kali diungkapkan oleh pasangan. Sebagai contoh, ada sebuah video yang menampilkan adegan pertama, point of view (pov) sebelum atau baru menikah. Istri diperlihatkan sangat lembut, sering tersenyum, dan selalu berkata manis.
Masih dalam video yang sama, muncul POV setelah menikah. Istri berubah drastis menjadi sangat sensitif dan mudah marah karena hal-hal sepele. Contohnya, suami menaruh handuk basah di kasur atau serius bermain handphone di saat istri struggle menyuapi anak.
Tidak hanya jadi konten parodi di media sosial. Di dalam dunia nyata, perubahan ini juga disadari oleh perempuan itu sendiri. Sebut saja kerabat dekat penulis. Tidak lama ini ia merasa uring-uringan. Pemantik kecil bisa membangkitkan amarah yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Nada-nada tinggi juga sesekali keluar. Setelah itu terjadi, biasanya kerabat penulis akan merasa bersalah dan menjadi ‘ibu yang tidak baik’.
Masih dalam lingkungan terdekat penulis. Seorang anak pernah mengeluh pada ibunya. Kenapa sering ‘ngomel’, marah dan mengulang arahan yang sama berkali-kali. Sang ibu menjawab setengah bercanda. Kurang lebih seperti ini. Dulu ibu terkenal sangat ramah dan baik hati loh. Setelah menikah saja jadi begini. Jawaban itu disambut dengan kening yang mengerut dari sang anak. Tanda tidak percaya.
Kondisi seperti ini mungkin ada, atau bisa saja langsung terdengar oleh kita. Beberapa orang mungkin akan meminta sang istri atau ibu sabar. Lalu memaklumi apa saja yang jadi pemantik amarah. Wajar, suami memang begitu atau yah namanya anak-anak. Bisa juga muncul arahan semacam, yang sabar, jadi istri harus begitu.
Bukan Sekadar Marah Belaka
Walau sering jadi guyon, perubahan istri atau ibu yang disebut sering ‘ngomel’ itu sepatutnya jadi perhatian. Dahulu saat penulis masih remaja dan belum berkeluarga, jujur sempat kesal. Kenapa ibu begitu tegas pada hal remeh (sebenarnya tidak patut dicontoh) seperti meletakkan handuk sembarangan. Atau tidak meletakkan piring kotor dan langsung menyucinya.
Belakangan setelah berkeluarga, penulis mulai memahami. Setelah menikah, banyak dinamika yang terjadi. Terutama setelah memiliki seorang anak. Keduanya memang menjadi salah satu faktor memicu kerentanan emosi.
Dilasir dari Psychology Today, secara ilmiah setelah menikah dan memiliki anak, rentan munculnya kemarahan intens pada perempuan. Dan ini adalah sebuah keniscayaan. Ada aspek biologis dan psikologis yang mendasari kenapa hal ini bisa terjadi. Umumnya, kondisi ini disebut sebagai postpartum rage.
Postpartum rage sendiri merupakan kondisi ledakan kemarahan, iritabilitas, dan frustrasi yang intens yang dapat muncul dalam minggu hingga bulan setelah persalinan. Masih dalam website yang sama, Psikolog Emily Guarnotta mengungkapkan jika kondisi bukanlah gangguan tersendiri. Namun serangkaian dari gejala dari depresi atau kecemasan pascapersalinan.
Faktor Pemicu Postpartum Rage
Beberapa faktor dapat memicu postpartum rage, antara lain perubahan hormon yang drastis setelah melahirkan. Penurunan tajam hormon estrogen dan progesteron setelah melahirkan, disertai fluktuasi hormon kortisol (stres) dan oksitosin, memengaruhi sensitivitas reseptor serotonin di otak.
Ketidakseimbangan ini menurunkan ambang batas toleransi frustrasi ibu, membuat hal-hal kecil terasa jauh lebih memicu kemarahan.
Sayangnya, postpartum rage jarang terdeteksi. Budaya masih menganggap masa setelah melahirkan sebagai periode penuh kebahagiaan dan ikatan emosional dengan bayi. Stigma kita juga masih menekankan bahwa perempuan tumbuh dengan harus menahan kemarahan dan selalu terlihat sabar.
Akibatnya, banyak ibu takut dicap sebagai ibu yang buruk, tidak stabil, atau berbahaya jika mengakui perasaan marah yang mereka alami. Tentunya semakin dipendam sekaligus tidak diatasi dengan cara yang tepat, kondisi emosi bakal semakin kusut.
Kurang tidur juga juga menjadi pemicu biologis ‘ledakan amarah’ dari ibu. Kesibukan istri sekaligus ibu dalam mengerjakan beragam urusan domestik kerap kali menganggu kebutuhan tidur mereka. Ini juga berlaku pada istri atau ibu pekerja. Kondisi ini diperparah dengan sosial kita yang sebagian masih menekankan urusan domestik dominan dipegang oleh perempuan. Alhasil, jamak di antara kita ibu yang kekurangan waktu untuk istirahat atau pun tidur.
Dikutip dari Science Direct, penelitian menunjukkan bahwa kurang tidur mengganggu kemampuan otak mengendalikan emosi. Akibatnya, seseorang menjadi lebih sensitif terhadap stres, lebih mudah tersinggung, dan lebih sulit menahan amarah. Hal-hal kecil yang biasanya bisa ditoleransi dapat memicu ledakan emosi yang terasa tidak sebanding dengan pemicunya.
Sebuah tinjauan ilmiah terbaru di jurnal Neuropsychologia (2025) menemukan bahwa deprivasi tidur meningkatkan reaktivitas emosional, memperlemah kemampuan mengatur emosi, dan membuat perasaan negatif bertahan lebih lama. Dengan kata lain, saat kurang tidur, seseorang lebih mudah marah dan lebih sulit kembali tenang.
Selain itu, ada faktor penting lainnya yang bisa memunculkan terjadinya ‘ledakan’. Seperti kurangnya dukungan dari pasangan atau keluarga, serta ketidaksesuaian antara harapan dan realitas menjadi orang tua. Riwayat gangguan kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, atau bipolar juga dapat meningkatkan risiko munculnya kondisi ini.
Langkah Sederhana
Walau terkesan lucu dan menghibur, namun konten parodi perempuan yang ‘suka-suka’ marah setelah menikah kadang kala perlu ditanggapi serius. Karena secara biologis, itu menandakan ibu butuh waktu untuk beristirahat. Selain itu, indikator lelah tidak hanya fisik tapi juga mental. Jeda sejenak, sediakan waktu untuk me time juga penting. Berdiskusi dengan suami dan saling bekerjasama saat menghadapi tugas rumah tangga menjadi hal yang juga perlu dilakukan.
Terakhir, kemarahan sering terjadi saat kamu mencoba menjadi ibu yang sempurna di tengah sisa-sisa energi. Maka, coret tugas yang tidak mendesak dan utamakan prioritas. Tidak perlu ambil pusing jika ada komentar tidak menyenangkan dari orang lain.
Rekomendasi