BincangMuslimah.Com – Banyak cara dan upaya content creator agar menghasillkan karya yang menarik. Dengan harapan, bisa menuai banyak penonton. Karya yang disajikan, umumnya menonjolkan citra masing-masing. Citra yang dibentuk untuk membangun karakteristik tersendiri. Sehingga karya tersebut unik dan ontentik. Lalu meninggalkan kesan tidak terlupakan dari pengguna media sosial.
Sampai sini, usaha tersebut masih baik dan ‘tidak apa-apa’ sekali dilakukan. Namun, aktivitas ini bisa menjadi masalah jika konten mengandung stigma negatif, atau berisi muatan diskriminasi yang memuakkan.
Dua hal ini, sayangnya telah telah terjadi dan menjadi perbincangan hangat di media sosial. Muncul fenomena konten kreator yang meniru kawan disabilitas sebagai bahan lelucon. Sayangnya, gaya konten yang tidak berempati ini juga dilakukan saat mempromosikan produk kecantikan.
Dalam salah satu video yang beredar, seorang content creator di media TikTok dengan sengaja meniru salah satu ekspresi kelompok penyandang disabilitas. Setelahnya, ia tertawa dan menggunakan liptint, salah satu produk endorse.
Tidak hanya satu, ia juga menciptakan video yang mungkin membuat sebagian penonton geleng-geleng kepala. Ia, menirukan penderita tic disorder, kondisi gangguan saraf yang ditandai dengan gerakan atau mengeluarkan suara secara tiba-tiba, tanpa terkendali. Dirinya melakukan aksi tersebut sambil tersenyum lebar dan sesekali tertawa.
Banyak yang menyayangkan dan mengecam keras konten-konten tersebut. Kritikan ini datang dari dokter, pemerhati, hingga orang tua dengan buah hati disabilitas. Salah satunya dokter Adam Prabata. Melalui unggahan di akun X miliknya, dr Adam mengungkapkan amarahnya.
Ia menganggap konten yang diunggah adalah bentuk prasangka dan diskriminasi terhadap kawan disabilitas. Tidak hanya itu, konten tersebut menurut dr Adam adalah bentuk penghinaan yang merendahkan. Kondisi kawan-kawan disabilitas tidak pantas dijadikan sebagai lelucon atau konten hiburan.
Masih di akun tersebut, dr Adam konten tersebut bersifat ableism yang bisa memicu gangguan kesehatan mental. Lebih lanjut, ia mengataka jika ada penelitian khusus terkait hal ini. Dirinya menyebut ada penelitian lain tahun 2024 di Journal of Media Psychology.
Di mana, riset tersebut meneliti mengenai humor disabilitas. Hasilnya, humor semacam ini justru memperkuat stereotype negatif, mengurangi empati penonton, dan menyebabkan distress emosional bagi penyandang disabilitas. Korban sering mengalami ejekan, cyberbullying, dan self-censorship.
Di sisi lain, penulis juga menemukan beberapa video berisi orang tua yang meluapkan rasa sedih dan getirnya saat melihat konten mengandung penghinaan tersebut. Mungkin, kasus ini tidak seramai penangkapan pemimpin Badan Gizi Nasional (BGN) atas dugaan korupsi yang baru saja terjadi. Tapi, kasus ini layak diperhitungkan dan dipikirkan.
Konten Bermuatan Ableism, Apa itu?
Sebelumnya dr Adam menyinggung jika konten yang memparodikan kawan disabilitas mengandung ableism. Lantas apa itu ableism? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ableism merupakan stereotipe atau perlakuan berbeda yang ditujukan bagi mereka yang berkebutuhan khusus atau memiliki keterbatasan.
Melansir dari website Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia (PSHK), istilah ini berasal dari bahasa Inggris. Terdiri dari dua suku kata yaitu able (mampu) dan disable (pembeda). Secara utuh, ableisme merupakan sebuah sikap memandang disabilitas sebagai sebuah ketidaksempurnaan, termasuk mengasosiasikannya dengan penyakit.
Masih dalam laman website yang sama, disampaikan bahwa teori Campbell menjelaskan ableisme jadi penyebab laten maraknya diskriminasi. Di dunia digital, manifestasinya berupa ableisme jokes, mengasosiasikan keterbatasan fisik sebagai bahan komedi atau kecacatan yang layak ditertawakan.
Sebelumnya dr Adam juga sudah sedikit spil, dampak mengerikan dari ableism ini. Dikutip dari pemaparan Profesor Kathleen Bogart di TED Talks, riset psikologi membuktikan, pengalaman alami perlakuan ableis jadi indikator utama pemicu depresi hingga gangguan kecemasan (anxiety) pada penyandang disabilitas.
Disampaikan jika penyandang disabilitas dewasa memiliki risiko 3 hingga 7 kali lebih tinggi terdiagnosis depresi dibanding populasi umum. Dikutip dari artikel yang diterbikan di Ebsco.com ableisme memicu tekanan psikologis berat,
Di mana penyandang disabilitas sering kali ditempatkan dalam “peran sakit” (sick role), dianggap objek belas kasihan, dan dipandang tidak produktif. Stigma dan prasangka ini menyebabkan penurunan harga diri, stres emosional. Tidak sampai di sana, muncul juga risiko krisis identitas akibat pandangan diskriminatif masyarakat.
Selain itu, hambatan lingkungan dan aksesibilitas membatasi partisipasi sosial. Memperparah perasaan terisolasi, sampai mempersulit proses adaptasi. Pada akhirnya mengabaikan potensi penuh individu tersebut.
Langkah Sederhana Basmi Konten Mengandung Ablesim
Ada beberapa upaya sederhana yang bisa kita lakukan untuk menekan munculnya konten nir empati ini. Pertama, jangan taruh perhatian pada konten semacam ini. Lewatkan, stop menekan tombol like, share atau bagikan pada konten-konten tersebut.
Ingat, menulis komentar walau berupa kritikan di akun sosial ‘pelaku ableism’ ini masih terhitung sebagai interaksi positif pada algoritma. Semakin banyak komentar yang masuk ke dalam akun pelaku, justru bisa membuatnya semakin viral.
Jangan sungkan menggunakan fitur reporting. Laporkan konten dengan menggunakan opsi ‘ujaran kebencian’, perundungan, kekerasan atau pembullyan. Saring tontonan, beralih pada influencer yang menyuarakan konten-konten inklusivitas. Kamu juga bisa menyebarkan konten yang berisi edukasi tentang apa itu ableism agar masyarakat tahu dan mengerti. Mari lebih peka dan peduli.
