Ikuti Kami

Muslimah Talk

Pihak yang Dirugikan, Perempuan Justru Punya Peran Tersembunyi ‘Lestarikan’ Patriarki

Muslimah Tenang di Tengah Kesibukan: Menghadapi Rasa Takut Tertinggal dan Pikiran Berlebih
www.freepik.com

BincangMuslimah.Com – Ketika berbicara tentang patriarki, sering kali bayangan kita langsung tertuju pada dominasi laki-laki atas perempuan. Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu. Dalam banyak kasus, perempuan sendiri justru ikut menjadi aktor yang melanggengkan sistem patriarki, baik secara sadar maupun tidak.

Sejak kecil, banyak anak perempuan tumbuh dalam ruang sosial yang menekankan kepatuhan, kelembutan, dan kesopanan. Misalnya, “jangan terlalu keras bicara, nanti dianggap tidak pantas.”

Lalu ada anggapan “kalau sekolah terlalu tinggi, susah dapat jodoh.” “Perempuan yang baik itu mengurus rumah.” Atau, mungkin pernah mendengar ‘perempuan jangan terlalu kritis’ dan sejenisnya. Nasihat-nasihat semacam ini, mungkin saja sering keluar dari mulut ayah, saudara atau laki-laki di lingkungan kita.

Tapi, tidak jarang pula keluar dari mulut ibu, nenek, atau sesama perempuan lain di lingkungannya. Tanpa sadar, mereka mewariskan norma yang menempatkan perempuan dalam posisi subordinat.

Dalam memahami fenomena ini bisa sebagai bentuk patriarchal bargain, sebuah negosiasi di mana perempuan memilih untuk patuh pada aturan patriarki demi mendapatkan perlindungan, rasa aman, atau pengakuan sosial. Kepatuhan dianggap lebih aman daripada perlawanan. Masalahnya, pilihan ini justru membuat struktur patriarki semakin kokoh.

Lebih jauh, perempuan juga kerap menjadi “polisi moral” bagi sesamanya. Mereka menegur cara berpakaian, mengomentari pilihan hidup, bahkan menghakimi sesama perempuan yang keluar dari norma tradisional. Alih-alih saling menguatkan, perempuan kadang tanpa sadar memperkuat belenggu yang membatasi kebebasan mereka sendiri.

Dalam lingkup yang lebih luas, hukum dan budaya pun ikut menegaskan posisi ini. Legitimasi patriarki tidak hanya datang dari laki-laki, tetapi juga diperkuat dari penerimaan perempuan terhadap norma yang timpang.

Dari sini, terasa betul jika patriarki adalah sistem yang bekerja secara struktural dan kultural, meresap dalam relasi sosial sehari-hari. Menyadari bahwa perempuan pun ikut melanggengkannya adalah langkah penting agar kita bisa membongkar rantai panjang ketidaksetaraan ini. Sebab selama perempuan masih diajari untuk “diam dan menerima,” maka perubahan menuju keadilan gender akan berjalan sangat lambat.

Baca Juga:  Film Nomadland: Jati Diri Perempuan di Balik Rasa Duka

 

Paling Dirugikan, Kenapa Justru Perempuan yang Melanggengkan?

Patriarki tidak pernah berdiri sendiri. Ia bertahan bukan hanya karena dominasi laki-laki, tetapi juga karena dukungan dan penerimaan perempuan. Pertanyaannya, mengapa perempuan yang seharusnya dirugikan justru ikut berperan melanggengkannya? Setidaknya ada beberapa pandangan kenapa situasi ini bisa terjadi.

Pertama, sosialisasi dan internalisasi norma gender. Dari kecil, perempuan diajarkan norma-norma tradisional. Bahwa perempuan harus lembut, patuh, mengutamakan peran domestik, menghindari konflik, menjaga kehormatan keluarga dan sebagainya.

Norma-norma ini tidak hanya diajarkan oleh laki-laki, tetapi juga oleh perempuan  yaitu ibu, nenek, guru, saudara perempuan, yang meneruskan ekspektasi sosial tersebut. Karena menganggap norma ini “biasa,” banyak perempuan tidak menyadari bahwa mereka sedang menginternalisasi struktur yang subordinatif.

Kedua, patriarchal bargain. Sebelumnya sempat membahas soal patriarchal bargain. Dalam literatur gender, mengartikan istilah ini sebagai bentuk strategi di mana perempuan “menyesuaikan diri” dengan aturan patriarki agar memperoleh keamanan, pengakuan sosial, status, atau perlindungan.

Meskipun strategi ini bisa memberikan keuntungan jangka pendek, hal itu juga memperkuat struktur patriarki secara keseluruhan karena tetap mempertahankan norma-norma tersebut.

 

Mengapa ‘Bermain Aman’ Menjadi Pilihan?

Ketiga, legitimasi budaya, agama, dan hukum. Perempuan sering menerima atau bahkan mendukung interpretasi budaya, agama, dan hukum yang menempatkan laki-laki sebagai otoritas dalam keluarga dan masyarakat.

Keempat, preservasi melalui stereotip gender dan peran ganda. Perempuan juga berperan dalam mempertahankan stereotip gender. Perempuan itu harus menjadi pengasuh utama, yang paling bertanggung jawab mengurus rumah tangga dan anak, sekaligus menjaga kehormatan keluarga.

Ketika terus mengulang stereotip ini, baik oleh media, pendidikan, maupun interaksi sosial,  perempuan yang berbeda dari stereotip sering mendapat pengucilan atau kritik. Kelima, tekanan sosial dan pengakuan. Perempuan yang taat norma patriarki biasanya mendapatkan pengakuan sosial, penerimaan dalam komunitas, keamanan.

Baca Juga:  Ayat-ayat Al-Quran yang Dianjurkan untuk Orang yang Sakit

Terutama dalam konteks budaya yang sangat menekankan reputasi, kehormatan, dan ‘pemikiran orang lain’. Sebaliknya, perempuan yang menolak norma atau membuat pilihan berbeda.

Misalnya memilih karier maju daripada langsung menikah atau tidak memakai pakaian tradisional sering mendapat kritik, isolasi, stereotip negatif. Karena konsekuensinya sosial dan psikologis bisa berat, banyak perempuan memilih untuk mengikuti norma meskipun tahu ada pembatasan.

Keenam, ketergantungan ekonomi dan struktur kekuasaan kecil. Dalam banyak kasus, perempuan berada dalam posisi ketergantungan ekonomi atau sosial pada laki-laki (ayah, suami, keluarga).

Karena itu, mereka mungkin memilih untuk “bermain aman” dengan mematuhi norma agar tidak kehilangan dukungan, keamanan, atau akses ke kehidupan sosial yang seolah “normal”. Ketergantungan ini bisa memperkuat posisi patriarki karena perempuan kurang punya pilihan alternatif.

 

Bagaimana bersikap?

Karena tidak mendasarinya dengan satu faktor dalam waktu yang ringkas, maka perlu respons bijak menghadapi kondisi ini. Mungkin ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Pertama, memahami konteks sosial dan budaya.

Banyak perempuan yang melanggengkan patriarki bukan karena mereka setuju sepenuhnya, tapi karena tumbuh besar dalam norma yang menekankan “kepatuhan” dan “kodrat”. Jadi, sebelum menghakimi, penting memahami latar belakang dan alasan mereka.

Kedua, gunakan dialog yang empati tanpa menghakimi. Konfrontasi keras biasanya membuat orang bertahan dengan keyakinannya. Ketiga, berikan alternatif narasi. Kita bisa menunjukkan bahwa nilai-nilai keadilan, kebersamaan, dan kemitraan gender tidak bertentangan dengan budaya atau agama. Bahkan, banyak ajaran tradisi dan agama yang menekankan kesalingan.

Terakhir, kuatkan solidaritas antar perempuan. Ketimbang menegur dengan nada menggurui, lebih baik membangun ruang aman di mana perempuan bisa saling mendukung. Sering kali, mereka melanggengkan patriarki karena merasa tidak ada pilihan atau takut dikucilkan.

Baca Juga:  Tahun 2025: Momen Aktualisasi Perempuan Dalam Ruang Publik

Rekomendasi

Beberapa Kesunahan 10 Muharram Beberapa Kesunahan 10 Muharram

Tiga Hal yang Harus Diperhatikan Perempuan Haid

Green Islam Sebagai Gerakan Melawan Krisis Iklim Green Islam Sebagai Gerakan Melawan Krisis Iklim

Green Islam Sebagai Gerakan Melawan Krisis Iklim

Shafiyah binti Huyay Shafiyah binti Huyay

Asiyah binti Muzahim: Istri Firaun yang Dijamin Masuk Surga Oleh Allah

Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah

Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah

Ditulis oleh

Melayu udik yang berniat jadi abadi. Pernah berkuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, jurusan Jurnalistik (2014), aktif di LPM Institut (2017), dan Reporter Watchdoc (2019). Baca juga karya Aisyah lainnya di Wattpad @Desstre dan Blog pribadi https://tulisanaisyahnursyamsi.blogspot.com

17 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Beberapa Kesunahan 10 Muharram Beberapa Kesunahan 10 Muharram

Tiga Hal yang Harus Diperhatikan Perempuan Haid

Ibadah

Green Islam Sebagai Gerakan Melawan Krisis Iklim Green Islam Sebagai Gerakan Melawan Krisis Iklim

Green Islam Sebagai Gerakan Melawan Krisis Iklim

Muslimah Talk

Shafiyah binti Huyay Shafiyah binti Huyay

Asiyah binti Muzahim: Istri Firaun yang Dijamin Masuk Surga Oleh Allah

Muslimah Talk

Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah

Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah

Ibadah

Seorang Anak yang Bersembunyi di Balik Topeng Superhero: Ketika Orang Dewasa Menyembunyikan Luka Masa Kecil Seorang Anak yang Bersembunyi di Balik Topeng Superhero: Ketika Orang Dewasa Menyembunyikan Luka Masa Kecil

Seorang Anak yang Bersembunyi di Balik Topeng Superhero: Ketika Orang Dewasa Menyembunyikan Luka Masa Kecil

buku

Doa yang Dipanjatkan Fatimah az-Zahra pada Hari Senin Doa yang Dipanjatkan Fatimah az-Zahra pada Hari Senin

Benarkah Orang Pingsan Tidak Wajib Mengqadha Shalat?

Ibadah

Doa Mendengar Azan KeutamaannyaHari Kamis Doa Mendengar Azan KeutamaannyaHari Kamis

Tiga Doa dalam Al-Qur’an yang Bisa Mendekatkan Jodoh

Ibadah

Empat Syarat Salat untuk Penyucian Jiwa dalam Tafsir QS. Al-Ankabut Ayat 45 Empat Syarat Salat untuk Penyucian Jiwa dalam Tafsir QS. Al-Ankabut Ayat 45

Empat Syarat Salat untuk Penyucian Jiwa dalam Tafsir QS. Al-Ankabut Ayat 45

Kajian

Trending

Nasihat Pernikahan Gus Mus Nasihat Pernikahan Gus Mus

Doa untuk Pengantin Baru

Ibadah

Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah

Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah

Ibadah

Doa Mendengar Azan KeutamaannyaHari Kamis Doa Mendengar Azan KeutamaannyaHari Kamis

Tiga Doa dalam Al-Qur’an yang Bisa Mendekatkan Jodoh

Ibadah

Mengenal Tujuh Macam Kebiasaan Istihadhah

Ibadah

Shafiyah binti Huyay Shafiyah binti Huyay

Asiyah binti Muzahim: Istri Firaun yang Dijamin Masuk Surga Oleh Allah

Muslimah Talk

diperhatikan Memilih pasangan hidup diperhatikan Memilih pasangan hidup

Tafsir Al-Baqarah Ayat 221: Hal yang Harus Diperhatikan saat Memilih Pasangan Hidup

Kajian

lelaki perempuan mata allah lelaki perempuan mata allah

Feminisme Al-Qur’an, Tafsir An-Nahl 97; Lelaki dan Perempuan di Mata Allah

Kajian

keringat perempuan haid najis keringat perempuan haid najis

Benarkah Perempuan Sumber Persoalan Bagi Laki-laki?

Kajian

Connect