Ikuti Kami

Muslimah Talk

Laki-Laki dan Perempuan Memang Berbeda, Tapi Kesetaraan Gender Bukan Soal Biologi: Mari Intip Apa yang Diperjuangkan

Laki-Laki dan Perempuan Memang Berbeda, Tapi Kesetaraan Gender Bukan Soal Biologi: Mari Intip Apa yang Diperjuangkan
www.freepik.com

BincangMuslimah.Com – Pernah dengar ucapan seperti “Kalau perempuan mau setara, ya harus kuat angkat-angkat seperti laki-laki.” Atau, “Kalau minta hak yang sama, berarti perempuan juga harus kerja fisik seberat laki-laki.” Selain itu ada juga komentar seperti ‘kalau perempuan mau kesetaraan gender, ya harus bisa angkat galon sendiri, jangan minta tolong laki-laki.” Dan masih banyak lagi.

Celoteh semacam ini lumayan populer di media sosial, dan sering kali memantik diskusi liar yang melebar. Lantas bagaimana makna kesetaraan gender yang sebenarnya? Apakah benar, jika ingin setara, perempuan harus memiliki otot bak binaragawan? Atau mahir mengangkat galon, menaiki tangga, tanpa keluhan?

Mungkin pemahaman ini kadang diucapkan dengan nada bercanda. Tapi siapa sangka efeknya serius. Seperti membatasi ruang perempuan, memperkuat stereotip, dan membebani perempuan dengan ekspektasi yang mungkin tidak realistis atau tidak adil.

Memang, tidak dapat dipungkiri jika laki-laki dan perempuan memang punya perbedaan fisik. Rata-rata laki-laki memiliki massa otot lebih besar, sementara perempuan memiliki kapasitas reproduksi yang khas. Perbedaan ini nyata dan kodrati. Namun, sesungguhnya bukan kesamaan fisik tahu biologis seperti ini yang diperjuangkan oleh kesetaraan gender.

Aktris India, Priyanka Chopra pernah mengeluarkan gagasan menarik terkait hal ini. Istri dari Nick Jonas ini mengatakan dengan tegas jika kesetaraan bukan soal menyamai fisik (kekuatan fisik) laki-laki, melainkan memberi kesempatan yang sama secara intelektual, profesional, dan sosial.

Selain itu, ia juga menegaskan bahwa feminisme bukan kebalikan dominasi laki-laki, bukan ajakan superioritas, tapi tuntutan hak dan kebebasan yang setara. Sayangnya, gagasan ini tidak begitu populer.

Lalu apa sebenarnya yang diperjuangkan dari gagasan kesetaraan gender?

Kesetaraan gender sering disalah pahami hanya sebatas membicarakan perbedaan fisik antara laki-laki dan perempuan. Esensi yang diperjuangkan, jauh lebih dalam. Yaitu bagaimana setiap orang memiliki akses, kesempatan, dan hak yang sama dalam seluruh aspek kehidupan, tanpa terikat oleh stereotip gender.

Baca Juga:  Wajibkah Anak-anak Memakai Hijab?

Di banyak masyarakat, batasan peran tradisional kerap menjerat. Perempuan dianggap harus tinggal di ranah domestik, sementara laki-laki ditempatkan sebagai pencari nafkah utama. Pola pikir seperti ini membatasi ruang gerak manusia.

Tidak hanya bagi perempuan, tapi juga laki-laki yang ingin mengekspresikan diri di luar peran kaku tersebut. Inilah mengapa kesetaraan gender sesungguhnya bukan perkara fisik, melainkan persoalan sistem, norma sosial, dan keadilan.

Perserikatan Bangsa-Bangsa menegaskan, gender equality adalah hak asasi mendasar yang menjadi fondasi bagi dunia yang damai dan berkelanjutan. “Gender equality is not only a fundamental human right, but a necessary foundation for a peaceful, prosperous and sustainable world,” tulis Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB).

Kesetaraan gender bukan sekadar isu moral, melainkan hak asasi manusia yang fundamental sekaligus fondasi penting bagi terciptanya dunia yang damai, sejahtera, dan berkelanjutan.

Inilah mengapa PBB menempatkan kesetaraan gender sebagai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG 5), yang bertujuan menghapus kesenjangan gender dan memberdayakan semua perempuan serta anak perempuan.

Namun, realitas global menunjukkan jalan menuju kesetaraan masih panjang. Perempuan dan anak perempuan yang mewakili separuh populasi dunia juga menyimpan separuh potensi dunia. PBB menyoroti sejumlah perjuangan inti dalam mencapai kesetaraan gender:

Pertama, Menghapus Kekerasan & Eksploitasi. Perempuan di seluruh dunia masih menghadapi kekerasan berbasis gender, termasuk kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan seksual, hingga mutilasi genital perempuan (FGM). Lebih dari 230 juta perempuan dan anak perempuan telah menjadi korban praktik ini, dengan risiko besar bagi kesehatan dan keselamatan.

Kedua, Kesetaraan dalam Pekerjaan & Ekonomi.

Rata-rata perempuan hanya menduduki 30% posisi manajerial global, sementara mereka menghabiskan 2,5 kali lebih banyak waktu dibanding laki-laki dalam pekerjaan rumah tangga dan perawatan yang tidak dibayar. Ketidakadilan ini bukan hanya merugikan individu, tetapi juga memperlambat pertumbuhan ekonomi global.

Baca Juga:  Perempuan-perempuan yang Disebutkan dalam Al-Qur'an (Bag 2)

Ketiga, Mengakhiri Praktik Merugikan. Praktik pernikahan anak masih tinggi: 1 dari 5 perempuan usia 20–24 tahun menikah sebelum berusia 18 tahun, terutama di Afrika Sub-Sahara. Jika tren tak berubah, butuh 300 tahun untuk benar-benar menghapus pernikahan anak.

Keempat, Akses ke Hak Seksual & Kesehatan Reproduksi. Sebanyak 43,7% perempuan menikah di dunia tidak memiliki kendali penuh atas hak reproduksi dan kesehatan seksual mereka. Ini berarti jutaan perempuan tidak bisa membuat keputusan mandiri tentang tubuhnya sendiri.

Kelima, Keterwakilan Politik & Kepemimpinan. Walau ada kemajuan, pada 2025 perempuan baru mengisi 27,2% kursi parlemen nasional. Dengan laju sekarang, butuh 140 tahun untuk mencapai keterwakilan setara dalam kepemimpinan publik.

Keenam, Reforma Hukum & Kebijakan. Hingga 2024, 47% negara masih membatasi pekerjaan tertentu bagi perempuan. Ada pula undang-undang diskriminatif yang memperlambat kemajuan. Jika perubahan hukum tetap berjalan lambat, diperkirakan butuh 286 tahun untuk menutup semua celah hukum.

Ketujuh, Akses ke Sumber Daya Ekonomi & Lahan.

Di hampir 80% negara, kurang dari separuh perempuan memiliki hak kepemilikan atau akses aman ke tanah pertanian, padahal lahan adalah kunci kemandirian ekonomi dan penguatan ketahanan pangan.

PBB menegaskan betul jika kesetaraan gender bukan hanya urusan perempuan, melainkan tujuan lintas sektor yang harus hadir dalam kebijakan, anggaran, dan prioritas nasional setiap negara. PBB juga menekankan bahwa laki-laki dan anak laki-laki punya peran penting dalam perjuangan ini. Kesetaraan gender menuntut kolaborasi semua pihak, bukan perjuangan sepihak.

Pada akhirnya, kesetaraan gender bukan hanya tentang perempuan harus punya kondisi fisik yang sama dengan laki-laki. Bukan pula sekadar memperoleh haknya. Ia adalah perjuangan membongkar hambatan struktural, menghapus diskriminasi, dan membangun masyarakat di mana setiap orang, laki-laki maupun perempuan  bisa hidup, bekerja, dan berkembang dengan setara.

Baca Juga:  11 Ramadhan Mengenang Haul Khadijah: Teladan Hebat Para Muslimah

Rekomendasi

Beberapa Kesunahan 10 Muharram Beberapa Kesunahan 10 Muharram

Tiga Hal yang Harus Diperhatikan Perempuan Haid

Green Islam Sebagai Gerakan Melawan Krisis Iklim Green Islam Sebagai Gerakan Melawan Krisis Iklim

Green Islam Sebagai Gerakan Melawan Krisis Iklim

Shafiyah binti Huyay Shafiyah binti Huyay

Asiyah binti Muzahim: Istri Firaun yang Dijamin Masuk Surga Oleh Allah

Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah

Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah

Ditulis oleh

Melayu udik yang berniat jadi abadi. Pernah berkuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, jurusan Jurnalistik (2014), aktif di LPM Institut (2017), dan Reporter Watchdoc (2019). Baca juga karya Aisyah lainnya di Wattpad @Desstre dan Blog pribadi https://tulisanaisyahnursyamsi.blogspot.com

5 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Beberapa Kesunahan 10 Muharram Beberapa Kesunahan 10 Muharram

Tiga Hal yang Harus Diperhatikan Perempuan Haid

Ibadah

Green Islam Sebagai Gerakan Melawan Krisis Iklim Green Islam Sebagai Gerakan Melawan Krisis Iklim

Green Islam Sebagai Gerakan Melawan Krisis Iklim

Muslimah Talk

Shafiyah binti Huyay Shafiyah binti Huyay

Asiyah binti Muzahim: Istri Firaun yang Dijamin Masuk Surga Oleh Allah

Muslimah Talk

Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah

Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah

Ibadah

Seorang Anak yang Bersembunyi di Balik Topeng Superhero: Ketika Orang Dewasa Menyembunyikan Luka Masa Kecil Seorang Anak yang Bersembunyi di Balik Topeng Superhero: Ketika Orang Dewasa Menyembunyikan Luka Masa Kecil

Seorang Anak yang Bersembunyi di Balik Topeng Superhero: Ketika Orang Dewasa Menyembunyikan Luka Masa Kecil

buku

Doa yang Dipanjatkan Fatimah az-Zahra pada Hari Senin Doa yang Dipanjatkan Fatimah az-Zahra pada Hari Senin

Benarkah Orang Pingsan Tidak Wajib Mengqadha Shalat?

Ibadah

Doa Mendengar Azan KeutamaannyaHari Kamis Doa Mendengar Azan KeutamaannyaHari Kamis

Tiga Doa dalam Al-Qur’an yang Bisa Mendekatkan Jodoh

Ibadah

Empat Syarat Salat untuk Penyucian Jiwa dalam Tafsir QS. Al-Ankabut Ayat 45 Empat Syarat Salat untuk Penyucian Jiwa dalam Tafsir QS. Al-Ankabut Ayat 45

Empat Syarat Salat untuk Penyucian Jiwa dalam Tafsir QS. Al-Ankabut Ayat 45

Kajian

Trending

Nasihat Pernikahan Gus Mus Nasihat Pernikahan Gus Mus

Doa untuk Pengantin Baru

Ibadah

Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah

Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah

Ibadah

Doa Mendengar Azan KeutamaannyaHari Kamis Doa Mendengar Azan KeutamaannyaHari Kamis

Tiga Doa dalam Al-Qur’an yang Bisa Mendekatkan Jodoh

Ibadah

Mengenal Tujuh Macam Kebiasaan Istihadhah

Ibadah

Shafiyah binti Huyay Shafiyah binti Huyay

Asiyah binti Muzahim: Istri Firaun yang Dijamin Masuk Surga Oleh Allah

Muslimah Talk

diperhatikan Memilih pasangan hidup diperhatikan Memilih pasangan hidup

Tafsir Al-Baqarah Ayat 221: Hal yang Harus Diperhatikan saat Memilih Pasangan Hidup

Kajian

lelaki perempuan mata allah lelaki perempuan mata allah

Feminisme Al-Qur’an, Tafsir An-Nahl 97; Lelaki dan Perempuan di Mata Allah

Kajian

keringat perempuan haid najis keringat perempuan haid najis

Benarkah Perempuan Sumber Persoalan Bagi Laki-laki?

Kajian

Connect