Ikuti Kami

Kajian

Empat Syarat Salat untuk Penyucian Jiwa dalam Tafsir QS. Al-Ankabut Ayat 45

Empat Syarat Salat untuk Penyucian Jiwa dalam Tafsir QS. Al-Ankabut Ayat 45

BincangMuslimah.Com – Ketika jiwa terasa kotor, respons yang paling lazim adalah menambah amal seperti memperbanyak dzikir, puasa sunnah, sedekah, atau mengikuti kajian keislaman. Dalam hal ini, tafsir QS. Al-Ankabut ayat 45 telah menjelaskan bahwa salat merupakan rahasia untuk mencegah perbuatan keji dan mungkar. Allah SWT berfirman:

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

“Bacalah Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Terjemahan Kemenag)

Meskipun begitu, jumlah rakaat dalam salat tidak otomatis mengubah perilaku umat Islam. Bahkan dengan tambahan ibadah sunnah, banyak orang tetap rentan terhadap dengki, ghibah, maupun sifat tamak.

Makna “mencegah” menurut para mufasir

Kata tanha (mencegah) menjadi pusat perdebatan tafsir. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa salat mengandung dua hal, yaitu meninggalkan kekejian dan kemungkaran. Artinya, salat yang dijaga dengan baik menjadi benteng yang menahan pelakunya dari dosa.

Sedangkan At-Thabari merekam perbedaan pendapat generasi awal tentang maksud pencegahan ini. Sebagian memahaminya sebagai pencegahan selama seseorang berada di dalam salat, sebagian lain sebagai pengaruh yang berlanjut setelah salat selesai.

Al-Qurthubi menekankan bahwa pengaruh salat bergantung pada kualitasnya. Salat yang dijalankan sesuai haknya membuat pelakunya menjauhi larangan Allah. Sementara Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah memahami ayat ini sebagai gambaran fungsi salat yang benar. Pencegahan hanya mungkin terjadi karena salat dilaksanakan dengan kesadaran dan kekhusyukan baik di dalam salat maupun setelah salat selesai didirikan.

Baca Juga:  Islam Mengecam Perdagangan Perempuan dan Anak

Dari pembacaan terhadap tafsir ayat ini, penulis merumuskan empat syarat yang menentukan keberhasilan salat sebagai jalan penyucian jiwa.

Syarat pertama adalah ketahanan pada godaan berbuat dosa. Untuk itu, setiap individu yang mendirikan salat sudah sebaiknya mampu bertahan dari bisikan hawa nafsu dan dorongan sesaat sebelum sempat berubah menjadi perbuatan.

Syarat kedua adalah kehadiran hati, atau kekhusyukan. Salat semestinya dijalankan sebagai momen kesadaran penuh yang menghadirkan pengawasan Allah secara langsung dalam pikiran pelakunya, sejalan dengan penutup ayat: wallahu ya’lamu ma tashna’un, yang artinya “Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Syarat ketiga adalah kecepatan pemulihan setelah berbuat dosa. Individu yang lambat kembali bertaubat akan cenderung memperlambat seluruh proses penyucian. Sebaliknya, individu yang memiliki mekanisme muhasabah dan istighfar yang cepat memungkinkan seseorang tetap produktif dalam kebaikan meski sesekali melakukan kesalahan.

Syarat keempat adalah keberlanjutan dalam menghasilkan kebaikan. Kondisi bersih yang telah dicapai dapat dipertahankan agar tidak kembali ternoda oleh dosa-dosa kecil yang terus berulang. Hal ini penting karena dosa kecil yang dibiarkan berulang diyakini akan menggerus kualitas kehidupan, mulai dari cara berbisnis, bertutur di media sosial, hingga relasi keluarga.

Tiga Tahapan Penataan Jiwa

Lebih lanjut, untuk memperkuat rumusan penulis, Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin juga merumuskan beberapa hal ke dalam kerangka besar yang disebut mujahadah an-nafs, yaitu perjuangan berjenjang untuk melawan hawa nafsu.

Kerangka ini didasarkan pada tiga tahapan penataan jiwa.

Tahapan pertama adalah mengenali penyakit hati. Sebelum memperbaiki dan menata jiwa, seseorang dituntut untuk mampu mengidentifikasi kecenderungan buruk yang bersemayam dalam dirinya. Tahapan ini menopang syarat pertama, sebab godaan hanya bisa dilawan jika seseorang mengetahui dan mengenali penyakit hati.

Baca Juga:  Jogja Darurat Klitih, Begini Hukumannya dalam Islam

Tahapan kedua adalah melatih kesadaran saat beribadah sehingga amal tidak berjalan sebagai rutinitas kosong. Tahapan ketiga adalah membiasakan evaluasi diri secara rutin. Setiap individu bertanggung jawab langsung atas muhasabahnya sendiri, tanpa menunggu ditegur orang lain terlebih dahulu.

Dengan demikian, salat yang berhasil menyucikan jiwa dapat diukur dari sejauh mana seseorang mampu menahan godaan, menghadirkan hati, dan menjaga keberlanjutan dalam melakukan kebaikan.

Rekomendasi

keringat perempuan haid najis keringat perempuan haid najis

Benarkah Perempuan Sumber Persoalan Bagi Laki-laki?

Mewarisi Dendam atau Memutus Luka Keluarga? Refleksi Novel Makamkan Ibu di Samping Ayah Mewarisi Dendam atau Memutus Luka Keluarga? Refleksi Novel Makamkan Ibu di Samping Ayah

Mewarisi Dendam atau Memutus Luka Keluarga? Refleksi Novel Makamkan Ibu di Samping Ayah

Nama Nabi Sulaiman Didahulukan Nama Nabi Sulaiman Didahulukan

Tafsir Surah An-Naml Ayat 30; Hikmah Nama Nabi Sulaiman Didahulukan daripada Nama Allah

Mengenal Tujuh Macam Kebiasaan Istihadhah

Ditulis oleh

Alumni pascasarjana Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Universitas PTIQ Jakarta dan PKU Masjid Istiqlal, santri Pasca Tahfidz di Bayt Al-Qur'an di bawah naungan Pusat Studi Qur'an (PSQ) angkatan 23.

Komentari

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

keringat perempuan haid najis keringat perempuan haid najis

Benarkah Perempuan Sumber Persoalan Bagi Laki-laki?

Kajian

Mewarisi Dendam atau Memutus Luka Keluarga? Refleksi Novel Makamkan Ibu di Samping Ayah Mewarisi Dendam atau Memutus Luka Keluarga? Refleksi Novel Makamkan Ibu di Samping Ayah

Mewarisi Dendam atau Memutus Luka Keluarga? Refleksi Novel Makamkan Ibu di Samping Ayah

buku

Nama Nabi Sulaiman Didahulukan Nama Nabi Sulaiman Didahulukan

Tafsir Surah An-Naml Ayat 30; Hikmah Nama Nabi Sulaiman Didahulukan daripada Nama Allah

Kajian

Mengenal Tujuh Macam Kebiasaan Istihadhah

Ibadah

Bagaimana Pandangan Maqashid Syariah mengenai Kebakaran Hutan di Kalimantan? Bagaimana Pandangan Maqashid Syariah mengenai Kebakaran Hutan di Kalimantan?

Bagaimana Pandangan Maqashid Syariah mengenai Kebakaran Hutan di Kalimantan?

Muslimah Talk

lelaki perempuan mata allah lelaki perempuan mata allah

Feminisme Al-Qur’an, Tafsir An-Nahl 97; Lelaki dan Perempuan di Mata Allah

Kajian

Nasihat Pernikahan Gus Mus Nasihat Pernikahan Gus Mus

Doa untuk Pengantin Baru

Ibadah

diperhatikan Memilih pasangan hidup diperhatikan Memilih pasangan hidup

Tafsir Al-Baqarah Ayat 221: Hal yang Harus Diperhatikan saat Memilih Pasangan Hidup

Kajian

Trending

Nasihat Pernikahan Gus Mus Nasihat Pernikahan Gus Mus

Doa untuk Pengantin Baru

Ibadah

Surat Al-Ahzab Ayat 33 Surat Al-Ahzab Ayat 33

Tafsir Surat Al-Ahzab Ayat 33; Domestikasi Perempuan, Syariat atau Belenggu Kultural?

Kajian

Mengenal Tujuh Macam Kebiasaan Istihadhah

Ibadah

diperhatikan Memilih pasangan hidup diperhatikan Memilih pasangan hidup

Tafsir Al-Baqarah Ayat 221: Hal yang Harus Diperhatikan saat Memilih Pasangan Hidup

Kajian

air ketuban air ketuban

Benarkah dengan Membaca Surah Yusuf Anak yang Dikandung akan Tampan?

Kajian

lelaki perempuan mata allah lelaki perempuan mata allah

Feminisme Al-Qur’an, Tafsir An-Nahl 97; Lelaki dan Perempuan di Mata Allah

Kajian

keringat perempuan haid najis keringat perempuan haid najis

Benarkah Perempuan Sumber Persoalan Bagi Laki-laki?

Kajian

Nama Nabi Sulaiman Didahulukan Nama Nabi Sulaiman Didahulukan

Tafsir Surah An-Naml Ayat 30; Hikmah Nama Nabi Sulaiman Didahulukan daripada Nama Allah

Kajian

Connect