Ikuti Kami

Khazanah

Kisah Umar bin Abdul Aziz Buktikan Kesalehan Seseorang Menentukan Karakter Keturunan

keistimewaan umat nabi muhammad
Source: gettyimages.com

BincangMuslimah.Com – Umar bin Abdul Aziz merupakan satu dari banyaknya khalifah yang pernah menjadi pemimpin di zaman Dinasti Umayyah. Silsilah keturunannya dari jalur ibu bersambung kepada Amirul Mukminin yang kedua, yaitu Umar bin Khattab. Ia terlahir dari seorang ibu yang bernama Ummu ‘Ashim bin ‘Ashim bin Umar bin Khattab. 

Terdapat cerita menarik dari kisah pernikahan kakek dan nenek Khalifah Umar bin Abdul Aziz, yaitu ‘Ashim dengan istrinya, serta kisah tersebut bisa menjadi pelajaran dan contoh bagi umat Islam dalam pembentukan karakter jiwa dan keturunan. 

Diceritakan pada suatu malam, Umar bin Khattab bersama dengan pembantunya yang bernama Aslam berkeliling untuk mengamati wilayah yang dipimpinnya guna mengetahui kondisi-kondisi para warganya.

Tatkala Amirul Mukminin dan pembantunya telah merasa letih dan lelah, mereka berdua beristirahat tepat di pinggir sebuah rumah. Di tengah istirahatnya, mereka mendengar suara seorang perempuan tua yang dari rumah itu yang memerintahkan anak gadisnya untuk mencampurkan susu yang akan mereka jual dengan air, padahal hal tersebut telah dilarang oleh sang Khalifah. 

Namun sang gadis tak mengindahkan perintah tersebut, dan malah berkata: “Sungguh, Amirul Mukminin telah melarang untuk mencampurkan susu dengan air, bahkan beliau telah mengutus para pegawainya agar memberitahu masyarakat”, mendengar itu, sang perempuan tua itu pun berkata: “Di mana Amirul Mukminin sekarang? Apakah sekarang dia melihat kita?” kontras, sang anak pun menjawabnya perkataan ibunya dengan: “Jika Amirul Mukminin sekarang tidak melihat kita, tapi yang pasti Allah sedang melihat kita. Akankah kita hanya patuh kepada Amirul Mukminin ketika di hadapannya saja lalu akan membangkang ketika di belakangnya?”.

Mendengar jawaban itu, Umar bin Khattab sangat gembira serta merasa takjub dan kagum pada keimanan anak gadis tersebut, karena seperti itulah sikap ihsan yang diajarkan oleh Rasulullah:

Baca Juga:  Mengapa Alquran Tidak Cukup dengan Satu Qirâât?

ان تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك

Artinya: “Engkau menyembah Allah seakan-akan sedang melihat-Nya, sementara jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu” (HR. Muslim).

Saking senangnya dengan jawaban itu, sampai-sampai pada keesokan harinya, beliau menyuruh Aslam agar mencari tahu tentang gadis itu. Ketika gadis itu diketahui belum menikah, maka ketika itu juga beliau mengumpulkan anak-anaknya, lalu menanyakan siapa di antara mereka yang belum menikah. Ketika beliau mengetahui bahwa anaknya yang bernama ‘Ashim belum menikah, anak gadis itupun dilamarkannya untuk menjadi istri ‘Ashim. 

Dari hasil pernikahan inilah, terlahir orang-orang hebat yang mumpuni dalam berbagai bidang keilmuan serta memiliki kebijaksanaan dalam kepemimpinan. Salah satu anak mereka, terlahir seorang anak perempuan yang bernama Ummu ‘Ashim. Setelah dewasa, ia menikah dengan seorang gubernur di masa Bani Umayyah yang terkenal dengan kedermawanannya, yaitu Abdul Aziz bin Marwan. Mereka kemudian melahirkan seorang khalifah Bani Umayyah  yang akan selalu dikenang kejeniusan, kebijaksanaan dan keadilannya, yaitu Umar bin Abdul Aziz.

Umar bin Abdul Aziz juga dikenal dengan pencapaiannya yang membawa masa keemasan pemerintahan Islam. Ia diangkat menjadi khalifah bukan berdasarkan nasab ayah-anak sebagaimana khalifah pendahulu Dinasti Umayyah, melainkan dipilih untuk meneruskan kekhalifahan karena sifat kepemimpinannya. Ia pun dijuluki sebagai Umar II, bukan hanya karena ia cicit dari Umar bin Khattab, melainkan karena sifat dan kebijaksanaannya yang mirip dengan sang kakek.

Dari kisah ini bisa diambil pelajaran bahwa persoalan harta memang sering membuat seseorang bisa melakukan apa saja untuk mendapatkannya, baik itu cara yang layak maupun cara yang sangat tidak layak, baik itu sesuai dengan tuntunan syariat maupun tidak. Betapa banyak manusia mulai dari zaman dahulu sampai sekarang tergelincir hanya karena persoalan harta, seperti memutus silaturahmi antar keluarga bahkan sampai saling menumpahkan darah.

Baca Juga:  Taubatnya Tiga Orang Pelacur

Padahal di dalam Alquran, Allah sudah mewanti-wanti kepada manusia agar jangan terlalu memikirkan persoalan dunia, dengan kata lain jangan sampai menjadikan persoalan dunia menjadi prioritas yang sangat dinomorsatukan. Pada surah al-Hadīd ayat 20 Allah menyebutkan bahwa kehidupan di dunia ini hanyalah tipu daya:

اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ

Artinya: “Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sendagurauan” (Q.S. Al-Hadīd [57]: 20).

Dari kisah ini juga, dapat diketahui bahwa harta yang dicari dengan menggunakan cara yang halal juga menentukan serta menjadi penyebab kebersihan jiwa dan membentuk karakter yang bagus sampai menjalar kepada anak keturunan dan pastinya menjadi penyebab mengalirnya keberkahan dan kesenangan dalam menjalani kehidupan.

Editor: Zahrotun Nafisah

Rekomendasi

Kisah Pertemuan musa khidir Kisah Pertemuan musa khidir

Tafsir al-Kahfi: Kisah Pertemuan Nabi Musa dan Nabi Khidir

ulama memiliki hafalan kuat ulama memiliki hafalan kuat

Mengapa Ulama Terdahulu Memiliki Hafalan yang Kuat?

mariah ulfah anshor perempuan mariah ulfah anshor perempuan

Kiprah Maria Ulfah Anshor untuk Perempuan

al khansa penyair jahiliyyah al khansa penyair jahiliyyah

Nusaibah binti Ka’ab: Sahabat Perempuan yang Turut dalam Peperangan

Ditulis oleh

Mahasantri Ma'had Aly Salafiyah Syafi'iyah Situbondo (Pegiat kajian Qashashul Quran dan Gender)

Komentari

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Mewarisi Dendam atau Memutus Luka Keluarga? Refleksi Novel Makamkan Ibu di Samping Ayah Mewarisi Dendam atau Memutus Luka Keluarga? Refleksi Novel Makamkan Ibu di Samping Ayah

Mewarisi Dendam atau Memutus Luka Keluarga? Refleksi Novel Makamkan Ibu di Samping Ayah

buku

Nama Nabi Sulaiman Didahulukan Nama Nabi Sulaiman Didahulukan

Tafsir Surah An-Naml Ayat 30; Hikmah Nama Nabi Sulaiman Didahulukan daripada Nama Allah

Kajian

Mengenal Tujuh Macam Kebiasaan Istihadhah

Ibadah

Bagaimana Pandangan Maqashid Syariah mengenai Kebakaran Hutan di Kalimantan? Bagaimana Pandangan Maqashid Syariah mengenai Kebakaran Hutan di Kalimantan?

Bagaimana Pandangan Maqashid Syariah mengenai Kebakaran Hutan di Kalimantan?

Muslimah Talk

lelaki perempuan mata allah lelaki perempuan mata allah

Feminisme Al-Qur’an, Tafsir An-Nahl 97; Lelaki dan Perempuan di Mata Allah

Kajian

Nasihat Pernikahan Gus Mus Nasihat Pernikahan Gus Mus

Doa untuk Pengantin Baru

Ibadah

diperhatikan Memilih pasangan hidup diperhatikan Memilih pasangan hidup

Tafsir Al-Baqarah Ayat 221: Hal yang Harus Diperhatikan saat Memilih Pasangan Hidup

Kajian

Mu'asyarah bil Ma'ruf dalam Pernikahan, Bagaimana Idealnya? Mu'asyarah bil Ma'ruf dalam Pernikahan, Bagaimana Idealnya?

Mu’asyarah bil Ma’ruf dalam Pernikahan, Bagaimana Idealnya?

Keluarga

Trending

Nasihat Pernikahan Gus Mus Nasihat Pernikahan Gus Mus

Doa untuk Pengantin Baru

Ibadah

Surat Al-Ahzab Ayat 33 Surat Al-Ahzab Ayat 33

Tafsir Surat Al-Ahzab Ayat 33; Domestikasi Perempuan, Syariat atau Belenggu Kultural?

Kajian

Mengenal Tujuh Macam Kebiasaan Istihadhah

Ibadah

diperhatikan Memilih pasangan hidup diperhatikan Memilih pasangan hidup

Tafsir Al-Baqarah Ayat 221: Hal yang Harus Diperhatikan saat Memilih Pasangan Hidup

Kajian

Tata Cara Shalat Perempuan Tata Cara Shalat Perempuan

Tata Cara Shalat Perempuan Istihadhah

Ibadah

air ketuban air ketuban

Benarkah dengan Membaca Surah Yusuf Anak yang Dikandung akan Tampan?

Kajian

kehidupan muhammad sebelum nabi kehidupan muhammad sebelum nabi

Kenapa Sahabat Nabi Tidak Merayakan Maulid?

Khazanah

lelaki perempuan mata allah lelaki perempuan mata allah

Feminisme Al-Qur’an, Tafsir An-Nahl 97; Lelaki dan Perempuan di Mata Allah

Kajian

Connect