BincangMuslimah.Com – Pemberitaan akhir-akhir ini membuat hati ngilu saat membacanya. Belum reda luka kita karena kasus kekerasan yang dialami puluhan anak di Daycare Yogyakarta, muncul satu kasus lagi yang cukup mengguncang jiwa.
Kali ini, mata tertuju ke daerah Pati Jawa Tengah. Kasus pelecehan seksual yang lumayan besar terungkap di Pondok Pesantren di daerah sana. Setidaknya ada 50 santriwati diduga menjadi korban pencabulan oleh pengasuhnya. Meskipun telah dilaporkan sejak 2024, tersangka baru ditetapkan pada akhir April 2026.
Kasus pelecehan seksual di dunia pendidikan nyatanya tidak sekali dua kali terjadi. Tidak begitu lama sebelum kasus ini mencuat, sudah ada kasus pelecehan seksual yang juga terjadi di salah satu kampus ternama, di Indonesia.
Dalam Catatan Tahunan (CATAHU), pengaduan kasus kekerasan seksual di ranah pendidikan sepanjang tahun 2020-2024 terdapat 97 kasus. Kekerasan seksual di perguruan tinggi menempati urutan pertama yaitu 42 kasus (43 persen).
Diikuti pesantren atau pendidikan berbasis agama Islam menempati urutan kedua sebanyak 17 kasus (17,52 persen) dan sekolah menengah (SMA/SMK) sebanyak 16 kasus (16,49 persen). Dalam lporan serupa, sekitar 83,62 persen dari kasus kekerasan berbasis gender di pendidikan adalah kekerasan seksual (termasuk perkosaan, pencabulan, pelecehan).
Laporan ini juga menangkap jika pelaku kekerasan seksual di lingkungan pendidikan di antaranya adalah guru, dosen, atau ustad/figur pengajar. Bahkan pengasuh yang memiliki otoritas atau hubungan sangat dipercaya korban.
Sayangnya, kasus yang dihimpun oleh Komnas Perempuan masih belum menyentuh secara keseluruhan. Lagi-lagi, kasus kekerasan seksual masih bersifat ‘fenomena gunung es’. Maknanya, masih sedikit kasus yang tersingkap. Sebagian besar masih belum terungkap atau berada di bawah permukaan.
Banyak Penyebab, Namun Tidak Hadirnya Ayah dalam Pengasuhan Jadi Salah Satu Faktor
Ada banyak penyebab yang butuh waktu panjang untuk mengurai kenapa kasus kekerasan seksual masih jadi momok bagi anak. Bahkan terjadi di ranah pendidikan yang seharusnya menjadi ruang aman bagi anak. Namun, ada satu benang merah yang bisa ditarik menjadi faktor meningkatkanya risiko anak menjadi korban.
Ketidakhadiran ayah dalam pengasuhan atau fatherless ternyata secara signifikan dapat meningkatkan rentannya anak menjadi korban. Fatherless menunjukkan pada keadaan adanya sosok ayah dalam keluarga secara fisik. Namun minim terlibat secara emosional.
Hal ini diamini oleh aktivis dari Yayasan KAKAK, Indah Rasiti SH. Yayasan ini diketahui memang salah satunya berfokus pada perlindungan dan pendampingan anak dari kekerasan seksual. Dilansir dari live Podcast yang tayang di kanal Youtube Tribun Health, berdasarkan pengalaman, pihaknya melihat sebagian korban berasal dari keluarga yang kehilangan sosok ayah. Baik secara fisik dan emosional.
Salah satu statement yang cukup menggetarkan adalah Indah mengungkapkan jika kebanyakan keluarga memang punya ayah di rumah. Tapi ‘jiwa’ sang ayah tidak pernah ada di dalam rumah. Bukan sekadar teori, Indah mengatakan jika kondisi ini terjadi pada 10 persen kasus yang mereka dampingi.
Mencari validasi di luar rumah
Tidak hadirnya ayah dalam pengasuhan mendorong anak mencari validasi di luar rumah. Sayangnya, tidak jarang validasi ini ditemukan pada ‘manusia-manusia’ yang tidak bertanggungjawab, berniat buruk dan mencelakakan.
Kesibukkan ayah dalam mencari nafkah kerap menjadi alasan kenapa tidak hadir dalam pengasuhan. Padahal perhatian kecil seperti mendengarkan, menerima perasaan dan pikiran anak bisa memberikan kedekatan secara emosional. Dan hal ini menjadi modal utama membentengi anak dari predator seksual di luar sana.
Hadir secara emosional bisa dimulai dengan meluangkan waktu bermain dengan anak. Luangkan waktu setidaknya 15-20 menit tanpa gawai, sekadar mengobrol santai. Bukan dalam bentuk omelan atau nasehat. Ciptakan suasana aman saat anak bercerita. Sesederhana mendengarkan terlebih dahulu tanpa menghakimi, dan memvalidasi perasaan sang anak.
Sesekali, ayah bisa saja melemparkan pujian kecil, pada peristiwa kecil pula. Tidak harus menunggu anak melakukan pencapaian besar untuk melemparkan pujian. Tindakan ini bisa mencegah anak ‘ haus akan afirmasi atau kata-kata pujian’ yang bisa berakhir pada orang luar.
Karena mendambakan pujian, pengakuan dan kasih sayang, anak mudah mengabaikan ‘red flags’. Sampai-sampai tidak menyadari jika pujian dan afirmasi ini menyimpan niat terselubung atau manipulatif. Tidak jarang predator menggunakan Teknik love bombing yang tidak pernah didapatkan oleh sang ayah. Sehingga anak merasa punya hutang budi dan sulit berkata ‘tidak’ pada predator seksual.
Oleh karena itu, orang tua khususnya ayah wajib mengisi ‘tangki kasih sayang’ di rumah. Jangan lupa berikan edukasi soal batasan tubuh pada anak. Ajarkan juga bahwa kasih sayang tidak pernah menuntut apa pun, terutama aktivitas seksual. Kenalkan bahwa nilai diri mereka tidak bergantung pada perhatian orang lain atau penampilan fisik.
