Ikuti Kami

Kajian

Dua Alasan Kenapa Jangan Mempertahankan Fenomena ‘Laki-Laki Tidak Bercerita’

Dua Alasan Kenapa Jangan Mempertahankan Fenomena ‘Laki-Laki Tidak Bercerita’
www.freepik.com

BincangMuslimah.Com- Belakangan ramai berseliweran kata-kata ‘laki-laki tidak bercerita’ di konten media sosial.  Biasanya kata itu disematkan bersamaan dengan kalimat kelakar seperti ‘laki-laki tidak bercerita’ tapi tiba-tiba bengong di depan rumah. Atau ‘laki-laki tidak bercerita’ tapi tiba-tiba naik motor dan muter-muter jalan tanpa tujuan, dan masih banyak lagi.

Fenomena ini, walau sering menerbitkan gelak tawa, sejujurnya agak sedikit mengganggu. Walau mungkin tujuannya adalah canda atau melempar kerunyaman duniawi, ada potensi bahaya yang mungkin tidak disadari. Sebelum membahas apa bahaya itu, kemunculan tren ini dapat menjadi penanda bagi masyarakat.

Bahwa kemajuan teknologi, ternyata tidak seiring dengan matangnya pemahaman masyarakat soal kesehatan mental. Di sisi lain, stigma yang membelenggu perempuan dan laki-laki pun tidak turut luruh seiring dengan banyaknya informasi yang bertebaran di luar sana. Setidaknya dua hal ini yang menjadi sorotan utama dari tren ‘laki-laki tidak bercerita ini’.

Kesehatan Mental

Mari membahas dari sisi kesehatan mental lebih dahulu. Kita ambil satu contoh gangguan kesehatan mental, depresi misalnya. Tiada penyelesaian dan pertolongan, depresi bisa berujung dengan mengakhiri nyawa sendiri. Umumnya, orang yang depresi tidak pernah menunjukkan tanda-tanda yang berarti. Bahkan mereka yang melakukan aksi bunuh diri, mungkin sebelumnya tampak terlihat baik-baik saja.

Orang-orang di sekitar mereka umumnya akan mengeluarkan kalimat ‘padahal dia kelihatan baik-baik saja’ atau ‘anaknya ceria dan terlihat tidak punya masalah berat.’ Kesimpulan yang bisa diambil adalah, korban umumnya tidak bercerita, memendam segalanya sendirian. Sampai-sampai masalah tersebut menutup mata dan hati, hingga tidak lagi terlihat adanya ‘cahaya.’

Bercerita, ternyata punya peran penting memulihkan kondisi mental yang tidak baik-baik saja. Bukan tanpa sebab kenapa manusia dijuluki sebagai makhluk sosial. Bersosialisasi, berinteraksi adalah aktivitas yang tidak dapat dilepaskan dari kita.

Baca Juga:  Menjaga Kesehatan Mental Perspektif Alquran dan Hadis

Dampak Bercerita bagi Kesehatan Mental

Dilansir dari website Universitas Airlangga (UNAIR), Pakar Psikolog UNAIR, Atika Dian Ariana M Sc M Psi menjelaskan seberapa saktinya kekuatan dari bercerita ini. Bercerita, adalah salah satu upaya seseorang untuk mengurai masalah. Masalah yang dipendam sedemikian rupa dapat menumpuk, membuat pikiran jenuh dan berujung stres.

Ketika seseorang membiarkan rasa stres bertahan di dalam diri, maka daya tahan tubuh dan kesehatan mental ikut menurun. Secara fisik, kesehatan bisa menurun dengan berbagai gejala yang muncul. Dari psikis, mereka yang stres dan menahan diri untuk bercerita bakal sulit berkonsentrasi, sensitivitas meningkat dan merasa kesepian. Lambat laun, gangguan kesehatan mental seperti depresi dan sebagainya tidak dapat terelakkan.

Lebih lanjut, Atika pun menjelaskan dampak baik dari bercerita, salah satunya dapat membuka perspektif baru. Dengan bercerita, kita bisa mendapatkan output dari orang lain. Perspektif dari luar terkadang bisa menjadi jawaban dari masalah yang dihadapi. Karena terkadang saat stres, seseorang sulit berpikir secara objektif sehingga sulit mendapatkan solusi dari segala permasalahannya.

Namun, alih-alih menceritakan masalah di media sosial, sangat dianjurkan untuk memilih teman bercerita yang tepat. Ada beberapa hal yang perlu jadi pertimbangan ketika ingin bercerita. Karena tidak semua orang mampu menjadi ‘pendengar yang baik’ dan objektif.

Ada beberapa pertimbangan seperti rasa aman dan nyaman saat bercerita. Merasa orang tersebut mampu menjaga kerahasiaan, bersikap objektif dan tidak bersifat menghakimi. Jika merasa belum mendapatkan orang yang tepat untuk bercerita, maka dengan kecanggihan teknologi, kita bisa mengakses layanan kesehatan mental yang tersedia.

Stigma: Toxic Masculinity

Toxic masculinity memang telah menjadi masalah yang berlarut-larut sejak dahulu kala. Pengertian secara umum, toxic masculinity adalah budaya atau aturan yang mengatur sekaligus menekan bagaimana standar seorang laki-laki bersikap.

Baca Juga:  Daily Dose of Sunshine: Gangguan Kesehatan Mental Bukan Aib

Dalam toxic masculinity ini, ada beberapa hal yang ‘pantang’ seorang laki-laki lakukan untuk menunjukkan seberapa maskulin diri. Seperti laki-laki pantang untuk mengekspresikan emosi, seperti menangis, sedih, atau pun tengah berduka. Selain itu ia harus menunjukkan kekuatan, kekuasaan dan dapat mendominasi perempuan.

Jika tidak menjalankan beberapa standar di atas, maka akan ada label ‘laki-laki lemah’ yang mereka dapatkan. Mereka yang menunjukkan sisi lemah, kesedihan, kekhawatiran akan mendapat anggapan bukan laki-laki sejati. Tidak hanya menyusahkan perempuan, pandangan patriarki turut melanggengkan stigma toxic masculinity ini.

Padahal, sama halnya dengan perempuan, laki-laki juga manusia biasa yang memiliki emosi. Ketika terus-menerus menahan emosi ini dan tidak mengekpresikannya, maka ada potensi hal yang tidak baik bakal terjadi.

Mengutip dari laman Psychology Today, konsekuensi dari penerapan toxic masculinity adalah tingkat sensitivitas emosi laki-laki menjadi tumpul. Mereka menjadi sulit terhubung dengan orang lain. Dalam beberapa kasus, ada yang bahkan sulit membangun hubungan baik dengan pasangan.

Dampak Tidak Bercerita

Ketumpulan emosi juga membuat laki-laki memiliki manajemen emosi yang buruk. Sehingga tidak jarang mungkin sering kita tengok dalam pemberitaan, seorang laki-laki yang tega melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) hingga menghabisi nyawa istri, atau keluarganya.

Tidak hanya berbahaya bagi orang lain, toxic masculinity ini juga dapat membahayakan laki-laki itu sendiri. Dengan tidak bercerita, banyak masalah yang terpendam dan tidak jarang sulit mendapatkan penyelesaian. Masalah yang menumpuk lambat laun dapat memicu stres. Stres yang tidak terkendali dapat berakhir dengan depresi. Tidak sedikit depresi memantik seseorang untuk punya pikiran ‘mengakhiri hidup’.

Dua poin di atas, yaitu kesehatan mental dan stigma, sesungguhnya sudah dapat menjadi poin kuat untuk menghentikan fenomena laki-laki tidak bercerita. Dengan bercerita, tidak membuat seseorang menjadi lemah, melainkan bisa menyelamatkan diri dan orang lain.

Baca Juga:  Machiavellianisme dalam Romansa: Ketika Kesehatan Mental Jadi Korban

Tidak hanya kepada orang terdekat dan psikolog, Islam pun juga mengajak umatnya untuk bercerita,  ‘curhat’ dan menyampaikan ‘keluh kesah’ pada Allah SWT.  Banyak jalan yang bisa dilalui saat ingin bercerita dengan sang pencipta, seperti lewat doa, zikir dan salat.

 

Link:

https://unair.ac.id/pakar-unair-curhat-menjadi-obat-bagi-kesehatan-mental/

https://www.psychologytoday.com/us/blog/talking-sex-and-relationships/202103/what-is-toxic-masculinity

 

Rekomendasi

Membangun Generasi Tangguh: Prof. Maila Dinia Husni Rahiem Bicara tentang Resiliensi dan Growth Mindset Membangun Generasi Tangguh: Prof. Maila Dinia Husni Rahiem Bicara tentang Resiliensi dan Growth Mindset

Bicara Pola Pikir Berkembang Bersama Prof. Maila Dinia Husni Rahiem

Mengenali Dampak Kekerasan dan Upaya Membersamai Korban Mengenali Dampak Kekerasan dan Upaya Membersamai Korban

Machiavellianisme dalam Romansa: Ketika Kesehatan Mental Jadi Korban

Pentingnya Perhatian Kepada Ibu Pasca Melahirkan Pentingnya Perhatian Kepada Ibu Pasca Melahirkan

Pentingnya Perhatian Kepada Ibu Pasca Melahirkan

Lima Karakter Sayyidah Maryam dalam Al-Quran Lima Karakter Sayyidah Maryam dalam Al-Quran

Surah al-Ra’du Ayat 28: Menjaga kesehatan Mental dengan Berzikir

Ditulis oleh

Melayu udik yang berniat jadi abadi. Pernah berkuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, jurusan Jurnalistik (2014), aktif di LPM Institut (2017), dan Reporter Watchdoc (2019). Baca juga karya Aisyah lainnya di Wattpad @Desstre dan Blog pribadi https://tulisanaisyahnursyamsi.blogspot.com

1 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Beberapa Kesunahan 10 Muharram Beberapa Kesunahan 10 Muharram

Tiga Hal yang Harus Diperhatikan Perempuan Haid

Ibadah

Green Islam Sebagai Gerakan Melawan Krisis Iklim Green Islam Sebagai Gerakan Melawan Krisis Iklim

Green Islam Sebagai Gerakan Melawan Krisis Iklim

Muslimah Talk

Shafiyah binti Huyay Shafiyah binti Huyay

Asiyah binti Muzahim: Istri Firaun yang Dijamin Masuk Surga Oleh Allah

Muslimah Talk

Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah

Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah

Ibadah

Seorang Anak yang Bersembunyi di Balik Topeng Superhero: Ketika Orang Dewasa Menyembunyikan Luka Masa Kecil Seorang Anak yang Bersembunyi di Balik Topeng Superhero: Ketika Orang Dewasa Menyembunyikan Luka Masa Kecil

Seorang Anak yang Bersembunyi di Balik Topeng Superhero: Ketika Orang Dewasa Menyembunyikan Luka Masa Kecil

buku

Doa yang Dipanjatkan Fatimah az-Zahra pada Hari Senin Doa yang Dipanjatkan Fatimah az-Zahra pada Hari Senin

Benarkah Orang Pingsan Tidak Wajib Mengqadha Shalat?

Ibadah

Doa Mendengar Azan KeutamaannyaHari Kamis Doa Mendengar Azan KeutamaannyaHari Kamis

Tiga Doa dalam Al-Qur’an yang Bisa Mendekatkan Jodoh

Ibadah

Empat Syarat Salat untuk Penyucian Jiwa dalam Tafsir QS. Al-Ankabut Ayat 45 Empat Syarat Salat untuk Penyucian Jiwa dalam Tafsir QS. Al-Ankabut Ayat 45

Empat Syarat Salat untuk Penyucian Jiwa dalam Tafsir QS. Al-Ankabut Ayat 45

Kajian

Trending

Nasihat Pernikahan Gus Mus Nasihat Pernikahan Gus Mus

Doa untuk Pengantin Baru

Ibadah

Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah

Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah

Ibadah

Doa Mendengar Azan KeutamaannyaHari Kamis Doa Mendengar Azan KeutamaannyaHari Kamis

Tiga Doa dalam Al-Qur’an yang Bisa Mendekatkan Jodoh

Ibadah

Mengenal Tujuh Macam Kebiasaan Istihadhah

Ibadah

Shafiyah binti Huyay Shafiyah binti Huyay

Asiyah binti Muzahim: Istri Firaun yang Dijamin Masuk Surga Oleh Allah

Muslimah Talk

diperhatikan Memilih pasangan hidup diperhatikan Memilih pasangan hidup

Tafsir Al-Baqarah Ayat 221: Hal yang Harus Diperhatikan saat Memilih Pasangan Hidup

Kajian

lelaki perempuan mata allah lelaki perempuan mata allah

Feminisme Al-Qur’an, Tafsir An-Nahl 97; Lelaki dan Perempuan di Mata Allah

Kajian

keringat perempuan haid najis keringat perempuan haid najis

Benarkah Perempuan Sumber Persoalan Bagi Laki-laki?

Kajian

Connect