Ikuti Kami

Kajian

Apa Hukum Makanan Yang Dicampur Dengan Rum Saat Proses Pengelolahan?

Apa Hukum Makanan Yang
Apa Hukum Makanan Yang

BincangMuslimah.Com – Metode memasak di beberapa restoran, terutama restoran yang menyajikan makanan dari negara-negara barat biasanya ditambahi dengan rum atau wine. Rum atau wine itu sendiri merupakan minuman beralkohol hasil fermentasi. Adapun rum minuman beralkohol hasil fermentasi anggur atau buah-buahan lainnya, dan wine hasil fermentasi tebu. Dalam kacamata syariat Islam, bagaimana merespon ini? Apa hukum makanan yang dicampur dengan rum? Apakah mutlak haram atau ada hukum lainnya?

Mulanya, khamr diharamkan oleh Allah termaktub dalam surat al-Maidah ayat 90 setelah melalui proses imbauan untuk menjauhi khamr yang termaktub pada surat al-Baqoroh ayat 219:

يَسۡ‍َٔلُونَكَ عَنِ ٱلۡخَمۡرِ وَٱلۡمَيۡسِرِۖ قُلۡ فِيهِمَآ إِثۡمٞ كَبِيرٞ وَمَنَٰفِعُ لِلنَّاسِ وَإِثۡمُهُمَآ أَكۡبَرُ مِن نَّفۡعِهِمَاۗ وَيَسۡ‍َٔلُونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَۖ قُلِ ٱلۡعَفۡوَۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلۡأٓيَٰتِ لَعَلَّكُمۡ تَتَفَكَّرُون

Artinya: Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan”. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir.

Lalu Allah menurunkan surat al-Maidah ayat 90 dan 91 yang telah memutuskan akan keharaman khamr dan perintah menjauhinya:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّمَا ٱلۡخَمۡرُ وَٱلۡمَيۡسِرُ وَٱلۡأَنصَابُ وَٱلۡأَزۡلَٰمُ رِجۡسٞ مِّنۡ عَمَلِ ٱلشَّيۡطَٰنِ فَٱجۡتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ٩٠ إِنَّمَا يُرِيدُ ٱلشَّيۡطَٰنُ أَن يُوقِعَ بَيۡنَكُمُ ٱلۡعَدَٰوَةَ وَٱلۡبَغۡضَآءَ فِي ٱلۡخَمۡرِ وَٱلۡمَيۡسِرِ وَيَصُدَّكُمۡ عَن ذِكۡرِ ٱللَّهِ وَعَنِ ٱلصَّلَوٰةِۖ فَهَلۡ أَنتُم مُّنتَهُونَ ٩١

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan (90) Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu) (91)

Lalu Allah juga memerintahkan hambaNya untuk mengkonsumsi makanan dan minumam yang baik serta halal, perintah itu termaktub dalam beberapa ayat salah satunya pada surat al-Baqoroh ayat 168:

Baca Juga:  Hukum Melaksanakan Akikah Lebih dari Tujuh Hari Menurut Para Imam Mazhab

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ كُلُواْ مِمَّا فِي ٱلۡأَرۡضِ حَلَٰلٗا طَيِّبٗا وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٌ ١٦٨

Artinya: Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.

Untuk mengetahui perihal hukum makanan yang dicampur dengan rum atau wine kita perlu mengetahui beberapa hal. Dalam hal ini, apakah definisi dari khamr?  Apakah wine

Imam at-Thabari dalam tafsir Jami’ al-Bayan fi Ta`wil al-Qur`an mendefinisikan khamr dari surat al-Baqoroh ayat 219:

و”الخمر” كل شراب خمَّر العقل فستره وغطى عليه

Khamr adalah semua minuman hasil fermentasi yang mampu menghilangkan kesadaran akal atau memabukkan.

Apakah makanan yang dimasak dengan campuran wine atau rum itu memabukkan? Apa batasan keharaman wine dan rum itu dalam masakan?

Terdapat hadis yang membicarakan standar keharaman khamr. Hadis ini riwayat dari sahabat Jabir:

 وَعَنْ جَابِرٍ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: مَا أَسْكَرَ كَثِيرُهُ، فَقَلِيلُهُ حَرَامٌ. أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ، وَالْأَرْبَعَةُ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّان

Dari sahabat Jabir R.A bahwa Rasulullah Saw bersabda: sesuatu yang memabukkan dalam jumlah banyak, maka sedikitnya (jika dikonsumsi) adalah haram. (HR. Ahmad, Imam Nasai, Tirmizi, Ibnu Majah, dan Abu Daud. Hadis ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

Kalau merujuk pada hadis ini, kita sudah bisa menebak hukum dari pencampuran wine atau rum pada proses memasak makanan. Kita perlu tahu apa tujuan mencampurkan wine atau rum dan bagaimana prosesnya. Sedangkan kandungan alkohol pada wine dan rum mecapai 40-60 persen.

Tujuan dari pencampuran wine atau rum pada masakan ataupun kue adalah untuk menguatkan rasa dan aroma pada makanan. Makanan tidak menjadi memabukkan apabila dicampur dengan wine atau rum atau sejenisnya. Akan tetapi melihat hadis dari Nabi tentang standar keharaman khamr, baik itu sedikit maupun banyak tetap haram kita bisa mengetahui bahwa pencampuran wine dan sejenisnya pada makanan adalah haram.

Baca Juga:  Perumusan Fatwa Berbasis Moderasi Beragama Oleh MUI

Jika menilik fatwa MUI no. 10 tahun 2018, hukum makanan yang ditambahkan khamr adalah haram. Sekalipun dalam proses memasaknya, kandungan alkoholnya berkurang karena menguap namun untuk menghilangkan persentase alkohol tersebut butuh waktu yang sangat lama. Sedangkan tidak mungkin proses memasak yang ducampur alkohol akan berlangsung dalam waktu yang lama.

Demikian penjelasan mengenai hukum makanan dimasak dengan rum, wine atau sejenisnya yang merupakan hasil fermentasi dan mengandung persentase alkohol yang cukup tinggi. Trend pencampuran makanan ini adalah penyajian makanan untuk masakan-masakan barat. Sebagai muslim yang mengikuti perkembangan jaman, kita tentu perlu bijaksana dan berhati-hati dalam setiap hal yang kita hadapi, baik itu yang dikenakan ataupun yang dikonsumsi. Wallahu a’lam bisshowab.

Rekomendasi

Sopir Angkot Ongkos PSK Sopir Angkot Ongkos PSK

Penjelasan Gus Baha tentang Hukum Sopir Angkot Terima Ongkos dari PSK

Meminum Alkohol Menghangatkan Badan Meminum Alkohol Menghangatkan Badan

Hukum Meminum Alkohol untuk Menghangatkan Badan

Hukum mengkonsumsi ulat sagu Hukum mengkonsumsi ulat sagu

Hukum Mengonsumsi Ulat Sagu

Hewan Laut Halal Dimakan Hewan Laut Halal Dimakan

Apakah Semua Hewan Laut Halal Dimakan?

Ditulis oleh

Sarjana Studi Islam dan Redaktur Bincang Muslimah

Komentari

Komentari

Terbaru

Umrah dan Waktu Pelaksanaannya Umrah dan Waktu Pelaksanaannya

Pengertian Umrah dan Waktu Pelaksanaannya

Ibadah

Rohana Kudus: Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia

Muslimah Talk

Adab Menerima Hadiah Imam Ghazali Adab Menerima Hadiah Imam Ghazali

Adab Menerima Hadiah Menurut Imam Ghazali

Kajian

Perempuan haid membaca tahlil Perempuan haid membaca tahlil

Hukum Perempuan Haid Membaca Tahlil

Kajian

Pengertian air musta'mal Pengertian air musta'mal

Pengertian Air Musta’mal dan Hukumnya untuk Bersuci

Kajian

Biografi Ning Amiroh Alauddin Biografi Ning Amiroh Alauddin

Biografi Ning Amiroh Alauddin; Pendakwah Fikih Perempuan Melalui Media Sosial

Muslimah Talk

Hukum Perempuan Membaca Tahlil Hukum Perempuan Membaca Tahlil

Bagaimana Hukum Perempuan Membaca Tahlil?

Kajian

Nikah tanpa wali Nikah tanpa wali

Apa Konsekuensinya Jika Nikah Tanpa Wali?

Kajian

Trending

Doa keguguran Doa keguguran

Kehilangan Buah Hati Akibat Keguguran, Baca Doa yang Diajarkan Rasulullah Ini

Ibadah

masa iddah hadis keutamaan menikah masa iddah hadis keutamaan menikah

10 Hadis Tentang Keutamaan Menikah

Kajian

Tujuh Keutamaan Membaca Shalawat Tujuh Keutamaan Membaca Shalawat

Doa agar Terhindar dari Prasangka Buruk pada Allah

Ibadah

Mengenal Rufaidah al-Aslamiyah: Perawat Perempuan Pertama dalam Sejarah Islam

Muslimah Talk

Mandi junub dan haid Mandi junub dan haid

Empat Hal yang Perlu Diperhatikan Ketika Mandi Wajib

Ibadah

Resensi Buku Pernah Tenggelam Resensi Buku Pernah Tenggelam

Resensi Buku Pernah Tenggelam: Halu Berlebihan Menenggelamkan Keimanan?

Diari

Shafiyah binti Huyay Teungku Fakinah Shafiyah binti Huyay Teungku Fakinah

Kisah Bulan Madu Rasul dengan Shafiyah binti Huyay

Muslimah Talk

muslimah mencukur habis rambutnya muslimah mencukur habis rambutnya

Bolehkah Muslimah Mencukur Habis Rambutnya?

Kajian

Connect