Ikuti Kami

Kajian

Ancaman Bagi Orang yang Enggan Membayar Utang

Enggan Membayar Utang
gettyimages.com

BincangMuslimah.Com – Utang-piutang adalah salah satu bentuk muamalah yang diperbolehkan bahkan disunnahkan oleh syariat. Karena di dalam kegiatan ini terdapat unsur saling tolong-menolong dan mengurangi kesulitan orang yang membutuhkan. 

Dalam literatur fikih, utang piutang disebut sebagai qardh. Qardh adalah memberikan utang kepada orang lain yang kemudian harus dilunasi pada saat jatuh tempo. Namun, beberapa kondisi menyebabkan pengutang tidak bisa melunasinya. Baik karena tidak mampu membayar atau bahkan enggan membayar utang dengan sengaja. 

Utang Wajib Dibayar

Utang adalah tanggungan yang wajib dibayar. Bahkan, jika orang yang berutang meninggal dunia sebelum melunasi utangnya, ahli warislah wajib melunasi utang tersebut. Pelunasan ini  bisa diambil dari harta warisan atau harta ahli waris sendiri jika harta yang ditinggalkan tidak cukup untuk melunasi. 

Ketika utang tersebut tidak dilunasi, akan ada konsekuensi yang harus ditanggung oleh orang yang berutang. Namun, alasan orang tidak membayar utang berbeda. Itu juga akan memengaruhi konsekuensi yang akan diterima.

Untuk orang yang benar-benar tidak mampu membayar utang, ia akan mendapatkan keringanan untuk memperpanjang waktu pembayaran. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam Q.S. Al-Baqarah:[2]: 280,

وَاِنْ كَانَ ذُوْ عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ اِلٰى مَيْسَرَةٍ ۗ وَاَنْ تَصَدَّقُوْا خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

Artinya: “Jika dia (orang yang berutang itu) dalam kesulitan, berilah tenggang waktu sampai dia memperoleh kelapangan. Kamu bersedekah (membebaskan utang itu) lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

Ayat ini sejatinya ditujukan kepada orang yang memberikan utang agar memberikan tenggang waktu ketika orang yang berutang tidak mampu melunasi utangnya. Anjuran semacam ini juga membuat orang yang berutang pun mendapat hikmah dari ayat tersebut. 

Baca Juga:  Apa Makna Istri Harus Taat pada Suami? Simak Penjelasan Grand Syekh Al-Azhar

Mengapa demikian? Ketika orang yang berutang belum mampu membayar utangnya, pemberi utang dianjurkan untuk menambah tenggang waktu pelunasan. Kemudian, jika ia membaskan utangnya maka hal tersebut akan dianggap sebagai sedekah.

Ancaman Enggan Membayar Utang

Perlu dibedakan antara orang yang tidak mampu membayar utang dan enggan membayar utang. Orang yang enggan membayar utang akan mendapatkan ancaman atas keteledorannya mengabaikan hak orang lain. 

Pertama, jiwa (ruhnya) masih ditangguhkan. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud di dalam kitab Musnad Abi Dawud juz 4, halaman 143, nomor 2512,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ‌نَفْسُ ‌الْمُؤْمِنِ ‌مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ

Artinya: “Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, jiwa (ruh) orang mukmin digantung sebab utangnya hingga utang tersebut dilunasi.”

Hadis ini menunjukkan bahwa amal ibadah seseorang belum bisa diproses dan masih ditangguhkan hingga urusan utang piutangnya selesai. Karena utang piutang adalah urusan antar manusia yang harus diselesaikan dengan dilunasi kepada manusia.

Kedua, amal kebaikannya akan menjadi kompensasi dari utang yang belum dilunasi. Sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Ibn Majjah di dalam kitab Sunan Ibn Majjah, juz 2, halaman 807, no. 2414,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ‌مَنْ ‌مَاتَ ‌وَعَلَيْهِ ‌دِينَارٌ أَوْ دِرْهَمٌ قُضِيَ مِنْ حَسَنَاتِهِ، لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ

Artinya: Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa yang meninggal sedangkan ia masih memiliki tanggungan dinar atau dirham maka akan dilunasi menggunakan amal kebaikannya, (karena) di sana tidak ada dinar dan tidak pula dirham.”

Dari hadis tersebut disebutkan, ketika seseorang belum melunasi utangnya maka di akhirat kelak amal kebaikannya lah yang akan diberikan kepada orang yang memberikan utang. Ini sebagai bentuk pelunasan utangnya semasa di dunia.

Baca Juga:  Kawin Paksa Menurut Agama dan Hukum

Ketiga, pada hari kiamat dianggap sebagai pencuri saat menghadap Allah. Sebagaimana yang disebutkan oleh Abu al-Fada’ al-Bashri di dalam kitab Jami’ ak-Masanid wa al-Sunan al-Hadi juz 4, halaman 324, no. 5362,

عَنِ النَّبِىِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: ‌أَيُّمَا ‌رَجلٍ ‌يَدِينُ دَيْنًا وهُو يُجْمِعُ أَنْ لَا يُوَفِّيَهُ لَقِى الله سَارِقًا

Artinya: Dari Nabi saw, barang siapa yang berutang sedangkan ia berniat untuk tidak melunasi utang tersebut, maka ia akan menghadap Allah dalam keadaan sebagai pencuri.”

Demikianlah beberapa ancaman bagi orang-orang enggan membayar utang. Oleh karena itu, sudah seharusnya sebagai orang yang berutang untuk melunasi apa yang menjadi hak orang lain agar nantinya tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang zalim.

Rekomendasi

Ditulis oleh

Alumnus Ponpes As'ad Jambi dan Mahad Ali Situbondo. Tertarik pada kajian perempuan dan keislaman.

Komentari

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Mewarisi Dendam atau Memutus Luka Keluarga? Refleksi Novel Makamkan Ibu di Samping Ayah Mewarisi Dendam atau Memutus Luka Keluarga? Refleksi Novel Makamkan Ibu di Samping Ayah

Mewarisi Dendam atau Memutus Luka Keluarga? Refleksi Novel Makamkan Ibu di Samping Ayah

buku

Nama Nabi Sulaiman Didahulukan Nama Nabi Sulaiman Didahulukan

Tafsir Surah An-Naml Ayat 30; Hikmah Nama Nabi Sulaiman Didahulukan daripada Nama Allah

Kajian

Mengenal Tujuh Macam Kebiasaan Istihadhah

Ibadah

Bagaimana Pandangan Maqashid Syariah mengenai Kebakaran Hutan di Kalimantan? Bagaimana Pandangan Maqashid Syariah mengenai Kebakaran Hutan di Kalimantan?

Bagaimana Pandangan Maqashid Syariah mengenai Kebakaran Hutan di Kalimantan?

Muslimah Talk

lelaki perempuan mata allah lelaki perempuan mata allah

Feminisme Al-Qur’an, Tafsir An-Nahl 97; Lelaki dan Perempuan di Mata Allah

Kajian

Nasihat Pernikahan Gus Mus Nasihat Pernikahan Gus Mus

Doa untuk Pengantin Baru

Ibadah

diperhatikan Memilih pasangan hidup diperhatikan Memilih pasangan hidup

Tafsir Al-Baqarah Ayat 221: Hal yang Harus Diperhatikan saat Memilih Pasangan Hidup

Kajian

Mu'asyarah bil Ma'ruf dalam Pernikahan, Bagaimana Idealnya? Mu'asyarah bil Ma'ruf dalam Pernikahan, Bagaimana Idealnya?

Mu’asyarah bil Ma’ruf dalam Pernikahan, Bagaimana Idealnya?

Keluarga

Trending

Nasihat Pernikahan Gus Mus Nasihat Pernikahan Gus Mus

Doa untuk Pengantin Baru

Ibadah

Surat Al-Ahzab Ayat 33 Surat Al-Ahzab Ayat 33

Tafsir Surat Al-Ahzab Ayat 33; Domestikasi Perempuan, Syariat atau Belenggu Kultural?

Kajian

Mengenal Tujuh Macam Kebiasaan Istihadhah

Ibadah

diperhatikan Memilih pasangan hidup diperhatikan Memilih pasangan hidup

Tafsir Al-Baqarah Ayat 221: Hal yang Harus Diperhatikan saat Memilih Pasangan Hidup

Kajian

Tata Cara Shalat Perempuan Tata Cara Shalat Perempuan

Tata Cara Shalat Perempuan Istihadhah

Ibadah

air ketuban air ketuban

Benarkah dengan Membaca Surah Yusuf Anak yang Dikandung akan Tampan?

Kajian

kehidupan muhammad sebelum nabi kehidupan muhammad sebelum nabi

Kenapa Sahabat Nabi Tidak Merayakan Maulid?

Khazanah

lelaki perempuan mata allah lelaki perempuan mata allah

Feminisme Al-Qur’an, Tafsir An-Nahl 97; Lelaki dan Perempuan di Mata Allah

Kajian

Connect