BincangMuslimah.Com – Assalamualaikum, ustazah. Perkenalkan saya Karim, saya ingin bertanya mengenai konsep dasar tauhid. Kita sering mendengar istilah sifat “Jaiz” bagi Allah SWT. Apa sebenarnya maksud dari sifat tersebut dan bagaimana hubungannya dengan kuasa Allah? Terima kasih.
Jawaban
Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh. Dalam ilmu tauhid, memahami sifat-sifat Allah merupakan fondasi utama keimanan. Selain sifat Wajib dan Mustahil, kita juga mengenal sifat Jaiz atau “boleh” bagi Allah SWT.
Definisi Sifat Jaiz jika merujuk pada kitab Al-Jawahirul Kalamiyah Fi Idhahil A’qidah Al-Islamiyyah, penjelasan sifat jaiz bagi Allah SWT sebagai berikut:
هِيَ فِعْلُ الْمُمْكِنَاتِ وَتَرْكُهَا، مِثْلُ أَنْ يَجْعَلَ الْإِنْسَانُ غَنِيًّا أَوْ فَقِيْرًا، صَحِيْحًا أَوْ سَقِيْمًا، وَأَشْبَاهَ ذَلِكَ
Artinya: “Sifat Jaiz bagi Allah SWT adalah melakukan hal-hal yang mungkin (mumkinat) dan (atau) meninggalkannya, seperti dijadikannya manusia itu kaya atau miskin, sehat atau sakit, dan lain sebagainya.”
Maksudnya, sifat ini berarti Allah memiliki kehendak mutlak untuk mewujudkan segala sesuatu yang bersifat mungkin (mumkin) atau tidak mewujudkannya. Tidak ada kewajiban bagi Allah untuk menciptakan sesuatu, dan tidak pula mustahil bagi-Nya. Semuanya murni atas dasar kehendak-Nya tanpa ada unsur keterpaksaan dari pihak manapun.
Hubungan dengan Sifat Kuasa (Qudrah) Allah
Syekh Husein Affandi dalam kitab al-Hushun al-Hamidiyah memberikan penjelasan mendalam bahwa sifat kuasa (Qudrah) dan kehendak (Iradah) Allah hanya berkaitan dengan sesuatu yang secara akal boleh (Ja’iz) terjadi.
Sifat kuasa Allah tidak terkait dengan hal-hal yang secara akal bersifat: Pertama, Wajib (Harus ada): Sesuatu yang mutlak ada. Kedua, Mustahil (Tidak mungkin ada): Seperti adanya sekutu bagi Allah.
Pentingnya Adab dalam Menjelaskan Sifat Allah
Karena sifat kuasa Allah hanya berlaku pada ranah yang secara akal mungkin terjadi. Maka adanya sekutu bagi Allah adalah perkara yang mustahil secara akal dan tidak berhubungan dengan sifat berkuasa atau tidaknya Allah.
Secara adab, seorang mukmin hendaknya tidak mengatakan bahwa “Allah tidak mampu menciptakan sekutu bagi-Nya“. Pernyataan tersebut dianggap tidak etis atau tidak sopan (su’ al-adab) karena dapat memberi kesan seolah Allah memiliki kelemahan. Sejatinya, hal-hal mustahil memang tidak masuk dalam objek kuasa Allah karena memang tidak mungkin ada secara logika ketuhanan.
Semoga penjelasan ini bermanfaat dan memperteguh akidah kita. Wallahu a’lam.
Penjawab: Ghina Farhanah
