Ikuti Kami

Khazanah

Nilai yang Diterapkan di Perpolitikan Nabi Muhammad

NIlai Perpolitikan Nabi Muhammad
Sumber: Gettyimages.com

BincangMuslimah.Com – Manusia, ketika di satu sisi ia adalah seorang hamba yang secara individual akan bertanggung jawab atas semua perbuatannya kepada Tuhan dan menuai hasil amal baiknya, maka di sisi yang berbeda manusia juga sebagai makhluk sosial yang secara fitrah akan membutuhkan sesamanya di kehidupan bermasyarakat.

Oleh karena itu, dalam kehidupan sosial, ada hak-hak yang pantas diperjuangkan dan kewajiban-kewajiban yang mesti ditunaikan. Segala aturan tentang kehidupan sosial manusia baik itu hak maupun kewajiban yang mengarahkannya ke taraf hidup yang lebih baik tersebut, dikenal dengan nama ilmu politik.

Islam, tak tinggal diam. Selain sebagai sebuah agama yang menuntun manusia mengenal Tuhannya lewat ritual-ritual peribadatan yang sakral, maka Islam pun dimaknai sebagai agama yang memuat dasar-dasar yang dijadikan pijakan manusia untuk mengatur  kehidupan sosial bermasyarakat. Apa gunanya agama jika ia tidak dapat berdialektika dan membaur dengan realitas manusia dalam bermasyarakat dengan sesamanya. Sebaliknya, apa gunanya agama jika ia membiarkan manusia terkungkung dalam kedunguan dan tidak mampu beranjak ke taraf hidup yang lebih baik. 

Dasar-dasar Islam yang mengatur kehidupan sosial manusia, paling kentara terlihat dari gerakan perjuangan Nabi Muhammad. Sejak Nabi Muhammad di awal dakwahnya memperjuangkan hak kebebasan berpikir, kebebasan untuk beragama, hingga periode Madinah Nabi Muhammad mampu membangun kuasa politik pertama bagi umat muslim. Berikut ada tiga nilai utama yang diterapkan di perpolitikan era Nabi Muhammad. 

Mencabut ideologi kesukuan bangsa Arab

Semula bangsa Arab memegang erat ideologi kesukuan. Mereka hidup di bawah semboyan, “Tolonglah saudaramu baik dia berbuat zalim maupun dizalimi.” Maka tak jarang terjadi perseteruan antar suku akibat persoalan kecil. Apalagi dalam persaingan memperebutkan martabat dan kepemimpinan, seringkali mengakibatkan terjadinya perang antar suku. 

Baca Juga:  Istri yang Dinikahi oleh Nabi di Bulan Syawal

Oleh sebab itu, masing-masing suku Arab berjibaku untuk membangun kekuatan dan menunjukkan kedaulatannya supaya disegani oleh suku lain. Seringkali upaya menunjukkan kedaulatan tersebut ditampilkan dengan cara merendahkan dan bahkan menganiaya orang-orang yang lemah di pandangan mereka.

Nabi Muhammad sendiri kala itu bak superhero yang datang untuk menyelamatkan siapa saja yang tersakiti oleh kekejaman dunia. Terutama bagi kalangan budak dan fakir miskin. Nabi Muhammad  berusaha menerapkan paham kesederajatan dalam laku sosial. Nabi Muhammad banyak memerdekakan budak, duduk dan memberi makan fakir miskin, bahkan menikahkan Zainab dengan Zaid seorang mantan budak.

Kaum Quraisy sebagai suku terkuat di Arab merasa terancam dengan laku Nabi Muhammad. Hal baru yang dibawa Nabi Muhammad dinilai dapat meluluh-lantahkan stabilitas politik dan mencabut ideologi kesukuan yang sudah sekian lama mentradisi di bangsa Arab. Oleh sebab itulah, sekalipun Nabi Muhammad bagian dari kaum Quraisy, mereka tidak ragu untuk mengancam bahkan berkali-kali berupaya membunuhnya. 

Tidak seperti superhero di film-film, menyikapi kecaman dan perilaku buruk kaum Quraisy Nabi Muhammad justru membalasnya dengan doa baik. Ia tidak pernah berkata buruk, memaki-maki, atau bahkan melukai balik kaum Quraisy. Sikap Nabi yang demikianlah akhirnya mampu meluluhkan hati bangsa Arab, sehingga perlahan mereka bergabung dengan Islam. Tidak lagi membawa bendera kesukuan, tapi bendera Islam yang berpegang teguh pada kesetaraan manusia.

Menerapkan toleransi di tengah keberagaman

Setelah lima tahun berada di bawah tekanan kaum Quraisy, sebagai upaya penyelamatan, Nabi Muhammad meminta para sahabat untuk berhijrah ke Ethiopia. Saat itu pemimpinnya adalah seorang Nasrani yang dikenal keadilannya. Hal ini tentunya bisa menjadi bukti historis bahwa satu-satunya alasan untuk menghindari hidup berdampingan dengan kelompok yang berbeda, adalah ketika hak-hak kemanusiaan direnggut oleh mereka. Sejatinya, umat Islam bisa hidup rukun berdampingan dengan umat Kristiani.

Baca Juga:  Hukum Menabuh Rebana Ketika Peraayaan Maulid

Jika diamati dengan seksama, potret laku sosial umat Islam yang mengutamakan prinsip toleransi terasa begitu kental di era Nabi Muhammad.  Begitulah salah satu nilai yang diterapkan dalam perpolitikan Nabi Muhammad. Umat Islam tidak pernah mengawali perseteruan apapun atas dasar perbedaan. Mereka juga tidak pernah berlaku buruk kepada siapa pun yang tidak sepakat dengan mereka. Bahkan mereka tidak enggan untuk meminta perlindungan dari umat lain saat jiwa mereka terancam. Kenyataan ini selayaknya menjadi cermin bagi umat Islam sekarang untuk menyudahi eksklusifitas dirinya terhadap pihak lain yang berbeda dan mau mengupayakan perbaikan dengan berkompromi.

Memilih pejabat yang cakap berpolitik

Dr. Sa’duddin al-Hilali dalam bukunya al-Islam wa Insaniyyah al-Daulah mengatakan bahwa Islam waktu itu tidak melakukan perubahan di Madinah dalam bernegara. Nabi Muhammad hanya meneruskan perundangan-undangan sebelumnya dan membawa nilai-nilai toleran dan anti kesukuan Islam dengan menyaudarakan komponen masyarakat Madinah; Muhajirin, Anshar Aus, Khazraj, Yahudi dan Nasrani. Satu hal yang secara signifikan dilakukan oleh Nabi Muhammad adalah menempatkan beberapa muslim yang cakap berpolitik sebagai praktisi yang menjalankan undang-undang tersebut. Maka terbuktilah keberhasilan mereka, sebab sifat amanah dan keahliannya, bukan karena keislamannya. 

Nabi Muhammad tidak ingin menunjuk orang-orang yang tidak memiliki keahlian mengatur negara, sekalipun mereka adalah orang terbaik dari sisi keislamannya. Sebagai dalil, dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari diceritakan Sahabat Abu Dzar bertanya kepada Nabi Muhammad, mengapa beliau tidak mengangkatnya sebagai salah satu praktisi. Lalu beliau menjawab, “Engkau adalah orang yang lemah dalam urusan itu, dan sesungguhnya kepemimpinan itu sebuah amanah.” Kita tahu bahwa Abu Dzar adalah salah seorang sahabat yang taat dan terbaik dari sisi keislamannya. 

Baca Juga:  Mengenal Peristiwa Penting Di Bulan Rajab

Beberapa nilai yang dipraktikkan oleh Nabi Muhammad tersebut menjadi bukti nyata bahwa Islam pun mengatur kelangsungan berpolitik umat manusia. Yaitu dengan melepaskan bayang-bayang fanatisme kelompok, melebur menjadi satu di atas keberagaman individu dengan mengedepankan toleransi, dan dalam urusan pimpinan politik hanya orang-orang yang mampu mengurus negaralah yang berhak diangkat dengan melepaskan segala identitas keislamannya atau pun kesukuannya. Selayaknya hal ini bisa menjadi patokan kita dalam urusan politik, berupaya untuk tidak terjerumus dalam langkah politik yang absurd dan merugikan.

Rekomendasi

ayat legitimasi kekerasan perempuan ayat legitimasi kekerasan perempuan

Perempuan dan Politik: Bagaimana Islam Memandang Partisipasi Politik Perempuan?

Kisah Nabi Muhammad Bergurau Dengan Istrinya Kisah Nabi Muhammad Bergurau Dengan Istrinya

Kisah Nabi Muhammad Bergurau Dengan Istrinya

kehidupan muhammad sebelum nabi kehidupan muhammad sebelum nabi

Meneladani Tata Cara Bertutur Kata Ala Rasulullah

keistimewaan umat nabi muhammad keistimewaan umat nabi muhammad

Delapan Keistimewaan Umat Nabi Muhammad

Ditulis oleh

Tanzila Feby Nur Aini, mahasiswi Universitas al-Azhar, Kairo di jurusan Akidah dan Filsafat. MediaI sosial yang bisa dihubugi: Instagram @tanzilfeby.

Komentari

Komentari

Terbaru

Konferensi Pemikiran Gus Dur Perdana, Hadirkan Pramono Anung, Mahfud MD, dan Sinta Nuriyah Konferensi Pemikiran Gus Dur Perdana, Hadirkan Pramono Anung, Mahfud MD, dan Sinta Nuriyah

Konferensi Pemikiran Gus Dur Perdana, Hadirkan Pramono Anung, Mahfud MD, dan Sinta Nuriyah

Berita

Benarkah Perayaan Maulid Nabi Bid’ah? Benarkah Perayaan Maulid Nabi Bid’ah?

Benarkah Perayaan Maulid Nabi Bid’ah?

Kajian

Jangan Sampai Terlewat! El-Bukhari Kembali Membuka Pendaftaran Sekolah Hadis 2025 Jangan Sampai Terlewat! El-Bukhari Kembali Membuka Pendaftaran Sekolah Hadis 2025

Jangan Sampai Terlewat! El-Bukhari Kembali Membuka Pendaftaran Sekolah Hadis 2025

Berita

Pasangan Bukan Tempat Rehabilitasi: Mengapa Hubungan Tidak Bisa Menggantikan Proses Pemulihan Diri Pasangan Bukan Tempat Rehabilitasi: Mengapa Hubungan Tidak Bisa Menggantikan Proses Pemulihan Diri

Pasangan Bukan Tempat Rehabilitasi: Mengapa Hubungan Tidak Bisa Menggantikan Proses Pemulihan Diri

Keluarga

Hak-Hak Anak Yang Harus Dipenuhi Orang Tua Menurut Imam Ghazali Hak-Hak Anak Yang Harus Dipenuhi Orang Tua Menurut Imam Ghazali

Hak-Hak Anak yang Harus Dipenuhi Orang Tua Menurut Imam Ghazali

Keluarga

Bagaimana Hukum Salat Pakai Sarung Tangan bagi Perempuan Bagaimana Hukum Salat Pakai Sarung Tangan bagi Perempuan

Bagaimana Hukum Salat Pakai Sarung Tangan bagi Perempuan

Ibadah

Raya, Balita Sukabumi yang Tak Selamat Karena Cacingan Akut: Saat Kemiskinan Mengalahkan Hak Hidup Anak Raya, Balita Sukabumi yang Tak Selamat Karena Cacingan Akut: Saat Kemiskinan Mengalahkan Hak Hidup Anak

Raya, Balita Sukabumi yang Tak Selamat Karena Cacingan Akut: Saat Kemiskinan Mengalahkan Hak Hidup Anak

Muslimah Talk

Benarkah Islam Agama yang Menganjurkan Monogami?

Kajian

Trending

Doa yang Diajarkan Nabi kepada Abu Bakar untuk Diamalkan Sehari-hari

Ibadah

Benarkah Islam Agama yang Menganjurkan Monogami?

Kajian

Rahmah El-Yunusiyah: Pahlawan yang Memperjuangkan Kesetaraan Pendidikan Bagi Perempuan

Muslimah Talk

Benarkah Perayaan Maulid Nabi Bid’ah? Benarkah Perayaan Maulid Nabi Bid’ah?

Benarkah Perayaan Maulid Nabi Bid’ah?

Kajian

Kenapa Harus Hanya Perempuan yang Tidak Boleh Menampilkan Foto Profil?

Diari

maria ulfah kemerdekaan indonesia maria ulfah kemerdekaan indonesia

Maria Ulfah dan Kiprahnya untuk Kemerdekaan Indonesia

Khazanah

Nor “Phoenix” Diana: Gadis Pemalu Menjadi Pegulat Berhijab Pertama di Dunia Nor “Phoenix” Diana: Gadis Pemalu Menjadi Pegulat Berhijab Pertama di Dunia

Nor “Phoenix” Diana: Gadis Pemalu Menjadi Pegulat Berhijab Pertama di Dunia

Muslimah Talk

rasuna said pahlawan kemerdekaan rasuna said pahlawan kemerdekaan

Rasuna Said: Pahlawan Kemerdekaan dari Kalangan Santri dan Pejuang Kesetaraan Perempuan Bersenjata Pena

Khazanah

Connect