Ikuti Kami

Keluarga

Parenting Islami : Menanamkan Cinta Pada Anak, Bukan Takut

“Pertumbuhan badan ada batasnya, namun pertumbuhan jiwa berjalan terus. Sepanjang hayat masih di kandung badan.”

(Syaikh Muhammad Al-Khidhr Husain)

BincangMuslimah.com – Tidak banyak orangtua yang hidup di masa post-modernist (yang sudah dibutakan dengan gadget misalnya) mengerti betul perannya dalam membesarkan anak. Membesarkan, tidak hanya berfokus pada kesehatan fisik dan perkembangan lahiriah saja. Membesarkan juga bermakna memelihara pertumbuhan jiwa anak. Sesuatu yang tentu, masih menjadi tugas rumah bagi para orangtua di abad ini.

Kecenderungan orangtua masa kini yaitu memberikan capaian-capaian tinggi bagi anak-anak mereka. Hidup begitu keras, anak-anak banyak dituntut. Ragam kursus, pelajaran ekstra dan pelatihan lainnya ditumpahkan pada jadwal mereka. Untuk menghadapi tantangan global, itu alasannya.

Begitupun urusan ibadah. Harus menjadi hafiz atau hafizah. Fasih bahasa Arabnya, baik adabnya, dan seterusnya. Tidak jarang, berbagai peraturan agama disematkan kepada anak tanpa lebih dulu diberi contoh (yaitu dipraktikkan orangtuanya lebih dulu). Dan, ironisnya, tidak sedikit yang menanamkan kewajiban salat dengan ancaman, “kita harus takut sama Allah. Makanya, kita salat.”

Keinginan orangtua untuk menjadikan anak-anaknya berhasil dalam karir, agama dan cita-cita bukanlah suatu kesalahan. Hanya saja, orangtua kerap lupa hal paling dasar yang mestinya ditanamkan. Suatu sikap mencintai termasuk mencintai proses mencintai itu sendiri. Orantua terkadang lupa untuk menanamkan cinta pada anak, bukan takut.

Mencintai Proses Mencintai Ibadah 

Menurut Erich Fromm dalam The Art of Loving, kebanyakan orang jarang mempelajari “seni mencintai”. Mereka lebih suka memuja dan mengejar hal-hal duniawi seperti kesuksesan, gengsi, uang, dan kekuasaan. Untuk bisa memahami seni mencintai, seseorang harus tahu makna cinta. Dengan demikian, seseorang harus sadar bahwa cinta itu sendiri layaknya seni. Sama seperti seni lain yang diketahui; musik, melukis, dan seterusnya.

Baca Juga:  Parenting Islami : Nabi Menegur Sahabat yang Pilih Kasih kepada Anak, Ini Alasannya

Proses mempelajari suatu seni bisa melalui dua bagian; pertama,  menguasai teorinya. Kedua, menguasai praktiknya. Namun, ketika seseorang memiliki pengetahuan teori tentang sebuah seni, bukan berarti dia telah kompeten dalam suatu seni. Dia harus menjadi seorang yang menguasai seni tersebut setelah ia telah pula menguasai praktiknya.

Pengetahuan teori akan suatu seni bercampur dengan hikmah-hikmah praktiknya akan membentuk suatu intuisi. Kebanyakan orang akan mencari hasil akhir itu. Sebuah intuisi. Padahal, menurut Erich Fromm, tidak ada yang lebih penting dipelajari ketimbang proses seni itu sendiri.

Seorang anak yang terlanjur ditanamkan konsep “takut” dalam beribadah akan memiliki kekurangan dalam motivasi cinta. Semakin beranjak dewasa, semakin bertumbuh proses rasa takut dalam dirinya. Anak yang sudah dewasa ini mungkin saja masih melanjutkan ibadahnya, mungkin saja tidak. Mengapa demikian? Karena proses yang mengawalinya adalah konsep “takut” bukan “cinta”. Beribadah dengan konsep karena takut tidak memiliki kesadaran penuh bahwa ibadah merupakan hal yang dibutuhkan. Apalagi menjadi sesuatu yang pantas dinikmati.

Anak yang tumbuh dengan landasan rasa takut dalam beribadah akan menjalani proses ibadahnya setengah hati. Boleh jadi bahkan, dia tidak paham sama sekali apa yang dilakukannya dalam proses itu. Lebih parahnya lagi, anak yang tidak diajarkan seni mencintai dalam ibadahnya cenderung berpikir transaksional. Dia baru akan salat tahajud jika menjelang ujian. Dia baru kembali menghadiri majelis zikir jika masalah mendera hidupnya. Bukan karena keinginan atau kerinduan dalam hatinya akan beribadah.

Orangtua harus menanamkan cinta pada anak. Sebab jika anak diteladani sikap mencintai, dia akan berproses dalam ibadahnya karena cinta. Karena cinta itulah dia sadar bahwa dia tidak akan bisa hidup tanpa beribadah. Ibadah, adalah suatu jalan baginya untuk hidup, menjadi bagian dan mendarah daging. Tidak ada dalam pikirannya untuk menunda apalagi meninggalkan ibadah. Termasuk di dalamnya berbuat baik bagi sesama dan lingkungannya karena itu juga termasuk dalam ibadah.

Baca Juga:  Tips agar Tidak Cinta Buta Ala Rasulullah

*Artikel ini sebelumnya pernah dimuat BincangSyariah.Com

Rekomendasi

Mengenal Umma Dewi: Penulis Buku “Anak Bertanya, Umma Menjawab” Mengenal Umma Dewi: Penulis Buku “Anak Bertanya, Umma Menjawab”

Mengenal Umma Dewi: Penulis Buku “Anak Bertanya, Umma Menjawab”

air ketuban air ketuban

Benarkah dengan Membaca Surah Yusuf Anak yang Dikandung akan Tampan?

Mengenal Oldest Child Syndrome, Dear Anak Pertama: Bahumu Tak Harus Selalu Sekuat Baja Mengenal Oldest Child Syndrome, Dear Anak Pertama: Bahumu Tak Harus Selalu Sekuat Baja

QS. Al‑Baqarah Ayat 233: Perhatian Islam terhadap Hak Reproduksi Ibu serta Tumbuh Kembang Bayi

Fatherless dan Ancaman Predator Seksual: Tangki Kasih Sayang yang Kosong Buat Anak Rentan Jadi Korban Fatherless dan Ancaman Predator Seksual: Tangki Kasih Sayang yang Kosong Buat Anak Rentan Jadi Korban

Di Balik Candaan “Ibu Sambung”: Mengapa Sosok Ayah Seperti Daehoon Jadi Harapan Banyak Perempuan Indonesia

Ditulis oleh

M.K. Wirawan merupakan akronim dari Miranti Kencana Wirawan. Perempuan kelahiran Jakarta, 21 Oktober 1991. Alumni Kajian Timur Tengah Program Studi Sastra Arab, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret. Tulisan-tulisannya dapat diakses melalui https://miraworldweb.wordpress.com/

1 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Anak Menangis saat Salat, Batalkan atau Lanjutkan? Anak Menangis saat Salat, Batalkan atau Lanjutkan?

Anak Menangis saat Salat, Batalkan atau Lanjutkan?

Ibadah

orang sakit menjamak shalat orang sakit menjamak shalat

Bolehkah Orang yang Sakit Menjamak Shalat?

Ibadah

Karhutla Tidak Kunjung Padam, Perempuan dan Anak Berada di Garis Paling Rentan Karhutla Tidak Kunjung Padam, Perempuan dan Anak Berada di Garis Paling Rentan

Karhutla Tidak Kunjung Padam, Perempuan dan Anak Berada di Garis Paling Rentan

Muslimah Talk

Menunggu Jodoh dengan Elegan; Cerita dari Jomblo untuk Jomblo

Diari

feminiskah aisyah feminiskah aisyah

Merebut Tafsir: Feminiskah Aisyah?

Kajian

Beberapa Kesunahan 10 Muharram Beberapa Kesunahan 10 Muharram

Tiga Hal yang Harus Diperhatikan Perempuan Haid

Ibadah

Green Islam Sebagai Gerakan Melawan Krisis Iklim Green Islam Sebagai Gerakan Melawan Krisis Iklim

Green Islam Sebagai Gerakan Melawan Krisis Iklim

Muslimah Talk

Shafiyah binti Huyay Shafiyah binti Huyay

Asiyah binti Muzahim: Istri Firaun yang Dijamin Masuk Surga Oleh Allah

Muslimah Talk

Trending

Nasihat Pernikahan Gus Mus Nasihat Pernikahan Gus Mus

Doa untuk Pengantin Baru

Ibadah

Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah

Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah

Ibadah

Doa Mendengar Azan KeutamaannyaHari Kamis Doa Mendengar Azan KeutamaannyaHari Kamis

Tiga Doa dalam Al-Qur’an yang Bisa Mendekatkan Jodoh

Ibadah

Mengenal Tujuh Macam Kebiasaan Istihadhah

Ibadah

Shafiyah binti Huyay Shafiyah binti Huyay

Asiyah binti Muzahim: Istri Firaun yang Dijamin Masuk Surga Oleh Allah

Muslimah Talk

diperhatikan Memilih pasangan hidup diperhatikan Memilih pasangan hidup

Tafsir Al-Baqarah Ayat 221: Hal yang Harus Diperhatikan saat Memilih Pasangan Hidup

Kajian

Menunggu Jodoh dengan Elegan; Cerita dari Jomblo untuk Jomblo

Diari

orang sakit menjamak shalat orang sakit menjamak shalat

Bolehkah Orang yang Sakit Menjamak Shalat?

Ibadah

Connect