Ikuti Kami

Muslimah Talk

Menghirup Jelut, Membilang Rugi: Ketika Karhutla Melumpuhkan Nafas, Dapur, dan Masa Depan Anak Sumatera

Menghirup Jelut, Membilang Rugi: Ketika Karhutla Melumpuhkan Nafas, Dapur, dan Masa Depan Anak Sumatera
Magnific.Com

BincangMuslimah.Com – Selama ini, Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) hampir selalu disederhanakan sebagai isu ekologi belaka. Di televisi atau tajuk berita nasional, ia kerap dinarasikan sekadar angka-angka hektare lahan yang terbakar, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), atau debat usang tentang siapa pengusaha yang memantik api. Namun, bagi kami yang tumbuh dan bernapas di bumi Sumatera, kabut asap bukan sekadar persoalan pohon yang berubah menjadi abu.

Bagi anak daerah yang mengecap langsung pahitnya udara berjerebu, karhutla adalah krisis multidimensi yang melumpuhkan sendi-sendi kehidupan, merampas dapur petani, menghentikan derap ekonomi kerakyatan, mematikan ruang kelas anak-anak, hingga mengintai nyawa di jalanan.

Di pulau ini, sebagian besar dari kami menggantungkan hidup dari tanah dan sinar matahari. Ketika kabut asap tebal menggantung berbulan-bulan, langit Sumatera berubah menjadi kuning pekat atau kelabu mati. Cahaya matahari terhalang partikel aerosol dan partikulat halus yang memangkas radiasi surya yang sangat dibutuhkan tanaman untuk fotosintesis. Dampaknya nyaris terasa seketika di akar rumput.

Kami menyaksikan sendiri bagaimana kali yang biasa mengairi persawahan surut, lantas sawah-sawah warga yang baru dipasangi bibit harus mengering kerontang akibat kemarau panjang tanpa hujan. Bibit mati, tanah pecah-pecah, dan para petani terpaksa merogoh kocek dalam-dalam untuk membeli bibit baru dan mengulang tanam dari nol tanpa jaminan hasil panen akan sesuai harapan. Bukan hanya tanaman pangan, petani sawit swadaya atau petani rakyat juga ikut menjerit. Tanpa curah hujan yang cukup dan tersumbatnya fotosintesis akibat minimnya sinar matahari, proses pematangan buah sawit terhambat drastis. Buah mengkal, bobotnya merosot, dan siklus produksi mengalami trek parah.

Bagaimana kami bisa berharap panen melimpah, jika matahari, sumber kehidupan paling dasar pun dirampas dari atas kepala kami?

Baca Juga:  Rabiul Awal: Bulan Kelahiran Rasulullah yang Penuh Berkah

Ketika komoditas utama warga hancur, roda perekonomian lokal berputar lambat, bahkan nyaris berhenti total. Daya beli masyarakat terjun bebas. Di pasar-pasar rakyat, pedagang kelontong dan sayur melipat tangan. Transaksi jual-beli lesu karena warga tidak memiliki uang dingin dari hasil panen untuk dibelanjakan. Kebanyakan orang memilih untuk menahan diri dan tidak berbelanja. Krisis ekologis ini secara sistematis menjelma menjadi krisis ekonomi rumah tangga yang mencekik.

Dampak karhutla juga menjangkau lorong-lorong sekolah. Di tengah pekatnya asap, sekolah-sekolah terpaksa diliburkan, anak-anak belajar dari rumah. Kebijakan ini memang diambil demi menyelamatkan paru-paru anak-anak dari paparan karsinogenik, tetapi ia membawa dampak lanjutan yang tidak kalah berat.

Ada banyak guru yang mengeluhkan pengalaman belajar siswa yang tidak bisa didapatkan secara maksimal. Kualitas belajar murid merosot drastis karena tidak semua wilayah memiliki akses pendukung pembelajaran jarak jauh yang ideal. Sementara itu, bagi orang tua yang tetap harus bekerja mencari nafkah di luar, meliburkan anak sekolah menciptakan dilema baru.

Anak-anak yang biasanya berada di bawah pengawasan sekolah kini harus dirumahkan, memaksa orang tua membagi fokus antara keselamatan anak di rumah dan tuntutan mencari nafkah di tengah kondisi ekonomi yang sedang carut-marut.

Selain isu ekonomi dan pendidikan, karhutla sebenarnya adalah isu keselamatan jiwa dan keamanan publik. Jalur darat Lintas Sumatera bukanlah jalan tol mulus berlampu terang; ia adalah urat nadi yang dipenuhi lekukan, tanjakan, dan jalan berlubang. Ketika jarak pandang di jalan raya terpangkas hingga tersisa beberapa meter saja akibat asap pekat, jalanan berubah menjadi arena berbahaya. Lubang-lubang jalan yang biasanya dihafal warga menjadi tak kasat mata. Kasus warga yang mengalami kecelakaan lalu lintas karena tidak melihat lubang di jalan menjadi kabar duka harian yang kerap luput dari perhatian.

Baca Juga:  Legenda “Cinderella”, Bentuk Domestikasi Perempuan

Mengabaikan karhutla sebagai sekadar “isu lingkungan” adalah bentuk pengabaian terhadap penderitaan manusia yang hidup di dalamnya. Karhutla di Sumatera adalah krisis kemanusiaan yang terstruktur: ia memiskinkan petani, merampas masa depan pendidikan anak-anak, menghentikan roda pasar, dan mengancam keselamatan warga di jalanan. Sebagai anak daerah yang menyaksikan langsung bagaimana kabut asap menggerogoti hidup orang-orang di sekitar kami, kami tidak butuh retorika tahunan ketika api sudah terlanjur membesar. Yang kami butuhkan adalah penegakan hukum yang tegas di hulu serta pemulihan hak-hak dasar warga di hilir, agar kami tidak terus-menerus mengorbankan napas dan masa depan setiap kali musim kemarau menyapa.

Rekomendasi

Hukum Minum Air Bekas Cucian Kaki Ibu Hukum Minum Air Bekas Cucian Kaki Ibu

Hukum Minum Air Bekas Cucian Kaki Ibu

Cara Anak Muda Muslim Menjawab Krisis Lingkungan

Keutamaan bagi Orang yang Bersholawat Keutamaan bagi Orang yang Bersholawat

Keutamaan bagi Orang yang Bersholawat

Pengetahuan Islam dan Keberlanjutan Kosmis dalam Membangun Budaya Pengetahuan Hijau Pengetahuan Islam dan Keberlanjutan Kosmis dalam Membangun Budaya Pengetahuan Hijau

Pengetahuan Islam dan Keberlanjutan Kosmis dalam Membangun Budaya Pengetahuan Hijau

Ditulis oleh

Seorang ibu rumah tangga sekaligus pekerja media dan aktivis literasi yang berfokus pada isu-isu hak perempuan, perlindungan anak, dan inklusi sosial. Lulusan UIN SATU Tulungagung ini berprofesi sebagai Social Media Specialist di Rumah KitaB dan Publicist di Afkaruna.id.

Komentari

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Hukum Minum Air Bekas Cucian Kaki Ibu Hukum Minum Air Bekas Cucian Kaki Ibu

Hukum Minum Air Bekas Cucian Kaki Ibu

Kajian

Cara Anak Muda Muslim Menjawab Krisis Lingkungan

Muslimah Talk

Keutamaan bagi Orang yang Bersholawat Keutamaan bagi Orang yang Bersholawat

Keutamaan bagi Orang yang Bersholawat

Ibadah

Pengetahuan Islam dan Keberlanjutan Kosmis dalam Membangun Budaya Pengetahuan Hijau Pengetahuan Islam dan Keberlanjutan Kosmis dalam Membangun Budaya Pengetahuan Hijau

Pengetahuan Islam dan Keberlanjutan Kosmis dalam Membangun Budaya Pengetahuan Hijau

Muslimah Talk

Bertaubat Harus Bersuci Bertaubat Harus Bersuci

Selain karena Hadas dan Najis, Bertaubat Juga Harus Bersuci

Ibadah

Pendapat Empat Mazhab Tentang Hukum Jual Beli Saat Shalat Jumat Berlangsung

Muslimah Daily

Mengapa Anak Bisa Berlaku Sadis? Mengintip Akar Penyebab Matinya Empati pada Generasi Muda Mengapa Anak Bisa Berlaku Sadis? Mengintip Akar Penyebab Matinya Empati pada Generasi Muda

Mengapa Anak Bisa Berlaku Sadis? Mengintip Akar Penyebab Matinya Empati pada Generasi Muda

Muslimah Talk

Cerita Seru Serba-Serbi Mondok: Selamat Hari Santri!!!

Diari

Trending

Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah

Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah

Ibadah

Shafiyah binti Huyay Shafiyah binti Huyay

Asiyah binti Muzahim: Istri Firaun yang Dijamin Masuk Surga Oleh Allah

Muslimah Talk

Menunggu Jodoh dengan Elegan; Cerita dari Jomblo untuk Jomblo

Diari

orang sakit menjamak shalat orang sakit menjamak shalat

Bolehkah Orang yang Sakit Menjamak Shalat?

Ibadah

Cerita Seru Serba-Serbi Mondok: Selamat Hari Santri!!!

Diari

Pendapat Empat Mazhab Tentang Hukum Jual Beli Saat Shalat Jumat Berlangsung

Muslimah Daily

feminiskah aisyah feminiskah aisyah

Merebut Tafsir: Feminiskah Aisyah?

Kajian

Doa yang Dipanjatkan Fatimah az-Zahra pada Hari Senin Doa yang Dipanjatkan Fatimah az-Zahra pada Hari Senin

Benarkah Orang Pingsan Tidak Wajib Mengqadha Shalat?

Ibadah

Connect