BincangMuslimah.Com – Seorang sahabat pernah bersedih karena mendapat kritikan (yang rasanya tidak membangun) dari kerabatnya. Ia dikritik karena memilih menjadi ibu rumah tangga dan tidak bekerja. Menurut kerabatnya, sahabat saya telah menyia-nyiakan gelar sarjana yang ia raih kurang dari empat tahun dengan nilai cumlaude. Seharusnya ia bekerja, sesuai dengan jurusan perkuliahan yang dahulu diambil. Begitu kata kerabat dari sahabat penulis.
Di sisi lain, seorang kawan yang baru saja menjadi ibu memutuskan untuk tetap bekerja. Usai cuti, ia ke sana kemari mencari pengasuh hingga survey penitipan anak, seperti daycare. Setelah beberapa hari mencari, ia mendapatkan daycare yang dirasa pas dan tepat. Masih dari kerabat, kawan ini mendapat komentar, namun dengan makna berbeda.
Kerabat ini merasa kasihan dengan anak dari kawan penulis. Masih terlalu kecil untuk dititipkan pada orang lain, kata kerabat tersebut. Dan tanpa diminta, ia mencoba memberikan perandaian seperti seandainya posisi itu berada di dirinya, maka dirinya tidak akan tega ‘melakukan hal ini’. Mungkin tidak punya maksud tertentu, tapi komentar ini cukup memengaruhi produktifitas kawan penulis.
Di kasus yang berbeda, ada kasus kekerasan dalam rumah tangga. Korbannya lagi-lagi perempuan, dan pelaku adalah suami sendiri. Bukannya berempati, korban malah disalahkan. Kenapa tidak berhati-hati memilih pasangan. Kenapa mau saja dengan pasangan dari instansi tertentu dan semacamnya. Pada kisah yang lain, perempuan yang belum menikah di usia 30 tahun ke atas dianggap telat dan dinilai terlalu pilih-pilih.
Beberapa kasus di atas menyiratkan pada ‘semua pilihan yang diambil oleh perempuan, selalu saja disalahkan’. Pada kisah pertama, perempuan dinilai tidak produktif saat menjadi ibu rumah tangga. Namun dituduh tidak perhatian terhadap anak atau keluarga ketika memutuskan untuk berkarir.
Berada dalam situasi kekerasan dalam rumah tangga, korban dituding tidak pilih-pilih mencari pasangan. Lucunya, jika perempuan punya standar tertentu untuk mencegah hal yang diinginkan, malah jadi bahan pergunjingan karena terlalu pemilih. Kondisi ini menjadi sebuah paradoks yang terus berputar-putar di sosial kita.
Kenapa Selalu Disalahkan
Lantas kenapa perempuan selalu disalahkan dengan jalan yang mereka pilih? Sampai saat ini belum ada jawaban pasti, tunggal. Namun ada beberapa benang merah yang dipercaya telah mengkontruksi kondisi ini. Disadari atau tidak, saat ini perempuan dikelilingi oleh standar yang tidak realistis. Perempuan, dianggap bisa menyeimbangkan segala hal. Dunia, dan seisinya.
Sudah sejak lama, masyarakat memegang prinsip jika keutuhan keluarga, moralitas, hingga kenyamanan adalah tanggunjawab perempuan.
Jika terjadi sesuatu yang tidak baik atau muncul sebuah keburukan, maka semuanya akan ditodong pada perempuan. Semua yang terjadi, karena ‘perempuan’ itu sendiri. Tidak bekerja dan menghadapi masalah ekonomi, salah istri. Bekerja dan anak alami kekerasan di daycare, salah ibu. Alami kekerasan seksual, salah korban.
Dilansir dari Beautynesia, situasi ini disebut dengan sindrom ‘blame the woman’ . Sedikit saja ada masalah, perempuan bakal mendapatkan kritikan tajam. Ia telah lalai mencegah terjadinya keburukan, hingga dinilai telah abai terhadap perannya. Padahal tidak sedikit perempuan berupaya keras mencegah terjadinya kegagalan atau sesuatu hal yang buruk.
Dikutip dari Narasi, seorang psikiater forensic dari Universitas Michigan Amerika, Ellisa Benedek mengungkapka jika sindrom ini berkaitan dengan stereotip perempuan yang licik dan provokatif. Dan ini sudahs menjadi mitos yang sangat lama.
Selain itu, labelling perempuan lebih mendahulukan emosi dan laki-laki lebih bermain logika juga bisa dituduh sebagai biang keroknya. Pilihan hidup seorang perempuan, entah itu bekerja atau menjadi ibu rumah tangga, dituding hanya pelampiasan emosi sesaat. Apa yang dipikirkan selalu bersifat piln-plan. Emosi tidak stabil, sehingga kevalidan dari keputusan yang diambil kerap dipertanyakan.
Apa yang bisa dilakukan untuk memadamkan efek ‘sindrom blame to woman’ ini?
Efek dari menyalahkan pilihan yang diambil oleh perempuan ini tentu tidak main-main. Bisa ganggu aktivitias hingga kualitas hidup. Bicarakan.id mengungkapkan upaya dasar bisa dimulai dari diri sendiri.
Mengasah self-compassion (berbelas kasih pada diri sendiri) sangat penting agar perempuan tidak mengubah stigma sosial menjadi penghakiman internal yang menghukum diri sendiri. Sadari penuh bahwa kita tidak bisa memuaskan ekspektasi semua orang. Dengan kesadaran penuh,pilihan kamu adalah hak otonom personal.
Langkah kedua, bangun boundaries atau filter pada komentar yang masuk. Pisahkan antara kritik yang membangun dengan komentar yang terdengar seperti menjatuhkan. Ambil yang baik, buat yang buruk. Dan yang terpenting, berani berkata tidak pada tuntutan yang merugikan.
Pada tahap selanjutnya, diskusikan soal peran dan fokus pada cara menghadapi permasalahan. Penyelesaian stres yang baik dilakukan melalui diskusi pembagian tugas domestik yang adil dengan pasangan demi meminimalisir beban mental sepihak.
Jadi, sudah saatnya tidak menjadi komentar orang lain sebagai pucuk kebahagiaan atau sumber kesedihan. Mulailah bahagia dengan cara serta pilihan hidup kita sendiri. Jalan keluar satu-satunya adalah memindahkan pusat validasi kebahagiaan dari “pujian masyarakat” ke “otonomi diri sendiri”-
