BincangMuslimah.Com- Ketika hari raya Idul Adha, selain disunnahkan untuk melakukan Kurban, disunnahkan pula untuk melantunkan lafaz takbir sebagaimana hari raya Idul Fitri. Hanya saja, pada hari raya Idul Adha, waktu kesunnahan membaca takbir lebih lama dibandingkan Idul Fitri. Lebih detailnya, berikut penjelasan seputar takbir dan tata cara takbir pada hari raya Idul Adha.
Macam-Macam Takbir
Para ulama ahli fikih membagi takbir yang disunnahkan untuk dilantunkan pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha menjadi 2 macam. Yakni takbir mursal dan takbir muqayyad. Sebagaiaman pendapat Syekh Ibn Qasim di dalam kitab Fath al-Qarīb al-Mujb fī Syarh Alfāẓ al-Taqrīb hal. 102:
والتكبير على قسمين: مرسل، وهو ما لا يكون عقِبَ صلاة؛ ومقيد، وهو ما يكون عقبها
“Takbir itu terbagi dua: takbir mursal yaitu takbir yang dibaca bukan setelah sholat dan takbir muqayyad yaitu takbir yang dibaca setelah shalat”.
Kedua macam takbir ini dibedakan berdasarkan aspek waktu pembacaan takbir. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Syekh Hasan bin Ahmad di dalam kitab al-Taqrīrāt al-Sadīdah fī al-Masāil al-Mufīdah bab ibadah hal. 346:
اقسَام التكبير: ينقسم الى قسمين: مرسل ومقيد. المرسل هو المطلق عن التقييد بالصلوات, فيكبر في كل وقت ويكون في الفطر والاضحى. وقته من غروب الشمس ليلة العيد الى الاحرام بالصلاة. المقيد اي بعد الصلوات. سواء أكانت فرضا ام نفلا, اداء ام قضاء ولو جنازة. ويكون في الاضحى فقط. وقته لغير الحاج من صبح يوم عرفة الى عصر آخر ايام التشريق. واما الحاج فيكبر من ظهر يوم النحر الى صبح آخر ايام التشريق. فان تحلل كبّر حتى العصر.
“Pembagian takbir: takbir terbagi menjadi 2 macam. Mursal dan muqayyad. Takbir mursal adalah takbir yang terlepas dari batasan sholat. Sehingga seseorang bertakbir pada setiap waktu. Takbir ini ada pada idul fitri dan juga idul adha. Sedangkan waktu melantunkan takbir macam ini adalah sejak terbenam matahari pada malam hari raya sampai takbiratul ihram pada shalat hari raya. Sedangkan takbir muqayyad adalah takbir yang dibaca setelah sholat-sholat. Baik sholat fardlu maupun sunnah, baik yang dikerjakan secara ada’ ataupun qadla’, sekalipun sholat yang dilakukan adalah sholat jenazah. Tabir ini hanya dilakukan pada hari raya idul adha saja. Sedangkan waktunya untuk selain orang yang melaksanakan haji adalah sejak subuh hari arafah sampai asar pada akhir hari tasyriq. Sedangkan untuk orang yang berhaji, maka bertakbir sejak zuhur pada hari nahar sampai subuh pada akhir hari tasyriq. Sehingga jika orang yang melakukan haji itu telah bertahallul maka ia membaca takbir sampai waktu asar di akhir hari tasyriq”.
Berdasarkan keterangan tersebut, dapat dipahami bahwa takbir muqayyad dan mursal merupakan takbir yang dibaca pada hari raya idul adha sedangkan pada hari raya Idul Fitri cukup membaca takbir mursal saja. Berikut penjelasan secara rinci tentang takbir muqayyad dan mursal.
Pertama, takbir muqayyad. Sebagaimana namanya, muqayyad (terikat), takbir ini dibaca ketika waktu tertentu. Takbir ini dilakukan setiap setelah sholat sejak subuh hari arafah (9 Zulhijjah) hingga asar pada akhir hari tasyriq (13 Zulhijjah) untuk orang yang tidak sedang melaksanakan haji. Sedangkan bagi orang yang melaksanakan ibadah haji, takbir muqayyad mulai dibaca sejak zuhur pada hari nahar (10 Zulhijjah) sampai subuh pada akhir hari tasyriq (13 Zulhijjah) atau sampai asar bagi jamaah haji yang sudah melakukan tahallul.
Kedua, takbir mursal. Takbir mursal adalah takbir yang tidak terikat dengan waktu apapun. Karena takbir ini bisa dibaca setiap waktu sejak terbenam matahari pada malam hari raya, baik Idul Fitri ataupun Idul Adha, hingga takbiratul ihram untuk sholat hari raya.
Tata Cara Takbir Pada Hari Raya Idul Adha
Sebagaimana keterangan yang dipaparkan sebelumnya, bahwa takbir pada Idul Adha terbagi menjadi 2. Untuk takbir mursal, dibaca kapanpun mulai dari malam hari raya hingga takbiratul ihram pada hari raya. Sedangkan takbir muqayyad sunnah untuk dibaca setelah sholat baik sholat fardhu ataupun sunnah.
Sementara untuk bilangan takbir yang sunnah dibaca tidak ada keterangan khusus yang menjelaskan secara eksplisit sehingga pada dasarnya disunnahkan untuk membaca sebanyak-banyaknya. Hanya saja untuk takbir muqayyad biasanya dibaca sebanyak 3x setiap seusai sholat.
Adapun lafal takbir yang dimaksud salah satunya disebutkan oleh Syekh Ibn Qasim di dalam kitab Fath al-Qarīb al-Mujb fī Syarh Alfāẓ al-Taqrīb hal. 103:
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلهَ إلَاّ اللهَ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أكبَرُ، وَلِلّهِ الْحَمْدُ، اللهُ أَكبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً، لَا إِلهَ إلَاّ اللهَ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Lā ilaha illallāh, wallahu akbar, Allahu akbar, walillahi lhamd, Allahu akbaru kabīrā, walhamdu lillāhi katsīrā, wasubhānallahi bukrotan wa ashīlā, Lā ilaha illallāhu wahdahu, shadaqa wa’dahu, wanashara ‘abdahu, wa a’azza jundahu wahazamalahzāba wahdahu
Artinya: “Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, tidak ada tuhan selain Allah, Allah Mahabesar, dan bagi Allahlah segala pujian, Allah Mahabesar, dan segala pujian yang banyak hanyalah untuk Allah, Mahasuci Allah pada waktu pagi dan petang, tidak ada tuhan selain Allah yang Esa, yang tepat janji-Nya, yang menolong hamba-Nya, yang membela tentaranya dan mengalahkan tentara ahzab dengan sendiri-Nya”.
Demikianlah tentang tata cara takbir hari raya Idul Adha, mulai dari klasifikasi, waktu hingga bacaan takbir. Semoga pada hari yang raya nanti kita bisa meingkatkan amal ibadah melalui kesunnahan takbir misalnya.
