BincangMuslimah.Com- al-Quran sebagai kitab suci umat Islam sekaligus pedoman kehidupan manusia tidak hanya berisi tuntunan akidah dan ibadah saja. Melainkan juga mengandung isyarat tentang kehidupan dan ilmu pengetahuan. Sehingga al-Quran bukan hanya berupa doktrin, akan tetapi pedoman lengkap yang mengajak pembacanya terus meneliti, berpikir dan merenungkan ciptaan Allah swt.
Tidak terkecuali berpikir tentang fenomena-fenomena yang kemudian menjadi pembahasan di dalam sains modern. Salah satunya adalah penjelasan tentang perkembangan manusia di dalam rahim. Penjelasan ini secara lengkap termaktub di dalam QS. Al-Mu’minun [23]: 12 – 14.
Tafsir QS. Al-Mu’minun [23]: 12 – 14
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ مِنْ سُلٰلَةٍ مِّنْ طِيْنٍۚ . ثُمَّ جَعَلْنٰهُ نُطْفَةً فِيْ قَرَارٍ مَّكِيْنٍۖ . ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظٰمًا فَكَسَوْنَا الْعِظٰمَ لَحْمًا ثُمَّ اَنْشَأْنٰهُ خَلْقًا اٰخَرَۗ فَتَبَارَكَ اللّٰهُ اَحْسَنُ الْخٰلِقِيْنَۗ.
“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari sari pati (yang berasal) dari tanah (12). Kemudian kami menjadikannya air mani di dalam tempat yang kukuh (rahim) (13). Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang menggantung (darah). Lalu, sesuatu yang menggantung itu Kami jadikan segumpal daging, segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang. Lalu, tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah sebaik-baik pencipta (14).”
Berdasarkan ayat ini, secara eksplisit terlihat bahwa QS. Al-Mu’minun ayat 12-14 menjelaskan tentang bagaimana tahapan-tahapan perkembangan janin di dalam rahim ibu. Mulai dari awal penciptaan manusia hingga menjadi makhluk sempurna. Hal ini tidak lain untuk menunjukkan kesempurnaan kekuasaan Allah swt. Kemudian para mufassir menjelaskan tahapan-tahapan ini lebih rinci, yang penafsirannya selaras dengan perkembangan dan temuan ilmu pengetahuan. Khususnya tentang perkembangan janin di dalam rahim.
Salah satu mufassir yang menjelaskan ayat ini adalah Ibn Katsir di dalam kitab Tafsīr al-Qurān al-‘Aẓīm atau tafsir Ibn Katsir. Tepatnya pada jilid 5 halaman 406 – 410 sebagai berikut:
Tafsir Ayat 12: Asal Penciptaan Manusia dari Tanah
Pada QS. Al-Mu’minun ayat 12, penjelasan kata الانسان (manusia) ialah dari sari pati yang berasal dari tanah. Ibn Katsir menjelaskan bahwa yang maksud manusia pada ayat tersebut pada awalnya adalah penciptaan Nabi Adam as, dari tanah yang berasal dari permukaan bumi. Kemudian Allah membentuk ke dalam wujud yang sempurna. Adapun ungkapan سلالة (saripati dari tanah) merujuk inti dan unsur tanah yang menjadi asal-usul penciptaan keturunan manusia melalui makanan yang berasal dari bumi, yang selanjutnya berubah menjadi air mani.
Tafsir ayat 13: Penempatan Calon Janin yang Berupa Nuthfah di Rahim
Dalam ayat ini disebutkan bahwa dalam penciptaan manusia, setelah dari sari pati lalu dijadikan sebagai nuthfah. Menurut Ibn Katsir nuthfah di sini adalah perkumpulan dari air mani laki-laki yang keluar dari tulang sulbinya dan air mani perempuan yang keluar dari tara’ib (tulang-tulang dada)nya. Nuthfah ini kemudian akan ditempatkan di tempat yang kokoh yang ditafsiri sebagai rahim, tempat yang Allah lindungi dan Allah siapkan sebagai tempat terbaik untuk pertumbuhan janin.
Tafsir ayat 14: Tahap-Tahap Fisik Janin hingga Ditiupkan Ruh dan Menjadi Makhluk Sempurna
Setelah menjadi nuthfah, pada ayat ini disebutkan bahwa janin akan berkembang menjadi ‘alaqah yang ditafsiri sebagai sesuatu yang melekat dan menempel di dinding rahim sebagaimana darah yang menggantung. ‘Alaqah kemudian berkembang menjadi mudghah yang ditafisiri sebagai segumpal daging seukuran sesuatu yang dapat dikunyah. Dari tahap ini lalu terbentuk tulang-belulang, yang selanjutnya dilapisi oleh daging, hingga tersusunlah struktur tubuh manusia secara lengkap, termasuk anggota badan, jaringan, serta susunan fisik lainnya.
Setelah menyebutkan perkembangan janin hingga terbentuknya fisik manusia yang sempurna, ayat 14 memuat kalimat ثُمَّ اَنْشَأْنٰهُ خَلْقًا اٰخَرَ (Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain). Penggalan ayat ini ditafsiri Ibn Katsir sebagai fase ketika ruh ditipkan ke dalam janin. Sehingga janin bukan hanya sekedar bentuk fisik, melainkan sudah menjadi makluk yang sempurna dengan ruh, pendengaran, penglihatan dan akal.
Karena kesempurnaan pembentukan manusia dengan peniupan ruh serta adanya berbagai potensi, maka penutup ayat tersebut dengan ungkapan tasbih dan pujian, فَتَبَارَكَ اللّٰهُ اَحْسَنُ الْخٰلِقِيْنَۗ. (Maka Mahasuci Allah, sebaik-baik Pencipta) sebagai penegasan atas keagungan dan kesempurnaan ciptaan-Nya.
Dengan demikian, secara ringkas, ayat tersebut menggambarkan proses penciptaan manusia secara bertahap, bermula dari tanah, kemudian sari pati, fase nutfah (air mani), ‘alaqah (segumpal darah), mudhghah (segumpal daging), pembentukan tulang-belulang yang selanjutnya membalut dengan daging, hingga akhirnya peniupan ruh.
Selain itu, Ibnu Katsir juga menjelaskan bahwa ayat ini tidak hanya berfungsi sebagai penjelasan biologis, tetapi juga sebagai hujjah tauhid. Bahwa manusia berasal dari sesuatu yang sangat rendah nilainya, lalu Allah menyempurnakannya, sehingga sudah semestinya manusia bersikap tunduk, bersyukur, serta mengakui keesaan dan kesempurnaan-Nya.
Rekomendasi