BincangMuslimah.Com— Sebelum Islam datang, peradaban Bangsa Arab seringkali digambarkan sebagai bangsa yang bobrok; mereka suka mengubur bayi perempuan hidup-hidup. Hal ini yang kerapkali oleh kebanyakan orang dianggap sebagai alasan Islam datang di Arab. Islam datang untuk menyelamatkan Bangsa Arab dari praktik dehumanisasi. Lantas, apa benar bangsa-bangsa lain tidak menghadapi kondisi serupa?
Rahasia Terpilihnya Jazirah Arab Sebagai Tempat Tumbuhnya Islam
Syekh Ramadhan al-Buthi dalam karyanya Fiqh al-Sirah al-Nabwawiyyah membuka cerita sejarah kenabian dengan penjelasan tentang rahasia terpilihnya jazirah Arab sebagai tempat tumbuhnya Islam. Kita tahu, di masa kelahiran Rasulullah, ada beberapa peradaban besar yang sangat berpengaruh; Persia, Romawi, dan Yunani. Kata Syekh Buthi, Allah bisa saja mengirim Rasul dan kitab suci ke bangsa-bangsa itu. Akan tetapi, ada hikmah-hikmah tertentu yang dikehendaki oleh Allah, dan hanya sesuai jika diturunkan ke jazirah Arab.
Pada masa itu, peradaban Persia sudah teramat maju jika dibandingkan peradaban Arab. Di Persia telah tumbuh aliran-aliran filsafat dan agama yang beragam, bahkan bertentangan. Kepercayaan Zoroaster, misalnya. Ia menjadi agama mayoritas pemegang kekuasaan di Persia, yang sayangnya banyak sekali penyimpangan moral terjadi mengatasnamakan agama. Mereka melegalkan, bahkan menganjurkan seorang laki-laki untuk menikahi ibu, anak, atau saudara perempuannya sendiri. Tidak hanya itu, masyarakat kelas bawah juga dibuat semakin menderita karena kebijakan ekonomi yang mencekik; pajak dibuat tinggi sekali.
Lalu, peradaban Yunani yang terkenal sebagai tanah kemunculan aliran-aliran filsafat. Sekalipun filsuf Socrates, Plato, dan Aristoteles lahir di sana, ternyata pada masa itu, yang tersisa adalah sisa-sisa intelektual elit, sementara masyarakat luas justru terjebak dalam praktik keagamaan simbolik yang irasional. Mereka melakukan ritual jimat dan mantra, mempercayai kharafat seperti pertanda mimpi atau pun hewan-hewan. Sehingga kala itu, tidak lagi dijumpai etos rasional dalam masyarakat Yunani.
Sementara peradaban Romawi, di abad 5 Masehi, yang tersisa bukan lagi semangat membangun perdaban, melainkan dorongan menjajah, mengeksploitasi dan menguasai. Penaklukan tidak lagi dilakukan untuk stabilitas, melainkan untuk mempertahankan kemewahan elit. Kekerasan dilembagakan, rakyat dianggap sebagai objek pajak untuk membiayai tentara militer, dan para elit banyak yang melakukan tidakan korup dengan jual-beli jabatan. Hal ini lantas mengundang banyak sekali pemberontakan.
Kondisi Masyarakat Arab pada Abad 5 Masehi
Itulah gambaran kondisi peradaban-peradaban besar pada abad 5 Masehi. Selanjutnya mari kita bandingkan dengan kondisi masyarakat Arab.
Masyarakat Arab justru hidup lebih tenang, jauh dari gejolak-gejolak seperti yang terjadi di tiga peradaban itu. Sekalipun hidup berasaskan kesukuan, kala itu, mereka belum mengenal aliran-aliran pemikiran sehingga membuat mereka berselisih sengit. Mereka pun tidak memiliki kekuatan militer yang terstuktur seperti Bangsa Romawi sehingga digunakan untuk mengeksploitasi kelompok-kelompok lemah. Mereka juga tidak seperti orang Yunani, dimana ketidakstabilan politik membuat mereka lari ke kharafat-kharafat.
Syekh Buthi menyebut Bangsa Arab sebagai bangsa primitif. Cara hidup mereka masih sederhana dan belum mengenal kemajuan. Karakter individunya sangat fitrah, menyukai kebaikan, sekalipun acapkali mereka keliru menerjemahkan kebaikan itu. Pada praktik membunuh bayi perempuan, misalnya. Syekh Buthi menyebut praktik itu sebagai bentuk kepolosan Bangsa Arab. Mereka mengira itu sebagai upaya mendapat kemuliaan dan martabat tinggi. Motifnya baik untuk mendapat kemuliaan, namun karena ketidaktahuan atau kebodohannya, mereka gagal memahami kebaikan itu sendiri. Contoh lainnya, mereka tidak segan mendermakan semua harta bendanya hingga barang-barang primer atas dorongan ingin menjadi seorang yang dermawan.
Kekuatan Bahasa Arab
Sebab kefitrahan Bangsa Arab ini, Allah ingin Al-Quran turun di Arab. Dalam kondisi fitrah, seseorang akan mudah sekali menangkap suatu kebaikan, apalagi kebaikan itu disampaikan dengan cara yang indah. Maka tidak mengherankan, banyak cerita menyebutkan Bangsa Arab dibuat kaget sekaligus terkagum-kagum saat Al-Quran pertama kali dibacakan. Kalau saja Al-Quran turun di Persia, Yunani, atau Romawi, kebaikan dan keindahan Al-Quran tidak akan mudah ditangkap, malah bisa jadi menumbuhkan keraguan-keraguan di hati mereka.
Pun kita tahu, Allah menghendaki Al-Quran dibawa oleh Rasul yang Ummi; tidak pandai membaca dan menulis. Mayoritas penduduk Arab adalah orang yang ummi, mereka tidak mengenal ilmu pengetahuan seperti peradaban-peradaban lain. Karena itu, penyampaian Al-Quran lebih mengena ketika itu ditujukan pada penduduk Arab. Bangsa Arab juga mudah mengakui kemujizatan Al-Quran, sebab ia disampaikan lewat lisan Nabi yang tidak mampu membaca dan menulis. Lain persoalan jika Al-Quran turun di Persia atau Romawi.
Selain itu, Bahasa Arab adalah bahasa yang memiliki kekuatan retorika, keluwesan makna, kekayaan gramatikal, dan lain-lain, yang menjadikannya sangat sesuai untuk memikul makna wahyu.
Maka, diturunkannya Al-Quran di tanah Arab bukan hanya kebetulan geografis. Al-Quran tidak diturunkan di pusat-pusat peradaban yang telah rusak oleh penindasan, khurafat, dan kesombongan ilmu, melainkan di tengah masyarakat Arab yang sederhana namun masih utuh fitrahnya. Kekosongan sistem dan kesederhanaan hidup justru membuat mereka lebih siap menerima wahyu. Dari tanah yang dianggap pinggiran inilah, Al-Quran hadir untuk membangunkan manusia dan mengarahkan kembali peradaban pada keadilan, akal sehat, dan kemanusiaan.
