Ikuti Kami

Subscribe

Kajian

Husein Bertanya pada Alī Tentang Muhammad

BincangMuslimah.Com – Ketiganya memiliki hubungan darah, Husein adalah putra sayyidah Fatimah bintu Muhammad dengan Alī bin Abī Ṭālib. Suatu hari Husain bertanya pada bapaknya, Alī bin Abī Ṭālib tentang Nabi Muhammad. Ayahnya menjawab, “Ia tidak berbicara kecuali yang perlu-perlu saja, namun begitu ia tidak menjaga jarak dari orang lain hingga membuat mereka menjauh justru sikapnya membuat orang-orang betah bersamanya sebab ketika ia berbicara tak ada kalimatnya yang kasar atau menyakiti”.

Pesan ini sangat relevan jika kita bawa pada era digital seperti saat ini, saat jemari sudah laiknya lisan, menulis laiknya berbicara, memuji dan mencela, mengucapkan rasa bangga dan mencerca, berdiskusi dan bermusyawarah dan lain sebagainya yang sebaiknya tidak dilakukan jika tidak penting.

Hujjatu al-Islam Imam al-Ghazali mendefinisikan kata yang tidak penting (ما لايعني) adalah ketika kamu diam kamu tidak berdosa dan tidak akan celaka (Ihyā’ ‘Ulūmiddīn: 3/111). Kalimatmu diucapkan atau tidak, tak akan berpengaruh pada hal apapun, itulah kata yang tak penting dan sebaiknya kau tinggalkan.

Maka Imam al-Ghazali  memberikan solusi, berbicara (termasuk juga menulis) seharusnya memperhatikan Timing (waktu), Placement (tempat), tidak mengajak debat orang sabar dan bodoh, berbicara tentang seseorang yang jika ia tidak adapun ia suka digunjing seperti itu, perlakukan orang lain dengan hal yang kamu sukai.

Keponakan Nabi melanjutkan “Menghormati setiap tokoh masyarakat menyikapi mereka sesuai dengan jabatannya. Memberi peringatan kepada orang yang baru masuk Islam dengan sangat manusiawi, tidak memberatkan dan dengan wajah sumringah. Mengunjungi sahabat-sahabatnya untuk mencari tahu keadaan mereka, senangkah? Susahkah? Membenarkan yang benar dan menyalahkan yang salah, sikapnya senantiasa berdasarkan pertimbangan yang seadil-adilnya

Proporsional, bertindak sesuai situasi dan kondisi. Ketika ia berposisi sebagai rakyat maka menghormati atasan adalah wajib. Bagaimanapun pribadi seorang pemimpin menaatinya merupakan keharusan, selama perintahnya tidak keluar dari koridor syariat. Jika dipandang salah menurut perspektif lain, sosial misalnya maka menegur juga keharusan bagi yang ahli. Yang tidak memiliki kualifikasi mengkritik sebaiknya tidak bicara sebab kemungkinan keliru lebih banyak.

Ketika berposisi sebagai tokoh atau atasan maka selain harus mengayomi dengan kasih ia mesti tegas tanpa pilih-pilih. Menegur jika terdapat kekeliruan diikuti dengan membimbing pada yang benar tanpa memberatkan. Lebih-lebih orang yang keislamannya masih lemah mengetahui hukum berat nan ketat adalah hal yang membuatnya lari dari Islam.

Sebagai sahabat tentu ia sangat perhatian pada sahabatnya, tak rela jika kabar mereka absen dari pendengarannya. Menjenguk sahabat adalah rutinitas yang tak lupa ia lakukan untuk sekedar bahagia atas kegemberiaan sahabatnya atau berduka jika musibah menimpa mereka. Praktik ini yang sudah mulai memudar dari kehidupan kita, silaturrahmi. Menyambung-eratkan tali persaudaraan sesama manusia apalagi sesama muslim.

Cucu Nabi itu melanjutkan pertanyaannya “Bagaimana Nabi saat dalam majelis?

Ia duduk dan berdiri hanya untuk mengingat Allah, duduk laiknya orang-orang di sekitarnya, tidak ada yang lebih mulia atau lebih hina, egaliter. Bahkan jika ada yang berkeluh kesah atau mengajaknya bicara tentang suatu hal maka ia menyimaknya dengan seksama tanpa menampakkan rasa bosan alih-alih memotong perkataannya, tidak berdiri sampai empunya hajat berdiri. Tidak meninggikan suara dan tidak merusak kehormatan manusia, tidak fokus pada kesalahan orang lain

Adab ini yang seharusnya dipakai dalam berdebat. Ya, jika benar dibutuhkan untuk mencari kebenaran boleh-boleh saja asal dengan etika yang benar; duduk dengan hati lapang fokuskan niat untuk mencari kebenaran bukan kemenangan dan keunggulan, memberikan hak berbicara pada yang memiliki, jika diberi waktu untuk berbicara maka biacaralah yang tidak menyakitkan, tidak meninggikan suara, memotong pembicaraan orang lain, fokus pada permasalahan yang dibahas bukan pada pribadi pembicara.

Dari saking enggannya Nabi pada kata yang menyakitkan ia pernah melarang Aisyah mengatakan ‘alaikum as-sām wa al-la’nah (matilah kamu dan laknat bagimu) kepada seorang Yahudi mengatakan as-sām ‘alaikum (matilah kamu) pada Rasul. Aisyah tidak terima perlakuan itu pada utusan Allah “Apa kau tidak mendengar ia berkata apa ya Rasul?” Nabi mengangguk dan menyuruhnya membalas dengan kata ‘alaika. (HR. Muslim)

Meski bukan muslim Nabi masih menghormati dengan tidak menyakitinya dengan kata-kata kasar (mati dan laknat) karena masih memandangnya sebagai manusia, makhluk yang memiliki kehormatan. Inilah inti dari agama kita dan untuk itulah Nabi diutus, menjadi rahmat menyebar kasih sayang di antara umat.

*Tulisan ini saya sadur dari kitab Muhammad Insan Kamil karya Abuya Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki hlm 245-248

Rekomendasi

meneladani nabi menyayangi anak-anak meneladani nabi menyayangi anak-anak

Meneladani Nabi Muhammad yang Menyayangi Anak-anak

ad-dhuha tidak meninggalkan nabi muhammad ad-dhuha tidak meninggalkan nabi muhammad

Tafsir ad-Dhuha; Allah Tidak Meninggalkan Nabi Muhammad

kisah yahudi maulid nabi kisah yahudi maulid nabi

Kisah Orang Yahudi yang Masuk Islam Karena Berkah Maulid Nabi

kisah yahudi maulid nabi kisah yahudi maulid nabi

Penjelasan Akhlak Nabi Adalah Alquran

Nur Kholilah Mannan
Ditulis oleh

Santriwati Nurul Islam Dasuk Sumenep

Komentari

Komentari

Terbaru

islam menghapus diskriminasi perempuan islam menghapus diskriminasi perempuan

Kehadiran Islam Menghapus Tradisi Diskriminasi Pada Perempuan

Muslimah Talk

masjid dhirar tempat ibadah masjid dhirar tempat ibadah

Masjid Dhirar dan Tragedi Perusakan Tempat Ibadah

Khazanah

perempuan bela diri senjata perempuan bela diri senjata

Perempuan Perlu Mahir Ilmu Bela Diri Bahkan Memiliki Senjata

Muslimah Talk

kelompok seruan meninggalkan hadis kelompok seruan meninggalkan hadis

Menyikapi Kelompok yang Melakukan Seruan untuk Meninggalkan Hadis

Khazanah

darah istihadhah hentakan setan darah istihadhah hentakan setan

Benarkah Darah Istihadhah Berasal dari Hentakan Setan?

Kajian

duo ibnu hajar islam duo ibnu hajar islam

Mengenal Duo Ibnu Hajar dalam Literatur Islam

Khazanah

mandi jumat sunnah shalat mandi jumat sunnah shalat

Apakah Mandi Hari Jumat Hanya Sunnah untuk yang Melaksanakan Shalat Jumat?

Kajian

Pengakuan Korban Kekerasan Seksual Diakui dalam Islam

Video

Trending

tuna netra waktu shalat tuna netra waktu shalat

Cara Penyandang Tuna Netra dalam Memperkirakan Waktu Shalat

Ibadah

sufi tasawuf rabi'ah al-adawiyah sufi tasawuf rabi'ah al-adawiyah

Tasawuf Cinta Murni Sufi Rabi’ah al-Adawiyah

Diari

nafkah keluarga ditanggung bersama nafkah keluarga ditanggung bersama

Nafkah Keluarga Boleh Ditanggung Bersama-Sama

Kajian

al-Mulk anjuran untuk merantau al-Mulk anjuran untuk merantau

Haruskah Laki-Laki Memberikan Kursi pada Perempuan di dalam Transportasi Umum?

Muslimah Talk

Pengakuan Korban Kekerasan Seksual Diakui dalam Islam

Video

perempuan korban kekerasan zakat perempuan korban kekerasan zakat

Bisakah Perempuan Korban Kekerasan Menjadi Penerima Zakat?

Kajian

anak berbeda orang tua anak berbeda orang tua

Pandangan Islam Jika Anak Berbeda dengan Keinginan Orang Tua

Keluarga

fenomena adopsi spirit doll fenomena adopsi spirit doll

Fenomena Adopsi Spirit Doll dan Pandangan Islam Terhadapnya

Berita

Connect