Ikuti Kami

Subscribe

Kajian

Bukan Hanya Umat Islam, Ini 4 Kaum yang Memiliki Hari Raya

BincangMuslimah.com – Hari raya merupakan salah satu momen yang membahagiakan yang tak bisa dirasakan euforianya tiap waktu. Bagi umat muslim sendiri, hari raya idul fitri misalnya merupakan waktu di mana mereka bisa berkumpul dengan sanak saudara, bersua dengan mereka yang sudah lama tak berjumpa sembari menyantap menu lebaran yang beragam. Pada hari ini orang-orang saling meminta maaf atas salah maupun silap yang selama setahun ini mungkin dilakukan.

Namun, ternyata bukan hanya umat Nabi Muhammad Saw saja yang memiliki hari bahagia ini. Ada umat nabi lain yang juga merayakan id. Dalam kitab Al-Ghunyah li Thalib Thariq al-Haqq Azza wa Jalla disebutkan bahwa ada 4 hari raya yang diperuntukkan untuk 4 kaum. Siapa sajakah mereka?

Pertama, hari raya kaum Nabi Ibrahim a.s. Allah Swt berfirman:

فَنَظَرَ نَظْرَةً فِي النُّجُومِ (88) فَقَالَ إِنِّي سَقِيمٌ (89)

Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang. Kemudian ia berkata:”Sesungguhnya aku sakit”. (Ash-Shafat: 88-89)

Ayat ini menceritakan bahwa saat itu kaum Nabi Ibrahim tengah keluar untuk merayakan hari raya mereka. Namun Nabi Ibrahim a.s. ketinggalan dan membuat alasan yang membuat beliau tidak bisa keluar bersama mereka. Hal ini dikarenakan Nabi Ibrahaim a.s. tidak menyakini agama mereka. Ketika kaumnya keluar, Nabi Ibrahim a.s. mengambil kapak dan menghancurkan berhala-hala sesembahan kaumnya. Kemudian kapak tersebut beliau letakkan di leher patung yang paling besar.

Cerita tentang penghancuran berhala ini tentu sudah sangat masyhur dan kapan itu terjadi? Sebagaimana disebutkan oleh Syeikh Abdul Qadir bin Abi Shalih al-Jailani bahwa ini terjadi pada saat kaum Nabi Ibrahim a.s. tengah merayakan hari rayanya.

Kedua, hari raya kaum Nabi Musa a.s. Allah Swt berfirman:

قَالَ مَوْعِدُكُمْ يَوْمُ الزِّينَةِ وَأَنْ يُحْشَرَ النَّاسُ ضُحًى

Berkata Musa: “Waktu untuk Pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik”. (Thaha: 59)

Disebut sebagai hari raya karena pada hari itu Allah Swt menampakkan kehebatan Nabi Musa a.s. dan kaumnya dengan mengalahkan musuh mereka, yaitu Fir’aun dan kaumnya. Saat itu Fir’aun keluar bersama 72 penyihir yang membersamai mereka 600.000 tongkat dan tali. Ditengah-tengah tongkat kemudian diberi air raksa. Orang-orang pun berbondong-bondong melihat dan berdiri di bawah terik. Matahari semakin memanas teriknya sehingga membuat air raksa tadi mengalir dan tongkat yang dililit dengan tali pun bergerak. Khalayak pun membayangkan bahwa itu adalah ular-ular yang bergerak padahal sesungguhnya tongkat yang tampak seperti ular itu tidak bergerak sama sekali.

Ini merupakan kisah ketika Nabi Musa a.s. mengeluarkan mukjizatnya yaitu di mana saat Nabi Musa a.s. melemparkan tongkat beliau, kemudian berubah menjadi seekor ular besar yang kemudian memakan ular-ular penyihir Fir’aun. Dia dan penyihir-penyihirnya pun kalah, bahkan pembesar penyihir mereka yang bernama Sam’un akhirnya beriman kepada Tuhannya Nabi Musa a.s. yaitu Allah Swt.

Ketiga, hari raya Nabi Isa a.s. dan kaumnya. Allah Swt berfirman:

قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنْزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ تَكُونُ لَنَا عِيدًا لِأَوَّلِنَا وَآخِرِنَا وَآيَةً مِنْكَ

Isa putera Maryam berdoa: “Ya Tuhan Kami turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami Yaitu orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah Kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau”. (Al-Maidah: 114)

Ayat ini menceritakan tatkala orang-orang Hawariyun berkata kepada Nabi Musa a.s.: “Wahai Musa, apakah Tuhanmu mampu untuk memberikan apa yang kau minta yaitu agar Ia menurunkan kepada kami hidangan dari langit. Nabi Isa a.s. pun menjawab: Takutlah kalian kepada Allah dan janganlah kalian meminta sebuah bencana jika kalian beriman karena apabila diturunkan apa yang kalian minta lalu kalian mendustainya maka Allah akan menghukum kalian”.

Mereka mengajukan permintaan itu untuk memantapkan keimanan mereka. Kemudian Nabi Musa a.s. bersama pengikut setia beliau melakukan perjalanan. Selama di perjalanan mereka melihat keajaiban-keajaiban yang merupakan mukjizat Nabi Isa a.s., misalnya saat mereka kelaparan atau membutuhkan makanan, Nabi Isa a.s. mengeluarkan tangannya dan mengeluarkan adonan roti dari dalam bumi untuk disantap oleh beliau dan pengikut-pengikutnya.

Kepada Bani Israil, beliau juga memperlihatkan berbagai hal yang menakjubkan namun tidaklah bertambah bagi mereka kecuali semakin enggan untuk mempercayai dan mengikuti Nabi Isa a.s. hingga pada suatu hari beliau keluar bersama 5.000 orang Bani Israil kemudian mereka meminta agar diturunkan hidangan maka Nabi Isa a.s. pun berdoa:

قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنْزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ تَكُونُ لَنَا عِيدًا لِأَوَّلِنَا وَآخِرِنَا وَآيَةً مِنْكَ

Hidangan ini merupakan tanda kebesaran yang Allah Swt perlihatkan kepada mereka yang enggan beriman dan untuk mengokohkan kenyakinan orang-orang yang telah beriman. Selain itu, hidangan pada masa itu juga merupakan wajah hari raya pada masa diturunkannya yaitu pada masa Nabi Isa a.s. juga merupakan wajah hari raya bagi orang-orang setelah beliau. Tentu tidak mengherankan jika saat ini yaitu pada hari raya sering kita temui berbagai macam hidangan yang disajikan.

Keempat, hari raya umat Nabi Muhammad Saw. Bagian ini tentunya sudah jelas bahwa umat Islam setidaknya memiliki 2 hari raya yaitu Idul Fitri yang dirayakan pada tanggal 1 Syawwal usai melaksanakan ibadah puasa Ramadhan dan Idul Adha yaitu pada tanggal 10 Dzulhijjah.

Wallahu a’lam.

Rekomendasi

Tradisi Sungkeman saat Idul Fitri dalam Pandangan Hadis

Ini Alasan Kenapa Hari Raya Disebut “Id”

Apakah Perempuan Haid Tetap Dianjurkan Mandi Sunah Idul Fitri??

Diah Ayu Agustina
Ditulis oleh

Penulis adalah mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan alumni Pondok Pesantren Ilmu Hadis Darus-Sunnah Ciputat, hobi jalan-jalan dan liat-liat manuskrip kuno.

Komentari

Komentari

Terbaru

Menggabungkan Puasa Syawal dengan Puasa Senin Kamis

Ibadah

Peran Ibu dalam Membentuk Karakter Anak: Nasehat Nabi Kepada Ummi Athiyah

Keluarga

Melunasi Qadha Puasa Ramadhan Dulu atau Puasa Syawal Dulu?

Ibadah

Bolehkah Puasa Syawal pada Hari Jum’at?

Ibadah

Parenting Islami: Haruskah Memukul Anak Sebagai Bagian dari Pendidikan?  

Keluarga

Kenapa Puasa Syawal Enam Hari Disebut Seperti Puasa Setahun?

Ibadah

Hukum Menggabungkan Puasa Syawal dengan Puasa Qadha

Ibadah

Balaslah Kebaikan Meskipun Hanya Dengan Doa

Ibadah

Trending

Tata Cara I’tikaf di Rumah Selama Masa Pandemi Corona

Ibadah

qadha puasa qadha puasa

Enam Orang Ini, Harus Qadha Puasa Meski Tetap Puasa di Bulan Ramadhan

Video

Mengenal Tipe Kepribadian dari Cara Mengurus Rumah Tangga, Tipe Istri Seperti Apa Kamu?

Muslimah Daily

Mengapa Kita Harus Sahur? Ini Tiga Keutamaan Sahur dalam Sabda Nabi

Ibadah

Sunnah Baca Doa Ini di Akhir Witir Sebelum Salam

Ibadah

Pekerja Perempuan yang Belum Tuntas Haknya

Diari

Doa yang Diberikan Nabi pada Fatimah Az-Zahra saat Hadapi Kegelisahan

Ibadah

bersetubuh saat azan bersetubuh saat azan

Bolehkah Berhubungan Badan dengan Kondom saat Istri Haid?

Kajian

Connect